
Sudah dua hari Hana menginap di rumah sakit. Rafa setiap di samping Hana. Dia bekerja dari rumah sakit. Rafa tidak pernah meninggalkan hana sendirian. Dia selalu mengawasi Hana dan menjaga Hana dengan telaten. Rafa melakukan semua aktivitasnya di rumah sakit.
Hana mulai merasa gerah di rumah sakit. Selain hanya berbaring, Hana harus rutin mengkonsumsi obat. Pekerja keras seperti Hana sangat tidak cocok untuk berdiam diri. Rafa melihat kebosanan Hana, tapi dia pura-pura tidak melihat. Semua demi kebaikan dan kesembuhan Hana. Rafa tidak ingin Hana kembali sakit setelah pulang dari rumah.
Demi menghilangkan kebosanan Hana. Rafa khusus membelikan laptop, agar Hana bisa menonton film kesukaannya. Namun sayangnya, Hana tetaplah Hana yang tidak suka berdiam diri. Hana merengek ingin pulang. Namun Rafa tetap tidak bergeming. Dia tidak akan pernah membiarkan Hana pulang. Sebelum dokter benar-benar mengizinkan Hana pulang.
"Kak Rafa, aku ingin pulang. Aku tidak akan sembuh bila di rumah sakit!" pinta Hana memelas, Rafa terkekeh melihat Hana yang memelas. Melihat Rafa senyum mengejeknya, Hana membating tubuhnya kasar pada tempat tidurnya. Suara benturan tubuh Hana terdengar jelas oleh Rafa. Dengan cemas Rafa mendekat pada Hana.
"Hana, jangan seperti ini. Kamu akan kesakitan. Aku sudah katakan, tunggu dokter mengizinkan kamu pulang. Kita akan langsung pulang. Kamu lihat sendiri, aku harus bekerja dari sini!" bujuk Rafa, Hana tetap tak bergeming. Dia membelakangi Rafa. Hana kesal pada sikap Rafa, "Hanya sakit flu, harus menginap sampai beberapa hari! Ada kesempatan aku akan kabur! Bukan sembuh malah semakin sakit aku mencium bau obat!" batin Hana kesal. Rafa melihat kekesalan Hana dengan jelas.
"Hana, jangan marah! Aku mohon, kita pulang setelah dokter mengizinkanmu pulang!" ujar Rafa, bukan membaik Hana semakin menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala. Hana sungguh tidak betah di rumah sakit. Dia merasa semakin sakit berada di rumah sakit.
"Baiklah, kita pulang hari ini!" ujar Rafa menganlah, seketika Hana menarik selimutnya. Dia bangun dari tempat tidur. Duduk menatap Rafa suaminya.
"Sekarang, kak Rafa janji!" ujar Hana tidak percaya, Rafa mengangguk pelan. Hana senang mendengar Rafa akan membawanya pulang. Meski ranjang rumah sakit sangat nyaman, tapi Hana merasa jauh lebih nyaman berada di kamarnya sendiri. Sejak kecil Hana malas bila harus dibawa ke rumah sakit.
__ADS_1
"Tapi kita tidak pulang ke rumahmu. Kita pulang ke apartement. Jika kamu sudah sembuh, aku antar kamu pulang. Tidak ada tawar-menawar, aku suamimu. Kamu harus menuruti perkataanku!" ujar Rafa, Hana memanyunkan bibirnya 5 centi ke depan. "Sekarang baru mengatakan kewajiban seorang istri. Kemana saja kemarin pak? Istrinya di tinggal sendiri di rumah. Sekarang memaksa tinggal berdua. Enaknya jadi suami rasa bos. Senangnya memerintah!" batin Hana kesal. Rafa melihat bibir Hana serasa gemas. Dia mencubit bibir mungil Hana.
"Jika bibir ini terus maju. Aku tidak akan segan mencium dan menggigitnya!" ujar Rafa dingin, sontak saja Hana menutup mulutnya dengan tangan. Rafa kembali duduk, dia mengutak-atik laptopnya kembali. Selama Hana sakit, semua pekerjaan Rafa tangani dari rumah sakit. Saat itu pula Hana melihat kegigihan seorang Rafa. Dia bekerja siang malam tanpa mengenal lelah.
"Kak Rafa, pulang!" rengek Hana, Rafa tersenyum dalam hati. Dia melihat Hana yang lain. Hana yang butuh dirinya, Rafa ingin melihat sejauh mana Hana bisa memohon.
"Hana, sudah aku katakan kita tetap tinggal atau pulang tapi ke apartement. Kamu harus bisa memilih salah satu!" ujar Rafa santai, Hana memegang selang di tangan kirinya. Rafa terkejut melihat Hana. Takut dia melakukan sesuatu yang nekat.
"Aku memilih mencabut selang infus ini. Aku akan pulang sendiri!" ujar Hana kesal, Rafa berlari hendak menahan tangan Hana.
"Sayang, Hana aku mohon jangan seperti ini. Baik, kita pulang ke rumahmu. Aku mohon jangan seperti ini!" ujar Rafa cemas, dia memeluk Hana erat. Tangan kanannya menahan darah yang terus mengalir. Hana terdiam mendengar suara Rafa yang penuh kecemasan. Hana tidak menyangka, dia bisa senekat ini. Hanya karena kesal melihat sikap Rafa yang selalu memaksa.
Setelah Hana tenang, Rafa menghubungi suster dan dokter. Rafa meminta mereka menghentikan darah yang mengalir. Serta meminta izin untuk kepulangan Hana. Rafa tidak sadar di saat panik dia bersikap mesra dan lembut pada Hana. Rafa sangat takut melihat darah mengalir dengan deras dari tangan Hana. Meaki dia harus mengorbankan dirinya. Seolah Rafa sanggup, asalkan Hana tetap sehat.
"Hana, sekarang semua sudah selesai kita pulang! Jangan pernah bertindak senekat tadi. Aku bisa kehilangan akal. Tunggu di sini, aku mengambil kursi roda. Kamu tidak boleh terlalu lelah!" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah seraya tersenyum. Rafa sudah meminta beberapa staf rumah sakit Membawa semua barangnya ke dalam mobil. Jadi Rafa tidak perlu terlalu repot. Rafa hanya mengantar Hana sampai ke dalam mobil.
__ADS_1
"Sekarang apa lagi? Lama-lama aku cium juga kamu. Sejak tadi selalu saja menggeleng. Katakan dengan jelas, apa yang ingin kamu lakukan? Awas saja kamu mengatakan hal yang aneh lagi. Aku pastikan besok rumah sakit ini tutup!" ujar Rafa kesal, seketika Hana menunduk. Dia meremas ujung hijabnya. Hana selalu takut bila melihat Rafa marah. Bukan hanya karena suaminya, tapi Hana takut ada salah paham diantara mereka.
"Sayang, aku minta maaf. Aku tidak marah, sumpah. Aku cuma kesal melihatmu selalu menggeleng. Sehingga kita selalu selisih paham!" ujar Rafa, Hana mendongak. Dia menatap dua bola mata indah Rafa. Ciptaan sempurna sang pemilik hidup.
"Kesal juga marah, keduanya sama! Kak Rafa selalu marah, setiap aku mengatakan sesuatu. Kak Rafa tidak pernah bersikap biasa. Setelah mendengarkanku baru, kak Rafa bisa maraha atau tidak!" ujar Hana kesal, Rafa menatap wajah istri tercintanya. Kedua tangab Rafa menopang tubuhnya. Dia mendekat pada Hana, hanya sehelai tisu. Tak ada jarak diantara mereka.
"Sayang, sekarang katakan apa yang ingin kamu lalukan!" bisik Rafa mesra, lalu tangan Rafa memeluk tubuh Hana. Tanpa ada yang komando, Hana membalas pelukan Rafa. Pertama kalinya Hana memeluk seorang laki-laki.
"Kak Rafa, aku tidak perlu memakai kursi roda. Aku hanya ingin berjalan dengan merangkulmu. Bukankah aku sudah kuat!"
"Kamu serius!" ujar Rafa tidak percaya, Hana mengangguk mengiyakan.
...☆☆☆☆...
TERIMa KASIH😊😊😊😊
__ADS_1