KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Sholat Berjamaah


__ADS_3

Sekitar seminggu Faiq mendapat jadwal jaga malam. Dia harus tetap terjaga disaat yang lain tertidur. Faiq berangkat di sore hari dan kembali di pagi hari. Faiq melewatkan makan malam dan sarapan bersama keluarganya. Sebagai gantinya, Faiq selalu makan malam bersama rekan kerjanya. Namun untuk sarapan Faiq tetap pulang ke rumah. Dia tidak ingin melewatkan sarapan yang selalu dimasak oleh Hana. Dia sangat menyukai masakan Hana. Meski hubungan diantara ibu dan anak tidak sehangat dulu. Tepatnya hubungan sebelum kepergian Faiq menempuh pendidikan di luar negeri.


Entah alasan apa yang mendasari kepergian Faiq ke luar negeri? Namun bagi Hana, apapun alasan dibalik sikap dingin Faiq. Semua tidaklah penting, sebab Faiq telah kembali disisinya. Hana memiliki dua putra yang berbeda karakter. Jadi Hana mulai belajar memahami sifat keduanya. Tanpa berpikir ingin membedakan satu dengan yang lainnya. Hana selalu berusaha adil dalam membagi kasih sayangnya. Rafa sebagai seorang ayah selalu bangga pada kedua putranya. Meski tidak semuanya mengikuti jejak karirnya.


Malam ini jadwal terakhir Faiq masuk malam. Hampir setiap sholat magrib dan Isya, Faiq selalu menjadi imam sholat. Sayub terdengar murottal mushola, menandakan waktu sholat isya akan segera dilaksanakan. Faiq berjalan perlahan menuju mushola. Kebetulan sedang tidak ada pasien, tapi seandainya ada pasien. Faiq selalu meminta bantuan dokter yang lain untuk menggantikannya. Faiq lebih memilih sholat berjamaah, daripada nanti harus sholat sendiri. Faiq dokter bertangan dingin bagi pasiennya, tapi bersikap dingin pada wanita yang ingin mendekatinya.


Faiq selalu membawa peralatan sholat di dalam tasnya. Faiq merasa risih bila sholat menggunakan pakaian kerja. Begitupun malam ini, Faiq terlihat sempurna saat menggunakan baju koko. Bukan jas putih dokter yang digunakan, melainkan baju koko putih dipadukan dengan sarung warna hitam dan peci hitam. Faiq terlihat sangat sempurna meski tanpa jas putih kedokteran. Penampilan Faiq sederhana jauh dari kata mewah dan berlebihan. Salah satu kelebihan Hana yang menurun pada Faiq. Sikap rendah diri yang tak pernah bisa dihilangkan. Sikap yang menjadi dasar hidup Hana selama ini. Kini beralih menjadi prinsip hidup Faiq. Sederhana dan tidak membedakan sesama. Selalu menolong tanpa berpikir si kaya atau si miskin.

__ADS_1


Faiq berjalan dengan penuh wibawa. Ketampanan Faiq menyihir para karyawan. Selain tampan dan pintar, Faiq laki-laki yang taat. Nilai plus Faiq dimata para kaum hawa. Faiq layaknya paket lengkap, sebagai imam dunia akhirat yang mampu memenuhi nafkah lahir dan batin. Membimbing sang makmum menuju jannah-NYA. Namun kesempurnaan Faiq tidak mudah diluluhkan. Hanya satu hati yang bisa memilikinya. Satu nama yang tersimpan indah di hati Faiq. Tidak ada satu orangpun yang mengetahui siapa wanita yang beruntung itu? Faiq menyimpan rapat rasa itu, bahkan pada sang pemilik hatinya. Faiq tetap bersikap dingin dan seolah membencinya.


"Dokter Faiq, tunggu!" sapa Annisa ramah, Faiq menoleh lalu dengan cepat menghentikan langkah kakinya. Dia melihat Annisa berjalan cepat menuju ke arahnya. Dokter bercadar yang dulu menjadi dosennya. Dokter yang tak lain saudaranya, putri sambung dari Salsa adik mamanya. Faiq menatap lekat Annisa, saat Annisa berada tepat di depannya. Dengan tatapan yang tak mudah diartikan. Faiq seakan heran mendengar Annisa memanggilnya. Selama ini dia dan Annisa jarang bertegur sapa, bahkan hampir tidak pernah. Faiq merasa ada yang sangat penting. Sehingga Annisa menyapa dan mengejarnya. Terlihat jelas raut wajah Annisa yang panik. Faiq diam mematung menunggu Annisa menghampirinya.


"Ada apa? Katakan secepatnya, aku harus menuju mushola!" sahut Faiq dingin tanpa sedikitpun tersenyum. Annisa menelan ludahnya kasar, ada rasa takut saat dia berhadapan dengan Faiq. Sikap dingin dan tak peduli Faiq pada wanita. Berbanding terbalik dengan keramahan Fathan sang kakak. Dengan suara yang sedikit serak. Annisa mencoba menjawab pertanyaan Faiq. Sekilas Annisa terpesona dengan penampilan dan wibawa Faiq. Meski usia keduanya terpaut sangat jauh. Namun secara kekerabatan, Faiq bisa dikatakan kakak sepupunya. Annisa memendam kekaguman yang tak dapat dikatakan. Faiq menjadi mahasiswa teladan di kampusnya. Sedangkan di rumah sakit, Faiq menjadi dokter hebat yang selalu merawat pasien-pasiennya dengan penuh keramahan dan kehangatan.


"Dokter Annisa, aku tidak mengerti maksud anda. Sejak awal sudah kukatakan, aku tidak bisa bergabung. Aku hanya dokter muda, tanpa pengalaman. Aku masih harus banyak belajar. Jadi sekali lagi, aku minta maaf. Aku tidak bisa membantumu. Anda adalah dokter dengan kemampuan diatas rata-rata. Seharusnya anda bisa memberikan perawatan yang jauh lebih baik. Tentu anda sebagai dokter senior, pasti mengenal banyak dokter hebat. Jadi secara nyata anda tidak membutuhkan bantuan dokter muda sepertiku. Sebaiknya anda minta dokter lain merawat om Naufal!" ujar Faiq, lalu meninggalkan Annisa yang diam mematung. Tak pernah dia menyangka, Faiq bisa sedingin itu padanya. Sedikitpun Faiq tidak merasa kasihan pada Naufal. Meski dengan sadar Faiq mengetahui. Jika Naufal suami dari Salsa, yang tak lain tantenya sendiri. Faiq seolah melupakan hubungan kekeluargaan. Hanya demi sebuah prinsip yang tak mudah dipahami oleh orang lain.

__ADS_1


"Dokter Muhammad Faiq Alhakim, bukankah arti dari namamu laki-laki pemenang dengan penuh kebijaksanaan. Kenapa aku merasa dirimu tak lebih dari laki-laki yang penuh dendam? Maafkan aku yang pernah menyakiti mama Hana. Semua itu murni kesalahanku, tidak ada sangkut pautnya dengan papa. Namun sepertinya kebijaksanan yang tak lain arti dari namamu tidak sesuai. Seharusnya seorang dokter selalu menolong pasien. Tanpa berpikir menolak, bukankah seorang dokter ada untuk pasien yang sakit. Lalu apa arti jas putih yang kamu pakai? Jika untuk menolong pasien kamu butuh pengalaman, yang sebenarnya hanya alasan sebagai caramu membalasku. Warna putih jas kedokteran menggambarkan warna bersih. Landasan seorang dokter yang harus memiliki hati yang bersih!" tutur Annisa lirih, sontak Faiq menoleh. Dia berjalan mundur mendekat pada Annisa. Dia menatap tajam Annisa yang terus saja menunduk. Seandainya dia bisa, ingin rasanya Faiq mengangkat dagu Annisa. Agar dia bisa melihat kejujuran dalam kedua matanya. Berharap Annisa bisa melihat kesungguhan dari perkataan Faiq. Bahwa yang dikatakannya, bukan hanya sekadar alasan. Ingin rasanya Faiq berkata dengan lantang. Bahwa dirinya bukanlah pembohong. Namun dia menyadari, sikapnya hanya akan membuat Annisa malu.


"Dokter Annisa Maulida Zahro, dengarkan saya baik-baik. Jika perlu tatap kedua mata saya. Agar anda bisa melihat kejujuran yang akan saya katakan. Jika anda berpikir penolakan, saya tak lain cara untuk membalas dendam pada anda. Saya bisa memastikan anda salah. Saya seorang dokter bukan penjudi. Saya tidak akan berjudi dengan nyawa orang lain. Demi sebuah balas dendam. Sebagai seorang dokter saya tidak diperbolehkan menolak pasien, tapi tepatkah saya menerima tanggungjawab yang seharusnya menjadi hak orang lain. Meski tidak ada yang mengatakan, seharusnya anda menyadari. Saya hanya dokter muda dan baru di rumah sakit ini. Apa yang akan dikatakan dokter-dokter senior? Bila perawatan direktur utama rumah sakit dibebankan pada saya. Bagaimana perasaan mereka pada saya? Akankah mereka bersikap biasa atau malah akan ada rasa canggung. Bukan saya tidak bersedia membantu. Namun alangkah baiknya, biarkan dokter-dokter senior merawat beliau. Jika mereka menyerah, baru aku akan berusaha. Kita hidup dalam dunia yang penuh pertarungan dan aku bukan laki-laki yang suka bertarung. Aku akan keluar disaat semua orang mulai menyerah!" ujar Faiq, Annisa diam tertegun. Dia tidak menduga pemikiran yang sederhana bisa memiliki arti yang sangat luas. Annisa menunduk malu, setelah mendengar alasan dibalik penolakan Faiq.


"Maaf!" sahut Annisa, Faiq diam tak bergeming. Dia melangkah pergi, suara azan sudah selesai dikumandangkan. Semua orang sedang menunggu Faiq untuk menjadi imam sholat. Annisa melihat punggung Faiq yang mulai menjauh. Pemikiran yang luas, dibalik usia yang masih sangat muda. Annisa merasa bangga akan pemikiran sederhana seorang Faiq.


"Dokter Annisa, sampai kapan anda berdiri disini? Sebentar lagi sholat isya akan dimulai. Bukankah mukena yang anda bawa, menunjukkan bahwa anda akan pergi ke mushola. Aku tidak akan menunggumu, meski aku mengetahui anda akan menjadi makmum sholatku. Di dalam mushola sudah banyak yang menungguku. Putuskan sendiri, anda akan terus diam atau mulai berjalan menuju mushola!" ujar Faiq sesaat setelah menoleh pada Annisa yang diam mematung. Annisa menggeleng lemah, lalu berjalan mengiringi langkah panjang Faiq menuju mushola. Annisa terus merenungi setiap kata yang keluar dari Faiq. Sesuatu yang tidak pernah Annisa pikirkan. Pemikiran sederhana yang tidak akan pernah ada dalam benak setiap orang.

__ADS_1


"Tak kusangka pendapatku tentangmu salah. Aku mengira kamu menolak membantuku, karena dendammu padaku. Aku tidak menduga, kamu menolakku dengan pemikiran yang sangat panjang. Sejak dulu kamu selalu lebih unggul dari yang lain. Tanpa berpikir ingin mengungguli. Sekarang kamu memilih diam, demi kehormatan para seniormu. Aku bangga mendengar alasanmu, tapi sebagai seorang anak. Tidak bisakah aku egois dan hanya memikirkan kesembuhan papaku. Melupakan sejenak perasaan tersisih orang lain. Dokter Faiq, aku berharap kamu merubah pemikiranmu. Aku butuh bantuanmu, demi kesembuhan papaku. Jika kamu bisa menjadi imam sholatku. Tidak bisakah aku menyadarkan harapan kesembuhan papa padamu. Hanya dirimu harapan terakhirku. Seandainya ada jalan yang bisa aku tempuh. Demi kesembuhan papa, aku akan melakukannya. Dokter Faiq, aku mohon rawatlah papa. Setidaknya aku bisa berharap, papa bisa sembuh bila dirawat olehmu!" batin Annisa sembari terus menatap punggung Faiq yang menjauh. Annisa berjalan cepat mengejar Faiq. Dia tidak ingin terlambat melakukan sholat berjamaah.


__ADS_2