
"Memang ini proyekku, harapan dan impianku. Namun aku hanya investor tidak lebih. Jadi aku tidak berhak atas keputusan pembangunan. Jika masalah cetak biru, aku melakukannya hanya demi terwujudnya impianku. Aku hanya ingin menjadi senja yang indah untuk warga kota ini!" ujar Vania.
"Sovia, diamku cara aku menjaga kehormatan suamiku. Sebesar apapun sukses yang kudapat. Aku harus menguburnya, demi tanggungjawab sebagai seorang istri. Setinggi apapun pendidikan yang kuterima. Harus kututup rapat agar suamiku selalu lebih tinggi dariku. Bahkan kemewahan dan jerih payah yang kupunya. Tidak akan pernah aku tunjukkan pada suamiku. Sebab sebanyak harta yang aku punya. Tetaplah harta suamiku yang membuatku nyaman dan tenang. Sebab pintanya adalah perintah untukku. Kata-katanya hukum dalam hidupku!" ujar Vania lirih.
"Aku tidak percaya, jika kamu mampu membangun proyek sebesar ini. Meski keluargamu kaya, tidak akan mampu mewujudkan impian sederhanamu. Impian yang sesungguhnya sangatlah besar dan tak tergapai!" sahut Sovia, Farah tersenyum mendengar keraguan Sovia. Bukan hanya Sovia yang meragukan Vania. Diam Raihan seolah tidak percaya akan kemampuan Vania.
"Sovia, Vania tidak membutuhkan kepercayaan atau keraguan orang lain. Impian yang sudah lama dia genggam. Takkan mudah dia lupakan, hanya karena pesimis orang lain. Vania sanggup mengorbabkan hidupnya demi semua ini. Sebuah impian yang pertama dan terakhir yang Vania wujudkan. Sebab berhentinya Vania bekerja. Membuatku mengerti Vania sahabatku memilih keluarganya dibandingkan harapannya!" sahut Farah, Raihan menoleh ke arah Farah. Seakan perkataan Farah sedang menyindir dirinya. Sebaliknya Farah menoleh ke arah Vania.
"Apa perkataanku benar? Kamu berhenti bekerja demi Raihan. Apa kamu yakin Vania? Kesuksesan ada di depanmu. Haruskah kamu mengacuhkannya. Pikirkan lagi Vania, aku rasa ada jalan lain. Tidak harus Vaaz mundur!" ujar Farah lirih, Vania mengangguk pelan. Vania sudah memutuskan mundur dari dunia yang membuatnya mendapatkan segalanya. Namun sesungguhnya menjadi arsitek membuat Vania merasa nyaman.
"Vaaz? Apa lagi yang kamu sembuyikan?" ujar Raihan. Sovia tercengang mendengar betapa hebatnya wanita yang selama ini dia remehkan. Vania menghela napas, mencari kekuatan agar tak ada lagi amarah dalam diri Raihan.
"Aku Vaaz arsitek yang selama ini kamu cari. Aku mundur dari pekerjaanku, sebab aku ingin menepati janjiku. Aku tidak akan memegang pensil atau kertas lagi. Sepenuhnya aku akan berhenti bekerja. Mungkin kamu atau Sovia ragu, jika aku bisa menjadi pemilik proyek ini. Terlepas dari semua keraguanmu, pembanguanan ini alasanku bekerja. Seluruh keringatku ada di atas tanah ini. Harta keluarga Prawira yang menjadi bagianku. Tidak pernah aku gunakan untuk berfoya-foya. Semua menjadi satu di atas tanah ini. Bertahun-tahun aku hidup dengan sederhana. Hanya demi mereka, orang-orang yang berharap aku menjadi senja!" tutur Vania lirih.
__ADS_1
"Sovia, sesungguhnya hatimu baik. Hanya saja kehadiranmu diantara kami. Seakan menjadi saat yang tidak baik dan sosok yang jahat. Masa lalu kalian berdua, seakan api yang membakar tubuhku. Mulai hari ini, aku tidak akan mengusik hubungan kalian. Apapun yang terjadi diantara kalian akan menjadi jalan hidup yang tertulis untukku. Tidak akan ada cemburu, hanya kepercayaan penuh. Tak ada lagi kebahagian yang aku inginkan. Sudah cukup nikmat yang aku miliki!" ujar Vania, sembari mengulurkan tangan pada Sovia.
Vania mengulurkan tangan pertemanan pada Sovia. Cukup sudah pertikaian yang tidak akan ujungnya. Vania mulai lelah dengan hidup yang terus bersaing. Farah merangkul lengan Vania, lalu menyadarkan kepalanya di bahu Vania.
"Vania, akhirnya harapanmu hampir terwujud!" ujar Farah, Vania mengangguk mengiyakan. Vania menoleh ke arah Raihan yang seolah marah dan kecewa akan sikap diam Vania.
"Sekali lagi aku minta maaf. Apapun yang kamu ketahui hari ini. Bukan dengan sengaja aku sembuyikan darimu. Tak pernah aku berharap kamu terhina. Semua yang kamu dengar dan lihat, milikku sebelum bersamamu. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan hidupmu dan harga dirimu!" ujar Vania, lalu menarik Raihan berjalan menatap matahari yang mulai terbenam.
Vania menunjuk langit yang berubah warna tak lagi biru. Matahari yang berwarna jingga, tak ada lagi panasnya meski sinarnya sangat terik. Vania menyadarkan tubuhnya tepat pada bahu tegap Raihan. Vania menatap senja yang mulai menyeruak. Senja yang selalu menjadi teman Vania di kala sepinya. Vania menunjuk tepat matahari yang mulai terbenam.
Vania merangkul erat tangan Raihan, dia merasa bahagia bisa berdiri menatap senja bersama Raihan. Sesuatu yang tak pernah mampu Vania utarakan. Vania menutup mata, merasakan hangat matahari yang menyentuh wajahnya. Vania merasakan kehangatan yang tak pernah bisa rasakan. Menyisip ke relung hati terdalamnya, tenang tanpa ada rasa gelisah.
"Sovia, mungkin kamu cinta masa lalu Raihan. Hubungan yang pernah ada diantara kalian ada dengan saling mengenal. Sebaliknya hubungan Raihan dan Vania ada dengan pengertian. Sejak perjodohan terdengar telinga Vania. Sejak itu dia berusaha mengerti. Jika dia telah termiliki oleh Raihan!" tutur Farah pada Sovia, keduanya menatap Raihan dan Vania yang sedang menatap senja.
__ADS_1
"Bunda Vania!" teriak beberapa anak kecil. Sontak Vania melepaskan rangkulannya.
Dia menoleh ke arah beberapa anak kecil yang berlari ke arahnya. Seketika Vania menjauh dari Raihan, agar anak-anak tidak menabrak Raihan. Vania berjongkok bertumpu pada lututnya. Lalu merentangkan tangannya selebar-lebarnya. Mereka semua berlari memeluk, Vania kewalahan menerima pelukan penuh cinta anak didiknya.
"Inilah Vania yang telah kamu nikahi. Bukan dia misterius dan penuh rahasia. Hanya saja Vania memiliki dunia yang tak mudah dipahami. Terima kasih telah menerima Vania, dia mencintaimu melebihi dirinya sendiri. Demi dirimu Vania melepaskan satu per satu alasan senyumnya. Jagalah Vania kecilku, dia pantas bahagia. Sudah cukup Vania berpikir tentang orang lain!" ujar Farah, Raihan terdiam membisu. Dia melihat Vania tertawa bahagia memeluk anak-anak. Suara tawa yang tak pernah dan hampir tak terdengar oleh telinganya.
"Sekarang kalian pulang, bunda harus pulang. Kalau ada waktu bunda akan mengunjungi kalian. Semoga sekolah kalian segera dibangun. Agar kalian semua bisa sekolah!" ujar Vania, mereka mengangguk serempak.
Satu per satu mereka mencium tangan Vania, bergantian dengan Raihan, Farah dan Sovia. Mereka selalu diajarkan menghormati orang lain. Sekilas Raihan melihat Vania mengusap air matanya. Raihan melihat air mata Vania pertama kalinya.
"Kenapa aku merasa bahagia dan tenang? Ketika mereka mencium tanganku. Apa ini yang dinamakan ketenangan hati? Inikah yang hilang selama ini dari hidupku. Kebahagian sejati yang ada ketika kita dihargai oleh orang lain. Meski itu hanya anak kecil!" batin Sovia terenyuh.
"Sudah petang, aku harus pulang. Assalammualaikum!" ujar Vania berpamitan.
__ADS_1
"Berikan kuncimu, aku yang akan menyetir. Sudah hampir gelap, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu!" ujar Raihan tegas, Vania mengangguk pelan.
"Maafkan aku, Vania istriku. Tanpa bertanya aku meragukan ketulusanmu. Kamu melepaskan senyum dan menggantinya dengan air mata. Semua demi permintaan konyolku. Berapa banyak lagi yang tak kuketahui tentangmu? Aku mencintaimu, tapi aku tak bisa memahami. Cintaku yang salah dan tak sempurna. Atau dirimu yang tak mudah kumengerti. Karena hatiku yang tertutup oleh ambisi dan keangkuhan. Siapa sebenarnya dirimu wahai Vania Aulia Azzahra?" batin Raihan.