
"Assalamualaikum, ada yang bisa saya bantu!" sapa Hana ramah, umi salwa dan Mila menoleh bersamaan. Sengaja Hana keluar menuju dapur. Dia ingin membantu umi Salwa memasak untuk sarapan. Mila tersenyum saat melihat Hana datang. Umi Salwa menatap Hana lekat, seolah Hana mengingatkan umi akan seseorang.
"Waalaikumsalam!" sahut mereka serempak. Hana menghampiri umi Salwa, setelah mencium lembut punggung tangan umi Salwa. Hana duduk disamping Mila. Dua wanita yang mencintai satu hati.
"Sebenarnya tidak perlu kamu datang kemari. Ada Mila dan beberapa santri yang membantu!" ujar umi Salwa, Hana tersenyum sembari ikut menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan. Mila melihat sifat Hana yang sederhana. Kebetulan pagi ini tim yang dibawa Rafa tiba. Sebenarnya Rafa sudah menyiapkan akomodasi untuk mereka. Khusus pagi ini abi Malik ingin semuanya berkumpul untuk sarapan bersama.
"Apa kabar mbak Mila? Lama tidak bertemu!" sapa Hana, Mila menoleh seraya tersenyum simpul. Umi salwa melihat kedekatan Hana dan Mila. Umi Salwa mengetahui jelas perasaan Mila pada Rafa. Saat dia mengetahui Rafa telah menikah, umi Salwa kecewa dan marah.
"Baik Hana, aku harap kamu juga dalam kondisi baik-baik saja!" ujar Mila, Hana mengangguk seraya kedua tangannya terus membantu Mila. Umi Salwa melihat sosok Hana yang berbeda. Meski Hana tidak terdidik dalam lingkungan pesantren. Namun tutur kata dan sifatnya sangat baik. Dia sopan dan ramah pada siapapun? Senyum dan kedua bola mata Hana mengingatkan umi Salwa akan seseorang. Sahabat yang telah lama tidak pernah bertemu.
"Hana, umi heran kenapa kamu dan Rafa tidak membawa supir pribadi dan pengasuh Fathan? Bukankah kamu membutuhkannya selama disini. Seperti sekarang, kamu sibuk membantu kami. Lalu Fathan bersama siapa?" tutur umi Salwa cemas, Hana menggeleng lemah. Seutas senyum terlihat di wajah Hana. Mila baru sadar, jika Rafa dan Hana datang tanpa membawa pengasuh dan supir. Padahal jarak pesantren sangat jauh dari rumah Rafa. Pasti akan repot bila mengasuh Fathan tanpa bantuan seseorang.
"Saya tidak pernah menggunakan jasa pengasuh. Kami berdua sepakat untuk mengasuh Fathan bersama-sama. Seandainya saya sibuk, kak Rafa yang akan mengasuh Fathan. Seandainya ka Rafa yang sibuk. Saya sendiri yang akan mengasuh Fathan. Pagi ini Fathan sedang ikut kak Rafa memeriksa lokasi dan persiapan pembangunan!" tutur Hana lirih, umi Salwa mengangguk pelan. Ada rasa kagum pada sosok Hana. Rafa bukan orang yang akan kekurangan uang untuk menyewa satu bahkan dua pengasuh sekaligus. Namun dengan bijak Hana tidak menginginkan bantuan pengasuh.
"Kamu hebat Hana, bisa mengasuh Fathan sendiri. Bahkan kak Rafa membantumu mengasuh Fathan. Aku pikir dengan harta yang kalian miliki. Pasti sangat mampu menyewa seorang pengasuh. Ternyata kalian memilih saling membantu dalam mengasuh Fathan!" ujar Mila menimpali, Hana mengangguk. Umi Salwa melihat kesederhanaan seorang Hana. Raut wajah Mila berubah menjadi pias. Mungkin dia sudah menyadari, cintanya tak mungkin terbalas. Namun melupakan cinta yang ada selama bertahun-tahun. Tentu takkan mudah dan butuh waktu.
"Apa Rafa tidak pernah memaksamu untuk menggunakan jasa pengasuh? Aku mendengar dari Rafa, kamu mengelola bisnis makanan. Pasti semua itu akan menyita waktumu. Tentu saja akan membuatmu lelah. Tidak mungkin Rafa tega melihatmu kelelahan mengasuh Fathan, sembari tetap bekerja!" ujar umi Salwa, seakan ingin mencari cela. Mila memahami arah pembicaraan bibinya. Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Hana membalas perkataan umi Salwa dengan senyum ramah.
"Kak Rafa tidak akan pernah memaksa. Sebab dia percaya aku mampu mengasuh Fathan. Walaupun aku masih harus pergi ke toko. Seandainya aku tidak mampu, kak Rafa sendiri yang akan membantuku merawat Fathan. Seperti halnya supir pribadi, bukan kami tidak memilikinya di rumah. Namun selama kak Rafa tidak sibuk, dia sendiri yang akan menjadi supir pribadi kami berdua. Kak Rafa tidak akan tenang bila aku dan Fathan pergi dengan orang lain. Kak Rafa ingin kemanapun kami pergi harus bersamanya? Sebab itu dia sendiri yang mengemudikan mobilnya membawa kami berdua kemari!" tutur Hana, seketika Mila menunduk lemah mendengar penuturan Hana. Umi Salwa melihat raut kesedihan di wajah Mila. Rasa kecewa mengenang cintanya yang tak terbalas.
"Sebuah keluarga yang penuh dengan pengertian. Keluarga yang dulu pernah aku dambakan. Keluarga yang tak akan pernah aku miliki. Imam yang pernah kuharapkan, kini sepenuhnya menjadi imam wanita bernama Hana Khairunnisa. Tulang rusuk yang kuharapkan menjadi alasanku teecipta. Telah menemukan pemiliknya. Sudah saatnya aku sadar, semua sudah diatur. Air mataku kini, akan berubah menjadi senyum kelak. Kesedihanku akan menjadi alasanku bahagia suatu hari nanti. Aku akan mampu menggapai kebahagianku. Setiap insan tercipta berpasangan. Aku yakin kelak akan ada, imam untukku!" batin Mila.
"Hana, sebuah pernikahan akan langgeng dengan pengertian. Bersyukurlah Rafa mengerti dan membantumu dalam segala hal. Meski tugas seorang suami mencari nafkah. Alangkah baiknya bila dia juga membantu istri dalam mengurus suami. Sebaliknya seorang istri harus bisa mengerti kesibukan suami. Sehingga tidak akan pernah ada rasa iri dalam peran suami dan istri dalam rumah tangga. Rafa yang aku kenal telah berubah. Kamu membuatnya peduli akan orang lain. Terlihat dia membantumu mengasuh Fathan!" tutur umi Salwa, Hana dan Mila mengangguk hampir bersamaan. Mereka mendengarkan perkataan umi Salwa dengan seksama. Nasehat seorang ibu akan kehidupan rumah tangga.
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...
Saat Hana membantu Mila dan umi Salwa memasak. Fathan ikut dengan Rafa menemui para pengembang yang ditugaskan Rafa. Fathan digendong Rafa menggunakan gendongan jenis SSC. Sehingga aman untuk Fathan yang mulai aktif. Fathan digendong dengan posisi menghadap ke depan. Meski menggendong Fathan, Rafa masih bisa leluasa berbicara dengan para pekerja.
Fathan terlihat senang berhadapan dengan banyak orang. Rizal yang kebetulan ikut dengan Rafa tidak ada hentinya menggoda Fathan. Rizal gemas melihat pipi gimbul Fathan. Saat Fathan tertawa, bukan hanya Rizal yang tersenyum. Para pekerja yang sedang diberi pengarahan oleh Rafa ikut tersenyum.
Fathan menjadi idola baru, bahkan beberapa santri yang lewat gemas ingin memeluk dan mencium Fathan. Namun semua itu hanya khayalan. Sangat tidak mungkin mereka mendekat. Ada ustad Rizal disampingnya yang pasti tidak akan mengizinkan.
"Rafa, bayimu lucu sekali. Tampan seperti dirimu, pasti besarnya akan seperti papanya. Menjadi idola para wanita!" ujar Rizal membuka pembicaraan, Rafa menggeleng dengan tegas.
"Aku tidak akan membiarkan Fathan sepertiku. Aku ingin dia mirip dengan Hana, baik pribadi dan wataknya. Kalau ketampanan mirip aku, itu sudah keturunan. Buktinya kamu cinta mati dengan Kiara adikku!" ujar Rafa, Rizal mengangguk mengiyakan. Rizal memegang tangan Fathan, dia mengerakkan kesamping kanan lalu ke kiri. Fathan tertawa lepas, Rafa tersenyum melihat Rafa sedikitpun tidak rewel. Malah cenderung betah. Sebenarnya dimanapun Fathan berada? Selama ada Hana, dia tidak akan rewel. Sebab Fathan ASI eksclusive, sehingga selama ada Hana semua aman terkendali.
"Aku hampir kehilangan akal memikirkan adikmu. Malah yang dipikirkan semakin menjauh dan acuh. Kamu lihat sendiri semalam, abi Malik sampai dibuat terdiam oleh Kiara. Seorang abi bisa kehabisan kata-kata saat berbicara dengan Kiara. Aku heran, kalian berdua kenapa bisa sama. Tidak mudah dipahami. Namun sepertinya Rafa yang dulu, kini takluk oleh pesona Hana" ujar Rizal, Rafa mengangguk seraya tersenyum. Rafa mengusap rambut hitam Fathan. Lalu mencium puncak kepalanya lembut. Rizal menatap sang sahabat yang berubah karena sebuah cinta.
"Mungkin kebahagian yang sama akan kurasakan. Seandainya adik cantikmu tidak teguh pada pendiriannya. Sekarang aku sendiri yang bingung. Mengendalikan hasrat untuk melihatnya. Kiara santai saja, dia tidak pernah menganggapku ada. Sedangkan setiap sujud aku selalu kebayang wajahnya!" ujar Rizal kesal, Rafa tersenyum mendengar perkataan Rizal.
"Percayalah, jodoh tidak akan tertukar. Jika memang Kiara yang ditakdirkan menjadi makmummu. Sampai kapanpu dan sejauh apapun jarak? Kelak kalian akan bertemu. Kiara sudah memastikan hatinya untukmu. Hanya dia butuh waktu menjadi pribadi yang lebih baik. Sekadar ingin menyamakan diri denganmu. Bukan ingin melebihi dirimu!" tutur Rafa, Rizal mengangguk mengerti.
"Semakin aku mengenal Kiara, aku semakin menyayanginya. Kelak izinkan diriku untuk melindungi dan menjaganya!"
"Sepenuh hati aku akan menyerahkan Kiara padamu. Tidak akan ada imam sebaik dirimu. Setidaknya, berikan Kiara kebahagian yang sempurna. Kebahagian yang belum mampu aku berikan padanya sebagai seorang kakak!" tutur Rafa, Rizal mengangguk. Terlihat Fathan tertidur dalam gendongan Rafa. Rizal mencium kening Fathan lembut.
"Kak Rafa, sarapan sudah siap. Abi dan umi menunggu kalian!" ujar Mila, Rafa menoleh bersamaan dengan Rizal. Mila menatap Fathan yang tertidur dalam gendongan Rafa. Bayangan sebuah keluarga kecil yang selalu dia dambakan.
__ADS_1
"Mila, sejak ada Rafa kamu tidak pernah memanggilku!" goda Rizal, Mila menunduk malu. Sebaliknya Rafa tersenyum agar tidak terlalu canggung. Mila pergi meninggalkan Rafa dan Rizal. Rafa meminta semua pegawainya ikut sarapan bersama.
"Kak Rafa, berikan Fathan padaku! Agar kak Rafa bisa sarapan." ujar Hana saat melihat Rafa datang bersama Rizal. Rafa menggeleng. Fathan terlihat pulas dan tenang tidur dalam gendongan Rafa. Sedikitpun dia tidak terganggu dengan suara berisik.
"Sayang, aku sarapan nanti saja. Kamu makan dulu, takutnya nanti Fathan bangun butuh ASI!" Hana menggeleng lemah, Rafa mengeryitkan alisnya tidak mengerti.
"Aku tidak akan makan, jika kak Rafa tidak makan. Aku akan menemanimu makan nanti. Aku tidak tega, kalau kak Rafa harus makan sendirian!" ujar Hana lirih, Rafa tersenyum simpul.
"Sayang, kita makan sepiring berdua saja. Kamu suapi aku, sedangkan aku tetap menggendong Fathan!" ujar Rafa menggoda, Hana mengangguk tanpa berpikir. Rafa terkejut melihat anggukan Hana. Biasanya dia akan menghindar bila diminta untuk menyuapi Rafa di depan umum. Malah sekarang Hana mengangguk tanpa ragu.
"Kak Rafa, duduk di sampingku. Agar aku mudah menyuapimu!" ujar Hana, Rafa semakin heran dengan sikap Hana. Rafa duduk tepat disamping Hana. Mila duduk tepat di depan Rafa. Dia melihat kemesraan Hana dan Rafa. Ada rasa ngilu dalam hatinya. Namun dengan cepat Mila mengendalikan hatinya. Rafa bukan lagi laki-laki yang bisa dia impikan.
"Sayang, kamu tadi malam bermimpi apa? Kenapa aku merasa sikapmu sangat aneh?" bisik Rafa, Hana menolej seraya tersenyum. Hana menyuapi Rafa dengan tangan. Satu suapan sudah masuk dengan sempurna. Semua orang tidak berani berkomentar. Bahkan abi dan umi hanya melihat, lalu tersenyum bahagia melihat cinta diantara Rafa dan Hana.
"Aku tidak ingin kehilanganmu. Jika aku tetap dingin, maka akan ada alasan kak Rafa meninggalkanku demi wanita lain. Apalagi ada wanita sesholeha Mila yang menunggumu. Aku tidak akan membiarkan siapapun merebutmu atau menyentuhmu. Aku mencintaimu, aku tidak ingin kehilangan dirimu!" bisik Hana mesra. Rafa menelan makanannya bulat-bulat. Dia terkejut mendengar ungkapan cinta Hana.
"Jadi kamu mencintaiku saat ada Mila!" ujar Rafa, Hana menggeleng. Dia menyuapi Rafa untuk kedua kali. Rafa membuka mulutnya lebar, Hana mengelap sisa makanan yang tanpa sengaja keluar.
"Aku mencintaimu saat melihatmu tidur. Sebab dengkuran halusmu membuktikan, betapa lelahnya dirimu demi kebahagiaku dan Fathan. Aku menyayangimu saat menatap tubuhmu yang penuh dengan keringat. Sebab setiap tetes keringatmu, bukti kasih sayangmu padaku dan Fathan. Kamu bekerja hingga keringatmu bercucuran. Aku mengagumimu ketika aku merasakan dekapan hangatamu. Dekapan yang akan melindungiku dan Fathan. Semua rasa cintaku tersimpan rapat hanya untukmu imam dunia akhiratku!" bisik Hana, Rafa mengangguk tersenyum dengan mulut penuh nasi.
"Terima kasih!" sahut Rafa, Hana mengangguk.
☆☆☆☆☆
__ADS_1