KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Malik Fazal Gavi


__ADS_3

"Bukankah kenyataannya, memang lukisan itu hanya angan kita. Kamu telah bahagia bersama makmummu!" ujar Nuur, Fathan mengangguk lemah. Kini Fathan bukan yang dulu, dia bukan laki-laki bebas tanpa batasan.


Fathan telah bahagia bersama Annisa Maulida Zahro. Wanita bercadar yang Fathan pilih sebagai penopang hidupnya. Tulang rusuk yang hilang kini telah lengkap. Annisa dan Baby Gafi melengkapi bagian kosong dalam hidupnya. Annisa bukan hanya istri bagi Fathan. Terkadang Annisa menjadi kakak yang mengingatkan dirinya saat salah. Bahkan menjadi seorang ibu yang mendekapnya. Ketika Fathan merasakan penat yang teramat.


Si kecil Malik Fazal Gafi, bagai cahaya terang yang menerangi hidupnya. Senyum dan tangis putranya Gavi menjadi pelipur lelah dan penat hidupnya. Hanya demi Annisa dan Gavi kini hidupnya. Tak pernah Fathan ingin berpikir kehilangan mereka. Dunianya hanya ada dalam senyum Annisa dan Gavi. Dua nyawa yang menjadi alasan hidup Fathan. Napasnya akan terus berhembus. Jantungnya akan terus berdetak. Selama mata dan telinganya melihat serta mendengar suara mereka. Dua nama yang senantiasa ada dalam doa dan sujud Fathan.


"Aku bahagia bisa mengenalnya. Dia wanita yang hebat. Tanpa bertanya siapa aku dan masa laluku? Dia menerimaku dengan segala kepercayaan dan keyakinan. Dia menyerahkan rasaku pada jalan jodoh Allah SWT. Aku mencintainya dengan kepercayaan, bukan sekadar napsu ingin memiliki. Aku percaya ada cinta yang tercipta diantara kami. Kepercayaan sejak pertama kali aku melihatnya. Rasa tulus yang tidak akan salah dan takut terluka. Semoga kamu juga menemukan imammu!" ujar Fathan, Nuur diam lalu mengangguk pelan.


Fathan laki-laki yang pernah memberikannya harapan sebuah cinta. Dia juga yang mengenalkan iman pada Nuur yang lemah. Sempat Nuur berharap menjadi makmum Fathan, tapi hatinya menolak. Nuur menjauh dari hidup Fathan. Dia menolak rasa yang ada dihatinya untuk Fathan. Rasa hina dan pandangan sebelah mata pada dirinya. Membuatnya Nuur tak berharap Fathan bersamanya. Jika ada yang bertanya, cinta tam harus memiliki. Mungkin itu alasan Nuur menjauh dan menghancurkan hati Fathan.


"Vania, apa dia alasan kamu datang kemari?" ujar Fathan, Vania mengangguk pelan. Fathan mengangguk mengerti, kenapa Vania begitu gigih mengajaknya datang kemari. Sebaliknya Nuur menoleh heran. Dia tidak pernah mengenal Vania. Meski beberapa kali mereka berdua bertemu. Vania dan Nuur berada dalam satu pengajian yang sama. Mereka mengenal saat keduanya mengikuti seminar keagamaan.


"Aku tidak ingin melihat kebahagianmu ternoda oleh kehadirannya. Cepat atau lambat kalian akan bertemu. Aku ingin kak Fathan fokus pada keluarga kecilmu. Menganggap Nuur menjadi masa lalu yang indah. Tanpa berpikir ingin menggapainya lagi!" ujar Vania, Fathan mengangguk. Sedangkan Nuur semakin tidak mengerti. Siapa sebenarnya Vania? Dia hanya mengenalnya dalam pengajian. Namun tak pernah sedikitpun Nuur menceritakan kisahnya.


Sebaliknya Vania menatap Nuur lekat. Dia memahami perasaan Nuur saat ini. Jika cintanya untuk Fathan masih ada. Tentu dia sedih sekaligus bahagia bertemu Fathan. Kenyataan Fathan tak lagi sendiri, seketika menghancurkan mimpi hidup bahagia bersama Fathan. Kebahagian yang terpancar nyata hanyalah sebuah ungkapan rasa syukur. Telah bertemu dengan laki-laki yang mengenalkan iman padanya.


"Tunggu ada satu hal yang tidak aku mengerti disini. Siapa sebenarnya dirimu? Jika kamu istri Fathan, tidak mungkin Fathan bisa bicara setenang ini denganku. Kamu juga mengenal diriku dengan baik, tapi seingatku tak pernah aku mengenal satupun saudara Fathan. Lantas bagaimana mungkin kamu bisa mengenalku?" ujar Nuur heran, Fathan menoleh ke arah Vania. Apa yang dikatakan Nuur benar?


Sangat tidak mungkin Vania mengenali Nuur. Apalagi dengan penampilannya yang memakai cadar. Jika dulu mungkin Vania bisa mengenali Nuur. Namun saat ini semua itu tidaklah mungkin. Dengan wajah yang tak terlihat. Fathan saja tidak akan mudah mengenalinya.


"Tasbih yang mama berikan padamu. Tasbih yang sama yang diberikan mama padaku. Seandainya tasbih itu bukan buatan tangan mama. Tentu akan banyak tasbih yang sama. Tasbih yang sengaja mama buatkan. Agar kak Nuur istiqomah mencari imannya. Sebab itu aku bisa mengenalinya. Mama berharap kak Nuur bisa menjadi makmummu. Meski awalnya mama dan papa menentangnya. Namun kak Nuur lebih memilih meninggalkanmu. Tanpa bicara atau meninggalkan pesan. Sehingga kaka Fathan menyalahkan mama atas kepergiannya!" tutur Vania, fathan kaget mendengar penuturan Vania.


Dia mendekat pada Vania, Fathan memegang bahu Vania. Fathan menatap lekat Vania, berharap perkataan Vania hanya sebuah kebohongan. Namun kedipan mata Vania, seolah isyarat perkataannya benar adanya. Bak petir yang menyambar tubuhnya. Tulang Fathan terasa lemah tak mampu menahan tubuhnya. Fathan mundur beberapa langkah. Dia tidak percaya atas semua fakta ini.

__ADS_1


"Kenapa dulu kamu diam Vania? Jika memang kamu mengetahui segalanya. Aku membenci mama, tapi ternyata aku telah salah menilai mama. Seharusnya kamu mengatakannya padaku!" ujar Fathan lirih, Vania menggeleng lemah.


Raihan yang sejak tadi diam, berjalan menghampiri Fathan. Dia menepuk pundak Fathan. Memberikan semangat bahwa semua akan baik-baik saja. Raihan tak pernah mengerti permasalahannya. Namun apapun itu, semua sudah menjadi masa lalu dan tak seharusnya menjadi bebannya kini.


"Apa kak Fathan akan mendengar perkataan kami saat itu? Hanya kak Nuur yang bisa mengatakan sebenarnya. Cintamu seakan membutakan mata hatimu. Melupakan kasih sayang mama dan papa. Kamu membenci mereka, tanpa kamu sadari kasih sayang mereka yang membuatmu hidup. Hanya beberapa bulan kamu mengenal kak Nuur. Tapi sanggup membuatmu lupa berapa lama kamu mengenal mama dan papa. Dengan mudah kamu percaya, mereka yang menghancurkan hidupmu. Tanpa kamu memberi kesempatan mereka menjelaskan!" ujar Vania lirih, Fathan mengusap wajahnya gusar. Rasa bersalah pada kedua orang tuanya. Membuat Fathan gelisah.


"Kak Nuur, maafkan aku jika dengan sengaja mempertemukan kalian. Aku hanya ingin kak Fathan mendengar sendiri dari mulutmu. Kamu pergi bukan karena penolakan mama. Tapi kamu meninggalkannya, karena kamu tidak ingin mengecewakan mama yang menyayangimu. Mukena dari kak Fathan dan tasbih dari mama yang menjadi jalan hidayah imanmu. Namun sesungguhnya kakak pergi tak lain, karena mama meminta kakak hijrah bukan demi bersama kak Fathan. Tapi karena Allah SWT, sebuah nasehat yang membuat kakak menangis saat itu!" ujar Vania, Nuur mengangguk pelan.


Dia memberikan tasbih yang diberikan Hana pada Fathan. Namun dengan tegas Fathan menolaknya. Hana memberikannya pada Nuur bukan untuk dikembalikan. Meski bukan Nuur makmum Fathan, tapi tasbih itu bentuk kasih sayang Hana. Bukan dengan imbalan hijrah Nuur menjadi lebih baik. Hana menganggap Nuur layaknya wanita lain yang berhak menemukan kebahagiannya.


"Maafkan aku Fathan, aku pergi membawa ketulusan tante Hana. Pelukannya saat itu membuatku takut membuatnya malu. Dia pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Sangat tidak pantas, bila aku membalas ketulusannya dengan penghinaan yang ada dalam diriku. Tak pernah aku memikirkan, kamu membenci keluargamu demi aku. Maafkan aku Fathan, maaf!" ujar Nuur lirih, Fathan mengangguk lemah.


Semua sudah terjadi, Nuur hanya masa lalu yang pernah ada dalam hidupnya. Bukan sesuatu yang harus dia perjuangkan lagi. Satu hal yang harus Fathan lakukan. Meminta maaf pada Hana dan Rafa. Akan keraguan yang pernah ada. Keraguan akan kasih sayang Hana dan Rafa padanya.


"Apapun yang pernah terjadi, semua hanya masa lalu. Tak perlu aku mengingatnya, kenyataannya kita tak lagi sama. Aku sudah menemukan tulang rusukku. Hidupku lengkah bersamanya. Kini aku yang ingin meminta maaf padamu. Aku tidak mungkin menepati janjiku untuk menjadi imammu. Hanya tangan pertemannan yang bisa aku ulurkan. Serta doa tulus, agar kamu bisa menemukan imam yang terbaik!" ujar Fathan lirih, Nuur mengangguk mengerti. Vania tersenyum lega, ganjalan selama bertahun-tahun akhirnya berakhir indah.


"Diakah wanita dari masa lalu kak Fathan. Wanita yang tanpa sengaja disebut dalam mimpinya. Wanita yang membuatnya takut mengenal cinta. Wanita yang pernah membuatnya hancur tanpa sisa. Haruskah aku khawatir melihat pertemuan ini? Mungkinkah semua ini menjadi awal sebuah cinta yang tak pernah sampai!" batin Annisa.


"Nuur Aini Rahma, nama indah tapi tak seindah hidupnya. Seorang wanita dari dunia malam yang meluluhkan hati kak Fathan. Wanita dengan jalan hidup yang sangat sulit. Wanita yang membuat kak Fathan jatuh hati sekaligus hancur. Dia wanita yang tak pernah ingin kak Fathan lihat lagi. Namun dengan sengaja Vania mempertemukan mereka. Bukan untum menyatukan, tapi menjelaskan kesalahpahaman yang pernah ada diantara kak Fathan dan mama!" ujar Faiq lirih, Annisa diam menunduk.


Annisa tak lagi bisa berpikir, diam mungkin jalan terbaik. Menanti kejujuran Fathan akan masa lalunya. Faiq menatap ke arah Fathan dan Nuur. Bukan hanya Fathan yang merasa lega. Faiq jauh lebih lega, akhirnya Fathan mengetahui kebenaran tentang Hana. Betapa Hana menyayanginya tanpa berpikir dia terluka akan perlakuan Fathan.


"Kak Annisa, mungkin dia wanita yang membuat kak Fathan jatuh cinta. Namun kak Annisa yang membuat kak Fathan mengerti arti cinta. Ketenanganmu menyadarkan kak Fathan akan arti cinta sesungguhnya. Meski kak Fathan berpikir, hubungan kalian hambar. Namun tak dapat dipungkiri kehambaran itu yang menjadi kalian terus menyatu. Aku mengenal kak Fathan lebih dulu. Daripada kak Faiq, dia bukan pribadi yang bermain dengan janji. Sekali dia memilih, dia akan terus dengan pilihannya!" ujar Davina, dia berdiri di samping Annisa sembari menggendong Baby Gavi yang sedang tertidur.

__ADS_1


"Aku tidak marah melihat pertemuan mereka. Bukan aku yang menentukan pertemuan mereka. Semua sudah diatur oleh Allah SWT dengan arti dan makna yang tak pernah kita mengerti. Masa lalu yang pernah ada diantara mereka bukanlah kesalahan. Jadi sangat tidak pantas bila aku kecewa akan hubungan mereka. Jika memang dia wanita yang pernah ada dihati kak Fathan. Sungguh tak pernah aku mengeluh akan kenyataan itu. Dia dan aku dua wanita yang mencintai satu pria. Dan cinta itu bukan suatu kesalahan!" ujar Annisa tenang, Davina dan Faiq terdiam mendngar perkataan Annisa.


Tak ada kecemasan atau ketakutan kehilangan Fathan. Annisa sangat tenang dan bijak dalam bersikap. Entah kenapa ketenangan Annisa membuat Davina dan Faiq takut? Seolah ketenangan sebelum kehancuran. Faiq dan Davina tidak akan dengan mudah menebak makna yang tersirat dari raut wajah Annisa. Perkataan Annisa penuh teka-teki yang tak mudah dicerna oleh nalar.


"Jika ketenangan yang kakak perlihatkan. Hanyalah kamuflase sebelum kehancuran. Alangkah baiknya kakak mengeluarkan amarah itu. Sejujurnya ketenanganmu membuatku takut!" ujar Davina lirih, Annisa menoleh seraya menggeleng. Annisa memang benar-benar tenang. Sesuatu yang nyata bukan hanya kebohongan semata.


"Aku tidak bohong, apapun yang aku lihat hari ini. Tidak akan membuatku hancur. Jika dia menjadi masa lalu kak Fathan. Aku yang menjadi masa sekarangnya. Entah siapa yang akan menjadi masa depannya? Semua menjadi rahasia dan ketentuan-NYA. Sebagai seorang hamba aku hanya bisa mengikuti jalan takdir tertulis!" ujar Annisa lirih, Faiq dan Davina diam.


Keduanya telah kehabisan kata-kata. Tak mudah merubah pemikiran Annisa. Pengalaman hidup yang pernah dijalani Annisa tidaklah sedikit. Hidup mandiri sejak kecil menempa pribadinya menjadi sangat keras. Tidak akan mudah merubah sesuatu yang telah diyakini oleh Annisa. Usia yang jauh lebih dewasa, semakin menambah keyakinan. Jika mereka tidak akan mudah membuat Annisa merubah jalan pikirannya. Namun Fathan dengan sikap manjanya. Mampu meluluhkan keras hati Annisa. Kekuatan cinta yang tak dapat dipahami.


"Lebih baik kita pergi, biarkan kak Fathan menyelesaikan masa lalu yang belum selesai. Tidak ada hak kita ikut campur. Kasihan Gavi bila terus tidur dalam gendongan!" ujar Annisa, sembari membalikkan badan. Faiq dan Davina mengangguk setuju. Tanpa menunggu Fathan, Annisa memutuskan pergi. Dia tidak ingin mendengar lebih lagi tentang masa lalu Fathan dan Nuur. Apa yang dia dengar sudah lebih dari cukup?


"Sayang, kenapa kamu pergi tanpa menyapaku? Apa masa laluku tak terlalu berarti? Sampai kamu pergi tanpa bertanya. Bahkan kamu hanya diam melihat diriku bersama wanita dari masa laluku. Tak ada amarah atau rasa cemburu yang kamu perlihatkan padaku. Meski jelas kamu mendengar. Dia cinta pertamaku, sekaligus cinta yang menghancurkanku!" ujar Fathan, tepat sesaat setelah Annisa membalikkan badan.


Sontak Annisa memutar tubuhnya 180° menghadap ke arah Fathan dan Nuur. Terlihat jelas raut wajah heran dari Nuur. Dia terperangah ketika melihat Annisa. Wanita yang menjadi makmum Fathan. Bukanlah wanita biasa, jelas terlihat iman yang lebih dari dirinya. Sikap tenang dan santun Annisa. Membuatnya semakin yakin, jika Annisa wanita terbaik untuk Fathan.


"Assalammualaikum kak Fathan, maaf aku dan Gavi pamit pulang dulu. Faiq yang akan mengantar kami!" sahut Annisa tanpa menghampiri Fathan. Nuur terkesima mendengar betapa lembutnya suara Annisa. Terdengar sangat merdu, meneduhkan hati yang gersang.


Fathan tersenyum sinis, ketika melihat sikap tenang Annisa. Dia tidak menyangka, jika Annisa bersikap acuh akan keberadaan Nuur. Seolah masa lalu dan cinta Fathan pada Nuur tidak akan pernah melukainya. Meski Fathan bisa merasakan, betapa Annisa terluka akan pertemuan ini. Namun Fathan hanya ingin mengakhiri kisah yang sudah lama berakhir.


"Terima kasih atas kepercayaanmu. Begitu percayanya dirimu padaku. Sampai aku merasa tak berharga dihidupmu. Aku hanya laki-laki biasa yang ingin melihat amarahmu. Bukan diam yang seakan tak pernah menganggapku ada. Aku ingin menjadi suami yang menghapus air matamu. Bukan suami yang tak pernah menyadari air mata yang menetes di wajahmu. Satu hal yang harus kamu ketahui. Masa laluku dengan Nuur sudah lama aku kubur, tak ada lagi kisah diantara kami. Masa sekarang dan masa depanku hanya bersamamu. Jangan pernah ragukan itu!" tutur Fathan, Annisa menunduk. Faiq dan Davina melihat tubuh Annisa yang mulai bergetar.


"Aku marah melihatmu bersama wanita lain. Aku terluka mendengar dia wanita yang pernah ada dalam hatimu. Aku cemburu ketika tanpa sengaja kamu menyebutnya dalam mimpimu. Namun aku hanya wanita biasa yang takut akan dosa. Aku tidak bisa melihat amarahmu, yang pada akhirnya menjauhkanku darimu. Cintaku terlalu takut untuk bersaing. Diamku tak lebih dari caraku mencintaimu. Maaf jika diamku melukaimu, tapi masa lalumu nyata menyakitiku!" ujar Annisa lalu pergi hendak keluar dari toko.

__ADS_1


"Maaf, jika aku ada dengan masa lalu yang kelam. Seandainya aku bisa memutar waktu. Ingin aku mengenalmu seorang, tanpa aku mengenal wanita lain!" ujar Fathan sembari memeluk Annisa erat.


"Agghhhmmm, kalian yang bermesraan. Kami yang menggendong baby Gavi. Bisa tidak di lanjut di rumah. Sekarang kamu gendong baby Gavi. Aku juga ingin memeluk Davina!" ujar Faiq dingin menggoda Fathan.


__ADS_2