
"Apa kabar Faiq?" Sapa Sesil, Faiq mendongak sembari meletakkan berkas yang sedang diperiksanya.
Sesil dan Farah sengaja datang ke kantor Faiq. Sesil ingin memberikan berkas yang dikembalikan oleh Faiq. Farah datang menemani Sesil. Dia hanya membantu Sesil tidak lebih.
"Ada apa tante?"
"Aku datang hanya ingin menunjukkan berkas yang kamu kembalikan. Aku sudah memeriksa detail berkas. Tidak akan ada yang salah!" Ujar Sesil bangga, lalu memberikan berkas kepada Faiq. Dengan perlahan Faiq mengangguk, tangan kanannya menerima berkas dari Sesil.
Faiq menoleh ke arah Farah yang berdiri tepat di samping Sesil. Dengan anggukan kepala, Faiq menyapa Farah. Wanita yang pernah menyimpan rasa padanya. Namun sebatas teman, Faiq menganggap Farah. Demi Farah juga, Faiq menahan amarahnya pada Farah. Dia tidak bisa melampiaskan kemarahannya. Sebab Farah dan Faiz salah satu teman terbaik Faiq.
"Baiklah, aku akan memeriksanya sebentar. Jika kontrak yang tante ajukan tidak ada masalah. Aku akan menyetujuinya, jika masih ada masalah. Terpaksa aku akan menghentikan proyek ini!" Ujar Faiq ramah, Sesil tersenyum sinis. Farah melihat jelas perselisihan Faia dengan Sesil. Hanya helaan napas panjang, jawaban atasa pertikaian Faiq dan Sesil.
"Kamu sombong Faiq, bisnis bukan hanya berdasarkan emosi. Kamu harus menguasai banyak hal. Seandainya kontrak ini batal, bukan aku yang merugi. Perusahaan Prawira yang harus membayar pinalti. Bukan perusahaanku!" Sahut Sesil sinis, Faiq diam tak menyahuti perkataan tak penting Sesil.
Lama Faiq memeriksa point yang ada dalam kontrak. Sesil dan Farah menunggu dengan sabar. Mereka melihat betapa seriusnya Faiq. Keraguan yang awalnya ada dalam benak Sesil. Menghilang tanpa bekas, saat dia melihat keseriusan Faiq memeriksa detail kontrak.
"Tante Sesil, ternyata anda sangat cermat. Namun ada satu kelemahan yang tak pernah tante sadari. Sejak awal kontrak, aku sudah katakan dana yang tersedia. Lantas, kenapa tante tidak membenahi anggaran sesuai dana yang ada?"
"Kamu memang seorang dokter, bukan pembisnis. Kita sedang mengerjakan proyek untuk mendapatkan keuntungan, bukan untuk beramal atau menolong orang lain. Jika kita membuat anggaran sesuai dana yang tersedia. Kita hanya akan bekerja, tanpa mendapatkan untung!"
"Sebab itu aku tak pernah ingin bekerjasama dengan perusahaan tante. Nanti asistenku yang akan mengirimkan pinalti ke perusahaan tante!" Ujar Faiq final, Sesil menatap tajam. Seolah dia tidak terima dengan keputusan Faiq.
"Kamu bercanda, proyek sebesar ini kamu anggap sepele. Kamu bukan siapa-siapa? Keputusanmu tidak dianggap, Fathan pemimpin yang berhak memutuskan!" Sahut Sesil tak terima, Faiq diam menatap lekat Sesil. Ada sedikit rasa puas. Bukan karena masalah diantara mereka. Namun melepaskan kerjasama dengan orang seperti Sesil. Bak lepas dari jeratan lintah pengisap darah.
__ADS_1
"Sayangnya kamu salah Sesil!" Ujar Rafa yang baru saja masuk. Sontak Sesil menoleh gugup ke arah Rafa.
Sesil mulai kegelisah, dia merasa Rafa sudah mengetahui kecurangan yang sengaja Sesil lakukan. Sejenak Sesil mulai cemas, jika Rafa akan membuatnya malu di depan Faiq dan Farah.
"Kamu berada di balik keputusannya!" Ujar Sesil lirih, sembari menutupi kegelisahannya. Rafa menggeleng dengan tegas. Gelengan kepala yang nyata membuat Sesil bingung. Rafa tak pernah ikut campur dengan proyek yang sedang dikerjakan oleh Faiq.
"Tak ada campur tangan atau pemikiranku di balik keputusan final Faiq. Dia sendiri yang memutusakan, kamu layak atau tidak bekerjasama dengan perusahaanku. Semenjak Faiq duduk di kursi itu. Baik aku atau Fathan, tidak memiliki hak ikut campur dalam keputusannya!" Ujar Rafa lantang, Sesil menggeleng tak percaya.
"Kamu bercanda, Faiq anak kemarin sore. Dia tidak tahu seluk beluk bisnis. Sangat tidak mungkin dia tahu kelamahan dari kontrakku!"
"Tidak perlu pintar, hanya untuk mengetahui kecurangan tante. Selama ini aku tidak pernah tahu bisnis. Namun tanpa tante sadari, aku orang yang turun langsung ke lapangan. Aku tahu harga dan kualitas bahan yang perusahaan tante gunakan. Dengan anggaran sebesar itu, tapi dengan kualitas rendah yang tante tawarkan. Perusahaan kami tidak akan merugi bila membayar pinalti ke perusahaan tante!" Ujar Faiq, Sesil diam membisu.
"Kak Faiq, bisakah aku menawarkan kontrak yang baru. Bukan demi mama, tapi demi pegawai yang ada di perusahaan mama!" Ujar Farah lirih, Faiq diam menatap lekat Farah. Wanita bercadar yang duduk tepat di depannya. Sahabat sejati istrinya Davina. Istri dari sahabat terbaiknya Faiz.
"Diam kamu Farah, kamu tidak tahu apa-apa?" Teriak Sesil lantang, Farah menatap memelas ke arah Faiq.
Rafa diam menanti jawaban Faiq. Dia tidak akan ikut campur. Apapun keputusan Faiq, meski Rafa merasa ada masalah pribadi yang dicampuraduk dengan pekerjaan oleh Faiq. Sedangkan Sesil kalut dengan keputusan Faiq. Meski perusahaan Faiq yang akan membayar pinalti, tapi proyek yang ditawarkan perusahaan Faiq tidaklah kecil. Besar pinalti jauh lebih kecil dari keuntungan proyek yang akan dikerjakan.
"Apa kamu yakin?" Ujar Faiq lirih, Farah menunduk terdiam.
"Kamu tahu nilai kontrak yang aku perusahaan Prawira tawarkan?" Ujar Faiq lagi, Farah menggeleng lemah. Sesil tersenyum sinis melihat aksi nekat Farah. Meski yang dilakukan Farah demi perusahaannya.
"Dasar gadis bodoh, lantas untuk apa kamu mengajukan diri? Jika kamu tidak tahu apa-apa? Lebih baik dia, meski seorang dokter. Dia tahu dimana kelemahanku!" Ujar Sesil sinis, Farah menunduk merasa bersalah. Faiq terlihat memangku dagunya. Dia semakin tak percaya pada cara kerja Sesil.
__ADS_1
"Inilah perbedaan terbesarmu dengan Hana. Kamu tidak pernah bisa menghargai usaha putrimu, meski dia tulus melakukannya demi dirimu. Sebaliknya Hana tidak pernah meragukan kemampuan putranya. Walau itu kecil sekalipun. Jika Hana tak bisa mendukungnya, maka Hana akan diam tanpa meragukan dengan hasil apapun!" Sahut Rafa sinis, Farah menunduk semakin dalam. Sesil tak berkutik dengan perkataan Rafa.
Perkataan Rafa yang membadingkan dirinya dengan Hana. Membuatnya terlihat tak berdaya. Sebagai seorang ibu, Sesil telah gagal sepenuhnya. Dia telah meragukan kemampuan putrinya. Keraguan yang nyata menunjukkan dia tak layak dipanggil ibu. Sedangkan sebagai wanita karier, Sesil tak lebih dari pembisnis yang berambisi dan serakah. Tak pernah peduli dengan kepentingan orang lain.
"Rafa, kamu membandingkanku dengan Hana. Wanita yang jauh dari kelasku!"
"Dia memang jauh dari kelasmu, tapi kamu jauh lebih buruk darinya. Jika dia bersedia, bukan hanya putranya yang membuatmu terhina. Hana dengan mudah bisa membuatmu tak berdaya!"
"Hana selalu di bawahku, dia tidak akan pernah bisa mengungguliku!" Sahut Sesil lirih.
"Faiq, katakan padanya. Siapa pemilik proyek yang akan kita kerjakan!"
"Tidak perlu papa, mama tidak pernah ingin dirinya terlihat!" Sahut Faiq lantang, lalu menoleh ke arah Farah yang diam menunduk.
"Farah, kenapa diam? Jawab pertanyaanku, tidak perlu peduli perkataan tante Sesil!" Ujar Faiq tegas, Farah mendongak menatap Faiq.
"Kak Faiq, aku tidak yakin sanggup mengerjakan proyek besar ini. Namun dengan kepercayaan kak Faiq. Aku pasti berusaha sekuat tenaga. Agar aku tidak mengecewakan kepercayaan kak Faiq. Sedangkan nilai kontrak yang kak Faiq katakan. Sedikitpun aku tidak mengetahuinya, karena bukan nilai yang aku kejar. Aku hanya ingin mempertahankan proyek ini demi pegawai di perusahaan mama!"
"Farah hentikan, kamu tidak tahu apa-apa?" Ujar Sesil kasar, Faiq tersenyum sinis melihat kepanikan Sesil. Rafa diam menunggu keputusan Faiq.
"Farah, ambil kontrak ini. Perbaiki semua yang ada, kalau bisa ajukan kontrak baru. Namun satu hal yang harus kamu tahu. Proyek ini sudah sangat mendesak. Aku hanya bisa menunggu selama tiga hari. Setelah itu, maaf aku harus mencari perusahaan lain!"
"Aku siap, terima kasih kak Faiq!" Sahut Farah.
__ADS_1
"Buktikan pada tante Sesil kamu mampu. Tunjukkan pada dunia, hati tulus selalu menang!" Ujar faiq tegas.
"Sesil, sudah saatnya kamu mengaku kalah!" Bisik Rafa lirih.