
"Ayo kak Fathan, kenapa jalanmu lambat seperti kura-kura? Jika jalan seperti itu, kapan kita sampai di atas?" ujar Vania, sembari menyeret tubuh Fathan. Vania berjalan tergesa-gesa menuju lantai dua sebuah pusat perbelanjaan.
"Vania lepaskan, aku bisa jalan sendiri! Memangnya kamu akan pergi kemana? Toko akan tutup tiga jam lagi. Kenapa kamu terburu-buru? Seakan kamu takut toko akan tutup!" sahut Fathan kesal, Vania menggeleng. Dia tetap menarik tubuh Fathan. Dengan sedikit kewalahan, Fathan mengimbangi langkah lebar Vania.
Pertandingan singkat yang dimainkan Vania dan Fathan. Membawa mereka menuju pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Vania menagih janji Fathan yang akan membawanya belanja. Fathan seolah terjebak dengan perkataannya. Suka tidak suka Fathan harus mengikuti langkah kaki Vania menyusuri sebuah pusat perbelanjaan.
Faiq hanya bisa tersenyum mengejek. Dia melihat Fathan yang pasrah, ketika Vania menariknya masuk ke dalam sebuah toko. Raihan dan Faiq serta Davina dan Annisa mengekor jauh di belakang Vania. Mereka tak bisa mengikuti langkah Vania yang terlalu cepat. Raihan sempat khawatir pada Vania, tapi rasa cemasnya menghilang. Saat dia menyadari Vania tidak pergi sendiri. Vania pergi dengan kakak yang akan selalu melindunginya.
Akhirnya Faiq memutuskan berhenti di sebuah cafe di lantai dua. Annisa dan Davina tidak mungkin bisa mengikuti langkah Vania yang terlalu bersemangat. Raihan tetap mengejar Vania dan Fathan. Dia masih harus menjaga Vania. Mungkin saja Vania membutuhkan bantuannya.
"Kita sudah sampai, ayo masuk ke dalam. Aku akan memilih beberapa gamis. Lalu kak Fathan yang bayar. Awas jangan kabur!" ujar Vania tegas, Fathan mengangguk pelan. Dia melihat Vania mengelilingi toko. Vania sibuk memilih dan memilah gamis yang cocok untuknya. Fathan memutuskan mencari baju koko untuknya dan kedua adiknya. Sedangkan Vania pasti memilih gamis, untuk Davina dan Annisa juga.
Raihan mengikuti langkah kaki Vania. Dia hanya ingin menjaga Vania. Agar tak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Entah kenapa Vania begitu semangat berbelanja di toko ini? Meski banyak toko yang lain, Vania melewatinya begitu saja. Vania memilih berbelanja di toko ini. Sebuah toko yang terkesan biasa di luar, tapi begitu rapi dan nyaman di dalam. Karakter seseorang yang begitu sederhana.
"Assalammualaikum!" sapa seorang wanita bercadar. Sontak Fathan menoleh, dia menatap mata yang sangat dikenalnya. Suara yang terdengar sangat merdu di telinganya. Seseorang yang pernah ada, tapi entah kemana perginya dulu?
Fathan mundur beberapa langkah, dia terkesima sekaligus terkejut. Mata yang pernah membuatnya hancur tak bersisa. Sosok yang membuatnya seolah tak ingin lagi mengenal cinta. Fathan diam membisu, tak ada suara yang mampu keluar dari bibirnya. Cacian yang ingin Fathan katakan, entah kenapa tak lagi ada? Amarah yang dulu membara, cinta yang dulu membuncah. Semua menghilang tak bersisa. Kini hanya keterkejutan yang tak mampu Fathan katakan.
"Kamu…!" ujar Fathan bergetar, Nuur mengangguk pelan seraya mengedipkan mata indahnya. Seketika tubuh Fathan membeku. Nuur Aini Rahma wanita yang pernah menjadi cahaya dalam hidupnya. Namun semua pupus, tatkala restu tak pernah ada.
Nuur pergi menjauh dari Fathan membawa cinta yang menjadi cahaya dalam gelap hidup Fathan kala itu. Cahaya cinta yang begitu tulus dari Fathan untuk Nuur. Seorang wanita malam yang hidup dalam kubangan lumpur. Mungkin cahaya cinta mereka berdua tak seterang bulan. Sehingga tak mampu menerangi hati Hana dan Rafa. Penolakan Hana akan kisah cinta Fathan, meredupkan cahaya cinta Fathan dan Nuur.
"Apa kabar Fathan? Kamu datang bersama istrimu. Dimana dia?" ujar Nuur ramah, Fathan mengangguk ragu. Ada rasa ingin diam tak menjawab pertanyaan Nuur. Namun kenyataannya Fathan tak lagi sendiri. Dia telah memilih dan terpilih. Tak ada lagi alasan Fathan mendekat pada Nuur.
Fathan menatap sosok yang jauh berbeda. Nuur menutup sempurna tubuhnya. Aurat Nuur tertutup sempurna. Fathan tak lagi bisa melihat wajah manisa Nuur. Wajah yang membuatnya kehilangan akal. Faiq mengetahui betapa besar cinta Fathan pada Nuur. Seorang bintang malam di sebuah cafe milik teman Fathan.
"Aku baik, terima kasih kamu masih peduli padaku. Namun kepedulianmu seolah terlambat, kehancuran yang kamu tinggalkan hampir membuatku mati. Entah apa salahku padamu? Kenapa kamu bisa setega itu padaku? Janji yang kamu katakan, tak lebih sebuah kata dusta. Cinta yang pernah ada, bagai racun yang tak pernah ingin aku rasakan!" ujar Fathan lirih, Nuur menunduk malu. Fathan menatap Nuur lekat, ingin tangannya menyentuh tubuh yang pernah dia dekap.
Namun tangan Fathan tak lagi mampu menggapainya. Ada hati yang akan terluka bila Fathan melakukannya. Apalagi Nuur bukan lagi yang dulu. Penampilannya tidak lagi bisa dengan mudah Fathan sentuh. Tubuh Nuur mulai bergetar, perkataan Fathan bak sayatan pisau. Terasa sakit dan pedih, kehancuran yang Fathan juga dirasakan Nuur. Namun kekuasaan keluarga Prawira kala itu. Tak mungkin membuat cinta mereka bersatu.
__ADS_1
"Maaf!" ujar Nuur, Fathan tersenyum sinis. Fathan berjalan mendekat pada Nuur. Tatapannya menguci kedua mata Nuur. Fathan mulai dikuasai oleh napsu yang pernah ada.
Nuur mundur beberapa langkah. Dia takut melihat tatapan Fathan. Nuur tidak lagi mengenal Fathan. Jelas terlihat kebencian dimata Fathan untuk Nuur. Meski Cinta tak lagi ada. Tidak pernah Nuur berharap melihat kebencian Fathan. Rasa marah akan kepergiannya menjauh dari Fathan. Melepaskan cintanya untuk Fathan dan menyerah pada kekuasaan keluarga Prawira.
"Hanya kata maaf yang mampu kamu katakan. Sedangkan kehancuran yang kurasakan. Tidak akan sembuh dengan kata maafmu. Kamu hanya butuh waktu beberapa detik, untuk mengucapkan kata maaf. Sedangkan aku butuh bertahun-tahun menyembuhkan luka yang kamu tinggalkan. Aku bagai hidup, tapi seolah mati. Aku tidak percaya apa itu cinta? Semua karena dirimu, kamu yang membuatku tak percaya akan cinta!" ujar Fathan, Nuur menunduk lemah.
Air mata Nuur menetes tanpa bisa ditahan lagi. Perkataan Fathan bak garam yang tertabur di atas luka hatinya. Tak ada yang salah dari perkataan Fathan, tapi luka itu bukan hanya Fathan yang merasakannya. Nuur jauh lebih hancur, dia harus ikhlas melepaskan cinta yang akan membawanya menuju jalan yang lebih baik. Keputusannya menjauh bukan ingin menghancurkan Fathan. Namun dia ingin melihat Fathan bahagia. Buktinya Fathan mampu bangkit. Sedangkan dia masih bertahan dengan rasa yang pernah ada untuk Fathan.
"Aku tak pernah pantas menjadi makmummu. Keluargamu benar dengan memintaku pergi. Cahaya yang kuharapkan dari wanita hina seperti diriku. Hanya angan yang takkan pernah ada. Kita lahir dari dua dunia yang berbeda. Hari ini aku menyadari, betapa baik keluargamu. Tak pantas mereka terhina dengan adanya aku dalam hidupmu!" tutur Nuur, Fathan menggeleng lemah. Dia tersenyum sinis mendengar perkataan Nuur.
Fathan membalikkan badan, dia menatap sebuah lukisan di salah satu sudut toko. Lukisan yang membuatnya tertarik sejak awal dia masuk ke dalam toko ini. Fathan sempat merasa aneh, ketika kakinya melangkah masuk ke dalam toko. Namun Fathan tak pernah menyadari, apa yang sebenarnya dia rasakan? Hanya saja Fathan merasa nyaman dengan suasana toko.
"Bukankah itu lukisan yang kamu buat sendiri. Lukisan yang kamu lukis, ketika kita berlibur bersama. Rumah kecil itu, impian sederhana kita. Rumah dimana akan ada buah cinta kita? Hamparan pada itu, bak kesejahteraan yang ingin kita wujudkan. Cahaya terik matahari, ibarat cahaya cinta kita berdua. Cahaya yang akan terus bersinar melawan dunia yang menentang hubungan kita. Apa aku benar dengan perkataanku? Aku pernah memintamu menjadi makmumku. Itu artinya saat itu aku siap berjuang!" ujar Fathan lirih, Nuur hanya bisa diam menatap lukisan yang menjadi saksi cintanya dengan Fathan.
Nuur mengingat hari dimana dia dan Fathan bertemu pertama kali. Pertemuan yang membuatnya menjadi makmum dan mulai mengenal iman. Sebuah pertemuan yang takkan pernah dia lupakan. Namun kini hanya akan menjadi sebuah ingatan. Tanpa harus tergapai, sebab kenangan akan tetap menjadi kenangan.
FLASH BACK
Fathan tak pernah peduli akan perkataan Faiq atau orang lain yang menjelekkan Nuur. Sebuah kenyataan yang terlihat, tapi seolah tak terlihat oleh Fathan. Ketertarikannya pada Nuur membuatnya kehilangan akal. Bahkan Fathan menganggap gelap hidup Nuur akan terang dengan kehadirannya. Fathan seolah buta dan tuli akan masa lalu Nuur. Dia menganggap Nuur terbaik dari yang baik.
Dengan mengeryitkan alis tanda tak mengerti, Nuur menerima paper bag yang diberikan Fathan. Nuur mengintip isi dari paper bag, saat dia melihat isinya. Nuur semakin heran, tak mengerti maksud Fathan memberikan paper bag ini. Tanpa ada angin atau hujan, Fathan memberikan sebuah hadiah padanya. Bukan uang atau perhiasan yang diberikan Fathan. Namun sebuah hadiah yang kelak membuatnya ingat akan iman.
"Kado spesial untuk wanita spesial. Aku berharap hadiah kecilku menjadikanmu makmum dunia akhiratku. Aku tidak butuh jawaban sekarang. Sifatmu yang acuh tidak akan dengan mudah membuatmu memilihku. Aku akan berjuang di sepertiga malamku!" ujar Fathan lirih, Nuur semakin heran mendengar perkataan Fathan.
Nuur tak pernah berpikir untuk mengenal laki-laki lebih dari hubungan pertemanan. Dia tidak ingin mencintai seseorang. Sebab hidupnya tak pernah mengenal cinta. Kehidupan yang penuh dengan noda hitam. Nuur tidak ingin menjerumuskan seseorang dalam dunianya. Meski terkadang Nuur menangis, berharap ada yang akan membawanya keluar dari dunia hitam ini. Namun mengingat betapa gelap hidupnya membuatnya pesimis akan ada cahaya terang yang mampu menerangi hidupnya.
"Maaf, aku tidak mengerti maksud dari hadiah dan perkataanmu. Aku bukan wanita spesial yang berhak mendapatkan hadiah ini. Aku yakin ada wanita yang jauh lebih tepat menerima hadiah ini. Dia wanita yang akan mencintaimu dan wanita itu bukan diriku. Aku wanita yang penuh kegelapan, tak pernah aku berpikir membawa orang lain masuk dalam gelapnya hidupku. Lebih baik ambil kembali hadiah ini!" ujar Nuur menolak hadiah dari Fathan.
Sebaliknya Fathan menggeleng, menolak Nuur mengembalikan hadiahnya. Fathan sangat yakin akan rasanya. Meski semua orang menentangnya. Fathan percaya kesungguhannya akan membuat orang mengerti. Cintanya bukan hanya napsu semata, tapi sebuah jalan hidayah bagi seorang wanita yang pantas mendapatkan jalan terang. Fathan menganggap cintanya layaknya hidayah. Fathan yakin setiap orang berhak bahagia dan mendapatkan kesempatan berubah. Bukan penghakiman tapi rangkulan yang layak diterima oleh Nuur.
__ADS_1
"Aku sudah memberikannya untukmu. Gunakanlah sebagai awal kamu kembali kepada-NYA. Setidaknya kamu akan mengenang diriku dalam setiap sujudmu. Sebentar lagi waktu sholat magrib, izinkan suaraku menuntunmu kembali memasuki rumah Allah. Jangan tutup telinga dan mata hatimu. Jika aku tidak bisa menjadi imam dunia akhiratmu. Izinkan aku menjadi imam sholatmu. Akan kupastikan dirimu akan tenang, dalam rumah Allah tersimpan berjuta keajaiban yang tak mampu di nalar manusia. Dia maha pembolak-balik hati. Aku percaya hatimu telah luluh, berdiri di sini menatap rumah Allah SWT. Awal hatimu menerima cahaya terangnya!" ujar Fathan.
Nuur menunduk menatap mukena yang diberikan Fathan. Nuur bimbang ingin memulainya lagi, dia terlalu malu untuk memasuki rumah Allah SWT. Rumah yang telah lama dia tinggalkan. Rumah yang seolah akan kotor bila dia melangkahkan kakinya ke dalamnya. Nuur terlalu hina untuk menginjakkan kaki di rumah Allah SWT. Meski tidak akan pernah rumah Allah SWT tertutup, bagi hamba-NYA yang ingin bertaubat.
Tangan Nuur bergetar memegang mukena putih bersih pemberian Fathan. Air mata Nuur menetes membasahi mukenanya. Dia merasa kotor dan hitam, seolah tubuhnya tak layak memakai mukena tersebut. Nuur mencium mukena dari Fathan dengan lembut. Tercium harum wangi yang menenangkan hatinya.
"Nuur Aini Rahma, namamu yang akan ada dalam doaku. Aku akan menunggumu di dalam, jadilah makmumku untuk malam ini. Sebagai balasan atas hadiah yang aku berikan!" ujar Fathan, lama Nuur terdiam.
Sekilas terlihat Nuur mengangguk lemah. Pertama kalinya dia bertemu laki-laki yang memintanya mengenal iman. Bukan laki-laki yang mengajaknya semakin jauh masuk dalam kubangan lumpur. Nuur merasa teduh, ketika telinganya mendengar suara murottal masjid. Lagi dan lagi dia menangis, bukan hanya matanya yang menangis. Hati seolah menangis menyesali setiap langkah yang membuatnya jauh dari iman.
"Aku akan menjadi makmummu malam ini, tidak untuk esok hari!" ujar Nuur dingin, Fathan tersenyum mendengar jawaban Nuur.
Sebuah jawaban yang akan merubah hidup Nuur. Serta menjadi semangat Fathan merubah Nuur. Sebuah tekad akan cinta yang berharap menjadi hidayah, bagi Nuur wanita yang menggetarkan hatinya.
"Cukup sekali aku menjadi imammu, agar aku yakin kamu makmum sholatku. Sebab cukup sekali pula aku menatapmu, sudah membuat diriku percaya. Kamu jodoh yang terbaik untukku!" ujar Fathan sembari berlalu.
Tak berapa lama, terdengar suara azan magrib. Suara Fathan menggema di seantero kota. Memanggil hamba-hamba yang lalai. Suara Fathan bak air yang menghapus dahaga iman Nuur. Meski arti namanya indah, cahaya yang terang. Namun kenyataannya Nuur hidup dalam gelapnya dunia malam.
"Aku akan menjadi makmummu, tapi tanpa sebuah janji. Aku tidak akan membuatmu malu dengan masa laluku. Hari ini akan kuikuti langkahmu, tapi kelak ketika ada satu suara yang menentang rasa ini. Tanpa berpikir lagi, aku akan menjauh darimu!" ujar Nuur lirih
FLASH BACK OFF
"Bukankah kenyataannya, memang lukisan itu hanya angan kita. Kamu telah bahagia bersama makmumu!" ujar Nuur, Fathan mengangguk lemah.
"Aku bahagia bisa mengenalnya. Dia wanita yang hebat. Aku mencintainya dengan kepercayaan. Bahwa ada cinta yang tercipta untukku. Semoga kamu juga menemukan imammu!" ujar Fathan, Nuur diam lalu mengangguk pelan.
"Vania, apa dia alasan kamu datang kemari?" ujar Fathan, Vania mengangguk pelan.
"Aku tidak ingin melihat kebahagianmu ternoda oleh kehadirannya. Cepat atau lambat kalian akan bertemu. Aku ingin kak Fathan fokus pada keluarga kecilmu. Menganggap Nuur menjadi masa lalu yang indah. Tanpa berpikir ingin menggapainya lagi!" ujar Vania, Fathan mengangguk.
__ADS_1
"Terima kasih!" ujar Fathan.