KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Sikap yang Bijak


__ADS_3

"Aku tidak akan salah, selama dua tahun aku melihatmu membaca buku yang sama. Selama dua tahun aku mengagumimu dengan diam. Hatiku tidak akan salah mengenali, hati yang telah mengikatnya!" ujar Faiz tegad, sontak Vania mendongak menatap Faiz. Akhirnya dia melihat dua mata indah Faiz. Sebuah rasa yang seharusnya tidak pernah ada. Sebuah rasa yang salah dan tidak pantas untuk kembali mencuat.


"Maaf!" ujar Vania lirih, satu kata yang menjawab ungkapan hati Faiz. Vania hanya bisa meminta maaf pada Faiz. Tidak ada lagi kata yang tepat menggambarkan suasana hati Vania saat ini. Bukan bangga akan ungkapan perasaan Faiz. Namun semu sudah berubah, Vania yang sekarang bukan yang dulu. Dia tidak lagi bisa mencintai atau menerima cinta pada orang lain.


Faiz tersenyum mendengar kata maaf dari Vania. Meski dia mencintai Vania, tidak pernah Faiz berharap sebuah balasan. Tak ada pamrih dalam cintanya pada Vania. Kekaguman Faiz pada Vania kala itu. Sebuah kekaguman akan kesederhanan seorang gadis yang terlahir dari keluarga kaya. Namun tak pernah bangga akan harta kedua orang tuanya. Sebaliknya rasa kagum Vania pada Faiz. Tak lain rasa kagum akan iman yang begitu kuat. Suara merdu Faiz yang mengumandangkan azan setiap sholat dhuhur. Bak air jernih yang menyiram kala mata mulai mengantuk. Menyegarkan hati dan pikiran yang dahaga iman.


"Vania, sejak aku mengagumimu. Tak pernah aku berpikir atau berharap akan balasan darimu. Kamu bukan wanita yang mampu aku gapai. Status sosial kita berbeda, kamu terlahir dari lingkungan yang tak sama denganku dan takkan pernah sama. Aku senantiasa menggunakan sepeda motor, merasakan panas dan hujan angin. Sedangkan dirimu selalu menggunakan mobil yang ber-AC. Kita bukal lagi Faiz dan Vania yang dulu saat masa putih-biru. Kita sudah berbeda, ada banyak tanggungjawab yang harus kita tanggung. Satu-satunya alasan yang membuatku kagum padamu. Tak lain pribadimu yang senantiasa sederhana. Jika aku boleh jujur, aku tak pernah ingin menjadikanmu makmumku. Sebab cintaku bukan menyakitimu, tapi berharap kebahagianmu!" tutur Faiz lirih, Vania menganguk mengerti. Entah benar atau salah pertemuannya dengan Faiz saat ini? Satu hal yang pasti, pertemuan atau perpisahan terjadi karena kehendak-NYA. Bukan tidak ingin disalahkan atau merasa benar. Namun hari ini semua terjadi tanpa Vania rencanakan.

__ADS_1


"Kenapa bukan aku yang kamu harapkan menjadi makmum? Apa karena aku dulunya tomboy dan tak berhijab? Layaknya makmum impianmu!" sahut Vania sembari menatap wajah teduh Faiz. Wajah yang selalu dibasuh oleh air wudhu. Wajah yang senantiasa menunduk bersimpuh dan bersujud pada sang pencipta. Wajah yang mampu meneduhkan orang yang memandangnya. Sekilas Vania melihat senyum Faiz. Senyum tipis yang mampu menghipnotis para kaum hawa.


"Tak pernah aku melihat penampilan atau sifatmu. Sebab penampilanmu bukan cerminan dirimu. Melainkan caramu menjaga diri, agar tak ada laki-laki yang meremehkanmu atau menindasmu. Aku juga tak pernah meragukan keimananmu. Seandainya jalan jodoh mempertemukan kita. Akulah yang akan membuatmu mengenal islam. Aku yang akan memegang tangamu menuju masjid. Sebab imam akan ada untuk makmumnya. Aku tak berharap kamu menjadi makmumku. Karena aku takut tak mampu membahagiakanmu. Mungkin laki-laki yang terus menatap ke arah kita. Dia laki-laki yang tepat membahagiakanmu!" ujar Faiz ramah, sontak Vania menoleh ke arah yang dimaksud Faiz. Vania terkejut melihat Raihan berdiri bersandar pada mobilnya. Beberapa pengawal dan asistennya berdiri tak jauh di belakang Raihan. Vania terdiam saat melihat Raihan. Bukan dia menyesalkan kedatangan Raihan atau takut akan pendapat Raihan. Namun Vania menyesal telah membiarkan Raihan melihatnya duduk bersama Faiz. Pertama kalinya Vania duduk bersama dengan laki-laki tanpa ada mukhrim yang menemaninya. Meski suasana cafe sangat ramai, tapi tetap saja yang dilakukan Vania salah.


Sejak tadi Faiz sudah melihat Raihan yang terus menatap ke arahnya. Faiz sudah menduga, jika Raihan laki-laki yang memiliki hubungan spesial dengan Vania. Bukan sengaja ingin membuat Raihan marah atau cemburu. Namun Faiz tetap berada disana, hanya ingin membuktikan Raihan layak tidak menjadi imam bagi Vania. Ternyata Faiz tidak salah, secara harta Raihan tak bisa diragukan lagi. Sedangkan ketenangan Raihan saat melihat Vania berbicara dengannya. Membuktikan Raihan mampu mengendalikan emosinya. Faiz yakin Raihan tidak akan mengangkat tangan pada Vania. Semarah apapun dirinya, sebab cara Raihan menatap Faiz dan Vania. Jelas menggambarkan rasa cinta yang teramat dalam pada Vania.


"Raihan!" ujar Vania lirih, tatapannya bertemu dengan tatapan Raihan. Diam Raihan seakan ingin mengatakan rasa sakitnya. Raihan hanya diam menatap Vania yang sedang duduk berdua dengan Faiz. Raihan datang tepat sepuluh menit setelah Vania. Dia berpikir ingin datang lebih dulu. Raihan ingin memberikan kejutan pada Vania. Namun malah kebalikannya, Raihan terkejut melihat Vania duduk berdua dengan seorang laki-laki. Seseorang yang membuat Vania lupa akan batasan yang ada. Sekilas Raihan melihat cara pandang Vania yang berbeda. Ada rasa ngilu di hati Raihan. Tak pernah dia melihat hangatnya pandangan Vania pada dirinya. Raihan hanya bisa diam melihat Vania bicara hangat pada laki-laki lain. Raihan tidak akan sanggup bila melihatnya dari dekat. Akhirnya Raihan memutuskan untuk melihatnya dari jauh.

__ADS_1


Raihan masuk menemui Vania, setelah dia melihat Faiz meninggalkan Vania. Dengan perlahan Raihan mendekat pada Vania. Dia duduk tepat di depan Vania. Tempat duduk yang sama dengan Faiz. Sebaliknya Faiz menoleh pada Raihan seraya tersenyum. Faiz menyapa Raihan dengan keramahannya. Sikap yang membuat Vania menaruh hati pada Faiz.


"Kenapa tidak langsung masuk menemuiku? Apa kamu cemburu melihatku bersamanya?" ujar Vania santai, Raihan menunduk terdiam. Pertanyaan Vania seakan mengingatkan Raihan. Betapa Vania tidak peka akan perasaannya. Vania menyadari rasa cemburu Vania, tapi dia tidak akan mengatakannya. Vania tidak ingin membuat Raihan yakin akan rasa cemburunya.


"Meski aku cemburu, kamu juga tidak akan mengizinkannya. Kamu akan mengatakan rasa cemburuku sebagai rasa tidak percayaku. Sebab itu aku akan diam saja. Aku mencintaimu dengan kepercayaan. Jadi aku tidak akan membuatmu meraagukanku. Lagipula apa yang aku lihat? Bukan sesuatu yang akan membuatku ragu padamu. Aku cemburu memang benar, tapi dalam cemburuku ada rasa percaya. Bahwa dirimu telah memilihku dan takkan mengkhianatiku!" ujar Raihan, Vania menunduk malu. Sikapnya pada Raihan memang berbeda dan terkesan acuh. Vania merasa bersalah pada Raihan. Dia tidak ingin membuat Raihan terus terluka.


"Tidakkah kamu ingin mengetahui siapa dia? Laki-laki yang duduk bersamaku tadi!" ujar Vania lirih, Raihan menggeleng lemah. Ada kalanya semua tetap tersimpan rapat. Raihan tidak ingin mengenal siapa dia? Laki-laki yang mendapatkan tatapan hangat Vania. Laki-laki yang membuat Vania nyaman.

__ADS_1


"Aku tidak ingin mengenalnya. Cukup aku melihat dia laki-laki yang membuatmu nyaman. Kenyamanan yang belum bisa aku berikan padamu!" tutur Raihan lirih, Vania menggeleng lemah. Dia menatap Raihan penuh dengan rasa kagum.


"Dia kakak kelasku ketika SMP. Dia yang membuatku ingin mengenal agamaku. Dia yang membuatku kagum akan iman dan islam. Achmad Faiz Akbar, laki-laki yang aku kagumi karena imannya. Sedangkan Muhammad Raihan Maulana, laki-laki yang aku percaya akan menjadi imam dunia akhiratku!" ujar Vania tegas.


__ADS_2