KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Kesalapahaman


__ADS_3

Kehamilan Hana sudah memasuki trimester ketiga. Perut buncutnya semakin terlihat. Hijab panjangnya tak lagi mampu menutupi perutnya. Terkadang Hana merasakan tendangan-tendangan kecil sang calon bayi. Hana dan Rafa memutuskan tidak melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin bayinya. Selama kondisi kehamilannya baik-baik saja. Hana sudah sangat bahagia. Apapun jenis kelamin bayinya. Itu akan menjadi surprise saat persalinannya. Hana tidak ingin mendahulu kehendak-NYA.


Fathan sedikit lebih mandiri. Selain karena kehamilan Hana. Fathan mulai terbiasa dengan kehadiran Kiara dan pengasuhnya. Fathan hanya akan mencari Hana. Bila dia benar-benar merindukan sang mama. Hana terkadang merindukan sikap manja Fathan. Namun kehamilannya yang semakin membesar. Membuat gerak Hana sedikit terhambat. Hana tidak ingin membuat bayi dalam kandungannya merasa tidak nyaman. Fathan juga harus bisa mandiri dan belajar menjadi kakak yang baik.


Rafa selalu siaga menjaga Hana dan Fathan. Tak pernah Rafa pulang terlambat. Dia selalu ada saat makan malam. Rafa sering menidurkan Fathan. Memberikan pelukan hangatnya, berharap Fathan merasa nyaman dan tidak kesepian. Rafa berusaha menyempatkan waktunya. Sekadar bermain dengan Fathan sebelum dia tertidur. Hana merasa bahagia. Melihat Rafa berubah menjadi ayah yang sangat menyayangi putranya.


Rafa tidak pernah sekalipun menolak keinginan Hana. Meskipun terkadang keinginan Hana sangat aneh dan tidak mungkin dilakukan. Namun Rafa selalu berusaha mewujudkannya dengan cara apapun. Selama keinginan Hana tidak mengganggu kesehatan dan keselamatan Hana. Rafa akan mengupayakan dengan sekuat tenaga. Bagi Rafa senyum Hana segalanya.


Berbeda dengan kejadian semalam. Rafa dan Hana bertengkar saat Rafa menolak keinginan Hana. Pertama kali Rafa menolak dengan sangat tegas. Kemarahan dan bentakan Rafa terdengar sampai keluar kamar. Rafa tidak mengabulkan keinginan Hana. Meski Rafa melihat air mata Hana. Rafa tetap menolak dengan tegas permintaan Hana. Pertengkaran semalam berlanjut hingga pagi hari.


Hana dan Rafa tidak saling menyapa sejak bangun tidur. Hana meninggalkan kamar dengan muka ditekuk. Sebaliknya Rafa mengacuhkan sikap cemberut Hana. Seolah Rafa tidak melihat apapun. Sedikitpun Rafa tidak bergeming dengan keputusannya. Rafa sangat menolak permintaan Hana kali ini. Tak ada suara atau seutas senyum dari bibir keduanya. Baik Rafa dan Hana tegas dengan sikapnya. Rafa tetap menolak, sedangkan Hana tetap teguh menginginkannya. Keduanya sama-sama teguh pada pendirian masing-masing. Keduanya merasa pilihan mereka sama-sama benar dan baik.


"Kak Hana, ada taxi yang sedang menunggu di depan. Apa kak Hana yang memesannya?" ujar Kiara ramah. Hana membalas dengan anggukan yang disertai sebuah senyuman. Hana menghampiri Kiara, lalu memeluknya membisikkan sesuatu. Kiara membalas dengan anggukan kepala.


Tepat setelah Hana melepas pelukan Kiara. Terlihat Rafa turun dari kamar. Rafa sudah berpakaian rapi. Dia terlihat menawan dan mempesona. Rafa melihat penampilan Hana yang sudah siap. Rafa tertegun melihat istrinya semakin cantik dengan perutnya yang semakin membesar. Jika bukan dalam kondisi perang dingin. Rafa sudah menarik tubuh gimbul Hana ke dalam pelukannya. Sebaliknya Hana yang merasa kesal dengan Rafa. Pergi tanpa berpamitan atau sekadar menoleh pada Rafa. Bukan Hana tidak menghargai Rafa, hanya saja emosi Hana belum stabil. Dia tidak ingin kekesalannya pada Rafa berakibat fatal pada hubungannya. Hana memilih menghindar dan mencari ketenangan dalam kesediriannya.

__ADS_1


"Kemana kakakmu pergi? Dia pasti mengatakannya padamu!" ujar Rafa dingin, sembari menarik kursi lalu duduk di meja makan. Kiara menggeleng lemah, Rafa menopang dagunya heran. Jelas-jelas dia tadi melihat Hana memeluk Kiara. Rafa yakin jika Hana mengatakan kemana dia akan pergi? Tidak mungkin Hana pergi tanpa pamit pada siapapun? Meski Hana marah pada Rafa, dia selalu mengatakan kemana dirinya akan pergi.


"Kak Hana tidak mengatakan sesuatu yang penting. Dia berpesan agar aku menyiapkan sarapan untuk kakak. Kak Hana sudah memasak untukmu, tapi dia harus pergi ke suatu tempat. Maka dari itu dia meminta bantuanku menyiapkan sarapanmu. Kak Hana juga menitipkan Fathan, sebab saat kak Hana pergi. Fathan masih tidur, jadi kak Hana tidak tega membangunkannya. Kak Hana tidak mengatakan akan pergi kemana?" tutur Kiara lirih, Rafa terdiam merenung. Pertengkarannya semalam hanya sebuah salah paham. Pengertian yang tidak bisa diterima oleh Hana. Permintaan yang tidak dikabulkan oleh Rafa. Sebab Rafa berpikir itu membahayakan Hana dan bayinya.


Kiara melihat raut wajah gelisah Rafa. Sejak bertemu Hana tadi pagi. Dia sudah merasa curiga telah terjadi sesuatu antara Hana dan Rafa. Kiara sangat mudah melihat, kecemasan dan kegelisahan Rafa. Sedangkan saat bertemu Hana. Kiara melihat jelas kesedihan dan kegalauan yang dialami kakak iparnya. Lama keduanya saling berpikir, larut dalam dugaan yang belum tentu benar. Rafa berpikir tentang betapa kerasnya hati Hana. Sedikitpun Hana tidak berpikir akan kebaikan dibalik penolakan Rafa. Sebaliknya Kiara cemas melihat pertengkaran kedua kakaknya.


"Kiara, katakan dengan jujur pada kakak. Kemana Hana pergi? Aku yakin dia mengatakannya padamu. Hana tidak akan pergi tanpa berpamitan. Sebab Hana selalu meninggalkan ponselnya. Jadi dia akan mengatakan tujuannya. Agar kita bisa menemukannya!" ujar Rafa sembari mengambil makanan, Kiara menggeleng lemah. Terlihat Rafa menatap tak percaya ke arah Kiara. Kemudian meneruskan sarapannya, mengacuhkan Kiara yang sudah berkata jujur. Rafa masih yakin, Kiara menyembunyikan sesuatu.


"Kak Rafa aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Kak Hana hanya menitipkan Fathan dan memintaku menyiapkan sarapanmu. Tidak ada yang lain.Bahkan aku tidak melihat kak Hana meminum air, meski seteguk. Aku memintanya sarapan, malah dibalas dengan gelengan kepala. Sejujurnya aku yang gelisah sekarang. Ada masalah apa diantara kalian? Tak pernah aku melihat kak Hana bersedih!" ujar Kiara dingin, seketika Rafa menoleh. Rafa menghentikan sarapannya. Dia terkejut saat mendengar Hana pergi tanpa sarapan. Tenggorokan Rafa seakan kering, tak lagi ada napsu Rafa menyantap sarapannya. Semua makanan terasa keras dan hambar. Seolah mulut Rafa tak mampu lagi mengunyah makanan.


"Kenapa kamu biarkan Hana pergi tanpa sarapan? Kamu juga diam saja sejak tadi. Seharusnya kamu mengatakannya padaku. Kamu tahu kak Hana sedang hamil. Dia tidak boleh kelelahan atau keluar dalam keadaan lapar. Tidak bisa kamu mencegahnya!" ujar Rafa emosi, Kiara menunduk merasa bersalah. Rafa mengusap wajahnya kasar. Dia tidak membayangkan. Jika Hana bisa senekat ini, sampai melupakan sarapannya. Meski Hana marah, setidaknya Hana tidak bermain dengan kesehatannya. Semua demi bayi dalam kandungannya. Rafa kalut memikirkan sikap Hana yang keras kepala.


Salsa menghampiri Rafa, dia mencium punggung tangan Rafa setelah meletakkan makanan yang dibawanya tepat disamping Rafa dan Kiara. Salsa duduk di sampinga Kiaraa. Di menoleh mencari keberadaan Hana. Namun Hana tak terlihat sepanjang Salsa mencarinya.


"Kak Rafa, kemana kak Hana? Aku datang mengantarkan pesanan kak Diana. Ini makanan kesukaan Kak Hana. Sengaja kak Diana menghubungiku. Dia ingin memberi kejutan pada di hari kelahiran kak Hana!" ujar Salsa santai, sontak Rafa terkejut. Dia tidak pernah menyadari. Jika hari ini ulang tahun Hana. Semenjak menikah dengan Rafa. Hana tidak pernah mengatakan tanggal kelahirannya. Setelah kematian kedua orang tuanya. Hana tidak pernah lagi mengingat atau merayakan hari kelahirannya. Hanya saja Diana selalu memberikan kejutan kecil. Diana dan Hana selalu pergi untuk makan bakso bersama. Hari ini Diana tidak bisa menemani Hana. Maka dari itu dia meminta Salsa membelikan bakso untuk Hana.

__ADS_1


"Salsa, kamu bercanda bukan! Tidak mungkin hari ini Hana ulang tahun. Dia tidak mengatakan apa-apa padaku? Aku tidak pernah mengetahui tanggal kelahirannya. Hana seolah menutupinya, jika aku bertanya tanggal kelahirannya. Semalam memang Hana meminta sesuatu padaku, tapi dia tidak mengatakan jika hari ini ulang tahunnya!" ujar Rafa heran, Salsa tersenyum. Kiara hanya diam, dia menyalahkan dirinya sendiri. Dia tidak peka jika Hana sedang ulang tahun. Padahal selama ini, Hana selalu mengerti akan kebutuhan Kiara.


"Kak Rafa tidak perlu terkejut. Semenjak ayah dan ibunya meninggal. Kak Hana tidak ingin mengingat hari kelahirannya. Hanya kak Diana yang selalu ingat, kapan kak Hana ulang tahun? Bertahun-tahun kak Hana hanya melakukan satu hal. Pergi ke makam kedua orang tuanya menggunakan sepeda motornya. Kak Hana akan datang merayakan bersama kedua orang tuanya. Dengan mendoakan kedua orang tuanya, kak Hana akan merasa mendapat berkah dari mereka!" ujar Salsa, seketika Rafa menunduk. Raut wajah Rafa berubah sedih. Dia mengingat bentakan-bentakannya pada Hana semalam. Meski Rafa benar dengan membentak Hana. Namun sesungguhnya Rafa salah, jika mengingat permintaan Hana sebuah kebiasaan yang sudah sejak lama dilakukannya.


"Aku akan menyusul Hana, Kiara kak Rafa titip Fathan. Kak Rafa menyesal telah mengacuhkan permintaan Hana. Seandainya kak Rafa mengerti sedikit keinginan sederhananya. Kak Rafa tidak akan menjadi orang yang menyakitinya dihari bahagianya. Bukan mengucapkan selamat atau memberikan Hana hadiah. Aku malah membuatnya menangis, air matanya jatuh tanpa bisa aku cegah!" ujar Rafa lirih, Salsa menepuk tangan Rafa pelan. Dengan seutas senyum, Salsa seolah ingin menenangkan pikiran Rafa. Salsa sudah menganggap Rafa dan Hana selayaknya kakak kandung. Dia tidak akan memihak salah satu diantara keduanya.


"Kak Rafa tidak perlu merasa bersalah. Banyak hal yang tidak pernah kak Rafa ketahui tentang kak Hana. Sebagai seorang suami, kak Rafa sudah berusaha menjadi yang terbaik. Terkadang banyak hal yang tak perlu dikatakan hanya agar kita mengetahuinya. Kak Hana bukan tipe orang yang akan memaksa. Jika bukan untuk sesuatu yang memang dia inginkan. Mendengar perkataanmu, aku merasa kak Hana mungkin memaksa untuk menggunakan sepeda motornya. Namun demi kebaikan kak Hana dan kandungannya. Kak Rafa menolak dengan tegas. Tidak perlu dipikirkan, kak Hana akan pulang. Dia bukan pengecut yang lari saat ada masalah. Biarkan kak Hana sendirian. Sudah waktunya kak Hana keluar dari masa lalunya. Dia sudah memiliki dirimu yang sangat menyayangi dan melindunginya. Tidak seharusnya kak Hana membagi kebahagian atau kesedihannya dengan mendiang kedua orang tuanya!"


"Tapi aku membuat Hana menangis. Aku menyakiti hatinya, dia pergi dengan hati yang terluka. Senyum yang seharusnya terlihat, malah air mata yang menetes. Aku gagal mempertahankan senyum istriku!"


"Kak Hana seharusnya melihat ketulusanmu. Agar dia mengetahui, air matamu ibarat pisau yang melukai hatinya. Tak pernah kak Rafa berpikir ingin menyakiti hatinya. Sudahlah kak Rafa, kak Hana hanya butuh waktu sendiri. Dia akan menyadari, hanya dirimu yang akan selalu ada dalam setiap langkahnya. Kak Hana akan mengerti, apapun yang kamu putuskan semua demi kebaikannya. Tidak pernah ada niat untuk membuatnya kecewa. Kak Hana akan melihat betapa besar cintamu. Kak Hana harus mulai membiasakan diri membuat kenangan akan masa depannya. Belajar melupakan setiap kebiasaan di masa lalunya. Kak Rafa, terima kasih selalu sabar menghadapi sifat keras kak Hana. Terima kasih selalu yakin akan cinta kak Hana untukmu. Kamu selalu memahami sifat kerasnya. Sungguh kak Hana beruntung memilikimu. Aku akan tenang menyerahkan kebahagian kak Hana ditanganmu!" tutur Salsa, Rafa hanya diam membisu.


Cintanya pada Hana membuat Rafa takut melukai istri kecilnya. Rafa selalu berusaha membuat Hana merasa nyaman. Tak pernah Hana berpikir ingin membuat Hana melupakan masa lalunya. Rafa akan memikirkan kebahagian Hana. Daripada kebahagiannya sendiri, karena senyum Hana satu-satunya kebahagian paling indah dalam hidupnya.


"Salsa, bukan Hana yang beruntung memiliku. Aku yang merasa beruntung mengenal Hana yang sederhana. Mungkin Hana keras, tapi dia yang membuatku mengerti arti kelembutan kasih sayang. Demi Hana aku belajar mengendalikan emosi dan mengerti arti mencintai. Hana bukan pribadi yang sempurna secara iman dan insan. Namun Hana yang membuatku ingin menjadi laki-laki sempurna secara iman dan insan. Demi Hana aku berubah menjadi imam yang baik dunia akhirat!" ujar Rafa, Salsa terdiam penuh kekaguman. Kedua telingannya mendengar dengan jelas. Betapa Rafa mengagungkan kakaknya Hana. Cinta yang penuh keagungan dan ketulusan.

__ADS_1


"Salsa, tidak akan mudah membuat kak Rafa berpikir jelek tentang kak Hana. Cinta kak Rafa hanya untuk kak Hana, satu untuk selamanya!" goda Kiara, Salsa mengangguk seraya tersenyum. Rafa hanya menatap dingin kearah kedua adiknya. Dia tidak peduli apapun perkataan mereka.


...☆☆☆☆☆...


__ADS_2