
Pesta perayaan digelar dengan sangat meriah. Rafa berkolaborasi dengan Zyan mengubah restoran biasa menjadi aula pesta yang megah. Semua ide dari Hana sangat membantu Rafa. Makanan yang disajikan dibuat oleh koki restoran. Kelezatan masakannya sebanding dengan koki internasional.
Rafa sebagai bintang pesta datang dengan penampilan yang sangat memukau. Seluruh keluarga Prawira datang sebagai rekan utama dari perusahaan yang sedang mengadakan perayaan. Semua orang pergi, hanya Hana yang berdiam diri di rumah. Hana tidak ingin ikut dalam perayaan yang nantinya hanya akan membuatnya malu.
Setelah perdebatan yang sengit, akhirnya Hana memutuskan ikut dengan Rafa. Hana hanya akan menikmati pesta tanpa ikut menemui rekan kerja Rafa. Hana belum terbiasa dengan dunia Rafa. Namun kelak Hana harus terbiasa dengan statusnya sebagai istri seorang pewaris keluarga Prawira.
FLASH BACK
"Sayang, ayolah ikut denganku. Kamu tega membiarkanku sendirian dalam pesta semeriah itu. Semua orang datang membawa pasangan. Adrian saja datang dengan Diana!" ujar Rafa kesal, Hana masih tetap dengan gelengan kepalanya. Hana tidak terbiasa dengan pesta semacam itu. Apalagi kondisi kehamilannya yang masih sangat rawan.
"Kak Rafa, bukankah dokter Cintya melarangku untuk melakukan aktivitas yang menguras tenaga. Pesta itu dihadiri banyak orang. Pasti aku akan kelelahan mengikutimu menyapa semua orang. Jika tidak aku harus duduk sendirian. Jauh lebih baik aku di rumah!"
"Sayang, kamu akan sendirian di rumah. Semua orang pergi ke acara itu. Begini saja, aku tidak perlu pergi. Lebih baik, kakek yang menggantikanku!!" ujar Rafa santai, Hana menggeleng seraya mengelus lembut rambut hitam Rafa. Hana memijit pelan kepala Rafa yang kebetulan dia sedang tidur berbantalkan kaki Hana.
Selembut mungkin Hana memijat kepala Rafa. Beberapa hari ini Rafa terlihat tertekan dengan pekerjaannya. Rafa menutup mata merasakan setiap pijatan Hana. Rafa merasakan kasih sayang Hana dalam setiap sentuhan Hana.
"Kak Rafa aku tidak akan sendirian. Ada buah hati kita yang menemaniku dalam setiap langkah. Aku enggan berada dalam pesta orang-orang kaya seperti kak Rafa. Aku talut membuat kak Rafa malu!" ujar Hana lirih, Rafa menggeleng lemah. Dia mendongak menatap Hana. Rafa menarik tengkuk Hana agar membungkuk.
Cup
Satu kecupan manisa mendarat sempurna di bibir mungil Hana. Entah sejak kapan Rafa selalu ingin melakukan hal manis tapi berkesan untuk Hana. Rafa selalu menunjukkan seberapa besar Hana berarti dalam hidupnya. Hana tersenyum sesaat setelah Rafa menciumnya. Sebab Hana sudah mulai terbiasa dengan sikap Rafa yang romantis.
"Tidak ada kata malu dalam hidupku. Kamu terlalu sempurna sebagai istriku. Meski semua orang meragukannya. Aku yang menjalani pernikahan ini, bukan mereka. Jadi untuk apa aku peduli dengan pendapat mereka! Jangan pernah berpikir kamu hal memalukan untukku. Kamu selalu menjadi yang paling penting di hidupku!"
"Baiklah, aku ikut kak Rafa. Tapi aku tidak ikut kak Rafa menyapa rekan-rekanmu. Aku hanya ingin menikmati makanannya saja!"
"Siap sayangku, cukup aku bisa melihatmu. Aku sudah sangat bahagia! Aku akan menemanimu setelah menyapa mereka!" ujar Rafa senang, Hana mengangguk pelan. Rafa menoleh pada perut Hana yang masih rata.
Cup
"Anak manis, jaga mama selama papa tidak ada. Jangan biarkan siapapun menyakiti mama. Kamu harus kuat demi mama!" ujar Rafa sesaat setelah mengecup lembut perut Hana. Rafa memeluk perut ramping Hana. Sebenarnya Hana sangat geli, tapi demi kebahagian Rafa Hana tetap diam. Hana melihat Rafa sangat bahagia saat berbicara dengan calon anak mereka.
"Iya papa!" sahut anak menirukan suara anak kecil. Rafa mendongak sembari tertawa, Hana melihat kedua mata Rafa yang berbeda. Hanya terpancar kebahagian tanpa beban. Hana begitu bahagia bisa membuat tawa di wajah Rafa.
FLASH BACK OFF
Sekitar pukul 20.00 wib, Rafa dan keluarganya sampai di tempat acara. Perayaan sangat meriah, dengan banyaknya tamu yang datang. Perayaan sebuah perusahaan terkemuka, tentu saja akan dihadiri oleh para pengusaha hebat.
Rafa berjalan dengan tegap, penampilannya selalu memukau. Rafa menjadi pusat perhatian para tamu, terutama para wanita yang belum mengetahui fakta pernikahan Rafa. Mereka berpikir masih memeliki harapan untuk bersanding dengan Rafa.
Penampilan Hana sedikit berbeda, malam ini dia sedikit merubah penampilannya. Gaun panjang yang digunakan Hana, membalut tubuh Hana dengan sangat indah. Hijab panjangnya terlihat cantik dan serasi dengan gaun yang dipakai Hana. Sedikit make up membuat wajah Hana terlihat menawan dan segar. Rafa sempat terdiam melihat penampilan Hana yang sederhana tapi menawan. Kecantikan Hana terbalut sempurna dengan gaun panjang dan hijab panjang yang digunakannya.
Sabrina dan Kiara terperangah melihat penampilan Hana yang berbeda. Meski gaun yang dikenakan Hana tidak semahal milik mereka berdua, tapi terlihat sangat indah dan menawan menempel pada tubuh Hana. Sabrina tidak pernah menyangka pelayan yang selalu dia hina, memiliki kecantikan yang tak terduga.
__ADS_1
"Sayang, kamu cantik! Jangan terlalu dekat dengan laki-laki. Aku bisa cemburu, kamu terlalu cantik malam ini!"
"Kak Rafa, kecantikan yang terlihat akan memudar seiring tubuhku yang menua. Tapi kecantikan hatiku, hanya kak Rafa yang mampu melihat. Jadi sangat tidak penting kak Rafa cemburu. Sedangkan semua yang ada pada diriku sudah menjadi milikmu sepenuhnya!" ujar Hana membalas perkataan Rafa. Hana dan Rafa terpisah tepat di depan pintu masuk. Rafa berjalan masuk ke dalam untuk menemui rekan kerjanya. Sedangkan Hana akan mencari tempat dimana dia merasa nyaman. Keluarga Prawira yang lain termasuk tuan Ardi sudah berjalan terlebih dahulu menuju meja mereka.
Rafa menyapa satu per satu rekan bisnisnya. Wibawa Rafa sebagai seorang pengusaha sudah tidak bisa diragukan lagi. Tangan dinginnya mampu mengalahkan pengusaha muda dan senior sekaligus. Rafa selalu menjadi pemenang dalam setiap tender. Sehingga para pengusaha mulai mengakui kehebatan Rafa Akbar Parwira.
"Hana, boleh aku duduk di sini!" sapa Rama sopan, Hana mengangguk pelan. Rama dan Hana duduk dalam satu meja. Sampai saat ini Rama belum mengetahui jika Rafa suami Hana. Rama hanya mengetahui jika suami Hana salah seorang pengusaha.
"Apa kabar kak Rama? Bagaimana acara ta'arufnya? Kapan aku mendapatkan undangannya?" ujar Hana ramah, dengan tersenyum Rama membalas pertanyaan Hana. Memang Rama dalam proses ta'aruf dengan wanita pilihan keluarganya. Wanita yang menurut mereka sederajat dengan Rama. Seorang istri yang sukses dalam karir belum tentu dalam rumah tangga.
Rama menatap wajah Hana yang bersinar, ada rasa sesal jauh di lubuk hati Rama. Wanita yang dicintainya karena keimanannya. Bukanlah wanita yang berjodoh dengannya. Hana hanyalah angan yang tak pernah tergapai. Semenjak pernikahan Hana terlaksana dengan Rafa. Sejujurnya Rama tidak benar-benar bisa melupakan Hana. Meski wanita yang kini menjadi tunangannya tak jauh beda dengan Hana. Bahkan secara fisik mungkin tunangan Rama jauh lebih cantik. Wanita dengan karir yang cukup bagus. Namun cinta tak semudah itu dilupakan. Rasa yang bertahun-tahun tertanam. Tak mungkin dengan mudah menghilang dan digantikan dengan cinta yang lain.
"Aku dan dia baik-baik saja. Kami berdua sudah bertunangan. Pernikahan kami masih menunggu. Sebab kami berdua ingin saling mengenal. Dia bekerja sebagai seorang dokter. Jadi waktunya selalu habis di rumah sakit!" tutur Rama, Hana mengangguk mengerti. "Alhamdulillah, kak Rama menemukan wanita yang jauh lebih baik dariku. Semoga mereka bahagia dan takkan pernah ada halangan menuju pernikahan suci!" batin Hana. Rama sedikit heran melihat Hana duduk sendiri tanpa suaminya. Rama merasa pernikahan Hana tak baik-baik saja.
"Kenapa dia tidak kak Rama ajak kemari? Jadi aku bisa berkenalan dengannya!"
"Sebaliknya Hana, aku juga ingin bertanya hal yang sama! Dimana suamimu berada? Kenapa kamu malah duduk sendiri di sini?" ujar Rama balik bertanya. Hana hanya tersenyum, dia tidak pernah berpikir ingin mengenalkan Rafa dengan Rama.
"Dia ada diantara laki-laki di sini. Aku duduk sendiri, karena pesta ini bukanlah gayaku. Aku lebih suka di rumah. Namun demi sebuah bakti seorang istri, aku harus datang ke tempat yang tak pernah kuinginkan. Kak Rama mengenal pribadiku dengan sangat baik!" ujar Hana, Rama mengangguk mengerti. Selama mengenal Hana, Rama memang tidak pernah melihat Hana datang menghadiri sebuah pesta. Hana cenderung lebih menyukai kehidupannya yang tenang.
Rama dan Hana larut dalam percakapan. Mereka mengenang masa lalu saat sekolah SMU. Semua kenangan Rama dan Hana sebagai anggota remaja mushola menjadi moment yang paling membahagiakan. Rama dan Hana tertawa bersama. Mereka tidak menyadari ada sepasang mata elang yang selalu mengawasi.
"Rafa, kita berdansa. Setidaknya sebagai teman kita masih bisa berdansa bersama!" ujar Sesil manja, Rafa mengangguk. Dia merasa cemburu melihat kedekatan Rama dan Hana. Rafa kesal melihat Hana bisa tertawa tanpa beban di depan Rama. Sesil sudah menyadari kemarahan Rafa. Sejak awal Sesil sudah melihat, tatapan penuh amarah pada Hana dan Rama.
"Hana, kamu tidak apa-apa?" bisik Diana, dia menghampiri Hana saat melihat Rafa berdansa mesra dengan Sesil. Hana mengangguk pelan, sembari mengedipkan mata. Menandakan dirinya akan baik-baik saja. Diana bergabung dengan Hana dan Rama. Akhirnya mereka melupakan Rafa dan Sesil. Kedatangan Diana membuat pembicaraan mereka semakin seru.
Tatapan Rafa semakin tajam, dia melihat Hana seolah tak peduli dengan perilakunya bersama Sesil. Rasa cemburu menguasai Rafa. Tanpa sadar dan penuh amarah, Rafa mengambil minuman yang mengandung alkohol. Sesil semakin senang melihat Rafa kembali. Hanya pesta dan minuman hidup Rafa. Kemesraan Rafa dan Sesil semakin menjadi. Mereka berpelukan di depan umum tanpa berpikir semua itu tidak pantas.
"Lihatlah pa, wanita murahan ini. Setelah gagal merayu putra kita. Dia sekarang mencari mangsa baru. Apa kamu sudah sadar sekarang. Jika Rafa hanya akan mencintai Sesil?" ujar Sabrina sinis, Diana berdiri menghadang Sabrina. Rama terkejut melihat mereka menyebut nama Rafa. Seolah tak percaya, Rama menoleh ke arah Hana. Dengan anggukan lemah, Hana menjawab rasa penasaran Rama. Dengan lesu Rama duduk kembali. Dia tidak menyangka bahwa Rafa pengusaha hebat tak lain suami Hana.
"Diana, duduklah tidak perlu meladeni mereka. Aku sudah biasa mendengar mereka menghinaku. Bagiku semua tidak terlalu berarti. Hatiku sudah mati rasa!" sahut Hana acuh, sembari menarik tangan Diana untuk duduk kembali. Sabrina merasa tersindir, dia menghampiri Hana dengan mata merah menahan amarah.
"Bukan hatimu yang mati rasa, tapi kamu memang tidak memiliki harga diri. Kamu pikir Rafa benar-benar mencintaimu. Kamu bermimpi, lihat sendiri dengan kedua mata indahmu. Rafa sedang memeluk mesra Sesil di depan semua orang. Sedangkan kamu hanya istri di atas kertas bagi Rafa. Inilah dunia Rafa penuh dengan kemewahan. Kamu hanya wanita kampung yang bermimpi ingin menjadi wanita kaya!" ujar Sabrina sinis, Hana hanya diam. Dengan santai Hana berdiri, dia menarik tangan Diana. Hana ingin meninggalkan pesta yang tak pantas dia hadiri. Rama mengekor di belakang Hana dan Diana.
Rafa melihat Hana keluar dari restoran. Kondisi Rafa sudah sangat tidak baik. Adrian sudah berusaha menghentikannya, tapi rasa cemburu Rafa mengusai pikirannya. Sikap acuh Hana semakin membuat Rafa kesal. Rafa berpikir Hana tidak pernah mencintainya. Dia melakukan kemesraan bersama Sesil. Awalnya Rafa hanya ingin melihat Hana cemburu. Namun Sesil memanfaatkan rasa cemburu Rafa dengan memberikan minuman beralkohol.
"Diana, kita tinggalkan tempat ini. Lebih baik kita makan dipinggir jalan. Daripada kita makan di sini bersama orang yang tak memiliki hati. Kita bukan pengemis yang butuh belas kasihan dari mereka!" ujar Hana, Diana mengangguk pelan. Sabrina semakin meradang, Gunawan tidak ikut campur urusan istrinya. Dia tidak ingin menyiram bensin di atas api.
"Hana, lancang kamu mengatakan diriku tak berhati!" ujar Sabrina sembari mengangkat tangan hendak menampar Hana. Dengan sigap Hana menangkis tangan Sabrina, Hana menahan tangan Sabrina di udara.
"Jangan pernah angkat tangan anda pada saya. Orang tua saya tidak pernah mengangkat tangan sampai mereka meninggal. Anda hanya wanita biasa tanpa harga diri. Status sebagai nyonya besar yang anda sandang. Tidak membuat anda pantas menampar saya. Sebaiknya anda berhati-hati dengan kesombongan harta yang lenyap suatu saat nanti!" tutur Hana, lalu menghempaskan tangan Sabrina dengan kasar. Hana tidak ingin akan terima bila disakiti tanpa alasan yang jelas.
"Satu hal lagi nyonya Sabrina yang terhormat. Secara pribadi saya tidak bangga menjadi anggota keluarga Prawira. Saya tetap berada di sisi kak Rafa, semua murni sebagai bakti seorang istri. Status yang anda katakan tentang saya, semuanya memang benar. Namun itu tidak membuat saya terluka, sebab sampai detik ini harta keluarga Prawira tidak membuat saya silau!" ujar Hana emosi, Sabrina mengepalkan tangannya kesal. Sikap berani Hana membuat Sabrina tak berdaya. Wanita kampungan seperti Hana bisa melawannya.
__ADS_1
"Tunggu Hana Khairunnissa!" teriak Rafa, dia berjalan sempoyongan menghampiri Hana. Adrian mengekor di belakang Rafa takut dia terjatuh. Sesil tersenyum sinis penuh kemenangan.
"Kemana kamu akan pergi? Kamu akan pergi dengan mantan tunanganmu ini. Apa yang dia miliki? Sampai kamu mengacuhkanku, dia jauh di bawahku. Aku memiliki segalanya, aku pengusaha sukses!" teriak Rafa, sembari mengalungkan tangannya pada pundak Hana.
Rafa sudah terlalu banyak minum, perkataan Rafa sudah sangat melantur. Hana mematung melihat Rafa yang sebenarnya. Hana menyadari Rafa tidak akan pernah bisa berubah. Adrian menarik tubuh Rafa, agar dia menjauh dari Hana. Adrian tidak ingin terjadi sesuatu pada Hana dan bayinya. Namun tenag Rafa sangat kuat, dia menahan tangannya tetap mengalung pada pundak Hana.
"Kenapa kamu diam? Jawab pertanyaanku. Apa kamu akan pergi dengan laki-laki ini. Aku lebih segalanya, aku memiliki semua kemewahan. Apa yang kurang dariku? Sampai kamu ingin pergi denganya!"
"Rafa, sudah cukup. Kamu terlalu banyak minum. Tinggalkan saja wanita pelayan ini. Jangan buang waktumu!" ujar Sabrina memanasi, Rafa menoleh dengan tatapan penuh amarah. Seketika Gunawan menarik tubuh Sabrina mundur. Dia tidak ingin Rafa kalut. Apalagi dalam kondisi tak terkendali seperti ini.
"Hana Khairunnissa, cepat jawab aku!" teriak Rafa marah, dia mundur menjauh dari Hana. Rafa mengusap wajahnya kasar, hanya rasa cemburu yang menguasainya sekarang.
"Rafa, hentikan semua ini. Hana bisa takut melihatmu. Dia sedang hamil, Hana tidak boleh stres!" bisik Adrian menenangkan, Rafa mendorong tubuh Adrian menjauh darinya.
"Kak Rafa, permasalahanmu denganku bukan dengan orang lain. Jangan pernah libatkan siapapun? Kak Rama tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan kita. Temui aku setelah kamu sadar! Sekarang lebih baik aku pergi. Tenangkan dirimu!" ujar Hana lirih, dia berjalan menjauh dari Rafa. Diana merangkul tubuh sahabatnya. Meski Hana kuat tapi sebenarnya dia rapuh.
"Hai pelayan, sombong kamu! Bukan berarti aku mencintaimu, kamu bisa mempermaikan perasaanku. Kamu memanggil Rama dengan mesra, sebaliknya kamu memanggilku dengan dingin. Aku bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih cantik darimu. Kamu hanya wanita miskin yang hidup sebatang kara. Apa kamu sadar semua orang meninggalkanmu? Termasuk orang tuamu yang pergi menjauh darimu. Jangan kamu pikir aku tidak bisa hidup tanpa dirimu. Pergilah sejauh yang kamu suka! Aku tidak akan mencegahnya!" tutur Rafa emosi, Hana memegang dadanya yang mulai terasa sesak. Perkataan Rafa telah mengiris tipis hatinya. Hatinya terasa ngilu, sebuah kejujuran terucap tanpa bisa dicegah. Mungkin Rafa dalam kondisi yang tidak normal. Namun perkataannya telah mewakili semua isi hatinya. Keluh kesahnya terhadap Hana.
"Hana, lebih baik kita pergi dari sini. Tidak ada yang menerima kita!" ajak Diana, Hana mengangguk lemah. Rama terdiam mematung melihat orang yang dicintainya terluka. Rama hanya bisa melihat tanpa bisa menolong Hana.
"Kak Rama, pulanglah dulu anggap semua ini hanya mimpi. Aku dan Diana akan pulang dengan taxi. Maaf telah melibatkanmu dalam masalah ini!" pinta Hana pada Rama, Hana menghampiri Rafa. Dia menyentuh tangan kanan Rafa. Mencium lembut punggung tangan Rafa.
"Tuan Rafa yang terhormat, terima kasih telah membuka mata hatiku. Jika orang lain yang mengatakan, aku tidak akan pernah percaya. Namun hati terdalammu telah mengatakannya dengan sangat jelas. Maaf jika aku melukai hatimu!" ujar Hana sesaat setelah mencium tangan Rafa.
"Pak Adrian, tolong jaga tuan Rafa. Jangan biarkan dia terluka lagi. Aku permisi, sampaikan permintaan maafku setelah dia sadar!"
"Hana, Rafa…!" ujar Adrian, tapi dengan cepat Hana menggeleng.
"Dia sudah mengatakannya dengan jelas. Aku tidak ingin terus menyakitinya. Bukan cinta bila terus menyakiti. Mungkin kami butuh waktu untuk sendiri!"
Setelah Hana mencium tangannya Rafa tak sadarkan diri. Dengan hati hancur tak berbentuk. Hana meninggalkan pesta, Diana merangkul Hana. Keteguhan cintanya mulai dipertanyakan, tapi Hana hanya wanita lemah tanpa daya.
"Jika ini jawaban dari doaku. Dengan ikhlas aku akan menerimanya. YA ALLAH sedalam inikah namanya ada dalam hatiku. Sehingga hati ini begitu sakit meninggalkannya. Aku seakan tak sanggup untuk bernapas. Kutitipkan kebahagian imamku padamu wahai sang pemilik hidup. Aku mencintainya, aku menyayanginya. Kak Rafa akan kujaga hadiah terindahmu. Buah hati cinta kita akan mengenalmu suatu saat nanti. Semoga ada masa dimana kita bertemu!" batin Hana pilu, langkah kakinya gontai. Membawa hati yang teriris tipis. Hana begitu mencintainya.
"Hana, jangan menangis!"
"Aku mencintainya, aku mencintainya!" ujar Hana lirih, air matanya terjatuh tanpa permisi. Tubuh Hana terjatuh, Hana menangis air matanya membasahi tanah. Diana melihat sahabatnya hancur tak tersisa.
"Rafa, aku mencintaimu!"
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊
__ADS_1