KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Sarapan


__ADS_3

"Sayang, aku pulang!" teriak Faiq lantang. Davina yang kebetulan berada di dapur. Sama sekali tidak berniat menghampiri Faiq.


Sejak Davina hamil, sifat Faiq semakin manja padanya. Setiap kali Faiq pulang dari rumah sakit. Selalu ada saja kemesraan kecil yang dilakukan Faiq pada Davina. Jadi Davina lebih memilih sembunyi, karena Faiq datang saat keluarga besarnya sedang sarapan. Sejak semalam Faiq tidak pulang ke rumah. Faiq berada di rumah sakit, karena dia bertanggungjawab atas kondisi Fajar.


Faiq meminta bantuan salah satu dokter paru-paru terbaik. Seorang dokter yang tak lain istri dari Daffa. Kakak sepupu Vania yang menjadi dokter spesialis saraf. Setelah dihubungi Raihan, Faiq langsung membentuk tim dokter khusus untuk merawat Fajar. Salah satu dokter yang dipilih Faiq, tidak lain istri Daffa.


"Faiq, tidak perlu berteriak. Gavi sedang tidur, kakakmu masih di dapur bersama Davina. Daripada berteriak, duduklah sarapan bersamaku!" ujar Fathan lirih, Faiq seketika menutup mulutnya dengan tangan. Faiq tidak menyangka, jika Gavi masih tidur.


Rafa diam menatap kedua buah hatinya yang tak pernah sependapat. Namun tidak mudah berselisih hanya karena masalah sepele. Sebuah pengertian yang terjalin dibalik jarak yang tak terlihat.


"Maaf, aku tidak menyadari kalau Gavi masih tidur!" ujar Faiq, lalu duduk tepat di depan Fathan. Hana datang membawa makanan kesukaan Faiq. Hana yakin semalam Faiq tidak makan dengan benar. Sebab kondisi Fajar yang tidak baik. Akan membutuhkan perhatian khusus dari Faiq dan tim dokter yang dibentuk Faiq.


Semalam Hana sekilas mendengar tentang kondisi Fajar putra angkat Vania. Sebab itu pagi ini Hana akan datang menjenguk Fajar di rumah sakit. Hana menyadari keluarga Fajar butuh dukungan moral. Vania tidak bisa menemani Fajar di rumah sakit. Kondisi Vania belum sepenuhnya pulih. Dengan berat hati Vania meminta keluarga Fajar yang menjaga mereka. Namun Vania sudah meminta ruangan khusus untuk Fajar. Agar keluarga Fajar tidak mengalami kesulitan apapun.


"Makanlah Faiq, setelah itu istirahatlah. Mama nanti siang akan ke rumah sakit. Mama ingin menjenguk Fajar. Anak sekecil itu harus merasakan sakit separah itu!" ujar Hana lirih, sontak Faiq melotot.


Kedua bola mata Faiq membulat sempurna. Ada rasa terkejut, saat mendengar Hana akan datang ke rumah sakit. Secara otomatis Hana akan bertemu dengan Daffa. Sedangkan Rafa dan Hana belum mengetahui kedatangan Daffa. Sengaja Faiq dan Fathan menyembuyikan kedatangan Daffa. Agar tak ada salah paham yang terjadi. Apalagi masa lalu Daffa dan Vania. Rafa orang yang paling marah, ketika mendengar pengakuan cinta Daffa pada Vania.


"Jangan!" teriak Faiq spontan. Hana terperanjat mendengar teriakkan Faiq yang sangat keras. Dia tidak menduga Faiq melarang dirinya menjenguk Fajar. Sebaliknya Fathan tanpa sadar melempar Faiq dengan sendok makan yang mendarat sempurna di kening Faiq.

__ADS_1


Ceettakk


"Awsss, sakit kak Fathan!" rintih Faiq. Bukan minta maaf, Fathan malah meletakkan telunjuk tepat di tengah bibirnya. Seolah meminta Faiq untuk tidak berteriak. Takutnya Gavi terbangun mendengar suara teriakan Faiq.


Hana menggeleng lemah, melihat sikap Faiq yang kini mulai berubah ceroboh. Mungkin pengaruh kehamilan Davina. Semakin hari Faiq bersikap hangat pada siapapun? Jauh dari kesan dingin dan tak berhati. Rafa menoleh pada Faiq dengan tatapan penuh arti. Rafa merasa Faiq sedang menyembuyikan sesuatu.


"Kenapa kamu melarang mama kesana? Apa yang sedang kamu sembuyikan? Tidak biasanya kamu melarang keinginan mamamu. Sudah tidak sayangkah kamu pada mamamu!" cecar Rafa, seolah ingin membuat Faiq merasa bersalah. Hana diam menanti jawaba Faiq. Meski yang dikatakan Rafa tidak sepenuhnya benar. Namun tanpa sadar perkataan Rafa, tak lain isi hati Hana.


Bukan hanya Rafa yang merasa Faiq menyembunyikan sesuatu. Hana merasa Faiq secara sengaja melarangnya. Sebab dia sedang menutupi sesuatu. Sejak dulu Faiq tidak pernah melarang apapun keinginan Hana. Pertama kalinya Faiq melarang Hana.


"Papa, jangan salah sangka dengan Faiq. Bukan maksud Faiq seperti itu!" ujar Faiq kikuk, Hana diam sembari menatap Faiq yang mencoba mencari alasan.


Faiq hanya bisa diam melihat Fathan menyiram bensin di api karaguan Rafa. Hana tersenyum melihat Faiq yang kelabakan. Rafa terus mendesak Faiq, dia masih tidak percaya akan sikap Faiq yang mencurigakan.


"Faiq, dokter Daffa menghubungiku. Dia bertanya rekam medis Fajar. Dia menghubungi ponselmu, tapi tidak aktif. Lebih baik sekarang kamu hubungi dokter Daffa!" ujar Annisa lantang, sesaat setelah keluar dari dapur.


Sontak Faiq menepuk jidatnya pelan. Dia tidak menduga Annisa dengan mudah membongkar rahasia yang sengaja di sembuyikan Faiq. Sontak Rafa menoleh pada Faiq dan Fathan. Namun Fathan dengan santai mengangkat kedua bahunya, seakan dia mengatakan tidak mengetahui apa-apa?


"Faiq, ada yang ingin kamu katakan?" tutur Rafa dingin, Faiq mengangguk pelan. Rafa menatap Faiq yang terus menunduk.

__ADS_1


"Daffa dan istrinya masuk dalam tim dokter yang aku bentuk untuk merawat Fajar. Daffa sudah ada disini sejak dua minggu yang lalu. Bahkan dia yang memancing emosi Vania Sampai akhirnya Vania sadar. Dia alasan aku melarang mama datang ke rumah sakit. Aku tidak ingin Daffa melihat amarah papa!" ujar Faiq berterus terang, Rafa mengangguk mengerti.


"Minta Daffa menemui papa, ada yang ingin papa katakan padanya!" ujar Rafa dingin, lalu berjalan menjauh dari meja makan.


Faiq hanya mengangguk pelan. Berharap Rafa tidak akan melakukan sesuatu yang salah pada Daffa. Fathan melihat kegelisahan Faiq. Fathan tidak terlalu dekat dengan Daffa. Sebab dia tidak satu bidang dengan Daffa. Sebaliknya Faiq sangat dekat dengan Daffa, karena mereka pernah menempuh pendidikan di fakultas yang sama.


"Faiq, tenanglah tidak akan terjadi sesuatu pada Daffa. Papamu hanya ingin bertemu dengannya. Ada yang ingin disampaikan papamu pada Daffa. Bukan sebuah amarah, melainkan kasih sayang yang tak tersampaikan. Ada satu titipan dari tante Mila untuk Daffa!" ujar Hana lirih, Faiq mengangguk mengiyakan.


"Semoga yang mama katakan benar!" ujar Faiq, Fathan mengangguk setuju dengan perkataan Faiq.


"Tidak akan papamu bersikap kasar pada Daffa. Dia amanah tante Mila, sahabat terbaik papamu. Sekaligus wanita yang mencintai suamiku!" ujar Hana, Faiq dan Fathan terperangah mendengar perkataan Hana.


Mereka terkejut ketika mendengar Daffa putra dari cinta masa lalu Rafa. Bukan maksud Hana mengungkit masa lalu, tapi masa lalu terkadang harus diingat. Bukan untuk menyesal atau terluka. Namun sebagai pembelajaran dalam menjalin hidup.


"Sayang, aku tidak pernah mencintai Mila. Jadi tidak perlu membahas kisah cintaku dengan Mila!" ujar Rafa dingin, sembari memeluk Hana dari belakang. Rafa mencium kening Hana mesra.


"Kamu satu-satunya wanita yang ada dalam hidupku!" bisik Rafa.


"Papa, tidak adil. Masih pagi membuat kami cemburu. Kalian bermesraan dihadapan kami!" ujar Faiq kesal.

__ADS_1


__ADS_2