KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Adik peremapuanku ...


__ADS_3

"Faiq, kenapa dengan ponselmu? Vania mencoba menghubungimu, tapi tidak bisa. Dia tadi panik mencarimu!" ujar Fathan lirih, Faiq mendongak kaget. Kebetulan Faiq sedang duduk santai dengan Davina dan Annisa. Seminggu sudah Fathan dan Annisa tinggal di rumah Faiq. Entah kenapa Annisa merasa nyaman tinggal di rumah Faiq? Rumah yang tidak terlalu besar, tapi menciptakan kenyamanan yang tiada tara.


Meski Annisa telah lama tinggal di rumah Faiq. Dia tidak lagi tidur bersama Davina. Fathan dan Annisa memilih tidur di kamar tamu yang ada di rumah Faiq. Sedangkan Faiq dan Davina tidur di kamar yang ada di lantai dua. Setelah menanti beberapa hari, akhirnya Faiq memiliki Davina sepenuhnya. Dia telah melakukan kewajiban sebagai seorang suami. Faiq telah memberikan nafkah batin pada Davina. Sebaliknya Davina telah memberikan hak Faiq sepenuhnya. Memberikan kesuciannya hanya pada Faiq suaminya. Malam penyatuan yang ditunggu terjadi tanpa ada yang bisa mencegahnya. Faiq dan Davina bersatu dalam ikatan suci dan halal.


"Memangnya ada apa dengan Vania? Maaf tadi ponselku kehabisan baterai. Jadi tadi sempat mati. Memang aku melihat ada panggilan tak terjawab dari Vania. Namun saat aku hubungi lagi, Vania tidak menjawab. Jadi aku pikir dia baik-baik saja!" sahut Faiq dengan nada sedikit cemas. Fathan duduk tepat di depan Faiq. Annisa pergi ke dapur membuatkan Fathan kopi. Semenjak Fathan dan Annisa tinggal di rumah Faiq. Fathan selalu lembur, dia baru ada di rumah setelah sholat isya. Fathan merasa tenang, sebab Annisa ada Davina yang menemanim Sehingga Fathan bisa bekerja tanpa gelisah memikirkan Annisa.Namun hari ini dia pulang lebih awal. Sebab Fathan ingin menceritakan tentang Vania.

__ADS_1


"Dia tadi menghubungiku, setelah tidak bisa menghuhungimu. Vania meminta bantuanku, dia meminjam uang padaku. Vania membutuhkan uang itu untuk biaya seseorang. Sekilas Vania bercerita, saat dia akan pergi menuju bandara. Dia melihat kecelakaan. Sehingga dia membutuhkan uang deposit untuk biaya perawatan korban kecelakaan tersebut!" tutur Fathan tegas, Faiq mengangguk mengerti. Davina merasa cemburu, saat melihat kekhawatiran Faiq akan Vania. Sedangkan Annisa yang datang membawa secangkir kopi merasa tenang. Sebab Fathan dan Vania tidak pernah dekat. Mereka cenderung bersikap acuh satu dengan yang lain. Setelah menyerahkan kopi pada Fathan. Annisa duduk di samping Fathan. Dia mendengarkan percakapan dua saudara yang selalu mencoba untuk rukun.


"Aku akan mengganti uang yang kakak transfer pada Vania. Nanti aku akan mencoba menghubungi Vania. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Setahu aku dia datang ke kota itu untuk bertemu calon suaminya. Namun sepertinya perjodohan ini tidak akan sukses. Sebab selama seminggu laki-laki itu selalu menghindar bila bertemu. Dia tidak pernah hadir dalam setiap pertemuan. Akhirnya om Rizal menyerahkan semua keputusan pada Vania. Sebuah lampu hijau akhir perjodohan yang membuat Vania memutuskan untuk kembali. Rencananya sore tadi mereka akan bertemu. Namun semua sudah tidak berarti, bertemu atau tidak sore tadi. Vania sudah memutuskan untuk pulang!" tutur Faiq, Fathan menggeleng lemah. Dia menatap wajah Faiq lekat. Dalam hatinya dia selalu merasa iri akan kedekatan Faiq dengan Vania. Fathan selalu merasa tersisih dan diabaikan oleh Vania. Padahal Fathan ingin dianggap dan dibutuhkan oleh Vania. Sebab Vania satu-satunya adik perempuan Fathan dan Faiq.


"Tak kusangka kakak begitu menyayangi Vania. Sampai-sampai kakak merasa kecewa pada sikap Vania. Mungkin kakak tidak menyadari, kami berdua memiliki sifat yang hampir sama. Kami tidak mudah bergantung pada orang lain. Meski itu dirimu, kakak kami yang tercinta. Memangnya kapan aku pernah bersikap manja padamu? Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh Vania. Jika masalah hubungan kami yang dekat. Tidak lain hanya karena karakter kami yang sama. Kami bersikap dingin pada siapapun? Kami acuh akan lingkungan, tapi kami peduli akan kesusahan orang lain. Kami dekat hanya dalam hal menolong orang. Selain itu kami tidak dekat. Jadi jangan berpikir Vania lebih menyayangiku dan hanya menganggap aku saja sebagai kakaknya. Buktinya dia menghubungimu, meski setelah sulit menghubungiku. Setidaknya Vania mengingat dirinya memiliki kakak laki-laki yang lain!" tutur Faiq, Fathan mengangguk mengerti. Annisa dan Davina diam seribu bahasa. Mereka bingung harus bersikap apa? Cemburu pada Vania yang tak lain adik sepupu Fathan dan Faiq. Atau diam melihat kedua suaminya membicarakan wanita lain.

__ADS_1


"Kalian berdua jangan berpikir yang tidak-tidak. Selamanya Vania adik kecil kami. Dia satu-satunya adik perempuan kami. Dia kelak yang akan kami lindungi dengan segenap jiwa. Vania selalu mandiri, dia mampu menyelesaikan semua masalahnya sendiri. Dia tidak akan butuh bantuanku. Namun seadainya ada yang menyakiti Vania. Aku orang pertama yang akan menghajarnya. Agar dia mengetahui, Vania tidak sendiri. Ada kami yang akan melindungi dan menjaga Vania!" ujar Fathan lirih, Annisa mengangguk pelan lalu menyandarkan kepalanya pada lengan Fathan. Tangannya merangkul lengan Fathan. Sebaliknya Davina menunduk merasa tersindir dengan perkataan Fathan. Davina masih merasa takut, bila kedekatan Faiq dan Vania akan berubah menjadi cinta. Faiq melirik ke arah Davina. Dia melihat istrinya seolah merasa bersalah. Dengan penuh kelembutan dan kehangatan. Faiq menarik tubuh Davina ke dalam pelukannya.


Faiq menenggelamkan kepala Davina ke dalam dada bidangnya. Faiq mengusap lembut kepala Davina yang tertutup hijab. Lalu sekilas Faiq mencium puncak kepala Davina. Sikap Faiq tidak luput dari perhatian Fathan dan Annisa. Kehangatan yang tersimpan rapat dalam hati seorang Muhammad Faiq Alhakim.


"Sayang, meski kamu meragukanku setiap detiknya. Aku tidak akan pernah marah. Meski kamu marah akan hubunganku dengan Vania. Aku akan menerimanya dengan ikhlas. Aku tidak akan menuntut pengertian darimu. Pikirkan apapun yang bisa membuatmu merasa lega. Namun satu hal yang pasti, meski aku mengingkari hubungan diantara diriku dan Vania. Tetap saja kami berdua saudara dan memiliki darah yang sama. Aku tidak akan memilih Vania atau melepas Vania. Seperti yang dikatakan Kakak tadi. Vania satu-satunya adik perempuan yang harus kami lindungi. Selamanya Vania tidak akan pernah bisa menggantikan dirimu dihatiku. Apa yang aku rasakan pada Vania tidak lebih dari rasa sayang kakak pada adiknya? Sedangkan hanya padamu rasa sayangku nyata. Terima kasih telah menerima cinta tulusku, aku mencintamu Davina Nuur Latifah. Sampai kapanpun aku hanya mencintauimu.!" ujar Faiq lirih.

__ADS_1


__ADS_2