KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Semua Sudah Tertulis...


__ADS_3

"Prinsip kita berbeda, meski aku menyadari rasa cinta itu ada. Namun prinsip kita berbeda nyata. Jangan mencintai hanya dengan rasa kagum, tapi mencintai dengan iman itu yang terbaik. Aku dan kamu berbeda dalam prinsip, sesuatu yang tidak bisa kita samakan sampai kapanpun?" ujar Vania lirih, Steven menunduk terdiam. Vania menatap ke luar cafe. Dia melihat keramaian kota siang ini. Dengan tatapan penuh tanya, Vania seolah mencari jawaban dari segala pertanyaan dalam benaknya.


"Tidak adakah jalan kita menyatu. Setidaknya aku berhak mengetahui, cintakah dirimu padaku. Katakan padaku, rasaku terbalas atau hanya rasa yang bertepuk sebelah tangan. Jika memang rasaku hanya milikku. Aku akan menyimpan dan menutup rapat rasaku untukmu. Aku akan pergi dari kota ini nanti malam. Aku akan membawa jawaban dari rasa ini. Sepahit apapun itu!" ujar Steven, Vania mengangguk pelan. Dengan tatapan yang penuh keteduhan. Vania menatap wajah Steven. Dia tersenyum dibalik cadarnya. Bukan hanya Steven yang ingin semua jelas. Vania juga berharap agar tidak ada lagi kesalahpahaman diantara keduanya. Vania akan menjelaskan pendapat pribadinya tentang sosok Steven.

__ADS_1


"Steven, selama ini aku menganggap dirimu hanya teman tidak lebih. Aku tidak mungkin memiliki rasa yang lebih padamu atau laki-laki manapun. Aku terlahir dalam lingkungan pesantren. Bukan ingin membedakan dengan lingkungan yang lain. Namun secara nyata sejak kecil aku terdidik untuk memahami makna imanku. Bagi wanita sepertiku, sangat tidak pantas bila menyimpan rasa pada laki-laki yang bukan mukhrimku. Satu hal yang harus kamu ketahui, pernikahanku sudah ditentukan semenjak aku remaja. Aku telah dikhitbah oleh salah satu putra sahabat ayah. Semenjak itu aku tidak pernah berpikir ingin mengenal laki-laki selain Faiq kakak sepupuku. Jika kamu bertanya, bagaimana pendapatku tentang dirimu? Sejujurnya aku mengagumi sikapmu, kamu laki-laki berhati lembut. Namun aku harus menghentikan rasa kagum itu. Agar tidak berubah menjadi rasa cinta. Sebab itu aku mencoba menghindar dari dirimu. Aku tidak ingin kamu berharap pada rasa yang tak mungkin terbalas. Terlepas dari perbedaan diantara kita!" tutur Vania, Steven terdiam membisu. Hatinya terasa sakit, dadanya sesak seakan dia tak mampu lagi bernapas. Vania yang selalu dia impikan. Kini telah menjadi milik orang lain. Rasanya harus berakhir, dia harus bisa menerima kenyataan pahit.


"Seandainya kita satu prinsip, mungkin aku masih bisa berharap. Aku akan berusaha mendapatkan dirimu. Dengan cara apapun? Namun semua hanya akan menjadi angan yang takkan pernah sampai!" ujar Steven lirih penuh dengan penyesalan. Vania terdiam melihat kesedihan Steven. Bukan maksud hatinya ingin melukai Stevan. Vania tidak bisa merubah sesuatu yang tertulis.

__ADS_1


"Tidak pantas seseorang yang beriman berkata seperti itu. Seharusnya kamu menyadari, apa yang terjadi sudah menjadi jalan tertulis? Jika memang bukan aku jodoh yang tertulis untukmu. Percayalah akan ada wanita yang terbaik untukmu. Aku tidak pernah berpikir ingin menyakitimu, tapi kenyataan ini harus kamu ketahui. Jangan jadikan cintamu menghancurkan imanmu. Cinta itu indah bila kita memahami maknanya. Seandainya kamu meninggalkan imanmu, jujur aku tidak akan pernah menerimamu. Sesungguhnya cinta itu mendamaikan bukan menghancurkan. Mencintai dengan mempertaruhkan iman. Itu bukan cinta, tapi perjudian yang kelak ingin kamu menangkan. Cintailah wanita dengan iman yang kamu miliki. Niscaya kamu akan menemukan wanita yang terbaik. Aku harap setelah ini, kita masih bisa saling mengenal sebagai teman. Hadirlah dipernikahanku kelak. Aku akan mengingat pernah mengenal dan dicintai dokter hebat sepertimu. Jangan pernah berubah demi orang lain. Jadilah dirimu sendiri, sebab cinta dengan perubahan akan menyisakan penyesalan!" tutur Vania, Steven mengangguk pelan. Dengan penuh kekaguman, Steven menatap wanita bercadar di depannya. Kini dia menyadari alasan cintanya pada Vania. Bukan karena kecantikan wajah yang tak terlihat. Namun iman yang begitu kuat dari seorang Vania. Kesederhanaan cara pikir akan sebuah cinta. Steven mulai menyadari, jika cinta yang tulus tidak harus terbalaskan.


"Terima kasih Vania, telah mengajarkanku arti mencintai. Mungkin cintaku tak terbalas, tapi kini aku menyadari bahwa bahagia itu sederhana. Aku akan kembali pada imanku. Setidaknya aku bisa mendapatkan salah satu diantara cinta dan iman. Sejujurnya aku iri pada laki-laki yang menjadi calon suamimu. Dia sungguh beruntung mendapatkan wanita sepertimu. Penuh dengan pengertian dan tanggungjawab. Aku akan mengingat dirimu yang pernah ada dalam hatiku!" sahut Steven, Vania mengangguk pelan. Dia tersenyum dibalik cadarnya. Sebuah rasa yang harus pupus sebelum berkembang. Cinta yang karam oleh perbedaan dan budaya. Namun pertemanan yang terjalin, tidak akan pernah bisa dibantah lagi. Jika cinta tak dapat disatukan, maka pertemanan akan tercipta tanpa ada yang meminta.

__ADS_1


"Terima kasih atas doamu. Aku akan berusaha untuk bahagia. Meski sebenarnya bahagia ada beriringan dengan kesedihan. Aku akan berjalan dengan kepala tegak. Menatap dunia yang penuh tantangan dan misteri. Jika aku boleh jujur. Seberuntung apapun laki-laki itu? Sampai detik ini kami tidak pernah bertemu. Perjodohan kami ada ketika para orang tua yang memutuskan. Meski aku tidak pernah mengenal atau melihatnya. Aku percaya jika orang tuaku tidak akan salah memilih. Sebab sampai hari akhir, orang tua hanya memikirkan kebahagian putra-putrinya. Dengan rasa percaya itu, aku yakin dia yang terbaik untukku!" tutur Vania lirih, Steven menatap lekat Vania. Mungkin ini terakhir kali dia bisa melihat Vania. Setelah ini Vania akan menjadi milik orang lain. Sedangkan dia harus kembali kepada kedua orang tuanya. Steven harus kembali semangat demi membantu sesama. Dia akan menjadikan akhir cintanya sebagai semangat untuk awal kesuksesannya.


"Vania Aulia Azzrah, nama indah dengan makna yang sangat mulia. Nama yang pernah aku tulis dalam dinding hatiku. Nama yang menjadi teman dalam tidurku. Nama yang membuatku selalu membuatku tersenyum meski dalam lukaku. Kini nama itu tak lagi bisa ada dalam hatiku. Nama yang kelak akan bersanding dengan nama imamnya kelak. Vania bukan wanita yang biasa. Dia mengajarkanku arti mencintai. Dia mengingatkan hamba yang hina ini akan imannya. Cintaku padanya mungkin tidak terbalas, tapi kekagumanku padanya akan senantiasa abadi. Vania meski bukan tanganku yang kelak menggandeng tanganmu. Walau bukan tubuhku yang kelak menopangmu. Satu hal yang pasti doa dan cintaku akan selalu bersamamu. Bahagiamu akan menjadi senyumku. Senyummu akan menjadi semangatku. Aku akan mengingatmu dalam hati dan jiwaku. Mengingat jika ada wanita bercadar yang mengingatkanku arti mencinta. Terima kasih telah hadir dalam hidupku yang hampa. Semoga kamu selalu bahagia!" batin Steven.

__ADS_1


__ADS_2