
Rafa frustasi setelah kepergian Hana. Sebenarnya bisa saja Rafa marah pada Sabrina. Agar Hana tidak pergi dari rumahnya. Namun semua itu tidak dilakukan Rafa, sebab Rafa tidak ingin Salsa berpikir buruk tentang keluarganya. Rasa ingin melindungi keluarganya harus dibayar mahal oleh Rafa. Hana pergi dari rumah membawa si kecil.
Rafa merasa kosong semenjak kepergian Hana. Bahkan Rafa memutuskan tidak makan malam. Perutnya seakan kenyang melihat istrinya keluar dari rumah membawa rasa kecewa. Lama Rafa terdiam dalam kamar si kecil. Pikirannya sangat kacau. Akhirnya Rafa memutuskan untuk pergi mencari Hana. Sekadar untuk melihat Hana dan si kecil sebelum dia tidur.
"Sayang, bisa aku melihat putraku sebelum tidur!" pinta Rafa, Hana menggeleng lemah. Rafa menunduk sesaat setelah mendengar jawaban Hana.
Hana memutuskan untuk menginap di tempat Diana. Sebenarnya Salsa datang ke kota ini untuk melanjutkan kuliah. Hana tidak ingin Salsa menjadi orang bodoh seperti dirinya. Hana sengaja meminta Salsa datang, selain untuk kuliah Salsa akan membantu Diana di rumah makan Hana.
Salsa akan tinggal bersama Diana, bukan dengan Hana. Meski rumah Hana besar, dia tidak pernah berpikir mengajak Salsa untuk tinggal bersamanya. Hana akan membiayai kuliah Salsa, menggunakan uang hasil dari rumah makan. Tak pernah Hana berpikir ingin menggunakan uang Rafa. Karena itulah Hana marah dan sakit hati. Ketika untuk makan malam saja, Salsa dianggap menumpang. Padahal kedatangan Salsa bukan untuk tinggal bersama Hana. Melainkan Salsa akan tinggal dengan Diana.
"Dia sudah tidur ditemani Salsa dan Diana. Aku tidak mungkin mengijinkanmu masuk. Sebab di dalam Salsa dan Diana sedang tidur. Mereka tidur di lantai menemani si kecil!" ujar Hana dingin, Rafa mengangguk pelan.
Rafa mengemudikan mobilnya secepat mungkin. Dia ingin segera melihat Hana dan si kecil. Rafa tidak akan pernah bisa tidur. Bila tidak melihat wajah Hana dan putra kecilnya.
Sebaliknya hal yang sama terjadi pada Hana. Dia tidak bisa memejamkan kedua mata indahnya. Hanya Rafa yang ada dalam benaknya. Kenekatan Hana meninggalkan rumah, hanya sebagai protes dalam diamnya.
__ADS_1
Setelah menidurkan si kecil, Hana memutuskan duduk di depan kamar kost Diana. Rafa yang datang langsung menghampiri Hana. Rafa melihat kecemasan yang sama di kedua mata Hana. Rafa memahami rasa sakit yang dialami Hana. Bila hinaan itu untuk dirinya, Hana akan tetap diam seperti biasanya. Namun ini Salsa yang terhina. Hati Hana seolah menangis saat Salsa dianggap benalu dalam keluarganya.
"Kak Rafa sudah larut malam. Kenapa belum tidur? Kak Rafa harus istirahat cukup. Aku tidak ingin melihat kak Rafa sakit!" ujar Hana lirih, Rafa membisu. Baginya tidak akan tidurnya nyenyak, saat tak ada Hana disampingnya.
"Sayang, kamu juga belum tidur. Seharian kamu merawat si kecil. Pasti kamu lelah, tapi kenapa selarut ini belum tidur?" sahut Rafa balik, Hana menggeleng lemah. Sejujurnya apa yang dirasakan Hana? Tak jauh beda dengan yang dirasakan Rafa. Dengan perlahan Rafa mendekat pada Hana. Rafa menggendong Hana, dia meletakkan Hana di atas mobil bagian depan. Hana bahagia sekaligus terkejut menerima perlakuan Rafa.
"Sayang, haruskah kita saling menjauh. Jika sebenarnya itu semua menyiksa. Aku tidak bisa tidur, tanpa melihat wajahmu. Aku merindukanmu, aku merindukanmu!" ujar Rafa lirih, Hana mematung mendengar perkataan Rafa. Hana berada dalam penjara Rafa, Rafa menopang tubuhnya dengan kedua tangannya. Rafa menempelkan keningnya pada wajah Hana. Hembusan napas Rafa memburu, rasa rindu Rafa membuncah. Napas Hana dan Rafa naik turun bersama. Dua insan yang saling mencintai dan tak mudah dipisahkan.
"Sudah lebih baik pulang, kak Rafa harus tidur lebih awal. Aku akan masuk menemani si kecil. Lagipula besok aku akan berkeliling mencari kampus untuk Salsa. Aku meminta Salsa melanjutkan kuliahnya. Agar tidak sepertiku selalu terhina!" ujar Hana dingin, Rafa menunduk tepat di depan Hana. Harum rambut Rafa tercium jelas oleh Hana.
"Sayang, aku akan meminta Adrian mendaftarkan Salsa di kampus XX. Yayasanku memegang kendali di kampus itu Jadi bisa sekalian mendaftarkan dan membayar biaya kuliah Salsa sampai lulus!" ujar Rafa, Hana menggeleng. Rafa terkejut melihat penolakan Hana.
"Maafkan aku sayang. Aku mohon jangan mengatakan semua itu. Apapun yang aku miliki, semua juga milikmu. Aku hanya diam mendengar Sabrina menghinamu. Bukan karena membenarkan perkataannya. Aku lelah sayang, jika harus berdebat untuk masalah yang sama. Harta, harta dan harta!" bisik Rafa, Hana mengangguk pelan sembari mendorong tubuh Rafa.
"Kamu tidak salah, asal-usulku yang membuat nyonya Sabrina menghina Salsa. Namun aku tetap manusia biasa yang akan marah bila terhina. Aku yang meminta Salsa datang, aku harus menjamin rasa nyamannya tinggal jauh dari kampung. Jadi takkan kubiarkan nyonya Sabrina menghina Salsa serendah itu. Untuk itu aku membawanya ke luar dari rumah. Maaf jika membuatmu cemas, sampai membuatmu susah tidur. Lebih baik kak Rafa pulang, istirahatlah!" ujar Hana, Rafa menggeleng lemah. Rafa enggan meninggalkan Hana, dia tidak akan pernah bisa tidur. Rafa seolah tak bernapas bila jauh dari Hana dan si kecil.
__ADS_1
"Bisakah aku tetap disini. Aku akan tidur dimobil, percuma aku pulang ke rumah yang sepi. Tanpa dirimu dan si kecil, semua kenangan di rumah dan harum tubuhmu yang tertinggal. Bisa membuatku selalu ingat padamu dan semakin frustasi. Aku mohon biarkan aku disini!" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah. Dengan penuh cinta Hana merentangkan kedua tangannya. Rafa menghampiri Hana, dipeluknya tubuh erat Hana. Rafa meluapkan rasa rindunya.
"Pulanglah, percuma tidur di mobil. Hanya akan menyiksamu. Aku akan pulang setelah selesai mengurus keperluan Salsa. Aku butuh pengertianmu, jangan buat aku bimbang. Salsa saudaraku satu-satunya!" ujar Hana, Rafa tetap Hana. Rafa tak pernah berpikir ingin melepaskan Hana. Terdengar suara tangis si kecil, Hana segera melepaskan pelukan Rafa.
"Kak, pulanglah aku harus masuk. Mungkin dia haus, aku harus segera memberinya ASI!" ujar Hana, Rafa mengangguk. Hana berjalan meninggalkan Rafa, tapi tangannya tertahan oleh Rafa.
"Sayang, cukup malam ini kamu pergi meninggalkan diriku. Aku tidak ingin kamu pergi lagi. Aku sesak napas tanpa kehadiranmu dan putra kita! Rumah itu membuatku takut, setiap sudut selalu mengingatkan dirimu!" bisik Rafa sembari memeluk Hana dari belakang. Hana merasakan kehangatan hembusan napas Rafa. Kecemasan dan kerinduan Rafa jelas terlihat oleh Hana. Rafa terpuruk tanpa kehadiran Hana.
"Tunggulah sebentar, aku akan mengambil si kecil. Kita pulang sekarang!" ujar Hana lirih, seketika Rafa membalik tubuh Hana. Rafa tidak percaya, dia melihat Hana mengedipkan kedua alisnya. Hana memutuskan pulang bersama Rafa. Lagipula keluar dari rumah, akan menyiksa dirinya dan Rafa.
CUP
"Terima kasih!" ujar Rafa, sesaat kecupan hangat dimalam yang dingin. Hana mengangguk lalu masuk ke dalam.
"Hana, Rafa sangat mencintaimu. Jangan biarkan cintamu kalah oleh harta dan status yang tak pernah Rafa pedulikan. Sudah saatnya kamu berjuang mempertahankan Rafa, menunjukkan cintamu pada dunia. Jangan selalu diam dan memposisikan Rafa di tempat yang sulit!" ujar Diana bijak, Hana mengangguk lalu memeluk Diana.
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊😊