KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Makan Malam Bersama


__ADS_3

Setelah kepergian Sesil, Hana meminta Diana menutup toko. Dia ingin pergi mencari udara segar. Sekadar ingin melupakan kedatangan Sesil dan semua perkataannya. Hana ingin menyenangkan dirinya, dengan pergi jalan-jalan bersama Diana. Hana akan menghabiskan waktu bersama Diana.


Hana mengajak Diana ke pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Hana ingin membeli banyak barang. Diana mengikuti keinginan Hana tanpa banyak bertanya. Diana tahu jika Hana dalam kondisi galau. Sebisa mungkin Diana akan menghibur Hana.


Sebelum masuk ke dalam pusat perbelanjaan, Hana masuk ke dalam sebuah mesin ATM. Hana menarik sejumlah uang dari ATM yang diberikan Rafa. Selama menikah dengan Rafa, baru hari ini Hana menggunakannya. Hana tak pernah tahu berapa saldo ATM itu.


Kedua bola mata Hana membulat sempurna melihat saldo yang tertera. Bukan lagi juta tapi M, Hana hanya menggelengkan kepala tak percaya. Hana baru menyadari suaminya bukan orang biasa. Kekayaan suaminya bukan sesuatu yang bisa disepelekan.


Tanpa pikir panjang Hana menarik dana yang tak sedikit. Diana terperangah melihat Hana mengambil uang sebanyak itu. Diana berpikir untuk apa Hana mengambil dana sebanyak itu? Jika hanya membeli beberapa baju, takkan menghabiskan dana sebesar itu.


"Hana, kamu sakit atau kehilangan akal. Kamu mengambil dana sebesar itu. Lagipula untuk apa dana sebanyak itu? Kamu ingin membeli apa? Rafa pasti marah padamu, karena menghabiskan uang sebanyak itu" cecar Diana cemas sekaligus tak percaya. Hana hanya tersenyum. Dia berjalan perlahan masuk ke dalam pusat perbelanjaan. Diana mengekor dengan perasaan bingung.


"Anggap saja ini kompensasi, karena aku mendengar masa lalu suamiku yang kelam. Hari ini aku ingin membeli banyak barang. Aku ingin melupakan pertemuanku dengan Sesil. Soal kak Rafa marah atau tidak, apa kata nanti? Lagipula selama berbulan-bulan aku menikah dengannya. Baru hari ini aku mengambil dana. Anggap saja aku sedang mengambil gaji bulananku!" ujar Hana santai, Diana menepuk jidatnya tak percaya. Diana melihat Hana yang berbeda. Bagi Diana yang paling penting sekarang, Hana melupakan kejadian siang tadi.


Hana dan Diana berjalan masuk ke dalam. Mereka mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru pusat perbelanjaan. Toko-toko berjejer rapi, menjual macam-macam barang. Hana mengajak Diana menuju lantai dua. Mereka mencari toko yang menjual baju muslim dan gamis. Hana ingin membeli beberapa baju. Kehamilannya yang semakin membesar, membuat beberapa bajunya sudah tidak bisa digunakan.


Hana dan Diana terus berjalan mencari toko sesuai selera dan gaya mereka. Bukan gaya orang-orang kaya. Hana dan Diana tidak pernah membeli baju mahal, yang terpenting bagi mereka baju itu layak dan menutup aurat mereka. Saat Hana mengendarkan pandangannya, kedua matanya menangkap satu sosok yang pernah ditemui.


Terlihat tak jauh dari Hana berdiri. Seorang remaja sedang bertengkar dengan beberapa temannya. Perdebatan terlihat sangat sengit, Hana mendekat pada remaja itu. Diana bingung melihat Hana. Namun dia tetap mengikuti Hana yang berhenti tak jauh dari segerombolan remaja.


"Kamu hanya putri dari seorang wanita malam. Lihat saja penampilanmu, seperti wanita murahan. Apa kamu pikir dengan berpenampilan seperti ini? Kamu akan terlihat cantik, sebaliknya kamu semakin murah!" ujar salah satu pemuda.


Penampilan gadis di depan pemuda itu memang jauh dari kata sopan. Rok mini yang digunakannya, memperlihatkan paha putih mulus miliknya. Baju lengan pendek dan ketat, membalut tubuhnya tampak seksi. Namun terlihat seperti baju yang tak muat dipakai. Penampilannya tidak sesuai dengan usianya yang masih muda.


"Aku memang putri mantan wanita malam, tapi aku tidak murah seperti yang kamu tuduhkan. Penampilanku mungkin seksi, tapi aku tak pernah disentuh laki-laki! Jadi kamu tidak berhak menghinaku!" ujarnya marah.


"Sudahlah, lebih baik kita pergi. Aku malas berdebat dengannya. Hanya akan membuang waktuku. Lakukan apapun yang kamu suka. Jangan pernah ikuti diriku!" ujar sang pemuda.


"Aku masih belum selesai bicara!"


"Kamu tuli, dia tidak ingin bicara denganmu!" ujar gadis lain, dengan kasar dia menarik dan mengangkat tangan hendak menampar.


"Jangan gunakan tanganmu untuk melakukan hal yang salah. Jauh lebih baik kamu gunakan tangan ini untuk menolong orang lain bukan menyakitinya!" ujar Hana menahan tangan sang gadis di udara. Dengan kesal sang gadis pergi.


"Hana!" sapa gadis yang ditolongnya, Hana menoleh sembari tersenyum.


"Apa kabar Kiara?" sapa Hana ramah, Kiara mendengus kesal. Kiara berpikir Hana penyebab semua masalahnya. Hana yang membuat dia malu. Setelah aib mamanya dibongkar oleh Rafa.


"Kamu tidak perlu sok baik padaku. Apa yang terjadi padaku? Semua karena dirimu, kak Rafa seolah tidak pernah mengenalku!" ujar Kiara ketus, Hana tersenyum membalas sikap kasar Kiara.


"Kiara, mungkin mereka menghinamu karena masa lalu mama Sabrina. Tapi apa kamu sadar? Rasa malu yang sama akan dirasakan oleh anak-anakmu. Saat dia mengetahui ibunya berpenampilan seperti ini. Jika kamu bijak menyikapi. Pemuda tadi bukan menghinamu, karena masa lalu mamamu. Tapi lebih kepada penampilanmu yang terlalu berani. Pandangan laki-laki yang berada disini. Seperti singa lapar yang siap menerkammu. Jika kamu dilecehkan, siapa yang akan kamu salahkan? Karena sebenarnya dirimu sendiri ingin direndahkan dengan penampilanmu sekarang" tutur Hana, Kiara meradang mendengar perkataan Hana. Dia merasa Hana menghinanya, Diana maju ke depan Hana. Dia tidak ingin lagi terlambat menolong Hana.


"Mundur kamu, jangan berani mendekat pada Hana!" ujar Diana, Kiara mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"Hana, jaga bicaramu. Kamu tidak berhak mengguruiku!" ujar Kiara kasar, Hana menggeleng lemah.


"Seharusnya kamu pintar memahami perkataanku Kiara. Penampilan terbukamu yang akan membuat dirimu dilecehkan dan kehilangan harga diri. Kelak saat kamu memiliki anak, rasa malu yang kamu rasakan. Akan dia rasakan juga. Seharusnya kamu belajar menjaga kehormatanmu sendiri!"


"Maksudmu dengan berpenampilan sepertimu yang kampungan. Aku bisa kegerahan, takkan ada orang yang memuji kecantikanku. Siapa yang akan menikah denganku? Bila aku kampungan sepertimu!"


"Kiara, buktinya aku bisa menikah dengan kakakmu Rafa. Aku rasa kakakmu mampu mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Tapi kamu lupa, jika setiap manusia sudah terlahir berpasangan. Wanita tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Jadi kita tercipta untuk berjodoh dengan seorang laki-laki!"


"Kamu dengar itu!" sahut Diana sinis, Hana menggeleng melihat Diana kesal.


" Kiara, penampilanku yang kampungan membuat diriku nyaman. Aku tak perlu takut, laki-laki memandangku rendah. Karena tak ada bagian yang bisa mereka nikmati. Aku tak perlu merasa kedinginan, ketika angin menembus kulit kaki dan tanganku. Sebab semua tertutup oleh gamis dan hijab panjangku. Aku tak perlu takut kepanasan atau menggunakan tabir surya. Hanya karena takut kulitku menghitam terkena panas. Sekarang katakan dari sisi mana aku rugi berpenampilan seperti ini!"


"Kenapa aku tidak bisa berpenampilan sepertimu?"


"Kamu bukan tidak bisa Kiara? Kamu takut akan pendapat orang lain. Kamu takut bila tidak dikatakan cantik, padahal dengan hijab kita akan terlihat lebih teduh dan tenang. Kamu hanya perlu belajar. Semua butuh proses, apa kamu ingin mencobanya sekarang? Pakailah selama sehari, jika hatimu merasa tenang. Berhijralah, agar kamu bisa hidup dengan lebih baik!" tutur Hana lirih, Diana bangga melihat Hana mampu merubah benci menjadi kasih sayang.


"Aku akan mencobanya, tapi aku tidak pernah memiliki baju dan hijab seperti itu!"


"Kebetulan aku dan Diana akan membeli beberapa baju. Kamu bisa membeli beberapa baju. Kita habiskan uang kakakmu, kapan lagi kita bisa berbelanja?" ujar Hana senang, Kiara dan Diana mengangguk bersama. Mereka memutuskan memasuki toko yang lumayan besar. Hana merubah kemarahan Kiara, menggantinya dengan kasih sayang seorang saudara.


...☆☆☆☆☆...


"Rafa, kenapa kamu tersenyum sembari melihat ponsel? Memangnya Hana menghubungimu!" ujar Adrian heran, Rafa menggeleng.


"Lihatlah sendiri!" ujar Rafa sembari menunjukkan ponselnya. Adrian terkejut melihat besarnya dana yang ditarik. Anehnya Rafa bukan marah malah terlihat senang.


"Siapa yang berani menarik dana sebesar ini? Apa dia tidak takut kita laporkan pada pihak berwajib? Berani mencuri dari keluarga Prawira!" ujar Adrian kesal, Rafa melotot ke arah Adrian.


Pleeetakk


"Jangan kurang ajar kamu. Itu Hana yang menariknya, karena itu aku senang. Akhirnya Hana bersedia menggunakan ATM pemberianku. Setelah sekian lama, akhirnya Hana menghargai kerja kerasku!" ujar Rafa senang, Adrian menepuk jidatnya tak percaya. Dia melihat Rafa seperti orang yang kehilangan akal. Dia merasa senang saat Hana menghabiskan uang sebanyak itu.


"Cinta memang dahsyat, bisa merubah Rafa yang dingin menjadi hangat penuh dengan cinta!" ujar Adrian tak percaya.


"Jangan banyak bicara, fokus saja menyetir! Aku ingin segera pulang. Aku ingin memeluk Hana!" ujar Rafa, Adrian mengangguk mengerti.


...☆☆☆☆☆...


"Hana, kamu benar-benar kehilangan akal. Kita sudah membeli baju sebanyak itu. Sekarang kita pesta besar-besaran. Kamu ingin membuat masalah dengan Rafa!"


"Sudahlah, nikmati saja pesta ini. Kapan lagi kita begadang? Kita habiskan ikan bakar ini. Kiara saja senang, kenapa kamu yang ribet? Jika kak Rafa marah, akan kuhadapi sendiri!" ujar Hana, Diana mendengus kesal mendengar Hana mengancuhkan perkataannya.


"Terserah nyonya bos!" ujar Diana final, sembari kembali membakar ikan.

__ADS_1


Malam ini Hana mengajak seluruh pegawai di rumahnya makan bersama. Hana membeli beberapa ikan segar untuk dibakar bersama. Diana dan Kiara sibuk membakar ikan. Sedangkan Hana menyiapkan bumbu dan sambal. Pegawai yang lain menyiapkan tempat dan peralatannya. Tak ada perbedaan majikan dan bawahan. Semua bersama-sama menyiapkan makan malam.


"Sayang!" sapa Rafa sembari memeluk Hana dari belakang. Penjaga rumah Rafa sudah mengatakan jika Hana sedang menyiapkan makan malam bersama di halaman belakang.


"Kak Rafa kenapa pulang cepat? Bukankah tadi pamit ke luar kota?" ujar Hana kesal, Rafa membalik tubuh Hana menghadap ke arahnya.


"Kamu tidak suka aku pulang cepat. Aku merindukanmu, aku ingin memelukmu dengan erat. Aku menyayangimu!" ujar Rafa tanpa malu meski ada banyak orang yang melihatnya.


"Hana, jangankan luar kota. Luar negeri bisa ditempuh Rafa dalam sehari!" goda Adrian, tatapannya fokus pada Diana.


"Jangan menatap seperti itu. Nanti zina mata!" sahut Hana, Adrian langsung menunduk.


"Sayang, itu Kiara? Sejak kapan dia berhijab?"


"Temui Kiara, dia saudara perempuanmu. Aku bertemu dengannya di pusat perbelanjaan. Dia ingin merasakan memakai hijab. Jadi aku membelikannya beberapa gamis dan hijab! Kak Rafa tidak marah bukan!" ujar Hana ragu.


"Hana, meski kamu habiskan saldo ATM itu. Rafa tidak akan keberatan, dia masih memiliki beberapa. Malah Rafa senang melihat kamu belanja!"


"Hana semua sudah selesai, kita bisa makan malam sekarang!" ujar Diana.


"Apa kabar cantik?" sapa Adrian, Diana menoleh.


"Baik!" sahut Diana dingin. Rafa tersenyum melihat sahabatnya patah hati.


"Semangat kawan, kamu pasti bisa!" bisik Rafa, sembari mendekat pada semua orang. Lalu para pegawai Rafa menjauh, saat tahu Rafa akan makan malam. Jika dengan Hana mereka tidak akan canggung, tapi dengan Rafa. Mereka masih canggung dan takut.


"Kalian akan kemana? Kita makan bersama tidak perlu pergi. Jika kalian tidak ingin makan bersamaku, aku saja yang pergi!" mereka semua menggeleng. Satu per satu duduk bersimpuh di atas alas tikar.


"Kiara, menginaplah disini malam ini. Kakak ingin bicara denganmu. Nanti kakak yang akan menghubungi papa!" ujar Rafa dingin, Kiara mengangguk lemah.


"Sayang, kita makan sepiring saja. Aku ingin kamu menyuapiku!" rengek Rafa, Hana mengangguk pelan.


"Buka mulutnya!" ujar Hana lirih, Hana menyuapi Rafa dengan tangan. Sedangkan tangan Rafa sibuk bermain di dalam hijab Hana. Rafa mengusap perut Hana yang membuncit. Semua orang tersenyum melihat kehangatan Rafa dan Hana.


"Aku ingin menikah, kalian membuatku iri!" ujar Diana.


"Kalau begitu kita nikah saja. Kapan aku bisa melamarmu?" ujar Adrian santai.


Uhhuuukkk


"Hati-hati kalau makan, ini minum dulu. Aku serius dengan perkataanku! Tanyakan pada orang tuamu. Kapan aku bisa datang melamarmu?" ujar Adrian tanpa menoleh pada Diana.


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


TERIMA KASIH😊😊😊


__ADS_2