KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Pertemuan tak Terduga


__ADS_3

Sejak semalam Hana mengalami susah tidur. Rafa cemas melihat keadaan Hana, tapi Hana terlihat sangat tenang. Kecemasan Rafa bukan tanpa alasan. Dia tidak tega melihat Hana kesulitan. Bahkan hampir tiap jam Hana merintih kesakitan.


Biasanya mendekati hari persalinan sering terjadi kontraksi palsu. Kejadian ini lumrah, karena sang janin sedang berputar. Hana sudah membaca beberapa buku. Sehingga Hana tidak merasa cemas sedikitpun. Sebaliknya Rafa seperti orang yang kebakaran jenggot. Dia frustasi mendengar rintihan Hana.


Setelah semalam tak bisa memejamkan mata. Sengaja seusai sholat subuh Hana berjalan menuju halaman rumah. Hana ingin berjalan-jalan di sekitar rumah. Setidaknya agar kram yang dialaminya sedikit menghilang. Hana mengelilingi halaman rumah sendirian. Pertama kalinya dia melihat seluas apa rumahnya? Rafa memang menyiapkan yang terbaik untuk keluarganya.


Rumah Hana tidak terlalu besar untuk ukuran pengusaha seperti Rafa. Namun halaman depan yang luas penuh dengan taman bunga. Terdapat juga gazebo kecil untuk menikmati pemandangan taman. Halaman belakang jauh lebih luas dari yang di depan. Terdapat kolam renang serta ayunan yang dilengkapi dengan gazebo mini. Di sudut kiri halaman terdapat beberapa tanaman yang rindang, di sekitar masih dibangun arena bermain anak-anak. Di sudut kanan terdapat kebun mini yang sengaja ditanami sayuran.


Hana sangat terkejut melihat halaman belakang yang sangat luas. Selama ini Hana hanya berkutat di area kolam renang. Hana tak pernah menyangka rumah yang ditempatinya sangat luas. Hana terus mengelilingi halaman rumahnya. Setibanya di kebun sayur, Hana melihat beberapa pekerja.


"Assalammualaikum!" sapa Hana ramah, mereka mendongak bersamaan. Mereka menghentikan pekerjaannya, untuk menghampiri Hana. Dengan tersenyum Hana melihat mereka mendekat.


"Waalaikumsalam, bu!" sahut mereka serempak seraya membungkuk. Hana tersenyum ramah, salah satu pekerja memberikan kursi pada Hana. Mereka mengetahui jika majikannya sedang dalam kondisi hamil tua.


"Kalian sedang apa? Kelihatannya sibuk, memangnya menanam sebanyak ini untuk apa?" ujar Hana, dia melihat para pekerja sibuk menanam selada. Ada juga beberapa macam sayuran.


"Pak Rafa meminta kami menanam beberapa sayuran. Agar saat ibu menginginkan sayuran apa? Kami tidak perlu membelinya di luar. Pak Rafa tidak ingin ibu mengkonsumsi sayuran tidak sehat. Sebab kami menanam ini tanpa obat!" ujar pak Salim, sepertinya dia pekerja yang paling tua. Ada dua pekerja lagi, sepertinya sang wanita istri pak Salim.


"Sejak kapan bapak bekerja di sini. Saat makan malam kemarin, saya tidak melihat kalian!" ujar Hana heran, mereka menunduk. Hana tersenyum ramah, seandainya kandungannya belum membesar. Mungkin Hana sudah berjongkok ikut menanam sayuran.


"Saya tidak tinggal disini. Pak Rafa sengaja membelikan kami rumah kecil tepat di belakang rumah ini. Ada beberapa pekerja selain kami yang juga dibelikan rumah oleh pak Rafa!" ujar pak Salim lirih, seolah dia ragu menceritakan semuanya. Hana tertegun mendengar perkataan mereka. Dia tidak pernah tahu sepak terjang suaminya. Bahkan Hana tak pernah bertanya, apa saja usaha yang dijalankan Rafa?


"Pak Rafa baik kepada kami semua. Beliau membelikan rumah untuk kami dan beberapa pegawai. Kami bersyukur bisa mengabdi padanya!" ujar bu Siti istri pak Salim, aku mengangguk seraya tersenyum. Hana akhirnya mengerti kenapa para pekerja seolah canggung dan segan pada Rafa. Mereka menganggap kebaikan Rafa sudah lebih dari cukup. Jadi mereka tidak ingin terlalu berharap dekat dengan Rafa.


"Terlalu banyak yang tak kuketahui dirimu. Kamu sengaja menyembuyikan kebaikanmu dariku. Demi diriku kamu menyiapkan semua dengan sangat teliti. Kak Rafa, kini aku tahu. Diriku yang angkuh merasa mampu tanpamu. Padahal kamu menyiapkan semuanya dengan penuh cinta. Maafkan aku yang lalai menjadi seorang istri. Keyakinanku semakin kuat, bahwa kamu imam terbaikku!" batin Hana.


"Baiklah kalau begitu, bisa tidak aku minta beberapa sayuran sawi. Aku ingin membuat mie!" ujar Hana sopan, pak Salim mengangguk.


"Baik bu, sebentar saya antar ke dalam!" ujarnya, Hana menggeleng.


"Ambilkan sekarang, aku akan membawanya sendiri. Satu hal lagi, jangan panggil aku ibu. Panggil saja mbak Hana. Jadi bisa lebih akrab!" ujar Hana, mereka mengangguk. Pak Salim ragu jika membiarkan Hana membawa sendiri sayurannya ke dalam. Mereka sudah mendengar seberapa berartinya Hana untuk Rafa. Para pekerja sudah melihat besar cinta Rafa pada Hana. Mereka takut bila menuruti keinginan Hana akan membuat Rafa marah.

__ADS_1


"Sayang!" sapa Rafa, tangan kanannya merangkul tubuh gembul Hana. Rafa mengecup puncak kepala Hana yang tertutup hijab. Hana sudah terbiasa dengan sikap Rafa.


"Maaf pak Rafa, kami sudah meminta bu Hana menunggu di dalam. Tapi bu Hana memaksa untuk membawanya sendiri!" ujar pak Salim ketakutan, Rafa mengangguk mengerti.


"Biarkan saja bu Hana membawa sendiri aa


sayurnya. Pak Salim tidak perlu takut padaku. Aku tidak akan marah, perkataanku saja tak pernah bisa menghentikannya. Jadi wajar saja jika perkataanmu takkan dihiraukannya!" ujar Rafa, Hana menoleh pada Rafa. Dia menguntas senyum semanis mungkin, seakan senang mendengar perkataan Rafa.


"Jangan menggodaku, ini masih pagi. Jika aku khilaf, kamu akan kewalahan menghadapiku. Apalagi kalau kamu tersenyum seperti itu. Mampu membuatku lupa diri, bisa-bisa aku tidak pergi ke kantor!" ujar Rafa, hanya senyum-senyum sendiri. Rafa membungkuk tepat di depan perut Hana.


Cup


"Assalammualaikum jagoan papa! Sudah lebih tenang sekarang. Jangan buat mama kesakitan, kasihan mama. Anak papa pintar, jadi tidak boleh nakal!" ujar Rafa, Hana menutup mulutnya menahan tawa. Rafa selalu melakukan hal-hal kecil yang membuat hati Hana bahagia.


"Iya papa!" sahut Hana dengan suara khas anak kecil. Pak Salim tersenyum bahagia melihat kehangatan Rafa dan Hana.


...☆☆☆☆☆...


"Diana, hari ini kita tutup lebih awal. Kasihan mereka sudah bekerja sejak pagi buta. Kita ajak mereka jalan-jalan di luar. Sekadar untuk menghilangkan lelah mereka!" ujar Hana, Diana mengangguk. Hana sudah meminta izin pada Rafa untuk pergi jalan-jalan bersama pegawainya. Rafa mengizinkan dengan syarat dia akan ikut bersama Hana. Rafa takut terjadi sesuatu pada Hana. Kehamilan Hana sudah mendekati HPL.


Kreeekk


Terdengar suara pintu terbuka. Seketika Hana menoleh ke arah pintu. Kedua bola mata Hana membulat sempurna. Pertemuan yang tak pernah Hana inginkan. Wajah yang tak pernah ingin dilihat Hana. Sama halnya Hana, orang tersebut terkejut melihat Hana.


Hana berdiri dengan rasa takut, tubuh Hana mulai bergetar. Bayangan kelam yang pernah terjadi berputar indah dalam benak Hana. Kerasnya Hana mendorong kursi, membuat kursi terjatuh. Suarany terdengar oleh Diana. Dengan cemas Hana berlari ke arah Hana.


"Hana, kamu baik-baik saja!" ujar Diana, dia melihat Hana mematung dengan tubuh bergetar. Diana memeluk Hana erat, mencoba menenangkan Hana. Diana melihat ke arah pintu, alasan ketakutan Hana.


"Nyonya Wirawan!" ujar Diana lirih hampir tak terdengar. Diana mengerti alasan ketakutan Hana. Diana membenamkan Hana dalam pelukannya. Dia mencoba menenangkan Hana, Diana takut bila terus seperti ini. Akan terjadi sesuatu pada Hana.


"Tante Hana!" teriak Annisa, dia berlari dari belakang nyonya Wirawan. Annisa memeluk Hana sangat erat. Diana terperanjat saat Annisa memaksa memeluk Hana. Dengan tubuh bergetar Hana menerima pelukan Annisa. Nyonya Wirawan terkejut melihat kedekatan Hana dan Annisa.

__ADS_1


Lama Hana terdiam, dengan suara bergetar Hana menyapa nyonya Wirawan, ibu dari Naufal.


"Apa kabar nyonya?" sapa Hana, nyonya Wirawan mengangguk pelan. Dia menarik tubuh Annisa yang memeluk Hana. Dia memaksa Annisa keluar dari toko.


"Aku ingin bertemu pemilik toko ini. Bukan pelayan sepertimu. Katakan aku datang ingin memesan makanan!" ujarnya sombong, Hana tersenyum ramah. Diana geram melihatnya, ingin sekali Diana mengusirnya.


"Diana pemilik tempat ini. Silahkan anda katakan pesanannya. Saya akan ke dapur sebentar!" ujar Hana dengan tubuh yang lemah, Hana teringat akan hari meninggalnya kedua orang tuanya. Semua seakan mengiris hatinya.


"Tunggu Hana, aku lihat Annisa dekat denganmu. Apa kamu sudah bertemu Naufal? Apa sekarang kamu ingin menggodanya kembali? Tapi sepertinya kamu sudah menikah, apa suamimu seorang kuli? Sampai kamu masih bekerja dengan perut membesar!" ujarnya kasar, Hana memegang dadanya yang terasa sesak akan hinaan. Diana meradang, tapi Hana mengedipkan mata. Hana tidak ingin terjadi keributan.


"Kenapa kamu diam saja? Apa tujuanmu dekat dengan cucuku? Apa kamu ingin mendekati Naufal lagi?"


"Nyonya Wirawan yang terhormat, sepertinya harta membuat anda tak berpendidikan. Sebelum anda menghina, seharusnya anda mencari tahu dulu siapa yang anda hina? Takutnya yang anda hina, bisa membuat anda bersimpuh memohon ampun!" ujar Rafa tegas, Hana menggelengkan kepala berharap Rafa menghentikan semuanya.


"Tuan Rafa, sedang ada urusan apa anda disini? Apa yang saya katakan memang benar? Sejak dulu Hana hanya mengejar putra saya. Dia ingin hidup nyaman dengan harta keluarga Wirawan!"


"Adrian, tinjau kembali kerjasama yang ditawarkan tuan Wirawan. Aku sendiri yang akan meneliti kembali poin demi poin perjanjiannya!" ujar Rafa pada Adrian, Hana menggeleng lemah. Dia tidak pernah berharap Rafa melakukan itu.


"Maksud anda apa tuan Rafa? Bukankah kerjasama kita hampir mencapai kata sepakat!" ujar nyonya Wirawan, Rafa menggeleng. Dia mengacuhkan nyonya wirawan yang sedang bingung. Dengan santai Rafa berjalan menghampiri Hana.


Rafa merangkul Hana, mencium kening Hana lalu membungkuk mencium perut Hana. Nyonya Wirawan terperangah melihat Rafa melakukan semua itu. Dia penasaran hubungan diantara Hana dan Rafa.


"Aku bukan tipe orang yang mencampuradukkan masalah bisnis dan pribadi. Tapi sebaiknya aku tinjau kembali kerjasama diantara kita. Apalagi dengan santai anda menghina istriku. Anda tenang saja nyonya Wirawan, Hana tak akan berniat mendekati putra anda. Memang benar saya kuli, tapi saya yakin mampu memenuhi kebutuhan istri dan putraku!" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah.


"Diana, aku akan membawa Hana pulang! Kamu tutup toko, nanti Adrian yang akan membawamu pulang!" ujar Rafa, lalu dia merangkul Hana berjalan menuju mobil.


"Nyonya Wirawan, bersiaplah menerima akibat dari perkataanmu tadi!" bisik Rafa, Hana menarik tangan Rafa.


"Kak Rafa!"


"Tenang sayang, aku tidak akan menghancurkan mereka. Tapi mereka perlu mengingat kesalahan yang pernah dilakukan. Agar mereka bisa menghargai orang lain!" tutur Rafa, Hana mengangguk pelan.

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😊😊😊


__ADS_2