KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Malam Pinangan


__ADS_3

Malam harinya tepat pukul 20.00 wib. Raihan datang bersama kedua orang tuanya ke rumah keluarg Prawira. Mereka datang untuk meminang Vania. Sekaligus menentukan hari pernikahan keduanya. Raihan dengan semangat penuh datang membawa kedua orang tuanya. Raihan berharap Vania akan menerima pinangannya. Raihan tidak ingin hubungannya dengan Vania semakin menjauh. Hanya karena kesalahpahaman kecil dan sesaat.


Keputusan Raihan meminang Vania malam ini. Bukan tanpa alasan, dia terlalu takut kehilangan Vania. Raihan mengingat setiap perkataan Hana. Meski awalnya hanya ingin menggoda Raihan. Namun dalam hati, Raihan membenarkan perkataan Hana. Bahwa dirinya tidak akan terus bertahan menjadi tunangan Vania. Akan banyak kemungkinan yang terjadi. Salah satunya Vania mencintai dan menjadi makmum laki-laki lain.


Raihan mengingat perkataan Hana tadi pagi. Perkataan yang membuat Raihan yakin meminang Vania. Sebab itu Raihan menghubungi kedua orang tuanya. Agar segera datang dan meminang Vania. Betapa Raihan teringat akan nasehat Hana untuk segera meminang Vania. Raihan mengingat kembali kejadian pagi tadi. Saat tanpa sengaja dia melihat wajah Vania. Sekaligus dia mendengar kemungkinan yang sangat pahit. Sebuah kemungkinan Vania akan menikah dengan laki-laki lain.


FLASH BACK


"Terima kasih, aku akan menghalalkan Vania!" ujar Raihan mantap, sembari menatap punggung Vania.


Tiba-tiba Vania membalikkan badanya menghadap Raihan. Sontak Raihan terperangah melihat wajah Vania tanpa cadar. Seketika Raihan menunduk kikuk, wajah Vania terlihat tanpa terhalang cadar. Raihan merasa bersalah telah melihat wajah Vania. Apalagi Vania belum mengizinkan Raihan melihatnya.


"Kenapa menunduk? Bukankah wajah itu yang kamu rindukan!" ujar Fathan menggoda Raihan. Sekilas Raihan mendongak menatap Fathan yang tersenyum menggodanya. Kemudian Raihan kembali menunduk, tanpa menoleh pada Vania yang sedang tidur menghadap ke arahnya. Raihan sangat ingin melihat wajah Vania. Kecantikan yang tersimpan di balik cadar. Namun keinginannya akan terpenuhi, jika Vania mengizinkan. Bukan melihat wajah teduh Vania saat di tertidur. Raihan tidak akan membuat Vania kecewa padanya lagi. Sebisa mungkin Raihan mencintai Vania dengan ketulusan tanpa alasan. Meski Vania tidak memiliki kecantikan wajah. Raihan akan tetap menerima Vania dengan kelapangan hati. Sebab wajah cantik Vania akan memudar, tapi tidak kecantikan hati dan keteguhan iman Vania. Kelebihan Vania yang memikat Raihan sejak pertama kali bertemu.

__ADS_1


Raihan terus menunduk, sedikitpun dia tidak mendongak menatap wajah teduh Vania. Hana dan Kiara melihat sikap sopan Raihan. Keduanya mulai mengagumi kepribadian Raihan yang santun. Keramahan dan prinsip ketulusan di balik kehebatan seorang pembisnis yang identik dengan kesombongan. Namun Raihan berbeda, dia tidak malu mengakui cintanya pada Vania. Tidak ada sikap mengambil keuntungan dalam kesempatan.


"Fathan, Raihan tidak sepertimu. Dia menghargai Vania, selayaknya dia menjaga cintanya untuk Vania. Raihan hanya akan menatap wajah Vania. Saat Vania sendiri yang mengizinkan. Selama izin itu belum ada, Raihan akan menjaga keyakinan Vania. Mama malah bangga pada Raihan. Dia menunduk saat kedua matanya berhak melihat kecantikan Vania. Raihan, segera halalkan Vania. Sebelum ada imam lain yang mengetuk pintu rumah mama. Jangan sampai kamu kalah dengan laki-laki lain. Kamu yang mencintai, tapi laki-laki lain yang memiliki!" ujar Hana ikut menggoda Raihan. Sontak Raihan mendongak menatap Hana. Dia menggelengkan kepalanya, seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Seolah Raihan ingin meminta Hana tidak melakukan semua itu. Kiara dan Fathan terkekeh melihat kepanikan Raihan. Entah kenapa raut wajah Raihan terlihat lucu? Ketika dia mendengar kemungkinan yang dikatakan Hana. Raihan takut semua itu menjadi kenyataan.


"Mama, jangan pernah biarkan Vania menikah dengan orang lain. Malam ini akan kupastikan kedua orang tuaku tiba. Mereka akan datang meminang Vania. Aku tidak ingin kehilangan Vania. Apalagi melihat Vania bersanding dengan laki-laki lain. Mama bantu aku bicara pada Vania. Tolong yakinkan Vania untuk menerimaku. Aku akan menghubungi kedua orang tuaku. Akan kupastikan mereka tiba tepat waktu!" ujar Raihan mantap, lalu berdiri hendak menghubungi kedua orang tuanya. Hana dan Kiara mengangguk setuju. Mereka akan mencoba bicara dengan Vania. Namun jika Vania menolak, Maka keduanya tidak akan bisa merubahnya. Namun dalam hati keduanya berjanji akan membantu Raihan dengan sebisa mungkin. Baik Hana atau Kiara merasa bahwa Raihan laki-laki yang tepat untuk Vania.


"Tunggu, kenapa kamu tak bersedia melihat wajahku? Apa kamu merasa aku tidak cantik? Sehingga kamu memalingkan wajah, sedikitpun tak ingin melirik padaku!" ujar Vania lirih, dia duduk menatap punggung Raihan yang hendak menjauh. Vania menutup wajahnya dengan selimut. Agar Raihan tidak bisa melihat wajahnya lagi. Vania memang tidak menggunakan cadar sejak semalam. Vania berpikir tidak ada orang lain dalam rumahnya. Semua masih mukhrimnya yang halal melihat wajahnya. Apalagi kondisi demam Vania yang membuatnya merasa tidak nyaman menggunakan cadar.


Sontak Raihan menoleh, dia melihat Vania duduk sembari menutup wajahnya dengan selimut. Fathan tersenyum lalu meninggalkan Vania dan Raihan berdua. Raihan menghampiri Vania. Dia menunduk tepat di depan Vania. Hembusan napas keduanya saling memburu.


"Apa mahar yang sanggup kamu berikan padaku?" sahut Vania lantang, Raihan tersenyum lalu duduk tepat di depan Raihan.


"Kuberikan apapun yang kamu minta. Selama itu bukan pergi menjauh dariku atau kamu menginginkan imanku!" ujar Raihan singkat.

__ADS_1


FLASH BACK OFF


Sesampainya dia rumah keluarga Prawira. Raihan dan keluarga sudah disambut oleh keluarga Vania. Satelah kedua orang tua Raihan berbicara dengan keluarga Vania. Akhirnya diputuskan mereka akan menikah satu bulan kemudian.


"Wahai calon makmumku, akan kubuat rencana itu terwujud. Kamu akan menjadi makmumku selamanya!" bisik Raihan, Vania menunduk malu mendengar perkataan Raihan.


"Ingatlah semua akan menjadi halal untukku!" bisik Raihan lagi.


"Kamu memang laki-laki yang baik!" batin Vania sembari menatap Raihan.


"Aku siap menjadi makmummu. Kapanpun kamu siap? Dengan syarat mahar yang aku minta bisa kamu penuhi!" ujar Vania tegas, Raihan mengangguk tanpa ragu. Pertama kalinya mereka duduk sangat dekat. Semua orang tersenyum melihat kedekatan mereka berdua. Tidak ada lagi alasan penolakan dari Vania.


"Selamat Raihan, kamu berhasil meruntuhkan hati Vania yang beku!" goda Faiq, sontak Vania menatap Faiq penuh amarah.

__ADS_1


"Cerewet!" ujar Vania kesal.


__ADS_2