
Malam yang kelam menyelimuti hati Faiq. Perpisahannya dan pertemuannya dengan Davina terjadi saat hujan turun. Tak pernah Faiq membayangkan, setelah dua tahun akhirnya dia melihat wajah Davina. Namun bukan senyum yang dilihatnya. Sebaliknya sikap dingin yang dia terima. Faiq merasa bahagia saat dia bisa melihat Davina. Disisi lain dia sedih melihat sikap dingin Davina.
Pertemuannya dengan Davina, menjadi hadiah terindah. Meski Faiq harus menerima sikap acuh Davina. Setidaknya malam ini Faiq mengetahui. Jika Davina sudah kembali. Faia akan memperjuangkan cintanya. Dengan menerima segala resiko yang ada. Faiq yakin Davina masih mencintainya. Dia merasakan ada kerinduan yang sama di hati Davina. Namun dengan sengaja Davina menyimpannya. Selama dua tahun Faiq merasa bersalah. Dia belajar memahami Davina. Tanpa ingin memaksa Davina.
Tepat pukul 23.00 wib, Faiq kembali ke rumah. Dia meninggalkan acara tanpa berpamitan pada Fathan. Faiq pergi mencari ketenangan hati. Agar besok dia bisa bertemu Davina dalam kondisi yang tenang. Setibanya di rumah, Faiq merasa heran melihat rumahnya masih terang benderang. Terlihat beberapa mobil berjejer. Salah satunya mobil yang dikendarai Davina. Sekilas Faiq melihat warna dan plat mobilnya. Faiq juga melihat mobil kedua orang tuanya. Hampir setengah tahun, Hana dan Rafa pergi ke desa. Mereka tinggal sementara di desa tempat kelahiran ibu Rafa. Desa yang jauh dari keramaian kota. Namun malam ini, Faiq melihat mobil kedua orang tuanya.
"Faiq, kamu sudah pulang sayang! Mama sudah lama menunggumu!" sapa Hana, sesaat setelah melihat Faiq masuk ke dalam rumah. Faiq terperangah melihat Hana dan Rafa ada di ruang tengah. Terlihat Adrian dan Diana juga datang. Fathan dan Annisa berada di meja makan. Entah ada acara apa? Sehingga mereka semua berkumpul.
"Mama!"
"Papa!"
"Om dan tante!" sapa Faiq bergantian, Faiq menghampiri mereka semua. Dengan sopan Faiq mencium punggung tangan mereka bergantian. Ada rasa heran melihat mereka semua berkumpul. Setelah menyapa mereka Faiq berniat masuk ke dalam kamarnya. Tubuhnya basah kuyub setelah kehujanan.
"Apa kabar Faiq? Lama om tidak melihatmu. Om dengar kamu menjadi dokter muda berbakat. Pewaris keluarga Prawira tidak bisa diragukan lagi. Kalian berdua mewarisi sifat Rafa. Penuh ambisi dan tekad yang kuat!" ujar Adrian sahabat Rafa. Faiq dan Fathan menyahuti dengan senyuman. Hana menghampiri Faiq, memberikan handuk kering. Sedangkan Diana mengambilkan Faiq segelas teh hangat. Sebenarnya meski Faiq tidak memiliki hubungan dengan Davina. Diana sudah mengangggap Fathan dan Faiq seperti putranya sendiri. Persahabatannya dengan Hana, membuat ikatan persaudaraan yang tak terlihat.
__ADS_1
"Jika Fathan mirip dengan Kak Rafa, sebaliknya Faiq lebih mirip Hana. Fathan berambisi tapi butuh Annisa untuk menopangnya. Sedangkan Faiq, lemah tapi merasa kuat. Fathan membutuhkan Hana seperti papanya. Sedangkan Faiq merasa mampu dengan dirinya sendiri. Sifat buruk Hana yang tidak ingin bergantung pada orang lain. Menurun pada Faiq, sebaliknya sifat manja Rafa menurun pada Fathan. Kalian berdua seolah takut tidak diakui sebagai putra Mereka!" sahut Diana, Hana mengangguk seraya tersenyum. Hanya Fathan dan Faia yang bingung mendengar perkataan Diana.
"Sejak tadi kalian bicara melantur. Meski sebenarnya kalian semua mengerti, apa yang sedang aku pikirkan? Sekarang katakan dengan jujur, kenapa kalian semua bisa berkumpul? Bukankah sejak dua tahun lalu, mama dan tante Daina hilang kontak. Maka dari itu mama tidak mengetahui keberadaan Davina!" ujar Faiq, Hana menggeleng lemah. Dia menuntun Faiq duduk di sofa. Hana menggenggam erat tangan Faiq. Dengan lembut Hana menepuk punggung tangan Faiq.
"Faiq sayang, malam ini kami semua ingin. meminta maaf padamu. Sebenarnya kami semua mengetahui keberadaan Davina. Mama dan papa bahkan sering bertemu dengan Davina. Kakakmu Annisa hampir setiap minggu menghubungi Davina. Satu hal yang paling penting, Davina tidak pernah ke luar negeri. Dia tidak pernah jauh dari dirimu. Namun dia juga tidak dekat denganmu!" tutur Hana lirih, sontak Faiq menoleh pada Hana. Dia heran mendengar perkataan Hana. Ada rasa marah, ketika dia mengetahui semua orang berbohong padanya.
"Mama, kenapa?" ujar Faiq lirih, Hana menunduk. Dia melirik ke arah Rafa, dengan pelan Rafa mengangguk. Annisa mendekat pada Faiq. Dia memberikan sebuah berkas mengenai kesehatan Davina. Faiq membaca semua data dengan seksama. Bagi Faiq sangat mudah membaca semua data tersebut.
"Semua itu menjawab semua pertanyaanmu. Diam kami bukan tanpa alasan, Davina yang memaksa kami untuk tutup mulut. Kami tidak berkutik, Davina mengancam akan pergi selamanya. Jika kami mengatakan yang sebenarnya padamu!" ujar Annisa lirih, Faiq diam membisu. Banyak yang ingin dia katakan, tapi mulutnya tertutup rapat. Tak ada kata yang mampu terucap di bibirnya. Semua terhenti di tenggorokannya.
Tap Tap Tap
"Davina!" sapa Faiq, dia melihat Davina berdiri di balkon lantai dua. Balkon yang menghadap ke arah taman belakang rumahnya. Faiq berjalan setengah berlari. Faiq melihat tubuh Davina yang semakin kurus. Dengan tangan bergetar, Faiq menarik tubuh Davina. Faiq melupakan batasan yang ada diantara mereka. Faiq merasa sikapnya benar, tak ada lagi yang bisa menahan kerinduan dan rasa khawatir Faiq.
"Bisa lepaskan pelukanmu, kita bukan mukhrim!" ujar Davina lirih, Faiq menggeleng lemah. Dia tidak ingin melepaskan pelukannya. Faiq memeluk Davina dengan sangat erat. Desiran hangat mengalir dalam nadi Faiq.
__ADS_1
"Kenapa kamu menutupinya dariku? Apa aku tidak pantas dipercaya? Apa aku tak layak menjadi sandaranmu? Kenapa kamu pergi meninggalkan diriku? Padahal kamu membutuhkanku, kenapa kamu menghukumku seberat ini?" bisik Faiq, Davina menggeleng lemah. Semua orang tahu kepergian Davina bukan untuk menjauh dari Faiq. Kepergiannya tak lain demi pengobatannya.
"Maafkan aku, bukan aku tidak percaya padamu. Melihatmu terluka memikirkan diriku, aku tidak akan pernah sanggup. Kamu akan selalu sempurna di mataku. Aku tidak ingin melihatmu kecewa. Senyummu alasan kuatku, tangismu alasan lemahku. Buktinya kepergianku, membuatmu menyadari cinta mereka. Bahkan aku menyadari, hanya dirimu yang aku impikan!" ujar Davina, Faiq diam membisu. Faiq mengingat rekam medis yang diberikan Annisa. Seketika Faiq menarik tubuh Davina. Kini keduanya saling berhadapan, Faiq menatap wajah Davina yang terus menunduk. Dengan perlahan Faiq mengangkat dagu Davina. Tatapan keduanya saling bertemu, Faiq menatap lekat wajah Davina.
"Sayang, kenapa kamu melakukan semua itu? Kenapa kamu merusak kesehatanmu? Apa semua ini karena diriku? Sebesar itukah aku menyakiti hatimu? Sampai kamu bertaruh dengan nyawamu. Seharusnya kamu menghukumku!" ujar Faiq lirih, Davina menggeleng lemah. Dia menatap lekat wajah Faiq. Davina mendengar panggilan yang telah lama dia impikan. Panggilan mesra dari Faiq, imam yang selalu Davina rindukan.
"Bukan aku bertaruh dengan nyawaku, tapi cintaku yang besar tak sekuat tubuh dan imanku. Rasa takut kehilanganmu, sikap dinginmu padaku. Pesonamu yang memikat para kaum hawa. Membuat hatiku selalu gelisah dan khawatir. Satu atau dua hari aku mampu melewatinya. Namun semua berlangsung sampai berbulan-bulan. Sehingga aku memberanikan diri mengkonsumsi obat tidur. Semenjak aku gelisah memikirkan dirimu. Aku semakin sulit tidur, hanya dengan meminum obat tidur aku bisa terlelap. Sampai akhirnya pagi itu, mama menemukanku dalam kondisi over dosis. Aku ingin bersandar padamu saat itu, tapi kesibukanmu merawat ayahnya Zahra. Membuatku menyadari aku harus bisa mandiri. Aku tidak ingin cintaku menghalangi kesuksesanmu. Sebab itu aku meminta semua orang merahasiakan kondisiku. Secara diam-diam kak Annisa merawatku. Namun penyakit yang berasal dari hati. Tidak akan mudah disembuhkan, meski dengan obat yang paling baik. Mama menceritakan kondisiku pada mama Hana. Dengan sarannya, aku pergi menenangkan diri di pesantren. Selama dua tahun, aku mencari iman demi pantas bersanding denganmu. Sempat aku merasa tak pantas untukmu, karena aku wanita yang pernah mengalami depresi. Namun mama Hana datang dengan kasih sayang. Dia meyakinkan diriku, bahwa putranya Faiq hanya akan bahagia bersamaku. Sampai akhirnya malam ini aku memberanikan diri bertemu denganmu!" ujar Davina, Faiq menunduk. Tubuhnya terasa kaku, dia ingin marah pada dirinya. Davina terluka karena sikap acuhnya. Davina terobsesi akan cintanya pada Faiq.
"Kak Faiq, semua sudah terjadi. Kini aku menyadari, bahwa semua yang terjadi sudah ada dengan jalannya. Aku salah mencintaimu melebihi imanku. Sehingga aku selalu tidak percaya akan ketentuan-NYA. Aku meragukan semua yang terjadi, aku merasa semua tidak adil untukku. Aku bukan Davina yang sempurna, aku memiliki sisi lemah. Masihkah kak Faiq bersedia menjadi imamku? Dulu aku pernah berjanji, jika rasa itu masih ada. Aku sendiri yang akan memintamu menjadi imamku. Sekarang jawablah dengan pikiran tenang. Apapun keputusanmu akan aku terima!" ujar Davina, Faiq melepas tubuh Davina. Dia berjalan mundur, Faiq melepas sesuatu dari lehernya.
"Davina, tidak pernah aku ragu menjadi imammu. Cincin ini selalu ada di dekat hatiku. Ikatan yang pernah ada diantara kita. Menempel tepat di jantung yang berdetak hanya demi dirimu. Bukan kamu yang meminta, aku yang ingin bertanya. Masihkah cincin ini pantas melingkar di jari manismu. Sudah cukup kita terpisah. Waktu sudah membuktikan, cintaku tak tergoyahkan. Sakitmu membuktikan cintamu tulus padaku. Tak ada yang perlu kita takutkan. Semua akan berakhir bahagia, aku akan menjadi sandaranmu. Kamu tidak butuh perawatan dari orang lain. Aku yang akan merawatmu, sudah cukup aku menjadi dokter orang lain. Sekarang aku akan menjadi dokter untuk makmumku!" ujar Faiq, Davina mengangguk pelan.
"Kak Faiq, jangan memelukku lagi. Jika tadi aku menganggap sebagai rasa khawatirmu. Namun untuk yang kedua kalinya. Aku akan berpikir, jika itu napsumu. Halalkan aku, setelah itu kamu berhak memelukku!" ujar Davina lirih, tangannya menyilang di depan dada. Davina menghalangi tubuh Faiq mendekat.
"Maaf!" ujar Faiq, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1