
Malam semakin sunyi, jam yang terpasang di dinding menunjukkan pukul tengah malam. Davina berdiri resah menunggu Faiq pulang. Seharusnya faiq sudah pulang sejak sore atau paling lambat setelah sholat magrib. Namun entah kenapa sampai tengah malam Faiq belum juga pulang.
Davina menunggu Faiq dengan penuh rasa gelisah. Dia mencoba menghubungi Faiq, tapi ponsel Faiq tidak aktif. Davina mencoba menghubungi rumah sakit. Petugas mengatakan Faiq sudah pulang sejak petang. Davina semakin cemas setelah mengetahui Faiq tidak berada di rumah sakit. Davina tidak mungkin menghubungi orang tua Faiq atau Fathan kakak Faiq. Davina tidak ingin mereka cemas memikirkan Faiq.
Davina terus menunggu Faiq, kedua matanya seakan berat untuk terus terjaga. Davina mulai mengantuk, tapi Faiq tak kunjung datang. Tak ada tanda, jika Faiq akan pulang malam ini. Davina memutuskan menunggu Faiq di kamar. Sebenarnya Faiq selalu membawa kunci cadangan. Jadi dengan mudah Faiq bisa masuk ke dalam rumah. Tanpa harus menunggu Davina membuka pintu.
Tepat pukul 01.30 dini hari, Faiq tiba di rumahnya. Dia sengaja pulang sangat larut, agar dia tidak bertemu dengan Davina. Faiq masih tidak sanggup bila harus melihat wajah polos Davina. Wajah yang menahan rasa sakit, menyembunyikan duka yang sangat dalam. Faiq masuk ke dalam rumah, lalu berjalan perlahan menuju kamarnya. Dia yakin jika Davina istrinya sudah terlelap. Faiq benar, dia melihat Davina meringkuk dibalik selimut.
Faiq berjongkok di depan tubuh Davina. Teelihat rambut legam Davina menutup sebagian mata indahnya. Faiq menyibak pelan rambut yang menutup mata indah Davina. Mata yang meneduhkan hati Faiq. Kejernihan mata yang senantiasa ingin Faiq lihat. Lama Faiq menatap wajah Davina. Lalu Faiq mengecup lembut kening Davina.
"Aku tidak akan melepaskanmu dengan alasan apapun. Aku tidak akan menyetujui permintaanmu. Bahkan aku tidak akan mendengar permintaan bodohmu. Lebih baik aku menjauh darimu. Daripada aku harus kehilanganmu. Jangan pernah berpikir pergi meninggalkanku. Selamanya kamu yang ada dalam hatiku. Meski kata selamanya tak pernah ada. Aku akan tetap berjuang untuk selamanya bersamamu!" batin Faiq pilu.
__ADS_1
Tanpa terasa air mata Faiq menetes membasahi wajah tampannya. Rasa sakit yang sengaja Davina sembuyikan membuatnya semakin terluka. Faiq memukul dadanya pelan, ada rasa ngilu yang teramat. Faiq menggigit pergelangan tangannya kuat, agar tangisnya tak terdengar oleh Davina. Faiq tak lagi mampu menahan rasa sakit. Dia tidak akan sanggup membayangkan, Davina segalanya dalam hidupnya.
FLASH BACK
Sejak pagi Faiq berkeliling memeriksa pasiennya. Saat dia berdiri tepat di depan ruang berkas. Tanpa sengaja dia mendengar beberapa petugas sedang berbisik. Sayub Faiq mendengar mereka sedang membicarakan seorang pasien. Padahal etika dari tim medis, tidak boleh membicarakan kondisi pasien secara terang-terangan. Atau tanpa sengaja menyebarkan kondisi seorang pasien, kecuali pada keluarganya. Sebagai seorang dokter sekaligus pemimpin rumah sakit. Faiq marah melihat sikap para petugas medis yang tidak sesuai dengan etika.
Faiq seorang dokter yang hangat, tapi sebagai seorang pemimpin Faiq sangat keras dan disiplin. Dia tidak akan mentolelir kesalahan petugas medis. Siapapun itu bila menyangkut pasien? Bagi Faiq peraturan tetap peraturan yang harus dipatuhi oleh semua petugas medis. Tak terkecuali dirinya sebagai pemimpin rumah sakit.
"Kalian sedang apa disini? Tidak baik membicarakan kondisi pasien. Apa kalian tidak tahu aturan yang berlaku? Jika pembicaraan kalian di dengar orang lain. Semua akan sulit bagi rumah sakit. Sikap kalian tidak mencerminkan petugas medis yang bertanggungjawab!" ujar Faiq emosi, kedua petugas rumah sakit terkejut melihat kedatangan Faiq. Mereka jelas mengetahui cara kepemimpinan Faiq. Bagaimana Faiq akan menangai petugas yang tidak mematuhi aturan atau kode etik petugas medis.
Kedua bola mata Faiq membulat sempurna, Faiq terkejut melihat nama yang tertera. Faiq membolak-balik rekam medis tersebut. Sebagai seorang dokter, Faiq dengan mudah membaca data yang tertulis. Bak petir di siang hari yang menyambar tubuhnya. Seluruh tulang Faiq hancur tak tersisa. Tubuhnya terasa lemas sesaat setelah membaca rekam medis pasien itu. Pasien yang tak lain istrinya, Davina Nur Latifah. Wanita yang hampir setahun menemani hari-harinya. Setetes air mata Faiq jatuh membasahi kertas laporan tersebut. Tubuh Faiq bergetar hebat, bibirnya kelu melihat diagnosis yang tertera dalam laporan itu.
__ADS_1
"Sejak kapan dia berobat di rumah sakit ini? Kenapa aku tidak pernah tahu tentang semua ini?" tanya Faiq lantang sembari menatap dua petugas yang terus menunduk. Bukan jawabn yang Faiq terima. Sebab mereka hanya diam membisu. Tak ada lagi yang bisa dilakukan kedua petugas. Tak ada satupun yang berani menjawab pertanyaan Faiq. Kode etik kodokteran melarang menceritakan kondisi pasien. Bila tanpa izin pasien itu sendiri. Alasan yang membuat semua orang menutup rapat mulut mereka. Meski mereka tahu, jika Davina istri pemimpin sekaligus menantu pemilik rumah sakit ini.
"Kenapa kalian tega menyimpan rahasia sebesar ini? Davina istriku, aku berhak mengetahui kebenaran ini. Kenapa kalian menyimpan rahasia sebesar ini? Kenapa? Apa salahku? Meski dia melarang kalian, setidaknya aku harus ada saat dia merasakan sakit!" ujar Faiq lirih, lagi dan lagi air mata Faiq menetes. Air mata dari hati, penyesalan yang tak mampu Faiq tanggung. Air mata yang tak lagi malu untuk jatuh. Seorang dokter sehebat Muhammad faiq Alhakim menangis di depan pegawainya.
FLASH BACK OFF
"Kak Faiq, sudah pulang? Kenapa kak Faiq menangis? Terjadi sesuatu yang aku tidak ketahui!" ujar Davina suara paraunya, Faiq menggeleng lemah. Tangan Davina mengusap lembut kepala Faiq. Saat tertidur, sayub Davina mendengar suara tangis Faiq. Davina merasa Faiq sengaja menahan tangisnya agar dia tidak mendengarnya. Entah beban apa yang ditanggung Faiq? Davina tidak mengetahuinya sama sekali.
"Bukan aku yang menyimpan rahasia, tapi kamu yang menyimpan rahasia besar dariku. Kamu yang menganggapku tak berarti. Apa kesalahanku sampai kamu setega itu?" ujar Faiq lirih, Davina menggeleng lemah. Dia menyadari arah pembicaraan Faiq. Davina duduk tepat di depan Faiq. Dia mengangkat wajah Faiq, Davina melihat kedua mata Faiq merah. Air mata Faiq terlihat menetes. Davina mendekat ke arah Faiq. Dengan lembut Davina mencium kedua mata Faiq. Lalu Davina mencium kening Faiq lama.
"Kak Faiq, air mata yang menetes ini. Alasanku diam menyimpan semua ini. Aku sanggup menahan rasa sakit, tapi aku tidak akan sanggup melihat air matamu menetes. Aku akan tega membohongimu, agar aku tidak melihat kegelisahanmu. Kamu suami sekaligus hidupku. Kamu napas dan semangat dalam hidupku. Tak akan aku kuat melawan rasa sakit ini. Bila aku melihat kesedihanmu. Aku hanya ingin menjadi alasan bahagiamu, bukan sedihmu. Maafkan aku bila keputusanku menyakitimu. Jangan menangis, aku butuh senyummu!" ujar Davina lirih, lalu menarik kepala Faiq. Davina mendekap wajah Faiq dalam pelukannya. Kehangatan Davina membuat Faiq sedikit tenang. Melupakan kenyataan pahit yang diketahuinya. Davina menarik tubuh Faiq ke atas tempat tidur. Davina meminta Faiq tidur. Sedangkan Davina tidur berbantalkan dada Faiq. Dia bisa mendengar jelas detak jantung Faiq yang memburu.
__ADS_1
"Aku mungkin sakit, tapi dengan senyummu aku merasa sehat. Aku tidak butuh obat, dekapanmu yang selalu aku rindukan. Jangan anggap aku sakit, biarkan aku sehat di dekatmu. Teruslah tersenyum demi aku, istri yang selalu membutuhkanmu. Jika kamu menangis, siapa yang akan menghapus air mataku? Jika kamu bersedih, lantas pada siapa aku mencari kebahagian? Percayalah aku akan baik-baik saja. Selama kamu ada di sampingku!" ujar Davina, sembari menutup kedua matanya. Merasakan kehangatan yang diberikan Faiq. Dekapan Faiq yang selalu membuat Davina merasa nyaman. Faiq mencium puncak kepala Davina lama. Mencurahkan segala rasa gelisah yang ada dihatinya.
"Jangan tinggalkan diriku!"