KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Makan Malam


__ADS_3

Setelah hampir dua jam tak sadarkan diri. Hana tersadar dengan kondisi yang masih sangat lemah. Hana memaksa kedua matanya membuka sempurna. Dia mengerjap-ngerjapkan kedua mata indahnya. Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan putih tempat dia terbaring lemah.


Hana melihat sebuah ruangan yang cukup luas. Dengan semua fasilitas mewah tersedia. Tangan kiri Hana terpasang selang infus. Tatapan Hana menangkap satu sosok yang mengganggu pikirannya. Hana melihat seorang Rafa Akbar Prawira dengan penampilan yang berbeda. Selama ini Rafa yang dia kenal, tak lain Rafa seorang bos tanpa kerja keras.


Hana melihat betapa cekatan kedua tangan Rafa mengautak-atik laptop. Meneliti satu per satu tumpukan berkas di sampingnya. Rafa terlihat fokus dan teliti. Mungkin itu juga, alasan kesuksesan seorang Rafa Akbar Prawira. Penuh dedikasi akan pekerjaannya, bertanggungjawab akan setiapa tugasnya.


"Aaawwww!" teriak Hana kesakitan. Seketika Rafa mendongak sesaat setelah mendengar Hana berteriak. Sebenarnya Hana mencoba bangun. Namun lemah tubuhnya, serta kepalanya yang masih pusing membuatnya kesakitan. Rafa menghampiri Hana, dia melihat Hana memegang kepalanya. Raut wajah Rafa berubah menjadi pucat.


"Mana yang sakit? Aku panggilkan dokter!" ujar Rafa cemas, sembari memijit pelipis Hana lembut. Hana menggeleng lemah, dia menatap Rafa dengan mata sayu. Seolah mengatakan jika dia baik-baik saja.


Rafa menatap wajah Hana lekat. Rasa cemasnya berganti dengan rasa rindu yang membuncah. Kesalapahaman yang terjadi seolah menghilang dalam sekejap. Ada dorongan aneh di hati Rafa. Sebuah rasa yang menghancurkan kesombongan Rafa. Harga diri Rafa yang enggan mengakui Hana sebagai istrinya. Wanita yang mampu mengisi kekosongan hati seorang Rafa Akbar Prawira.


"Tidak bisakah kamu bersandar padaku! Mengatakan semua rasa sakitmu. Meruntuhkan harga dirimu, jika sudah seharusnya kamu butuh aku!" bisik Rafa sembari memeluk Hana. Rafa meruntuhkan dinding tinggi keangkuhannya. Rafa menyalurkan semua rasa rindunya pada Hana. Sedangkan Hana hanya mampu terdiam membisu, mematung seolah tak percaya Rafa mengatakan semua itu.


"Hana, setinggi apa harga dirimu? Sehingga sulit untukmu mengakuiku sebagai suamimu. Bahkan di depan sahabatmu, kamu tetap bungkam. Di depan kakekku, mulutmu tetap terkunci rapat. Bahkan kamu mengatakan, hubungan kita tak lebih dari teman. Hanya itukah status hubungan kita sekarang?" ujar Rafa, Hana terdiam membisu. Semua yang dikatakan Rafa benar. Kenyataan yang tak pernah bisa Hana katakan pada siapapun? Bukan karena tak ingin mengakui pernikahan suci ini. Namun sebuah janji telah menutup rapat mulut Hana. Membunuh hati yang belum pernah merasakan cinta. Menghancurkan sebuah kebahagian yang tak pernah terimpikan. Semua lenyap dalam satu detik bersama dengan permintaan seorang suami.


Hana melepaskan pelukan Rafa. Dia membaringkan tubuh lemahnya. Tanpa suara dan kata, Hana kembali tidur. Dia tidak ingin semakin kecewa dengan harapan-harapan palsu yang bisa tercipta tanpa ada yang menghendaki. Sebuah harapan yang akan musnah dalam sekejap, meninggalkan luka yang tak terlihat.


Rafa berdiri mematung menatap Hana yang membisu. Tak ada raut wajah bahagia atau sedih di kedua mata indahnya. Hanya tubuh lemah, wajah pucat yang seolah butuh perawatan bukan perlindungan. Rafa mundur beberapa langkah. Kecewa dan gelisah dua hal yang menghantui Rafa. Bingung memikirkan sikap Hana yang tiba-tiba berubah. Diam dan dingin tanpa belas kasih.


...☆☆☆☆...


Ruang rawat Hana ibarat ruang tanpa penghuni. Baik Hana dan Rafa sama-sama membisu. Diam tanpa berpikir ingin saling menyapa. Rafa yang kecewa dengan sikap dingin Hana. Sebaliknya Hana yang takut kecewa bila membuka hati lagi, memilih untuk bungkam. Hana membangun keteguhan hati yang mulai luluh. Dia tidak ingin merasakan cinta yang akhirnya membuatnya kecewa.

__ADS_1


"Hana!" sapa Diana, Hana menoleh melihat sahabatnya datang. Dia tersenyum menatap satu-satunya sahabat selama dia hidup. Hanya pada Diana, Hana mampu berkeluh kesah. Mengatakan semua luka hatinya, jatuh bangun hidupnya.


Diana mendekat pada Hana, mereka berdua berpelukan. Rafa melihat sebuah senyum yang tersimpan rapat dalam diamnya Hana. Sengaja Rafa meminta Diana datang, berharap sebuah senyum terpancar dari wajah Hana. Dugaan Rafa tidak salah. Hana tersenyum melihat Diana datang. Bahkan wajah pucatnya berubah menjadi cerah.


"Ada apa? Kalian belum berbaikan!" bisik Adrian, Rafa menggeleng lemah. Adrian melihat sahabat yang selalu menang dalam cinta. Kina kalah oleh cinta seorang pelayan. Cinta sejati tanpa sebuah rasa pamrih. Cinta tulus tanpa berpikir ingin memiliki. Cinta sederhana tanpa berpikir kemewahan.


"Hana diam membisu. Sikapnya dingin padaku. Bahkan dia tidak bersedia makan dan minum. Hana seolah ingin menjauh dariku. Entah apa salahku? Bukannya menjawab pertanyaanku, dia mengacuhkanku!" ujar Rafa resah. Adrian melihat Diana dan Hana tertawa bersama. Seakan tidak ada Rafa di sana. Adrian merasa tidak tega melihat Rafa yang terlihat gelisah.


"Sebaiknya kita tinggalkan mereka berdua. Aku yakin kamu belum makan malam. Jika ada kamu, Hana juga tidak akan bersedia makan. Lebih baik kita keluar, biarkan Diana yang menjaga Hana!" ujar Adrian, Rafa termenung sejenak. Dia ragu akan meninggalkan Hana. Namun apa yang dikatakan Adrian memang benar? Semua demi kesehatan Hana.


"Diana, kamu jaga Hana. Aku dan Rafa keluar sebentar. Awas jangan sampai terjadi sesuatu pada Hana. Dia lebih berharga dari apapun! Rafa bisa membunuh siapapun demi Hana!" ujar Adrian menggoda Diana, Hana menunduk malu. Dia merasa apa yang dikatakan Adrian hanyalah sebuah lelucon? Tak pernah Hana merasa Rafa menyayanginya.


"Tenang saja pak, tapi kalau Hana memaksa pulang bagaimana? Sejak tadi dia sudah ingin menarik selang infusnya!" ujar Diana, Hana menarik-narik tangan Diana. Berharap dia tidak membuka mulut. Hana memang ingin segera pulang. Dia tidak betah di rumah sakit. Apalagi hanya berdua dengan Rafa.


"Jika dia berani keluar dari ruangan ini. Aku pastikan besok, kamu dan Adrian aku pecat!" ujar Rafa dingin, Hana menggeleng lemah. Dia ketakutan mendengar perkataan Rafa.


"Kamu dengar Diana, belum terjadi sesuatu. Bos besar sudah kebakaran jenggot. Kamu harus menjaga sahabatmu dengan baik. Jika tidak nasibmu di perusahaan Prawira akan berakhir!" ujar Adrian, Diana mengacungkan jempol pada Adrian. Dia tersenyum mendengar perkataan Adrian. Diana merasakan besar cinta Rafa, tapi anehnya Hana menganggap semua perhatian Rafa sebagai sebuah tanpa sebuah cinta.


Setelah menunggu beberapa saat, pesanan mereka datang. Rafa meminta Diana dan Adrian makan. Sedangkan Rafa sendiri, menghampiri Hana. Dia membawa kotak berisi bubur ayam khusus Hana.


"Kamu belum makan sejak tadi. Aku sudah diam menurutimu. Sekarang kamu harus menurutiku! Aku akan menyuapimu!" Hana menggeleng lemah. Hana tidak mungkin makan, di saat suaminya belum makan. Hana tidak mungkin bisa kenyang, saat mengetahui Rafa dalam keadaan lapar.


"Kenapa lagi? Kamu betah di rumah sakit. Kamu ingin kantorku pindah kemari!" ujar Rafa kesal, Hana menggeleng lemah. Diana dan Adrian melihat kekesalan Rafa bukan sebagai bentuk amarah. Namun sebagai bentuk rasa khawatir yang besar pada Hana.

__ADS_1


"Aku tidak akan makan, jika kak Rafa belum makan. Aku akan makan setelah melihat kak Rafa!" ujar Hana lirih, Rafa tertegun mendengar perkataan Hana. Dia tidak menyangka, alasan Hana tidak menyentuh makanannya. Bukan karena marah pada Rafa, tapi karena melihat Rafa yang belum makan.


"Setelah menyuapimu aku makan. Sekarang buka mulutmu. Semakin lama kamu membuka mulut. Semakin lama pula aku makan!" Hana tetap menggeleng, Rafa kesal melihat sikap Hana yang keras kepala.


"Kalian pasangan kompak, sama-sama keras kepala!" sahut Adrian, Rafa langsung menoleh. Dia melotot pada Adrian, Rafa takut Hana salah paham lagi. Tangan Hana menarik lengan Rafa pelan. Sontak saja Rafa menoleh pada Hana.


"Kak Rafa, kita makan bersama saja. Aku tidak ingin bubur ayam, perutku mual mencium baunya!" ujar Hana lirih, Rafa mengangguk. Dia mengambil jatah makanannya. Rafa makan setelah menyauapi Hana, tapi Hana berhenti setelah tiga suapan.


"Kenapa lagi?" ujar Rafa, Hana menunduk.


"Mulutku masih terasa pahit. Kak Rafa habiskan makanannya, tidak baik membuang makanan. Aku akan kenyang melihat kak Rafa makan!"


"Hana, perkataanmu bisa membuatku salah paham!"


"Maksud kak Rafa!" ujar Hana tidak mengerti. Rafa tersenyum, tiba-tiba Hana memegang tangan kanan Rafa. Dia mencium lembut punggung tangan Rafa.


"Kak Rafa, maafkan Hana yang pernah menyakiti hatimu. Aku tidak pernah bermaksud mengungkit kehidupan pribadi kak Rafa. Aku benar-benar minta maaf! Jangan pernah hukum Diana atau orang lain karena kesalahanku!" ujar Hana memelas, lalu menunduk. Rafa melihat kesungguhan dari Hana.


"Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat!" ujar Rafa seraya tersenyum, Hana mendongak kaget. Dia tidak menyangka jika sebuah kata maaf harus dengan syarat.


"Apa?" sahut Hana lirih hampir tak terdengar. Rafa mendekat pada Hana. Tidak ada jarak diantara mereka. Hanya pakaian yang seolah menjadi pemisah keduanya.


"Jadilah milikku seutuhnya, berikan hakku sebagai seorang suami. Karena hatiku telah memilihmu dan tak bisa berpaling darimu!" bisik Rafa mesra. Hana terdiam membisu, dia merasakan hembusan hangat napas Rafa. Desiran aneh mengalir dalam nadi Hana. Menyalurkan perasaan aneh yang tak bisa ditebak.

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😊😊😊😊


__ADS_2