KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Lahirnya Sang Pewaris


__ADS_3

..."IBU, seorang wanita yang tangguh berjuang demi lahirnya penerus. ISTRI, seorang wanita yang kuat menjaga kehormatan keluarganya. PUTRI, seorang wanita yang patuh berbakti pada keluarganya. Kodrat yang akan dijalani oleh seorang wanita. Meski dalam memenuhi kodratnya, seorang wanita harus tersakiti dan terhina. Seandainya tulang seorang wanita terbuat dari kayu. Kelak akan ada saatnya, tulang itu rapuh termakan rayap. Namun kenyataannya wanita tercipta dari tulang rusuk laki-laki yang kuat. Walaupun wanita terlahir lemah, tapi dalam lemahnya tersimpan kekuatan yang tak terbantahkan. Wanita bukan makhluk yang sempurna. Namun hadirnya menjadikan dunia serasa sempurna. HARGAILAH WANITA, dia yang melahirkan para penerus, dia yang menjaga kehormatan keluarga, dia cerminan indahnya dunia. Bahagialah bagi para wanita, yang terlahir sempurna dengan kodratnya. Sebaliknya jangan mengeluh, meski terlahir tanpa kesempurnaan. Sebab dibalik ketidaksempurnaan, akan ada sempurna yang tak terlihat. Hadirnya pemilik tulang rusuknya, imam sekaligus pelindung dunia akhiratnya!"...


...☆☆☆☆☆...


"Fathan, bagaimana kondisi Annisa?" ujar Hana lirih, Fathan menggeleng lemah. Tak ada suara yang mampu keluar dari bibirnya. Kecemasan terlihat jelas di wajahnya. Hana memeluk tubuh Fathan, dengan lembut dia mengusap punggung Fathan.


Titik terlemah seorang laki-laki, ketika dia cemas menanti kelahiran sang buah hati. Sekuat apapun seorang suami? Akan lemah kala dia melihat, jerit sakit istrinya. Setangguh apapun seorang ayah? Akan menangis memeluk sang buah hati. Takkan ada senyum dari seorang ayah, hanya air mata yang menetes. Ketika sang buah hati mendengar suara azan dari bibirnya, untuk pertama kalinya. Sedingin apapun hati seorang laki-laki? Akan menghangat melihat kelahiran sang pewaris. Pengingkat sekaligus hadiah terindah dalam pernikahan yang suci.


"Fathan, pasrahkan semua pada Allah SWT. Yakinlah semua akan baik-baik saja. Annisa dan bayimu akan baik-baik saja. Hanya doa yang Annisa butuhkan!" bisik Hana, Fathan mengangguk mengiyakan perkataan Hana. Fathan melepaskan pelukan sang mama. Lalu dia berlutut di depan Hana.


Fathan berlutut di kaki Hana. Dia mencium tangan Hana. Fathan menangis sembari mencium tangan Hana. Air mata Fathan terasa dingin menyentuh punggung tangan Hana. Bahkan hati Hana terenyuh melihat sikap Fathan. Hana mengusap kepala Fathan, Hana merasakan kecemasan yang sedang dirasakan Fathan. Kesakitan Annisa bak pisau yang mengiris tipis hati Fathan.


"Mama, maafkan Fathan yang selalu menyusahkan mama. Rasa sakit yang dialami Annisa, mengingatkan diriku akan rasa sakit yang mama rasakan. Air mata Annisa, menyadarkanku betapa sulitnya melahirkan diriku. Maafkan Fathan yang tak pernah merasa cukup. Fathan yang selalu merasa kasih sayang mama tidak adil. Sedangkan melahirkan Fathan dengan mengorbankan nyawa dan menahan rasa sakit. Sudah cukup membuktikan kasih sayang mama pada Fathan. Selamanya Fathan takkan mampu membalas perjuangan mama. Maafkan Fathan ma, maafkan Fathan!" ujar Fathan dengan tangsi pilu, Hana memeluk tubuh Fathan. Hana berlutut mengimbangi Fathan.


Kegelisahan dan kecemasan Fathan berubah menjadi rasa bersalah yang teramat. Setiap amarah dan kekecewaannya pada Hana. Kini berbalik menjadi penyesalan yang tak termaafkan. Setiap kali Fathan merasa tersisih, Fathan selalu mengeluh dan berpikir Hana tak pernah menyayanginya. Kini dia melihat perjuangan Annisa melahirkan buah hatinya. Fakta yang menyadarkan dirinya, seorang ibu tak pernah pilih kasih.

__ADS_1


"Fathan, tidak ada yang perlu mama maafkan. Fathan tidak pernah salah, selama Fathan mampu menjadi suami dan ayah yang baik. Mama tidak akan marah padamu. Sebaliknya, sekali Fathan menyakiti hati Annisa dan putramu. Maafkan mama, bila takkan lagi ada kata maaf untukmu!" ujar Hana lirih, Fathan mengangguk mengerti. Lagi dan lagi Fathan mencium punggung tangan Hana. Rafa melihat jelas kasih sayang Fathan pada Hana. Rafa mengangguk memahami sikap Fathan.


"Pengorbananmu takkan mampu kami ganti. Takkan pernah cukup kata terima kasih, untuk semua kasih sayang yang kamu berikan. Takkan habis rasa sayang kami untukmu. Hadirmu bukan hanya sebagai pelita dalam hidup kami. Tapi senyummu alasan bahagia kami. Hana Khairunnisa, terima kasih telah melengkapi hidup kami!" batin Rafa seraya tersenyum.


Sekitar satu jam lebih Annisa di ruang bersalin. Lalu pintu terbuka, seorang perawat menemui Fathan. Dengan perasaan was-was Fathan menghampiri sang perawat. Terlihat senyum manis di wajah sang perawat. Dengan penuh keramahan, perawat meminta Fathan mengikutinya. Hana mengangguk pelan, ketika Fathan menoleh ke arahnya. Seolah meminta persetujuan Hana.


"Silahkan masuk pak! Selamat istri anda melahirkan bayi laki-laki. Berat dan panjangnya normal, dia tampan seperti anda. Sekarang silahkan anda mengazaninya!" ujar perawat ramah, Fathan mengangguk pelan. Perawat memberikan bayi merah pada Fathan.


Tangan Fathan bergetar menggendong bayi yang masih merah. Fathan menatap wajah sang putra. Sekilas dia terlihat seperti Annisa. Kedua mata indah Annisa. Seakan berpindah pada sang buah hati. Tak terasa air mata Fathan menetes membasahi pipi sang putra. Dengan bibir bergetar, Fathan mencium kening sang putra. Fathan bahagia sekaligus terharu, buah hati bukti cintanya dengan Annisa. Kini terlahir dengan selamat dan sempurna.


"Terima kasih sayang, kamu lahir dengan semangat. Kini dirimu dan mama alasan bahagia papa. Selamanya papa akan berjuang demi kebahagian kalian!" bisik Fathan lirih, sesaat setelah mengazani sang putra. Terakhir kali Fathan mencium lembut pipi gimbul sang putra. Lalu memberikannya pada perawat.


"Sebentar lagi istri bapak akan dipindahkan ke ruang rawat. Namun untuk bayinya, sementara waktu akan tetap di ruangan khusus bayi. Bapak bisa melihat putranya melalui jendela kaca" ujar perawat ramah, Fathan mengangguk mengerti. Dia keluar dengan perasaan lega. Semua kegelisahannya menghilang berganti kebahagian.


Fathan langsung memeluk Faiq yang datang bersama Davina. Fathan ingin membagi rasa bahagianya kepada Faiq. Satu-satunya saudara yang dimilikinya. Saudara yang akan ada saat suka dan dukanya. Faiq menerima pelukan sang kakak dengan hangat. Faiq mengucapkan selamat atas kelahiran sang keponakan.

__ADS_1


Davina menatap nanar kebahagian Fathan dan Faiq. Davina melihat kebahagian yang jelas terasa. Ada rasa sakit dihatinya, ketika dia mengingat lemahnya. Davina melihat kebahagian keluarga Faiq menyambut sang penerus keluarga Prawira. Pewaris yang mungkin sulit lahir dari rahimnya.


Davina mendorong kursi rodanya menuju ruang bayi. Tak ada yang melihat, saat Davina pergi menjauh. Tepat di depan ruang bayi, Davina menatap bayi-bayi mungil yang tertidur dalam boks bayi. Tangan Davina menyentuh jendela kaca. Seakan dia sedang mengelus lembut pipi sang bayi mungil. Ada rasa ngilu dihatinya, dadanya terasa sesak. Seakan tak sanggup lagi bernapas. Davina menunduk tak sanggup lagi menahan kepedihan. Wajah-wajah mungil bayi yang entah kapan bisa lahir dari rahimnya?


Faiq menyadari kepergian Davina, tapi dia tidak bisa langsung mengikuti Davina. Faiq ingin merusak kebahagian Fathan. Faiq harus menghargai kebahagian Fathan. Meski dia harus melihat Davina tersisih sesaat. Tepat di depan Davina, Faiq berlutut lalu mengangkat dagu Davina perlahan. Dengan lembut Faiq menghapus air mata yang menetes dari kedua mata indah Davina. Faiq mencium lembut kening Davina. Memeluk Davina menenggelamkan Davina dalam dekapan hangatnya.


"Sayang, air mata ini tak pantas menetes dari kedua mata indahmu. Meski aku memahami, air mata ini cerminan kepedihanmu. Jangan berpikir, aku tidak akan bahagia tanpa pewaris. Sebaliknya aku akan bahagia, selama aku melihat senyum di wajahmu. Aku memilihmu tanpa syarat lahirnya seorang pewaris. Aku memilihmu, karena hati dan iman yang menuntuk kita bersatu!"


"Tapi seorang anak lahir sebagai bukti. Aku telah menjadi wanita sempurna. Keluargamu menginginkan lahirnya pewaris darimu. Haruskah aku egois bertahan!" ujar Davina lirih, Faiq menggeleng lemah.


"Davina, seorang wanita akan sempurna, bukan hanya saat menjadi seorang ibu. Sebab kodrat seorang wanita, tidak hanya menjadi ibu. Sebelum menjadi istri, seorang wanita menjadi putri dalam keluarga. Sebelum menjadi seorang ibu, wanita istri dari seseorang. Setelah menjadi ibu, seorang wanita menjadi mertua bagi menantunya kelak. Namun di samping semua itu, wanita sempurna bila mampu menghargai setiap tanggungjawabnya. Jangan merasa rendah, ketika seorang anak tak terlahir dari rahim kita. Seorang anak tidak harus terlahir dari rahim kita. Siapapun bisa menjadi memanggilmu ibu? Selama kamu tulus menyayanginya!" sahut Hana lirih, lalu memeluk Faiq dan Davina bersama. Hana mencium keduanya bergantian. Hana merasa bahagia melihat, cinta Faiq yang begitu besar pada Davina.


"Sayang, kamu akan sembuh dan melahirkan putra kita. Aku mencintaimu, meski takkan pernah ada putra diantara kita. Jangan pernah ragukan itu!" bisik Faiq, Davina mengangguk pelan. Hana tersenyum melihat kebahagian putra dan menantunya.


"Mama akan ada mendoakan kebahagian kalian. Cinta kalian tulus tanpa syarat. Kelak akan banyak pasangan yang belajar dari kalian. Mama bangga pada kalian, meski sulit kalian tetap bersama!" ujar Hana penuh haru.

__ADS_1


...**☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH SELALU MENDUKUNG AUTHOR😊😊😊**


__ADS_2