
"Hana, pesanan Adrian kita minta Silla yang mengantar. Aku tidak ingin bertemu dengan Adrian. Jangankan melihat wajahnya, mendengar suaranya aku malas!" ujar Diana kesal.
Hana dan Diana sedang sibuk mengemas kotak makanan. Pesanan perusahaan Prawira untuk makan siang. Hana tersenyum melihat kekesalan Diana pada Adrian. Rasa kesal yang sudah tersisip cinta.
"Terserah padamu, tugasku hanya memasak. Selebihnya tergantung dirimu dan pegawai yang lain. Lagipula aku akan pergi ke rumah sakit. Aku ada janji dengan dokter Cintya" sahut Hana santai, Diana mengangguk. Mereka berdua selalu kompak dalam segala hal. Saling membantu dalam setiap kesulitan.
"Diana, aku sudah harus pergi. Semua sudah selesai, sisanya kamu selesaikan dengan yang lain. Setelah selesai dari rumah sakit, aku langsung pergi ke makam ayah dan ibu!" pamit Hana, lalu mengambil tas di dalam kamarnya. Hana memutuskan mencari tempat usaha yang bisa dia tinggali. Fisik Hana tidak sekuat dulu, kehamilannya sedikit membatasi geraknya. Sehingga dia butuh tempat bekerja yang dekat dengan rumahnya.
Hana berjalan perlahan menuju sepeda maticnya. Dia masih menyimpan dan menggunakan peninggalan kedua orang tuanya. Hana pribadi yang fokus, sampai dia tidak peduli lingkungan sekitarnya. Hana tidak menyadari keberadaan Rafa dan Adrian. Mereka berdua berdiri bersandar pada mobil.
"Hana!" sapa Rafa lirih, Hana mendongak. Kunci yang dia pegang jatuh. Rafa menunduk mengambilkan kunci sepeda motor milik Hana. Sesaat setelah dia melihat Hana kesulitan membungkuk, perut buncitnya tertekan saat Hana membungkuk.
"Terima kasih, sedang apa kalian? Bukankah pesanannya untuk nanti siang. Diana sudah menyiapkan di dalam. Jika ada keperluan silahkan masuk!" ujar Hana ramah dengan senyum manis. Rafa tertegun melihat keramahan dan senyum manis Hana. Rafa kehilangan semua kebahagian yang seharusnya menjadi miliknya.
"Hana, kamu akan pergi kemana? Kondisimu sudah tidak memungkinkan menggunakan sepeda motor!" ujar Rafa cemas, Hana menggeleng lemah. Lagi dan lagi Hana mengutas senyum yang mampu membuat hati Rafa hangat.
"Aku akan bertemu dokter Cintya, ada jadwal kontrol kondisi kehamilanku. Maaf aku tidak bisa menemani, takut terlambat. Silahkan masuk, Diana sudah menyiapkan semuanya!" ujar Hana ramah, dia berjalan mendekat ke arah sepeda motornya terparkir. Adrian menyenggol tangan Rafa, Adrian mengisyaratkan Rafa untuk menawarkan mengantar Hana.
"Hana, biarkan aku mengantarmu!" ujar Rafa lirih, Hana menoleh seraya menggeleng. Hana masih belum mampu menerima Rafa sepenuh hati. Sikap ramahnya pada Rafa sebagai bentuk hubungan persaudaraan.
__ADS_1
"Terima kasih, aku masih bisa sendiri! Bukankah seharusnya sebentar lagi akan ada rapat! Jadi tidak perlu mengantarku!" ujar Hana, Rafa mengangguk.
Bagi Rafa cukup melihat senyum Hana, daripada melihat kebenciannya. Rafa tidak akan berharap lebih, apalagi untuk bisa pergi berdua dengan Hana. Sebuah angan yang terlalu tinggi. Rafa harus bisa bersabar membayar semua sikap kasarnya.
Setelah mengambil semua pesanan, Rafa dan Adrian kembali menuju kantor. Rafa meminta Adrian memimpin rapat. Sedangkan Rafa langsung melesat menuju rumah sakit. Mungkin dia tidak bisa mengantar, tapi Rafa bisa mengawasi Hana dari jauh.
...☆☆☆☆☆...
Hana sampai di rumah sakit sepuluh menit lebih dulu dari Rafa. Dia berjalan perlahan menuju poli kandungan. Sedangkan Rafa melesat dengan cepat, dia ingin mengawasi Hana dari jauh. Sesampainya di rumah sakit, Rafa melihat Hana sedang duduk mengantri di depan poli kandungan.
Tanpa sengaja Rafa melihat Hana mengelus perutnya, dari bibir mungilnya terdengar rintihan. Tubuh Rafa seakan lemas, melihat istri yang seharusnya dia jaga. Harus menahan rasa sakit tanpa dirinya. Hana menahan semua keluhannya sendiri.
Hati Rafa teriris melihat Hana yang kesakitan. Hana harus mengantri demi memeriksakan kandungannya. Kekayaan Rafa benar-benar tak berguna. Semua tak berarti, karena tak dibutuhkan oleh Hana dan putranya.
Dokter Cintya melakukan pemeriksaan seperti biasa. Setelah memastikan kondisi Hana dan kandungannya baik-baik saja. Dokter Cintya menuliskan resep untuk vitamin ibu hamil. Hana menerima resep, lalu menuju apotik rumah sakit
Rafa terus mengikuti Hana, posisinya sedikit menjauh dari Hana. Dia tidak ingin Hana menyadari keberadaannya. Sekali lagi Rafa lemah dan tak berdaya, saat kedua bola matanya melihat Hana kesakitan. Hana berjalan dengan memijat punggungnya yang nyeri.
Rafa bisa merasakan betapa sakitnya pinggang Hana. Rafa mengenal Hana dengan baik. Sebab pribadi Hana tidak akan mengeluh. Jika benar-benar sudah tidak mampu menahannya. Hana duduk diantara antrian panjang pasien rumah sakit.
__ADS_1
Rafa melihat perjuangan Hana, demi perkembangan sang putra. Rafa melihat Hana harus berdesakan dengan puluhan orang yang memiliki riwayat penyakit yang berbeda. Rafa hancur tak berbentuk, tulangnya remuk seolah tak mampu berdiri. Rafa hanya bisa melihat tanpa mampu menolong Hana. Kehausan dan kepanasan dilalui Hana dengan seutas senyum di wajah cantiknya. Sebuah senyum yang menusuk lubuk hati Rafa.
"Rafa, apa yang kamu lakukan disini?" sapa Rama, dia berjalan berdua dengan Cintya. Sontak saja Rafa menoleh, Rama melihat ke arah pandangan Rafa. Rama mengangguk seraya mengerti, apa yang sedang dilakukan Rafa?
"Rama, kamu bersama dokter Cintya!" ujar Rafa heran, Rama mengangguk pelan.
"Dia tunanganku, bukankah undangannya sudah aku sebar!" ujar Rama sopan, Rafa mengangguk. Raut wajah penuh sesal terlihat jelas di wajah Rafa.
"Maaf, malam itu aku berkata kasar!" ujar Rafa lirih, Rama menggeleng. Dia menepuk pundak Rafa pelan, lalu merangkul tubuh Rafa.
"Apa yang kamu katakan malam itu? Bentuk rasa sayangmu pada Hana. Kecemburuanmu tidak salah, hanya caramu menyampaikan yang salah. Malam itu aku melihat besarnya cintamu pada Hana. Keraguanmu hanya ungkapan rasa takut kehilangan. Seandainya minuman tak menguasaimu, mungkin kamu akan menjadi orang paling bahagia!"
"Maksudmu!"
"Kamu laki-laki yang dicintai Hana. Sepenuh hati dia mencintaimu, meski dia terhina. Hana tidak akan pernah bisa membencimu. Sayangnya semua itu kini harus terhalang, kenangan pahit Hana akan orang tuanya. Hana bisa menerima apapun hinaan, tapi tidak yang menyangkut kepergian orang tuanya. Jadi bersabarlah, Hana akan kembali bila dia benar-benar siap!" bisik Rama, Rafa mengangguk pelan. Rama dan Cintya meninggalkan Rafa sendiri.
Semakin hari Rafa semakin menyesal akan sikap kasarnya. Dia tidak pernah menyangka perkataannya menjadi bumerang bagi dirinya. Rafa meratapi kebodohannya melepas tangan Hana hanya karena minuman keras.
"Maafkan papa sayang, karena kebodohan papa. Mama harus menanggung sendiri semua rasa sakitnya. Papa tak berdaya melawan sikap keras mamamu. Kesalahan papa tak termaafkan, papa harus membayar semua kesalahan dengan kepedihan yang begitu berat. Papa seakan tak sanggup berdiri, ketika melihat mamamu berjalan sendiri sembari menahan rasa sakit. Kedua mata papa tak mampu melihat, kesulitan yang dialami mamamu hanya untuk memeriksa kondisimu. Hanya dirimu yang papa harapkan. Mampu meluluhkan hati mamamu. Agar menerima tangan papa kembali, tapi sebelum semua terjadi. Jagalah mama untuk papa. Kuatlah demi kami, terus bersama mama. Papa akan melindungi kalian dari jauh. Maafkan papa sayang, maaf!" batin Rafa pilu. Dia seakan ingin berbicara dengan janin yang ada dikandungan Hana. Buah hati yang tercipta tanpa bisa dicegah. Bukti tulus dan teguhnya cinta Hana pada Rafa.
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊