KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Suamiku Surgaku


__ADS_3

"Kiara, kamu dipanggil ustadzah Mila di kantor. Kamu diminta segera menemuinya. Ada yang ingin disampaikan beliau padamu!" ujar Salwa pada Kiara. Kebetulan Kiara baru saja selesai sholat dhuha. Hari minggu para santri biasanya tidak memiliki banyak kegiatan. Pihak ponpes memberikan waktu istirahat. Biasanya kegiatan akan dilakukan mulai sore.


"Memangnya ada urusan apa mencariku? Aku merasa tidak melakukan kesalahan. Kamu tahu alasan ustadzah Mila memanggilku!" ujar Kiara heran, Salwa mengangkat kedua bahunya dengan santai. Dia pergi meninggalkan Kiara yang kebingungan. Salwa satu-satunya teman Kiara. Sejak memasuki pondok pesantren, Kiara jarang bergaul. Waktunya habis hanya untuk mengaji dan mengerti agama.


Kiara berjalan pelan menuju kantor tempat para pembimbing berada. Kiara selalu menunduk saat berjalan. Seaandainya dia bisa, ingin rasanya Kiara menutup semua auratnya. Menutup wajah seluruhnya, tapi jauh dilubuk hati dia tidak siap.


Tok Tok Tok


"Assalammualaikum, ustadzah memanggil saya!" ujar Kiara lirih, Mila mengangguk pelan isyarat dia mengiyakan pertanyaan Kiara. Terlihat Rizal duduk tak jauh dari Mila. Dengan mata elangnya Rizal memperhatikan Kiara yanh tak lain adik sahabatnya. Kiara tak merasa diperhatikan, sejak masuk ke dalam kantor. Kiara sama sekali tidak mendongak. Kiara selalu mendunduk.


"Waalaikumsalam! masuklah, duduk disini!" sahut Mila sembari menunjuk kursi di depannya. Kiara mengangguk, dengan sopan dia duduk di depan Mila. Salah satu guru pengajarnya. Mila melihat raut wajah Kiara dengan seutas senyum. Wajah yang sangat mirip dengan Rafa. Pemuda yang pernah mengetuk hatinya dan tak tergantikan. Meski kini nyata cintanya tak lagi bersambut.


"Kiara, aku memanggilmu sebab ada kiriman dari kakak iparmu Hana. Dia mengirimkan beberapa gamis untuk teman satu kamarmu. Ada juga mukena untuk masjid. Kebetulan juga semua pengajar mendapatkan jatah mukena dan sarung. Nanti kamu bawa gamis untuk temanmu dan tolong sekalian taruh mukena ini di masjid!" ujar Mila lirih, Kiara mengangguk tanpa menatap wajah Mila. Rizal terus memperhatikan Kiara, bukan ingin zina mata. Namun Rizal melihat pribadi sahabatnya yang pendiam. Rafa tak terlalu suka bergaul. Hanya Rizal satu-satunya sahabat Rafa. Mila mengenal Rafa, semenjak Rizal selalu mengajak Rafa dalam setiap kegiatan. Baik kegiatan di dalam ponpes atau di lingkungan keluarga dalem. Rafa dan Rizal sudah selayaknya saudara. Bahkan pak kyai sudah menganggap Rafa layaknya putranya sendiri. Rafa santrinya yang tak pernah pulang.


"Jika tidak ada lagi. Bolehkah saya permisi ustadzah!" ujar Kiaral lirih dan sopan. Mila melihat Kiara lekat, sopan santun yang berbeda. Sikap yang nyata berubah dari Kiara yang dulu datang.


"Kiara, jika boleh aku bertanya. Bagaimana pendapatmu tentang kak iparmu Hana? Melihat dia mengirimkan banyak barang. Aku melihat kedekatan layaknya saudara, bukan saudara ipar!" ujar Mila, Kiara menggeleng lemah. Kedua bola mata Hana membulat sempurna. Dia tak menyangka jawaban dari Kiara.


"Saya tidak terlalu mengenal kak Hana. Pertama dan terakhir saya bicara dengannya. Sehari sebelum datang ke ponpes ini. Dia yang membuka mata hati saya. Sejatinya seorang wanita harus menjaga kehormatan dan auratnya. Saat itulah saya memutuskan untuk berhijab. Sebelumnya saya dan keluarga termasuk orang yang membencinya. Kami semua tidak setuju dengan pernikahan mereka. Namun tak pernah kak Hana membalas kebencian saya. Sebaliknya dia menunjukkan kasih sayang. Kak Rafa berubah semenjak mengenal kak Hana!" tutur Kiara berterus terang, Mila mengangguk mengerti. Dengan seutas senyum dan tepukan hangat. Mila menggenggam tangan Kiara, sontak saja Kiara mendongak kaget. Tanpa sengaja dia menatap wajah Rizal pertama kalinya. Sebaliknya Rizal seketika menunduk. Dia terkejut melihat kesempurnaan ciptaan-NYA yang mampu menghancurkan iman. Rizal memutuskan keluar dari kantor. Dia tidak ingin manatap sesuatu yang haram untuknya.

__ADS_1


"Kiara, kamu beruntung memiliki kakak sebaik Rafa dan kakak ipar berhati emas layaknya Hana. Pertama kali aku bertemu dengannya. Wajahnya teduh penuh ketenangan. Kesabarannya terlihat nyata saat dia mendengar perasaanku untuk suaminya. Jangan pernah berpikir buruk terhadapnya. Wanita seperti Hana sangat jarang. Lihatlah dia memberikan sesuatu pada kami. Tanpa dia peduli mengenal atau tidak. Hana memahami setiap orang dengan baik. Dia mengerti apa yang dibutuhkan daripada apa yagng diinginkan?" ujar Mila bijak, Kiara menggeleng lemah. Dengan senyum yang tak pernah jaug dari wajahnya. Mila menatap wajah Kiara yang penuh dengan kebimbangan.


"Maksud Ustadzah Mila apa? Saya tidak mengerti!" ujar Kiara lirih seraya menunduk, Mila menepuk lembut tangan Kiara yang dipegangnya. Lalu Mila mengambil mukena yang di berikan pada pengurus.


"Lihatlah apa yang diberikan Hana pada pengurus? Apa yang Hana belikan untukmu dan temanmu? Apa yang diwakafkan untuk masjid? Semua bukan sekadar barang tanpa arti. Ada niat tulus dalam setiap barang. Sebuah arti untuk para penerima!" ujar Mila, Kiara menggeleng semakin tidak mengerti.


"Baiklah, aku akan menjelaskannya. Gamis yang Hana berikan untuk kalian, sederhana dengan satu motif tapi berbeda warna. Hana berharap kamu mampu hidup sederhana bersama teman-temanmu yang berbeda pola pikir. Gamis ini akan membuatmu dekat dengan tan satu kamarmu. Sebab mereka yang akan membantu pertama kali dirimu saat susah atau sakit. Hana berharap meski kalian berbeda pola pikir, kalian masih bisa sama dalam tekad dengan kesederhanaan yang ada. Mukena dan sarung yang Hana berikan untuk kami. Sebagai ungkapan rasa terima kasih atas ilmu agama yang kami bagikan pada kalian. Bukan barang mewah yang dengan mudah bisa Hana belikan untuk kami. Sebab Hana menghargai kami, bukan menghina. Hana mungkin berpikir ilmu yang kami berikan penuh ketulusan dan bukan demi harta semata. Sedangkan mukena untuk mushola, itu sedekah terbaik yang Hana pilih. Pahala yang mengalir selama mukena itu berguna untuk jamaah. Apa kamu memahami makna dibalik semua barang itu?" tutur Mila, Kiara mengangguk pelan.


"Kiara, tidak mudah berpikir sejauh Hana. Dia mampu memahami orang lain. Selayaknya dirinya sendiri, pantas saja kakakmu memilih Hana menjadi pemilik tulang rusuknya. Rafa berhati kasar tapi lemah. Sebaliknya Hana berhati lembut tapi tegas. Hana mampu memahami sikap kasar Rafa. Sedangkan Rafa mencoba memahami sikap tegas dalam kelembutan Hana!" ujar Mila, Kiara menggeleng lemah. Mila tersenyum melihat Kiara yang bingung.


"Maaf sebelumnya, ustadzah menyukai kak Rafa. Memangnya sejak kapan cinta itu ada? Bukankah sebagai seorang wanita muslim. Kita tidak boleh menyimpan perasaan pada laki-laki. Sebab pacaran itu tidak boleh, kecuali ta'aruf!" ujar Kiara penasaran. Mila mengangguk dengan senyum yang indah.


"Ustadzah hebat mampu menyimpan cinta selama itu. Bahkan tak terluka meski kak Rafa telah menikah!" ujar Kiara kagum, Mila menggeleng lemah.


"Tidak akan aku terluka, sebab wanita yang dinikahi Rafa jauh lebih baik dariku. Dia makmum terbaik Rafa. Hatinya terlalu mulia, meski sikapnya dingin pada Rafa. Cinta Hana melindungi Rafa dari dosa. Hana menutup cintanya, agar Rafa berusaha membukanya dengan iman. Cinta penuh keteguhan dan iman, tak pantas menjadi alasan hatiku terluka. Seperti rasa kagum ustad Rizal padamu. Akan berubah menjadi cinta atau tidak. Semua hanya menunggu ketetapan-NYA!"


"Aku tak pantas untuk ustad Rizal. Beliau lebih pantas bersama ustadzah Mila. Setidaknya anda berdua mengerti agama. Jangan berdoa untuk cinta diantara kami. Laki-laki baik untuk wanita yang baik. Dan aku bukan wanita baik-baik!" tutur Kiara lirih, lalu berpamitan pada Mila. Ternyata Rizal mendengar dibalik pintu. Sebenarnya dia keluar, sebab ada yang tertinggal dia kembali.


"Janji itu memang nyata, tapi seorang wanita malam berhak mencintai. Begitupun aku berhak menaruh rasa padamu!" sahut Rizal tegas, Kiara mendongak kaget. Mila terkekeh melihat kakaknya Rizal mengutarakan perasaannya untuk pertama kalinya.

__ADS_1


"Meski semua berhak mencintai dan dicintai. Namun aku lebih memilih menolak rasa itu. Anda laki-laki sempurna, aku hanya perempuan hina penuh dosa. Saat ini bukan imam yang aku cari, tapi iman dan islam yang aku inginkan. Semoga anda mendapatkan jodoh terbaik!" ujar Rizal, Kiara berjalan melewati Rizal tanpa menoleh.


"Tapi aku menginginkan pemilik buku ini menjadi makmumku. Aku akan mendampinginya mencari iman dan islam. Akan menjadi pengganti buku ini, menjawab semua pertanyaan tentang islam dan iman. Dia pemilik buku ini telah mengetuk pintu hatiku. Biarkan aku menjadi buku yang selalu menemanimu dan menjawab kecintaanmu akan islam!" ujar Rizal, Kiara menggeleng.


"Banyak wanita yang menghiba cinta ustad. Mereka jauh lebih baik dariku. Jangan salah memilih, sebab makmum yang salah tapi imam yang menanggung dosa. Aku bukan wanita yang pantas menjaga kehormatanmu. Ada satu wajah yang terpampang nyata dalam sujudmu. Dia pemilik tulang rusukmu, bukan wanita sepertiku. Secara iman kita bagai laut dan sungai. Anda dalam dan luas akan islam. Aku dangkal dan sempit. Percayalah kita tidak akan bersatu!" ujar Kiara final, dengan langkah cepat Kiara menjauh dari Rizal. Mila menepuk punggung Rizal.


"Apakah dia wanita yang terlihat dalam sujudmu? Secepat itukah cinta hadir, mungkinkah!"


"Ini buku yang dipelajarinya!" ujar Rizal lirih, sembari memberikan buka Kiara yang sempat terjatuh. Rizal menyimpannya dan belum sempat mengembalikannya.


"Suamiku surgaku!"


"Salahkah kini aku mencintainya. Bukan cara menjadi wanita sholeha atau menjadi ibu yang baik. Namun dia membaca itu, sebuah prinsip yang membuatku berarti sebagai seorang laki-laki. Ketika seorang istri menganggap diriku surga untuknya!"


"Mas Rizal benar-benar jatuh cinta. Tapi sepertinya tidak mudah meyakinkan Kiara!"


"Aku tidak perlu meyakinkannya, sebab aku telah yakin padanya. Aku akan mengkhitbahnya!"


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


__ADS_2