KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Dua Saudara Kandung


__ADS_3

"Faiq, kakak ingin bicara denganmu!" Ujar Fathan serius, Faiq mendongak ke arah Fathan. Dengan anggukan kepala, Faiq mempersilahkan Fathan bicara.


Fathan dan Faiq dua saudara yang sangat berbeda. Keduanya memiliki watak dan cara berpikir yang berbeda. Fathan yang tegas akan semua hal, berbanding terbalik dengan Faiq yang sangat santai. Fathan yang manja dalam beberapa hal. Berbeda dengan Faiq yang selalu mandiri dan mampu mengambil keputusan sendiri. Dua putra Prawira yang tak pernah sejalan dalam segala hal. Jika orang lain yang melihat mereka. Tidak akan percaya hika mereka dua saudara kandung.


Satu hal yang membuat mereka sama, ketampanan dan kasih sayang mereka pada Hana. Kesamaan yang tak bisa lagi diragukan. Keduanya selalu meletakkan Hana yang pertama dan selamanya. Hana menjadi panutan dan jalan hidup Fathan ataupun Faiq.


"Ada apa Fathan? Kenapa kamu terlihat serius?" Sahut Rafa, Fathan menoleh ke arah Rafa. Sekilas Fathan mengangguk mengiyakan. Faiq terlihat sangat santai, tak ada rasa penasaran sedikitpun. Seakan perkataan Fathan tak pernah terdengar oleh telinganya.


"Faiq, kamu mendengarku atau tidak. Ada hal sangat serius yang harus aku katakan. Hanya padamu aku bisa meminta tolong!" Ujar Fathan tegang, Faiq menatap lekat Fathan. Seakan dia menunjukkan kesungguhannya. Sejak awal Faiq mengiyakan perkataan Fathan. Namun sikapnya yang terlalu santai, membuat Fathan merasa diacuhkan.


"Katakanlah, sejak tadi aku mendengarmu. Kedua telingaku masih berfungsi dengan baik. Aku bisa mendengarmu, meski kedua tanganku sibuk dengan rekam medis ini!" Ujar Faiq dingin dan tegas, Fathan menghela napas panjang. Sikap Faiq membuatnya sangat kesal, bahkan kecewa.


Sejak dulu Fathan tak pernah bisa mengerti pribadi Faiq. Sekuat apapun Fathan ingin dekat dengan Faiq. Sebesar itu pula, Faiq ingin menjauh dari Fathan. Sikap yang seakan tak pernah melunak antara keduanya. Namun terkadang kedekatan mereka, bak lem dan perangko. Sangat dekat dan seolah tak pernah terpisah.


"Faiq, kakak ingin kamu keluar dari rumah sakit. Kakak butuh bantuanmu di perusahaan. Jujur aku sudah tidak sanggup lagi. Perusahaan kita terlalu besar, aku tak mampu mengelolanya sendiri. Apalagi Vania akan segera keluar dari perusahaan. Semakin berat saja tanggungjawabku!" Ujar Fathan, Faiq diam membisu. Tak ada anggukan atau gelengan kepala. Fathan menatap sendu Faiq yang tak merespon perkataannya. Setidaknya Fathan berharap, Fiaq mengiyakan atau menolak permintaannya.


"Fathan, cari orang yang kamu percaya. Jadikan dia tangan kananmu. Agar tanggungjawabmu sedikit berkurang!" Ujar Rafa, Fathan menggeleng tanpa ragu.


Fathan meletakkan sebuah berkas yang cukup tebal. Rafa mengeryitkan dahinya tak mengerti. Sebaliknya Faiq tetap dengan sikapnya, diam tanpa kata. Mengacuhkan perkataan Fathan yang sedang menghiba padanya.


"Apa ini Fathan?"


"Ini mega proyek yang sedang ditangani perusahaan kita. Hampir semua waktuku tersita dalam proyek ini. Namun aku kalah, kemampuanku tak sehebat itu. Banyak waktu terbuang percuma, karena kelemahanku!" Ujar Fathan lirih dan lemah, Rafa menatap Fathan yang tengah lemah tak berdaya.


Rafa mengambil berkas yang ada di meja. Dengan teliti Rafa memeriksa detail kontrak yang ada. Rafa juga melihat anggaran yang tertera di dalam kontrak. Sepintas Rafa memijit pelipisnya pelan. Ada yang terasa ganjal, tapi dimana Rafa sendiri masih bingung?


"Papa bingung!" Ujar Fathan, Rafa mengangguk pelan. Fathan tersenyum simpul, lalu menoleh ke arah Faiq yang terus fokus pada rekam medis pasiennya.

__ADS_1


"Kenapa papa merasa ada yang salah? Kontrak ini bisa berakibat fatal, bila kamu gagal menjalankannya. Namun jika kamu sukses, keuntungannya tidak besar. Jadi secara bisnis, kamu maju atau mundur tidak ada bedanya. Sama-sama rugi waktu!" Ujar Rafa menganalisa, Fathan mengangguk pelan.


Fathan sudah menduga, papanya akan mudah melihat kejanggalan dalam proyek tersebut. Sebagai seorang pembisnis hebat, kemampuan Rafa tak perlu diragukan lagi. Sejak dulu Rafa selalu mampu menebak hasil akhir dari sebuah kerjasama. Pengamatannya selalu tepat sasaran, kecil kemungkinan Rafa salah.


"Lantas, bantuan apa yang kamu harapkan dariku? Jika kamu dan papa saja tidak mampu. Apalagi aku yang tak mengerti dunia bisnis. Kamu salah orang, jika memintaku mengurus perusahaan. Bak tenggelam, tapi meminta bantuan orang yang tak bisa berenang!" Sahut Faiq dingin, Rafa dan Fathan menggeleng hampir bersamaan.


Keduanya berpikir sama tentang Faiq. Mereka menyayangkan sikap Faiq, yang seolah tak pernah peduli dengan kehancuran perusahaan mereka. Tak ada kecemasan di raut wajah Faiq. Seakan kehancuran atau kesuksesan perusahaan itu bukan menjadi hal yang perlu dia pikirkan.


"Faiq, kakakmu serius membutuhkan bantuanmu. Tidak selamanya orang yang mengerti bisnis. Akan dengan mudah menyelesaikan semua masalah. Terkadang orang awam, jauh lebih jeli dan teliti. Karena mereka berpikir yang terbaik, bukan keuntungan terbanyak!" Sahut Rafa dingin, Fathan terdiam. Meski Rafa tak pernah menyindirnya, tapi Fathan merasa perkataan Rafa di tunjukkan padanya.


"Tapi orang awam itu bukan aku!" Sahut Faiq lantang dan tegas.


"Kenapa bukan kamu?" Ujar Hana lirih, Faiq mendongak ke arah Hana. Faiq melihat rasa penasaran di wajah Hana.


"Kenapa Faiq?" Ujar Hana dingin.


"Karena Faiq seorang dokter, sedangkan kak Fathan seorang pembisnis!" Sahut Hana lantang, Faiq mengangguk pelan.


Fathan dan Faiq sama-sama terdiam. Keduanya tak mampu menatap mata Hana. Amarah Hana yang tersirat dari dingin tutur katanya. Nyata membuat Fathan dan Faiq ketakutan. Rafa melihat keajaiban sebuah cinta. Cinta Hana dengan mudah membuat kedua putranya terdiam. Bukan takut, tapi lebih kepada menghargai pendapat Hana. Rafa tak pernah mampu mengatur kedua putranya. Sebaliknya dengan mudah, Hana membuat kedua putranya berubah pikiran. Ketakutan Rafa akan ditinggal kedua putranya jelas terwujud. Jika kelak Rafa menyakiti Hana, penutan hidup kedua putranya.


"Maafkan Faiq, tapi memang itu kenyataannya. Sejak dulu Faiq tak mampu terjun ke dalam dunia bisnis. Kak Fathan jauh lebih mampu menjadi pembisnis. Hati dan jiwa Faiq, hanya menjadi seorang dokter!"


"Tapi bukan berarti kamu langsung menolak permintaan Fathan. Mama tahu dan sangat memahami, jiwamu hanya untuk menolong orang lain. Namun alangkah baiknya, jika kamu bisa membantu Fathan. Dia bukan orang lain, dia kakak kandungmu. Sudah sewajarnya kamu mencoba membantunya. Jika sudah berusaha, tapi kamu tidak bisa. Saat itulah kamu berhak menolak permintaan Fathan!" Ujar Hana menerangkan, Fathan dan Faiq semakin terdiam. Rafa menatap penuh kekaguman pada Hana.


Rafa melihat pribadi Hana yang tegas. Dia kembali menjadi Hana yang dulu pernah dikenalnya. Hana yang tak goyah dan lantang mengatakan isi hatinya. Bukan ingin menggurui, tapi lebih kepada mengingatkan sesuatu ke arah yang benar.


"Sejak dulu kalian tidak pernah satu kata. Mama sadari itu dan mama maklumi, tapi untuk kali ini saja. Mama ingin melihat kalian bersatu. Dua tangan kalian, bukan hanya untuk bersendekap. Memangku tangan bila melihat yang lain kesusahan, tapi menjulur saling menggenggam erat. Agar tidak ada yang jatuh dalam kesusahan!" Ujar Hana tegas dan lantang.

__ADS_1


"Sayang, biarkan mereka mencari jati diri masing-masing. Faiq benar dengan perkataannya. Dia seorang dokter, tidak mungkin baginya untuk terjun ke dalam dunia bisnis yang tak berhati!"


"Lantas, Faiq harus diam melihat Fathan hancur!" Sahut Hana dingin, Rafa menggeleng lemah. Ketegasan Hana nyata membuat Rafa diam seribu bahasa. Hana menatap Fathan dan Faiq bergantian.


"Mama, Fathan akan berusaha semaksimal mungkin. Semua salah Fathan, meminta bantuan Faiq bukan hal yang benar. Dia seorang dokter berhati bersih. Jadi tidak mungkin, terjun ke dalam dunia bisnis yang kejam!" Sahut Fathan, Hana diam menanti jawaban Faiq. Dia sangat yakin, Faiq bisa memilah yang baik dan benar.


"Baiklah, Faiq akan membantu kak Fathan. Sekuat tenaga Faiq akan mencoba membantunya. Hari ini aku akan mengajukan cuti sementara. Aku akan fokus membantu kak Fathan!" Sahut Faiq lugas, Hana mengangguk pelan. Hana menghampiri Faiq, lalu menepuk pelan pundak Faiq.


"Faiq, sudah saatnya kamu merangkul Fathan. Dia membutuhkanmu sebagai sandaran di kala lemahnya. Kelak di saat yang sama, kamu yang akan membutuhkan Fathan. Sebagai saudara sudah sepantasnya kalian saling membantu!"


"Fathan, jangan mengingat Faiq hanya saat kamu membutuhkannya. Dia saudara kandungmu, ingatlah hanya padanya kelak kamu akan bergantung. Sebaliknya Faiq adik yang harus kamu lindungi. Meski dia tak mengharapkan perlindunganmu!" Ujar Hana, Fathan mengangguk mengiyakan.


"Sayang, kamu luar biasa!"


"Kak Rafa, besok pergilah ke kantor bersama Faiq. Bantu dan bimbing Faiq, agar dia bisa memahami tanggungjawabnya!"


"Tapi aku ingin di rumah bersamamu!"


"Kak Rafa, aku paham keinginanmu. Namun alangkah bijak, jika kak Rafa kembali memimpin perusahaan lagi. Fathan dan Faiq butuh bimbinganmu. Sedangkan aku merindukan senyummu!"


"Maksudmu apa?" Sahut Rafa tak mengerti.


"Senyum yang selama ini menghilang dari wajahmu. Hidup yang kemarin malam aku lihat di kedua mata indahmu. Semangat yang ada, kala kamu bertemu dengan rekan kerjamu dulu!"


"Sayang, semua itu tidak benar!" Sahut Rafa meyakinkan, Hana menggeleng lemah.


"Bekerjalah kembali kak Rafa, percayalah aku baik-baik saja. Pekerjaanmu tidak akan mengurangi cintamu padaku. Meski kelak kamu menjadi Rafa yang dulu. Aku akan tetap bersamamu, karena aku mencintai Rafa Akbar Prawira yang playboy penuh dengan kharisma!"

__ADS_1


__ADS_2