KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Dilema Raihan


__ADS_3

"Raihan, tangkap!" teriak Vanno sabahat Raihan. Dia melempar satu kaleng minuman beralkohol ke arah Raihan. Dengan sigap Raihan menangkapnya, tapi langsung meletakkannya ke atas meja di depannya.


Vanno tercengang melihat sikap Raihan yang berbeda. Banyak hal yang berubah dari Raihan sejak menikah dengan Vania. Biasanya setiap Raihan merasa penat akan pekerjaannya. Dia selalu datang ke apartement Vanno. Raihan dan Vanno akan pesta kecil-kecilan dengan meminum beberapa kaleng minuman beralkohol. Namun Raihan seakan menjauh dari semua itu. Semenjak Vania hadir dalam hidupnya.


Setelah beberapa bulan menjauh dari Vanno. Malam ini Raihan kembali datang ke apartement Vanno. Kejadian sore tadi membuat Raihan mencari Vanno. Sekadar ingin menenangkan diri. Namun bukan datang untuk kembali menjadi Raihan yang dulu. Raihan hanya butuh tempat untuk istirahat. Semua yang dia lihat dan dengar. Seketika membuat hatinya hancur. Kehadiran Daffa sebagai orang yang membuat Vania tersadar. Seolah menampar dirinya dan menyadarkan Raihan. Jika ada laki-laki lain yang mampu membuat Vania bahagia.


"Ada apa Raihan? Aku seakan tidak mengenalmu. Apa semua ini karena istri bercadarmu?" ujar Vanno dingin dengan raug wajah kesal. Vanno kesal ketika melihat Raihan menolak minuman yang diberikannya.


Memang sejak bertemu Vania, Raihan berjanji pada dirinya sendiri. Dia tidak akan kembali pada hidupnya yang berantakan. Raihan tidak akan menyentuh minuman beralkohol lagi. Tekadnya bukan hanya karena rasa cintanya pada Vania. Namun sebagai cara Raihan, agar pantas menjadi imam Vania. Wanita yang tidak pernah bertanya akan masa lalunya dulu. Hitam kelam hidupnya tak pernah diketahui oleh Vania.


"Jaga bicaramu Vanno, Vania istriku. Dia segalanya dalam hidupku. Vania bukan orang yang pantas disalahkan akan kondisiku. Dia alasan aku berubah menjadi lebih baik. Vania sinar terang dalam hidupku!" ujar Raihan dingin pada Vanno.


Vanno melihat sikap dingin yang berbeda dari Raihan. Sikap yang tak pernah Raihan tunjukkan padanya sebagai seorang sahabat. Vanno melihat amarah yang tak terkendalikan dari tatapan Raihan. Amarah Raihan seolah tak terbendung, bila Vania terusik.


"Maaf jika perkataan menyinggungmu. Sikapmu jauh berbeda dari Raihan yang aku kenal. Biasanya kamu datang kemari hanya untuk minum. Kenapa sekarang kamu menolak minuman yang aku berikan?" ujar Vanno membela diri, Raihan langsung bangkit dari tidurnya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Raihan gusar mengingat kehangatan Vania dengan Daffa.

__ADS_1


FLASH BACK


"Vania, suamimu kemana? Dia bekerja atau tidur di kantornya. Memangnya dia sehebat apa? Sampai dia kerja tanpa ingat akan istrinya!" ujar Daffa lantang, seakan menutup rasa gelisahnya berada di ruangan yang sama dengan Vania.


"Achmad Raihan Maulana hanya laki-laki biasa. Dia tidak sehebat yang kak Daffa bayangkan. Namun dibalik biasanya, dia laki-laki yang memahami arti tanggungjawab. Aku tidak keberatan dia pergi bekerja sampai melupakanku. Bukan aku tamak akan harta, bukan aku haus akan kemewahan. Namun aku ikhlas dan ridho, karena dia pergi demi kepentingan banyak orang. Dia buka hanya bertanggungjawab akan hidupku. Namun dia juga bertanggungjawab akan ratusan orang yang bekerja padanya!" ujar Vania, Daffa menatap lekat Vania. Faiq dan Davina mengangguk setuju akan perkataan Vania.


FLASH BACK OFF


"Vania hidupku saat ini, aku tidak ingin melihat kecewanya. Aku datang ke apartemenmu hanya ingin mencari ketenangan. Bukan ingin berpesta tidak jelas denganmu!" ujar Raihan, Vanno mengangguk pelan memahami perkataan Raihan.


"Raihan, katakan padaku apa yang membuatmu gelisah? Agar aku bisa membantumu. Setidaknya aku akan menjadi sahabat yang berguna. Selama ini kamu menjauh dariku, tidak pantaskah aku berpikir. Dia membuatmu berubah, bahkan malam ini aku melihatmu kacau. Kamu bukan Raihan yang aku kenal. Dia pribadi yang kuat, takkan pernah kalah oleh apapun!" ujar Vannoa, Raihan diam membisu. Tak ada yang bisa Raihan katakan saat ini. Satu hal yang pasti, Vania mengatakan sesuatu yang membuatnya bahagia. Sekaligus menunjukkan siapa arti dirinya di dalam pikiran Vania?


"Vanno, seandainya aku bisa mengatakannya padamu. Tentu aku tidak akan sekacau ini. Sejak mengenal Vania, aku penuh dengan rasa bimbang. Vania membuatku tak berdaya. Cintanya membuatku takut kehilangan dirinya. Sekali aku melihat sikap hangat Vania pada laki-laki lain. Sudah cukup membuatku hancur seperti sekarang!" ujar Raihan lirih, Vanno mendekat pada Raihan. Dia menepuk pundak Raihan pelan.


Vanno mencoba memberikan dukungan pada Raihan. Hanya agar sahabatnya merasa tenang. Vanno melihat kegusaran yang nyata dari diri Raihan. Kini sahabatnya benar-benar luluh dalam cinta Vania. Wanita bercadar yang merubah hidup Raihan sahabatnya.

__ADS_1


"Aku tidak pernah merasakan cinta sejati. Selama ini aku menganggap cinta tak lebih dari kesenangan sesaat. Namun melihatmu seperti ini, kini aku menyadari. Jika cinta itu nyata adanya. Siapapun bisa jatuh dalam indah dan sakit cinta? Bahkan Raihan yang kukenal tak berhati. Bisa luluh dalam cinta yang rumit!" ujar Vanno lantang, sontak Raihan menatap lekat Vanno. Raiha seakan tidak ingin mendengar Vanno mempermainkan arti cinta tulusnya pada Vania.


"Vanno, jika hanya ingin mengejekku. Lebih baik kamu diam, jangan bicara sesuatu yang tidak berguna. Kelak kamu akan merasakan sakitnya cinta. Sudah saatnya kamu menemukan cinta sejatimu. Jangan terus bermain dengan cinta yang tanpa akhir!" ujar Raihan lirih, Vanno mengangguk seraya mengacungkan jempol ke arah Raihan.


"Aku menyadari itu, kelak aku akan merasakan yang sedang kamu rasakan sekarang. Hanya saja saat ini, aku lebih nyaman hidup bebas tanpa status. Satu hal yang harus kamu ingat. Vania istrimu yang sah, dia makmum dalam langkah hidupmu. Tidak seharusnya kamu merasa rendah diri. Ketika ada laki-laki yang dekat dengan Vania. Kamu harus yakin, dia bukan siapa-siapa Vania? Bukan malah datang kemari, menangis meratapi nasib!" ujar Vanno, Raihan diam melihat ke arah Vanno.


Vanno bicara dengan bijak, seolah dia sudah sudah pernah menikah. Vanno merasa sikap Raihan pengecut. Bukan mempertahankan Vania, malah Vanno melihat Raihan menjauh hanya untuk menangis meratapi nasib.


"Vanno, kamu salah minum obat. Kenapa kamu bicara dengan bijak? Bukankah beberapa menit yang lalu kamu mengajakku berpesta. Kenapa sekarang kamu ceramah layaknya ustad? Kamu yakin tidak mengalami demam!" ujar Raihan menggoda Vanno, seketika Vanno menggeleng seraya tersenyum.


"Bijak bukan hanya datang dari orang beriman atau berilmu. Jangan remehkan perkataanku, lagipula Memang benar yang aku katakan. Lebih baik kamu menemui Vania, katakan padanya kegelisahanmu. Jangan biarkan laki-laki lain mendekatinya. Berjuanglah demi kebahagianmu. Satu hal lagi, ketika ijab qobul terucap dan terlaksana. Artinya ikatan diantara kalian memang sudah tertulis. Jangan pernah meragukan ketetapan-NYA!" ujar Vanno sembari mengangkat telunjuknya ke atas langit-langit rumahhya.


"Terima kasih, kamu sahabat terbaikku!" ujar Raihan lalu meninggalkan Vanno.


"Kamu akan kemana?" teriak Vanno.

__ADS_1


"Berjuang mempertahankan cinta Vania!" sahut Raihan lantang.


__ADS_2