KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Dokter Daffa


__ADS_3

"Sekarang aku harap, kamu tidak cemburu lagi pada Vania dan Fajar. Mereka ibu dan anak yang tak memiliki hubungan darah!" ujar Farah lirih. Raihan diam lalu mengangguk pelan.


Dia melihat sang bocah berlari menjauh. Ada rasa sedikit terenyuh melihat banyaknya orang yang menyayangi Vania. Tanpa Raihan sadari senyum sederhana Vania hanya akan ada bersama orang-orang yang menyayanginya dengan tulus. Salah satunya Fajar yang selalu merindukan kedatangan Vania. Bocah 5 tahun yang tak mengerti kondisi Vania saat ini. Seorang anak yang menganggap Vania layaknya ibu kandungnya.


"Raihan, terkadang aku melihat cintamu berubah menjadi obsesi yang tak bernalar. Meski aku tahu cinta itu tidak berakal, tapi cintamu meragukan di tempat yang tak semestinya. Namun di saat Vania yang cemburu padamu. Kamu malah menganggap cemburunya tak beralasan. Kamu mungkin mencintai Vania, tapi kamu tidak pernah memahami siapa Vania?" ujar Farah, Raihan menatap lurus ke depan.


Tanah kosong tempat dia berdiri, menjadi tempat harapan dan impian terbesar. Sebuah impian yang diingikan Vania hanya demi orang lain. Vania seakan senja yang ingin terus datang dalam kehidupan orang lain. Raihan melihat betapa luasnya tanah yang diinjaknya. Seluas hati Vania yang tak pernah lelah memberikan kasih sayang pada orang lain. Vania seolah tak pernah kehabisan kasih sayang untuk orang lain.


"Jika kamu mulai meragukan Vania. Kamu harus ingat, masih ada aku yang selalu menantimu!" sahut Sovia sembari merangkul Raihan. Seketika Raihan meronta melepaskan diri dari Sofia. Dengan kasar Raihan menepis tangan Sovia. Raihan tidak ingin Sovia mendekatinya.


"Diam kamu, aku tidak pernah meragukan Vania. Aku merasa malu pada Vania. Hatinya sangat luas, sampai aku sendiri tidak bisa sama dengannya!" sahut Raihan kesal, Farah hanya diam melihat sikap Sovia yang agresif. Seolah Sovia memanfaatkan sakitnya Vania.


Farah mengangguk mulai yakin, akhirnya Raihan bisa menjaga dirinya. Ketika tak lagi ada Vania di sampingnya. Kenapa dulu ketika Vania ada? Raihan malah seolah acuh akan rasa sakit Vania. Sekarang Raihan mulai memahami. Vania bukan wanita misterius dengan banyak rahasia. Dia hanya wanita dengan hati yang luas. Tanpa berpikir ingin orang lain menyadari kebaikannya.


"Raihan, Vania sedang sakit parah. Sudah seminggu dia tidak sadarkan diri. Kenapa kita tidak mencoba menjalin hubungan saja? Setidaknya selama Vania sakit!" ujar Sovia genit, sontak Raihan menoleh dengan tatapan dingin dan penuh amarah. Raihan marah akan sikap Sovia yang keterlaluan. Dia seolah mendoakan kondisi Vania terus memburuk.


"Kalian akan terus berdebat atau kita mulai rapat hari ini. Melihat kisah cinta kalian yang tidak selesai. Membuat mataku sakit, kisah kalian hanya membuang waktuku!" ujar Farah lirih, lalu pergi meninggalkan Raihan dan Sovia.


Raihan langsung mengejar Farah. Dia tidak ingin bersama Sovia. Jika Vania mengetahuinya, Raihan akan benar-benar kehilangan Vania. Hidupnya sudah hancur ketika melihat Vania terbaring tak berdaya. Semua terasa sepi dan sunyi tanpa suara Vania. Entah apa yang akan terjadi bila Vania pergi meninggalkannya?


"Aku ikut denganmu, bersamanya hanya akan membuang waktuku. Aku harus segera kembali ke rumah sakit!" ujar Raihan lirih, Farah mengangguk pelan. Sovia mendengus kesal melihat Raihan dan Farah meninggalkannya begitu saja. Tak ada kata atau sekadar mengajak Sovia ikut dengan mereka.


RUMAH SAKIT


Setelah kepergian Raihan, Davina datang menemani Vania. Faiq sempat menghubungi Davina untuk menemani Vania di rumah sakit. Meski ada perawat yang menjaga Vania. Namun Faiq masih merasa khawatir bila Vania sendirian. Davina tidak keberatan menemani Vania. Selama Hana merasa mampu menjaga Gavi di rumah. Faiq berjanji akan datang menemani Davina bila dia tidak sibuk.


Kondisi Vania mulai membaik, meski dia belum sadarkan diri. Vania seolah enggan membuka mata. Menatap dunia yang penuh dengan kebahagian semu. Vania memilih tertidur dalam bahagia, tanpa memikirkan kehidupan dunia.


"Vania cantik, apa kamu bermimpi indah? Aku melihat senyum manis di wajahmu. Seberat apa beban yang kamu tanggung? Sampai kamu merasa nyaman dalam tidurmu. Vania sayang, tidurlah selama kamu menginginkan. Namun ingatlah, ada tiga nyawa yang bergantung padamu. Satu nyawa yang menantimu sadar dalam sepi hidupnya. Dua nyawa yang terus tumbuh dalam rahim. Jika memang kamu tidak ingin menatap dunia ini. Setidaknya tataplah dunia ini demi tiga nyawa itu!" ujar Davina lirih, sembari mengusap kepala Vania. Davina mencium pipi Vania.

__ADS_1


Entah nyata atau tidak? Davina melihat setetes air mata menetes dari mata Vania. Butiran jernih yang seakan ingin menunjukkan Vania mendengar semua perkataan Davina. Dengan lembut Davina mengusap butiran jernih tepat di bawah mata indah Vania yang terus menutup. Davina menatap Vania yang terlihat tenang dalam tidurnya.


"Kenapa kamu bicara dengan Vania? Semua itu hanya akan membuang waktumu. Selamanya Vania wanita keras kepala yang tidak peduli pada perasaan orang lain. Lihat saja sekarang, Vania merasa nyaman dan tenang. Dia tidak peduli pada rasa khawtir orang-orang yang menyayanginya!" ujar Daffa lantang, suara bass yang menggema di dalam ruang rawat Vania.


Seketika Davina memutar tubuhnya 180° menghadap ke arah Daffa. Davina melihat laki-laki berjas kedokteran. Dia datang bersama Faiq suaminya. Davina merasa heran mendengar perkataan Daffa. Dia tidak pernah melihat siapa laki-laki yang datang bersama suaminya? Davina mundur beberapa langkah, dia mengambil cadar untuk Vania. Daffa bukan mukhrim Vania, tapi Faiq menahan tangan Davina


"Tidak perlu sayang, Daffa bukan orang lain!" ujar Faiq, Davina mengangguk pelan. Davina berjalan menghampiri Faiq. Banyak pertanyaan dalam benak Davina. Tentang siapa sosok Daffa ssbenarnya? Kenapa selama ini Davina tidak pernah melihat Daffa dalam acara penting keluarga Prawira? Sebagai seorang kerabat dekat, tentu Daffa akan ada dalam setiap acara keluarga Prawira. Namun tak pernah Davina melihat Daffa ada. Sore ini pertama kalinya Davina melihat Daffa. Seseorang yang sepertinya sangat dikenal oleh Faiq.


Davina diam termenung bermain dengan pikirannya. Sekilas dia melihat tatapan Daffa yang berbeda. Tatapan penuh kerinduan pada Davina. Tatapan yang menyimpan cinta begitu dalam. Namun seolah cinta itu harus tetap tersimpan. Layaknya cinta Davina dulu untuk Faiq. Davina semakin merasa aneh ketika Daffa mendekat pada Vania. Davina melihat Daffa membelai wajah Davina lembut. Setetes air mata jatuh menetes tepat di pipi Vania. Davina melihat Daffa secepat mungkin menghapus air matanya.


"Kak Faiq, siapa dia?" bisik Davina, Faiq hanya diam lalu menempelkan telunjuk tepat di tengah bibirnya. Davina mendengus kesal melihat Faiq yang seolah ingin membuatnya penasaran. Faiq melirik Davina, lalu tersenyum menggoda. Faiq seakan senang melihat Davina penasaran.


"Tenanglah sayang, sebentar lagi kamu akan mengenalnya. Siapkan jantungmu, takutnya kamu akan terkejut mendengar kenyataan. Siapa sebenarnya Daffa yang datang bersamaku?" ujar Faiq lirih, Davina memayunkan bibirnya lima sentimeter ke depan. Sontak Faiq mencubit bibir Davina gemas.


"Sayang, jangan memancingku. Kita di rumah sakit, bibirmu membuatku tergoda!" ujar Faiq dengan senyum menggoda. Davina semakin kesal melihat sikap Faiq yang mempermainkannya.


Daffa mundur beberapa langkah dari Vania. Dia menatap wajah teduh yang pulas tertidur. Seolah sang pemilik wajah tak pernah ingin terbangun. Wajah yang pernah begitu dekat dengannya. Vania Aulia Azzahra wanita pertama yang ada dalam hati dan pikirannya. Wanita yang menjadi alasannya keluar dari keluarga besarnya.


Daffa menghampiri suster yang menjaga Vania. Dia melihat catatan penanganan dan obat yang sudah diberikan pada Vania. Daffa meneliti setiap data yang tertulis dari hari pertama Vania tak sadarkan diri. Daffa tidak ingin melewatkan apapun, semua harus Daffa periksa. Daffa tidak ingin ada kesalahan penanganan pada Vania. Meski itu artinya dia meragukan kemampuan Faiq dan Annisa. Sebab mereka berdua dokter yang menangani perawatan Vania.


"Kenapa kamu heran Daffa?" ujar Faiq lirih. Sesaat setelah melihat Daffa mengeryitkan dahinya. Faiq melihat jelas rasa heran yang pernah dia rasakan. Rasa heran yang sampai saat ini belum bisa dipecahkan Faiq dan Davina. Bukan kesalahan penanganan atau obat yang diberikan Faiq dan Annisa.


Terlihat Daffa menggeleng lemah. Faiq mengangguk menyahuti tatapan Daffa padanya. Seolah dia memahami maksud tatapan itu. Daffa terus membolak-balik data yang ada di tangannya. Daffa seolah tak bisa menemukan hal yang salah. Namun merasa heran melihat kondisi Vania yang tak berubah. Kondisi yang tak memburuk, juga tak membaik. Vania seolah tubuh yang mati tapi hidup.


"Faiq, kenapa kondisi Vania seperti ini? Dengan penanganan yang sudah dia terima. Seharusnya Vania sudah sadar. Jika memang tubuhnya menolak pengobatan. Tentu kondisi Vania akan memburuk. Lantas kenapa semua alat vitalnya stabil? Apa yang sebenarnya ingin diperlihatkan Vania?" ujar Daffa heran, Faiq menggeleng lemah. Pertanyaan yang sebenarnya ada dalam benaknya. Davina bak angin yang tak diharapkan kedatangannya. Faiq dan Daffa berbicara dengan bahasa yang tak dimengerti Davina.


Brakkkk


Daffa melempar berkas yang berisi rekam medis Vania. Daffa melemparnya tepat di atas tubuh Vania. Davina menutup mulutnya tidak percaya. Dia melihat Daffa marah pada Vania. Seolah Vania mendengar semua amarah yang ada dalam hati dan pikiran Daffa. Faiq tersenyum melihat sikap Daffa yang keras. Vanua dan Davina memiliki karakter yang hampir sama. Keras kepala dan teguh pada keinginannya. Keduanya tidak akan dengan mudah menerima pendapat orang lain. Namun mereka berdua memiliki hati yang luas.

__ADS_1


"Bangun Vania, semua ini tidak lucu. Kondisimu baik-baik saja. Kenapa kamu seolah senang berada di rumah sakit? Aku tahu kamu tidak tuli, bangun sekarang atau kamu tidak akan pernah melihatku lagi!" ujar Daffa lantang, suster yang menjaga Vania merasa terkejut. Sontak dia mundur beberapa langkah. Davina memegang erat tangan Faiq. Suara lantang Daffa membuat tubuh Davina bergetar.


Kreeekkk


Terdengar suara pintu terbuka. Annisa masuk ke dalam ruangan. Wajar jika Davina ketakutan mendengar suara Daffa. Annisa yang kebetulan lewat saja, mendengar suara Daffa yang berteriak. Sontak Annisa masuk ke dalam ruangan Vania. Keduanya mata Annisa membelalak melihat Daffa berdiri tak jauh dari tubuh Vania. Bahkan Annisa melihat rekam medis Vania yang berantakan di atas tubuh Vania.


"Dokter Daffa, apa maksud anda bersikap kasar pada pasien saya? Vania berada di bawah penanganan saya. Sikap kasar anda akan membuat Vania semakin tertekan!" ujar Annisa emosi, Faiq dan Davina melongo mendengar suara lantang Annisa. Jauh dari kata tenang dan bijak.


Annisa sangat marah melihat Daffa bersikap kasar pada Vania. Annisa tidak bisa menerima perlakuan tak pantas Daffa pada Vania. Dalam kondisi tertekan seperti sekarang. Tidak baik bagi Vania menerima tekanan lagi. Suara lantang Daffa bisa memacu jantung Vania. Annisa tidak ingin terjadi sesuatu pada Vania. Sebagai seorang dokter spesialis saraf, Annisa mengetahui jelas sedikit tekanan pada Vania. Bisa membuat perubahan yang tak terduga.


"Faiq, kenapa kamu hanya diam melihat perlakuan tak pantas dokter Daffa? Sebagai seorang dokter kamu harus bisa melindungi pasienmu. Malah kamu diam seakan mendukung sikapnya. Kamu lupa siapa Vania? Dia bukan hanya pasien bagi kita. Dia adik kecil kita, bukan melindunginya kamu malah diam saja!" ujar Annisa emosi ke arah Faiq, Davina mengangguk setuju dengan perkataan Annisa.


Faiq diam melihat Annisa yang begitu marah. Sekarang Faiq mengerti, kenapa Fathan selalu gusar menghadapi Annisa? Ketika Annisa marah bak singa yang siap menerkam siapa saja? Annisa tidak mudah dihadapi, ada emosi dibalik sikap diam dan tenang Annisa. Emosi yang sangat menakutkan, ketika hati dan pikirannya terusik.


"Tenanglah kak, Daffa terbiasa bicara kasar pada Vania. Mereka sama-sama keras kepala. Keduanya sama-sama berhati dingin. Biarkan mereka saling adu keras. Barangkali saja Vania terbangun!" ujar Faiq santai, Annisa menatap tajam Faiq. Seakan amarah Annisa tak lag mampu terbendung.


Daffa menatap ke arah Annisa. Dia tidak marah atau kesal menerima perlakuan Annisa padanya. Sikap Annisa sangat wajar, bila melihat adik kecilnya tertindas. Daffa merasa senang melihat Vania memiliki banyak cinta. Semakin banyak cinta yang dimiliki Vania. Semakin Daffa merasa sikap Vania tak pantas. Sikap yang seolah merasa nyaman dengan sakitnya. Mengacuhkan rasa khawatir orang-orang yang menyayanginya. Sikap Vania seolah tak bertanggungjawab dan tak berhati di mata Daffa.


"Vania, bangun sekarang. Kamu tidak melihat, betapa mereka mencemaskan dirimu. Tidak sepantasnya kamu bersikap acuh. Sesakit apapun kamu sekarang. Seharusnya kamu lawan, bukan malah merasa nyaman!" ujar Daffa lantang, Annisa semakin meradang mendengar sikap kasar Daffa.


"Dokter Daffa cukup, sebaiknya anda pergi dari ruangan ini. Aku tidak ingin Vania semakin tertekan. Kondisinya tidak memungkinkan menerima amarah tak jelas darimu. Sebagai seorang dokter spesialis, anda mengerti kondisi Vania memang sangat lemah!" ujar Annisa, Daffa menggeleng.


Daffa berjalan mendekat ke arah Annisa. Sontak Annisa mundur beberapa langkah. Sedangkan Davina mulai panik melihat sikap Daffa yang melewati batas. Faiq tetap diam tenang melihat Daffa. Meski mereka tak pernah dekat, Faiq mengenal sikap Daffa dengan baik.


"Dokter Annisa, aku senang melihatmu khawatir pada Vania. Namun sebagai seorang dokter, kita tidak boleh hanya mengandalkan otak. Terkadang kita butuh hati. Lihatlah tubuh Vania, mungkin dia lemah tak berdaya. Namun sesungguhnya dia baik-baik saja. Vania hanya butuh dukungan untuk bangkit. Bukan obat-obat yang hanya akan membuatnya semakin sakit!" ujar Daffa tegas dan dingin. Annisa diam mendengar sesuatu yang tidak masuk akal, tapi sesungguhnya memang benar adanya.


"Siapa sebenarnya dokter Daffa? Kenapa begitu mengenal Vania?" ujar Annisa lirih.


"Siapapun saya tidak penting? Aku tidak akan merawat seorang pasien yang tak pernah ingin sembuh!" ujar Daffa lirih, lalu berjalan melewati Annisa. Bagi Daffa kondisi Vania baik-baik saja. Hanya ada satu alasan yang membuatnya bertahan dengan sakitnya. Entah apa yang sedang dirasakan Vania? Hanya Vania yang mampu menjawabnya.

__ADS_1


"Kak Daffa, jangan pergi!" ujar Vania lirih.


__ADS_2