KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Putri Kecilku


__ADS_3

Seminggu lebih Hana dan Rafa ada di luar kota. Tidak sekali atau dua kali, Adrian atau Diana menghubungi keduanya. Menanyakan kapan mereka kembali? Diana sangat merindukan sahabatnya dan keponakannya. Sedangkan Adrian seolah tidak sanggup lagi menyelesaikan tugas-tugas kantor. Perusahaan Prawira bukan perusahaan kecil. Terlalu banyak proyek yang dikerjakan. Adrian kehabisan waktu, sekadar untukb bertemu Diana saja dia tidak bisa.


Semalam Rafa dan Hana sudah sampai di rumah mereka. Pagi ini Rafa sengaja datang lebih pagi ke kantor. Dia ingin memeriksa kondisi kantor selama ditinggal. Rafa sudah mengatakan pada Adrian akan datang lebih pagi. Dia juga meminta semua berkas penting, agar diletakkan di meja.


"Sayang, kamu jadi bertemu Diana dan Salsa. Jika kamu lelah, nanti sore saja. Aku sendiri yang akan mengantarmu. Kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh. Kasihan Fathan bila kamu sakit. Pasti akan berimbas pada ASI yang dia butuhkan!" tutur Rafa cemas, Hana menggeleng lemah. Semalam Diana meminta pagi ini datang ruko. Sebenarnya ada yang ingin bertemu dengan Hana. Namun Diana meminta Hana untuk menyembuyikannya dari Rafa. Diana tidak ingin Rafa cemburu.


"Aku sudah lama tidak bertemu Diana dan Salsa. Aku juga belum memberikan uang saku pada Salsa. Mereka juga pasti sudah sangat merindukan Fathan. Aku tidak ingin mereka kecewa. Percayalah, aku baik-baik saja. Aku akan menjaga diri. Jika aku merasa tidak sehat. Aku akan segera pulang!" ujar Hana, Rafa mengangguk mengiyakan. Rafa tidak akan pernah bisa menolak keinginan Hana. Apapun akan Rafa lakukan, selama itu bisa membuat Hana bahagia.


"Baiklah, nanti kamu diantar supir. Jangan kemana-mana? Kamu masih lelah, setelah selesai urusanku di kantor. Aku akan langsung pulang!" ujar Rafa, Hana menyahut dengan mengedipkan mata. Rafa menyelesaikan sarapannya. Setelah selesai Rafa menghampiri Hana yang masih sibuk menyiapkan keperluannya. Rafa mengendap memeluk Hana dan Fathan sekaligus.


"Jangan pernah berpikir meninggalkanku. Tangan ini hanya ingin memelukmu dan Fathan, bukan oranga lain!" bisik Rafa, Hana mengangguk pelan. Hembusan napas Rafa terasa menyusup ke relung hati Hana. Cinta yang begitu besar, terkadang membuat Hana takut akan kehilangan Rafa.


"Hmmm!" sahut Hana dingin.


Setelah Rafa berangkat ke kantor. Hana langsung bergegas menuju ruko. Dia benar-benar merindukan Diana dan Salsa. Diana satu-satunya orang yang berada di samping Hana saat bahagia dan terpuruk. Sebanarnya Hana merasa cemas. Semenjak mendapat telpon dari Diana. Tidak biasanya Diana memaksa Hana untuk datang. Jika memang bukan karena sesuatu yang sangat penting.


Sekitar setengah jam lebih Hana menembus padat jalanan kota. Akhirnya Hana tiba di ruko miliknya. Bisnis makanan yang dia dan Diana jalankan berkembang pesat. Sekarang puluhan orang yang membantu Diana mengurus ruko. Sistem yang dipakai bukan bos dan bawahan. Namun persaudaraan antar sesama. Tidak ada perbedaan antara bos dan bawahan. Terbukti sistem yang digunakan sukses membuat bisnis ini perkembang pesat.


Kreekkm


"Hana!" teriak Diana, sesaat setelah terdengar suara pintu di buka. Terlihat Diana berlari menghampiri Hana. Dia langsung mengambil Fathan dari gendongannya. Kedua bola mata Hana membaulat sempurna. Dia terkejut saat melihat Naufal duduk bersama dengan Diana dan Salsa.


"Diana, sesuatu terjadi saat aku pergi!" ujar Hana lirih, Diana mengangguk. Salsa berdiri meninggalkan Naufal. Dia menghampiri Hana, setelah mencium punggung tangan Hana. Salsa memeluk tubuh Hana erat.


"Dia butuh dukunganmu, hanya kak Hana yang bisa mengembalikan senyum di wajahnya. Dampingi dia sebagai seorang teman. Setidaknya demi hubungan yang pernah ada!" bisik Salsa, Hana mengeryitkan alis. Dia tidak mengerti arah perkataan Salsa. Hana melepaskan pelukan Salsa. Dia menoleh pada Diana. Berharap Hana bisa mengatakan sesuatu, tapi nihil Diana malah menunduk. Hana menatap Naufal lekat. Dia melihat Naufal menunduk, seakan dia hidup tapi mati.


Hana mencari cela untuk mengetahui apa yang terjadi? Namun baik Diana atau Salsa, sengaja menutupi semua yang terjadi. Mereka berharap Hana bertanya langsung pada Naufal. Hana melihat keterpurukan Naufal. Hana bisa merasakan kesedihan orang yang pernah ada dalam hatinya. Sungguh Hana dibuat bingung sikap Diana dan Salsa. Terlebih lagi sikap Naufal yang jauh dari kata bijaksana dan tenang.


"Kak Naufal, kamu mencariku!" ujar Hana pertama kali setelah duduk di depan Naufal. Sekilas Naufal mendongak, menatap wajah Hana. Lalu dia menunduk kembali, seakan di atas lantai semua masalah sedang terjadi. Hana melihat keterpurukan Naufal. Tak ada senyum dan keramahan dari pandangan Naufal. Semua sirna entah kemana?


"Kak, bicaralah padaku. Jangan buat diriku penasaran. Katakan apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti ini? Bicaralah, jangan diam saja. Aku ada di sini untuk mendengarkan keluhanmu!" tutur Hana panjang lebar, Naufal mengangguk seraya menunduk. Dia tak mampu menatap wajah Hana. Entah apa yang terjadi selama seminggu ini? Hana menoleh pada Diana dan Salsa, keduanya diam membisu. Mulut mereka seolah kelu tak mampu mengatakan sesuatu.


"Hana, masihkah kamu Hana yang dulu. Hana yang bisa kujadikan sandaran. Hana yang akan membuatku tegar kembali. Hana gadis bertangan dingin yang kukenal!" ujar Naufal lirih, Hana menggeleng lemah. Meski Naufal tidak melihat gelengan Hana. Naufal sudah bisa menduga penolakan itu. Status Hana yang berbeda menjadi jurang pemisah diantara mereka. Naufal sadar akan posisinya sekarang.


Hana menatap Naufal yang terus menunduk. Tak satu katapun perkataan Naufal yang dimengerti oleh Hana. Sikap Naufal yang berbeda, membuat Hana serba salah. Hana menoleh kembali pada Diana, hanya gelengan kepala yang diterimanya. Diana tetap melakukan hal yang sama. Seolah mereka tidak mengetahui apapun?

__ADS_1


"Kak Naufal, aku mungkin bukan Hana yang dulu. Aku bukan lagi Hana yang bebas. Statusku tak lagi sendiri, sedikit banyak membatasi pertemanan kita. Namun aku yakinkan padamu, aku tetap Hana yang kamu kenal. Aku akan menjadi sandaranmu. Meski tak lagi sepenuhnya, aku akan membantumu semampuku. Sejauh aku mampu berpikir yang terbaik dan terburuk. Sekuat kakiku melangkah dan selemah tanganku menggenggam. Katakanlah apa yang terjadi? Setelah itu kita putuskan, aku Hana yang sama atau tidak!" tutur Hana lirih, Naufal mendongak menatap kedua mata Hana. Naufal melihat sorot mata yang mampu menenangkan hati dan pikirannya. Meski ribuan cara sudah dilakukan Naufal. Nama Hana masih tersemat indah dihati dan kalbunya.


Semua semakin sulit untuk Naufal, saat Annisa putri satu-satunya menganggap Hana sebagai ibu kandungnya. Kasih sayang Annisa pada Hana membuat Naufal tak mampu melupakan Hana. Hubungan yang terjalin, tanpa Naufal mampu menduganya. Kelembutan Hana mampu mengisi kekosongan Annisa akan sosok ibu. Pelukan Hana mampu menggantikan, dekapan hangat seorang ibu yang selalu dirindukan Annisa putrinya.


"Hana, Annisa membutuhkanmu! Dia butuh pelukanmu, dia terpuruk dan hancur. Annisa putri kecilku tak berdaya tanpa dekapanmu. Dia butuh kehadiranmu!" ujar Naufal lirih, tangan dan bibirnya bergetar hebat. Naufal serasa sulit mengatakan semua itu. Jantung Hana berdegub hebat, ada rasa cemas dalam hatinya. Hana merasa telah terjadi sesuatu yang salah pada Annisa. Hana menoleh pada Diana, kini anggukan kepala yang diterimanya. Saat Hana menatap Diana penuh kecemasan.


Hana semakin yakin terjadi sesuatu yang salah. Naufal kembali menunduk, Hana menatap cemas pada Naufal. Salsa datang membawa segelas air untuk Naufal. Dia memberikan pada Naufal. Kecemasan berbeda ditunjukkan Salsa pada Naufal.


"Kak Naufal, apa yang terjadi pada Annisa? Dimana dia sekarang? Kenapa dia tidak ikut denganmu? Apa yang sebenarnya terjadi?" ujar Hana emosi, dia sangat cemas memikirkan Annisa. Dengan bibir bergetar, Naufal memberikan sebuah foto. Terlihat seorang anak penuh dengan alat bantu hidup. Hampir seluruh tubuhnya penuh dengan kabel.


"Apa ini? Katakan yang sebenarnya. Siapa dia? Siapa dia?" teriak Hana cemas, Naufal menggeleng lemah. Diana memberika Fathan pada Salsa. Lalu Diana mendekat pada Hana, memeluk tubuh Hana yang mulai tidak tenang.


"Hana, tenanglah dulu. Emosimu tidak akan merubah yang telah terjadi. Sekarang kamu harus tenang. Demi seorang anak yang begitu menyayangimu. Dia merindukan pelukanmu, ciuman hangatmu. Kuatlah demi dia, bantu dia melewati semua yang terjadi!"


"Diana, katakan dengan jelas. Apa yang terjadi? Dadaku mulai sesak, jangan katakan ini Annisa. Tidak mungkin dia Annisa. Apa yang terjadi? Aku mohon bicaralah, katakanlah yang sebenarnya!" ujar Hana dengan bibir bergetar, air matanya tak mampu lagi dibendung. Diana memeluk erat tubuh Hana. Naufal menunduk melihat Hana yang histeris. Kasih sayang tulus Hana pada putrinya, yang membuat Annisa lebih nyaman bersama Hana daripada keluarganya.


"Hana, Annisa mengalami kecelakaan saat ingin menemuimu. Dia berlari dari penjagaan nyonya Mira. Beliau melarang Annisa menemuimu. Namun naas bagi Annisa, tepat di depan nyonya Mira sebuah mobil menabrak Annisa. Tubub Annisa terpental sejauh 1 meter. Annisa mengalami koma sejak seminggu yang lalu. Saat tertabrak Annisa menggenggam erat sebuah kalung berliontin bertuliskan namamu. Annisa menggenggam erat kalung itu!"


"Diana, kalung itu aku berikan sebagai hadiah. Annisa meminta hadiah padaku, saat dia menjadi juara kelas satu bulan yang lalu. Liotin itu ada dua, satu bertuliskan namaku dan satu bertuliskan namanya. Aku memegang yang bertuliskan namanya. Aku masih ingat, dia akan menganggap liontin itu diriku. Sebagai ganti pelukanku untuknya. Dia akan selalu merasa diriku ada disampingnya. Diana, apa salah Annisa? Dia masih sangat kecil, untuk mengerti dendam keluarganya padaku!" ujar Hana pilu, Diana menangis mendengar perkataan Hana. Diana mendekap erat Hana, tiba-tiba Hana melepaskan pelukan Diana. Hana menatap penuh amarah pada Naufal.


"Hana, maafkan aku yang tak pernah mampu melindungi orang-orang yang kusayangi. Dulu aku membiarkan mereka menjauhkanmu dariku. Kamu harus kehilangan kedua orang tuamu. Sekarang mereka menjauhkan Annisa darimu, yang akhirnya membuatku kehilangan senyum putriku. Maafkan aku Hana, aku laki-laki lemah!" ujar Naufal lirih, Hana terdiam. Dia marah pada Naufal yang selalu lemah di depan keluarganya. Jika Naufal mampu mencegah, Annisa tidak akan terbujur kaku di ranjang rumah sakit. Kini tubuh kecilnya dipenuhi kabel, sebagai alat bantu hidupnya. Kejam sungguh kejam, bahkan anak sekecil Annisa harus menjadi sasaran kebencian keluarga Wirawan.


"Dimana Annisa? Aku akan menemuinya, jika keluargamu menghalangiku. Akan kupastikan mereka membayar lunas rasa sakit yang pernah kurasakan dan dirasakan Annisa putri kecilku!" ujar Hana tegas, Naufal tertunduk. Hana bukan orang tua kandung Annisa. Namun dia begitu cemas pada Annisa, sebaliknya dirinya ayah kandung Annisa tidak mampu berbuat apapun demi putrinya.


...☆☆☆☆☆...


Hana berlarian dilorong rumah sakit. Dia menggendong Fathan dengan posisi di depan. Hana mencari ruangan Annisa, Diana dan Salsa mengekor di belakangnya. Naufal mengejar Hana yang berlari mencari Annisa. Setibanya di lorong tempat ruangan Annisa. Hana melihat satu sosok yang sangat dikenalnya. Namun tanpa menoleh atau menyapanya, Hana berjalan melewatinya. Rafa terperangah melihat kedatangan Hana.


Sebenarnya saat Rafa tiba di kantor. Tuan Ardi menghubunginya, mengatakan tentang kondisi Annisa. Seketika itu Rafa langsung menuju rumah sakit. Bagaimanapun Annisa cucu dari rekan bisnisnya? Sekaligus kerabat dari mama sambungnya, Sabrina. Rafa sengaja menutupi kejadian yang menimpa Annisa dari Hana. Rafa tidak ingin melihat Hana cemas. Namun keputusannya salah, bahkan kemungkinan keputusannya akan membuat Hana salah paham.


"Hana, berikan Fathan padaku!" ujar Rafa, Hana mengacuhkan perkataan Rafa. Dengan santai Hana melewati Rafa. Tanpa bertanya Hana masuk ke dalam ruangan tempat Annisa terbaring tak berdaya.


Mira melihat kedatangan Hana berniat mencegah, tapi seketika Naufal menarik tangan mamanya kasar. Sabrina yang melihat sikap kasar Naufal. Ingin membela Mira, tapi Gunawan mencegah Sabrina mendekat. Di luar ruangan orang-orang sedang berdebat.


Hana yang berada di dalam terduduk lesu. Kedua lututnya menghantam lantai, tangannya berpegangan pada tepi tempat tidur Annisa. Seketika tubuh Hana lemas, melihat kondisi Annisa yang terbujur kaku penuh dengan alat bantu kesehatan. Rafa dan Naufal melihat Hana yang terpuruk melihat kondisi Annisa.

__ADS_1


Hana mencoba berdiri, mendekat pada tubuh kaku sang putri kecilnya. Hana mendekatkan wajahnya, dia mencium kening Annisa. Air mata Hana jatuh tepat di kedua mata Annisa. Tangan Fathan menyentuh pipi Annisa. Hana mengusap wajah pucat Annisa, dia juga melihat liotin yang dipegang erat Annisa. Hana mencoba mengambil liontin tersebut, tapi tidak bisa. Seakan Annisa ingin terus menggenggamnya.


"Sayang, mama ada disini. Kamu harus kuat, mama sudah datang. Maafkan mama yang tak pernah bisa melindungimu. Bangunlah dan marahlah pada mama. Annisa putri mama yang kuat. Annisa akan sembuh demi mama. Bangunlah sayang, mama akan membuatkan makanan kesukaan Annisa. Mama akan mengantar Annisa sekolah. Mama akan mengajari Annisa mengaji. Kita akan pergi kemanapun Annisa inginkan. Bangunlah sayang, maafkan mama. Putri kecil mama kuat, mama yakin Annisa mendengar suara mama. Annisa bangunlah sayang, putri kecil mama!" ujar Hana sembari mengusap wajah pucat Annisa. Hana mencium seluruh wajah Annisa, ait matanya membasahi wajah Annisa. Hana mencium tangan mungil sang putri. Tangan yang pernah meminta untuk Hana genggam. Hana mencium bibir mungil Annisa. Bibir yang pernah meminta, agar Hana bersedia dipanggil mama. Hana mencium kedua lutut Annisa. Kedua kaki yang berlari ingin menemuinya.


Hana mencium seluruh tubuh Annisa. Tubuh kaku yang berharap menjadi putrinya. Tubuh kecil yang terluka, hanya demi dendam keluarganya. Hana menatap wajah sang putri kecilnya. Putri yang begitu mencintainya. Dokter jaga yang melihat sikap Hana terharu. Dia menangis melihat kasih sayang yang besar antara Hana dan Annisa. Tiba-tiba tubuh Annisa kejang. Dokter meminta Hana untuk menjauh. Dengan langkah gontai Hana keluar dari ruangan Annisa.


"Sayang!" sapa Rafa, Hana menepis tangan Rafa yang akan menopangnya. Hana bersandar pada dinding luar ruangan Annisa. Dia memeluk erat Fathan, menangis sembari mendekap Fathan. Rafa termangu melihat penolakan Hana. Kesalahpahaman sedang terjadi diantara mereka. Naufal lemas saat melihat tubuh Annisa kejang. Tulang-tulang Naufal seakan remuk, tak lagi mampu menopang tubuhnya. Melihat putrinya berjuang antara hidup dan mati.


"Hana, minumlah dulu. Berdoa, hanya doa yang bisa menyembuhkan Annisa!" ujar Diana, Hana mengangguk pelan. Hana meminum air yang diberikan Diana. Hanna sedikit tenang, Rafa mendekat pada Hana. Dengan sabar Rafa menarik tubuh Hana ke dalam pelukannya.


"Sayang, maaf aku tidak mengatakannya padamu. Aku mungkin egois hanya memikirkan kondisimu. Aku tidak pernah menyangka, jika kamu akan lebih terluka bila aku berbohong padamu. Maafkan aku!" ujar Rafa, Hana mengangguk dalam pelukan Rafa. Hana jauh lebih tenang. Tiba-tiba Mira menghampiri Hana.


"Semua ini salahmu, Annisa mengalami kecelakaan saat akan menemuimu. Dia membangkang padaku, hany demi dirimu. Kamu membawa pengaruh buruk pada cucuku!" teriak Mira, Hana melepsakan pelukan Rafa. Dia meminta Rafa membawa Fathan menjauh. Rafa menolak, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Hana. Dengan mengedipkan mata, Hana mengisyaratkan dirinya akan baik-baik saja.


"Mama, bukan saatnya mencari siapa yang salah? Jika ada yang harus bertanggungjawab, orang itu mama bukan Hana!" ujar Nuafal emosi, Rafa melihat pembelaan Naufal untuk Hana. Sebaliknya Hana hanya diam, saat Mira menyalahkannya. Dia tidak ingin berdebat di saat putri kecilnya berjuang antara hidup dan mati.


"Naufal, kamu kehilangan akal. Dia hanya wanita rendah yang ingin hidup mewah dengan menggoda laki-laki kaya sepertimu dan Rafa. Seharusnya kamu membela mamamu, bukan membela wanita ini!" ujar Sabrina, dia seakan ingin menghancurkan Hana. Rafa merandang mendengar Sabrina menghina Hana. Sekilas Hana menoleh pada Rafa, mengatakan dirinya baik-baik saja.


"Sabrina, diam kamu. Jangan menyiram minyak di atas api!" ujar Gunawan sembari menarik tangan Sabrina kasar. Namun ditepis Sabrina, seolah Mira dan Sabrina ingin bersatu menghina Hana.


"Lihatlah, semua laki-laki membela wanita hina ini. Apa ini yang diajarka orang tuamu? Menggoda laki-laki demi kemewahan!" ujar Mira, Hana maju menghampiri Mira dan Sabrina.


plakk


"Saya diam hanya demi kak Naufal, aku masih mengingat jasanya. Saat dia menolong orang tuaku. Meski jalan takdir berkata lain. Jika anda merasa saya salah. Lalu apa benar yang anda lakukan? Anda melarang seorang anak kecil menemuiku, hanya demi sebuah dendam. Annisa masih sangat kecil untuk mengerti kebencian anda pada saya. Dia hidup tanpa kasih sayang yang sempurna. Semua hanya karena keegoisan anda. Kini anda ingin merebut kebahagian sederhananya. Dia hanya ingin bertemu denganku. Takutkah anda bila dia akan memilihku daripada kalian keluarganya. Lebih baik anda sadar sekarang, sebelum semua terlambat. Anda memiliki seorang putri, tidak sadarkah anda. Jika air mataku kelak, akan bisa menjadi air mata putrimu. Dulu anda tanpa sengaja menjadi alasanku kehilangan kepercayaan kedua orang tuaku. Sampai akhirnya mereka meninggal dengan membawa rasa kecewa padaku. Kini anda ingin melihat Annisa pergi, membawa kebencian untuk keluarganya sendiri. Ironis, bertahun-tahun anda tidak berubah. Tetap Mira Wirawan yang arogant dan sombong akan harta!" tutur Hana emosi, sesaat setelah menampar pipi Mira. Semua orang terkejut melihat Hana menampar Mira. Seketika Mira mundur beberapa langkah. Perkataan Hana seakan menampar hati dan jiwa Mira.


"Hana!" panggil Sabrina, dengan mengangkat tangan ingin menampar Hana. Sontak saja Hana menahan tangan Sabrina, lalu menghempaskan kasar.


"Tangan anda tidak pantas menyentuh kulit saya. Jika anda berpikir lebih terhormat dari saya. Sebaiknya anda melihat siapa anda sebenarnya? Meski aku merayu kak Rafa atau Kak Naufal demi kemewahan. Namun aku tidak hina seperti anda, yang merebut cinta dari wanita terhormat dan dengan bangga anda menjadikannya terhina dan terasing dalam keluarganya. Belajarlah menghargai orang lain, sebelum anda berpikir ingin dihargai. Jika anda ingin mengerti kata-kata terhormat. Wanita terhormat tidak akan menjadi yang kedua dan menyakiti yang pertama. Wanita terhormat tidak akan merendahkan kaumnya sendiri. Sebab sejatinya setiap wanita itu sama!" tutur Hana, Sabrina meradang. Saat Sabrina ingin membalas Hana. Gunawan menarik paksa Sabrina menjauh dari rumah sakit. Dia menyeret Sabrina dengan kasar.


"Akhirnya kulihat dirimu yang tangguh. Sudah saatnya mereka menghargaimu. Selama ini sudah cukup kamu diam. Menghargai mereka tidak akan membuat mereka menghormatimu. Mereka hanya sekumpulan orang kaya, yang akan terus menghina orang miskin. Lawanlah mereka agar, bukan untuk membangkang. Namun menunjukkan bahwa dirimu layak untuk dihargai!" batin Diana sesaat setelah melihat sahabatnya melawan Mira dan Sabrina.


Kreekkk


"Dokter Naufal, Annisa!" suara dokter Dian terhenti.

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


__ADS_2