
"Sayang, kamu yakin memintaku pulang. Padahal aku ingin di sini bersamamu, aku ingin menginap!" ujar Rafa memelas, Hana menggeleng.
"Pulanglah, keluarga kak Rafa pasti khawatir. Terutama kakek Ardi, dia pasti sangat mencemaskanmu. Aku akan baik-baik saja. Sekalian aku minta tolong, antar Diana pulang. Dia sahabat terbaikku, jika kelak aku menghilang. Hanya dia yang akan tahu keberadaanku!" ujar Hana, Rafa menarik tubuh Hana mendekat.
cup
"Jangan pernah katakan hal itu. Aku bisa kehilangan akal bila kamu pergi! Jangan membuatku takut membayangkan kamu pergi menjauh!" ujar Rafa cemas, Hana membalas dengan senyuman.
"Tuan Rafa Akbar Prawira, kami masih ada di sini. Setidaknya kasihani kami yang masih jomblo!" goda Adrian lirih, Hana melihat ke arah Diana dan Adrian.
"Kalian berdua tidak akan jomblo, jika berani saling mengakui. Kalau sudah ada cinta diantara kalian!" ujar Hana, Diana menggeleng lemah lalu beranjak pergi menuju mobil. Dia kesal mendengar gurauan Hana.
"Hana, aku sudah katakan. Jika bersamamu, mungkin aku bisa mempertimbangkannya. Namun bersama Diana, jangan pernah berharap. Dia bukan tipeku!" ujar Adrian, Rafa menoleh pada Adrian.
"Kamu berani menggoda istriku. Kamu sudah siap mati!" ujar Rafa kesal, Adrian terkekeh mendengar perkataan Rafa. Hana mendorong tubuh Rafa menjauh. Dia meminta Rafa untuk segera pergi. Hana sangat lelah, dia ingin secepatnya istirahat.
"Kak Rafa, cepat pulanglah. Kepalaku semakin pusing mendengar kalian bertengkar. Aku sudah sangat lelah. Jadi aku ingin tidur secepat mungkin. Kak Rafa hati-hati di jalan!" ujar Hana, menarik tangan Rafa lalu menciumnya. Tanpa menunggu balasan dari Rafa. Hana langsung menutup pintu rumahnya.
Braaakkk
"Sayang, aku belum pamit dengan buah hati kita!" teriak Rafa, Hana tidak menyahuti. Dia mengacuhkan Rafa dan berjalan menjauh dari pintu. Hana mematikan semua lampu, dia ingin segera tidur.
"Rafa, Hana sudah menyuruh pergi. Jadi sebaiknya kita pergi. Jangan buat keributan yang membuat Hana marah lagi padamu. Kamu harus bisa mengendalikan diri!" ujar Adrian, Rafa mengangguk pelan. Mereka meninggalkan rumah Hana. Rafa sebenarnya ingin menginap, tapi Hana melarang. Dia tidak ingin keluarga Prawira curiga. Adrian mengemudikan mobil dengan sangat cepat. Setelah mengantar Diana, Adrian mengantar Rafa.
KEDIAMAN KELUARGA PRAWIRA
__ADS_1
Rafa tiba di rumah megahnya sekitar pukul 20.00 wib. Kebetulan semua keluarga sedang berkumpul bersama. Ternyata malam ini Sesil sengaja datang bersama dengan kedua orang tuanya. Mereka makan malam bersama, tanpa kehadiran Rafa sang bintang malam ini.
"Rafa, darimana saja kamu? Sesil dan keluarganya menunggu sejak tadi. Duduklah di sini, setidaknya hormati mereka yang telah menunggumu!" ujar Gunawan, Rafa berjalan mendekat. Dia mencium punggung tangan kakek Ardi. Semua orang terkejut melihat sikap santun Rafa. Dengan tenang Rafa duduk di samping kakeknya.
"Kak Rafa, kenapa tidak menghubungiku jika akan keluar? Aku bisa menemani kak Rafa pergi. Sekalian aku jalan-jalan, sudah lama kita tidak pergi bersama!" ujar Sesil, Rafa diam tak peduli pada Sesil. Kedua jarinya sibuk bermain ponsel. Sebenarnya Rafa sedang mengirim pesan pada Hana. Bukan satu atau dua, sejak keluar dari rumah Hana. Rafa sibuk mengirim pesan. Namun sayangnya, tidak satupun pesan yang dibaca oleh Hana.
"Rafa, kamu sedang apa? Sesil bertanya padamu, jangan bersikap kurang ajar. Bagaimanapun Sesil sudah menyempatkan diri datang kemari?" ujar Gunawan, Rafa tetap saja tidak peduli. Tuan Ardi menyikut lengan Rafa, sontak saja Rafa kaget. Dia menoleh pada kakeknya.
" Kamu belum mendapatkan maaf darinya! Memangnya Hana semarah itu!" bisik tuan Ardi, Rafa mengangguk pelan. Rafa menulis sesuatu di ponselnya. Seketika tuan Ardi berdiri, dia terkejut setelah membaca tulisan Rafa.
"Rafa berdiri, kamu kehilangan akal. Sudah tahu dia dalam kondisi seperti itu. Masih saja kamu tinggalkan. Kakek tidak pernah mengajarkan sikap tidak bertanggungjawab!"
"Ayah, jangan emosi tenang dulu! Memangnya apa yang Rafa lakukan? Sampai ayah semarah ini!" ujar Gunawan bingung, Sesil jauh lebih penasaran. Rafa malah tersenyum. Dia senang jika kakeknya meminta menemui Hana. Bahkan dengan sepenuh hati Rafa akan berangkat. Meski tubuhnya lelah, Rafa tidak peduli.
"Diam kamu Gunawan, ini urusanku dengan Rafa!"
"Kakek, dia tadi mengusirku. Sangat tidak mungkin dia membuka pintu untukku. Aku tidak ingin memaksanya, lebih baik Rafa menuruti perkataannya. Kata orang, biasanya ibu hamil mudah marah!" bisik Rafa, tuan Ardi menggut-manggut mengerti. Rafa berjalan menjauh, dia ingin merebahkan tubuhnya.
"Rafa, kamu jangan pergi. Keluarga Sesil sengaja datang ingin membahas masalah pertunangan kalian!" ujar tuan Gunawan, Rafa menghentikan langkahnya. Dia menatap tajam ke arah tuan Gunawan.
"Siapa yang akan bertunangan dengan Sesil? Jangan bercanda, aku dan dia hanya teman. Tidak akan pernah lebih. Jadi jangan pernah berpikir ingin menjodohkan kami berdua!" ujar Rafa emosi, Sesil menunduk malu. Dia terlalu percaya diri, menganggap Rafa mencintainya. Setelah semua yang terjadi diantara mereka.
"Rafa, jangan kurang ajar kamu. Hubunganmu dan Sesil sudah sangat lama. Sudah saatnya kamu dan Sesil menikah. Kalian berdua dari keluarga yang sama! Orang tuanya sengaja datang ingin membicarakan kelanjutan hubungan kalian. Papa juga sudah menyetujuinya, Sesil wanita yang tepat untukmu!" ujar Gunawan emosi. Rafa mendekat pada Gunawan, dia menatap kedua mata orang yang mengakui sebagai ayahnya.
"Sejak kapan anda berhak menentukan jalan hidup saya? Mungkin anda ayah kandung saya, tapi saya besar tanpa kasih sayang anda. Jangan pernah berpikir anda bisa mengatur hidup saya, terutama pernikahan saya. Mungkin anda berpikir, pernikahan sebuah permainan. Setelah puas memainkannya, anda membuangnya lalu mencari permainan yang lain. Layaknya ibu saya yang anda buang seperti sampah!"
__ADS_1
Plaaaakk
"Jaga bicaramu Rafa, kamu tidak tahu apa-apa? Aku tidak bersalah atas meninggalnya ibumu. Jadi jangan pernah berpikir, aku harus bertanggungjawab atas kematiannya!" ujar Gunawan emosi, Rafa memegang pipi bekas tamparan. Rafa tidak pernah melawan Gunawan, karena Rafa merindukan kasih sayang Gunawan. Namun kehadiran istri kedua Gunawan, membuat jarak diantara ayah dan anak.
"Maaf jika saya salah. Memang benar anda tidak bertanggungjawab atas kematian ibu saya. Namun cinta anda yang membunuhnya. Dia begitu menghargaimu, sampai maut merenggutnya. Dia tetap mencintai anda. Namun kapan anda mencintai dia? Tidak pernah ada cinta untuknya darimu. Ibuku hidup dengan cinta semunya. Dia menangis sendiri di sudut kamarnya. Sedangkan anda berdua dengan istri yang sangat anda cintai. Jika bukan karena pesan darinya, sudah lama aku pergi dari rumah ini. Dia begitu mengkhawatirkan dirimu, dia meminta janji dariku untuk selalu menjagamu. Laki-laki yang dicintainya hingga napas terakhirnya. Tuan Gunawan Adi Prawira, anda tidak pernah melihat ketulusan cinta ibuku. Jadi jangan pernah berpikir mengerti arti sebuah pernikahan!"
"Sesil, kita pernah memiliki hubungan di saat muda. Semua itu salah dan tak pantas kita lakukan. Dengan segenap hati aku minta maaf. Namun jika aku harus menikahimu, aku tidak bisa. Aku tidak ingin melihat seorang wanita hancur dalam sebuah pernikahan. Seperti ibuku yang selama hidupnya, mencintai tapi tak dicintai. Menyayangi tapi dibenci, cukup melihat air mata nestapa ibuku. Tidak lagi aku ingin melihat air mata wanita lain jatuh hanya demi sebuah cinta. Masih banyak laki-laki yang pantas untukmu!" ujar Rafa sembari menangkupkan tangan, Rafa berjalan meninggalkan semua orang. Sesil menunduk terdiam, tubuhnya bergetar keringat dingin keluar dari tangannya. Sesil melihat Rafa meminta maaf padanya. Sebuah ketulusan dari Rafa yang mengubur dalam-dalam cintanya. Kedua mata indahnya mulai terasa panas, penolakan Rafa meluluhlantakkan hatinya. Sesil benar-benar mencintai Rafa. Tidak ada laki-laki lain yang bisa membuatnya jatuh cinta.
"Rafa, sejak kapan kamu mengerti arti cinta? Bukankah kamu membenci kata cinta. Bagimu hidup hanya harta dan kekuasaan. Siapa yang telah membuatmu berubah sejauh ini? Apakah pelayan yang pernah kamu bawa? Pelayan yang menggadaikan tubuhnya hanya demi kemewahan sesaatnya. Wanita yang menutupi jati dirinya dengan hijab panjangnya" ujar Gunaean sinis, Rafa menghentikan langkahnya. Dia marah mendengar istrinya terhina di rumahnya sendiri. Tuan Ardi meradang, mendengar Gunawan berkata sekeji itu.
"Gunawan, cukup jangan menyalahkan Hana. Dia tidak ada hubungannya dengan Rafa. Seharusnya kamu bangga melihat Rafa berubah. Bukankah selama ini, kita ingin melihat dia membuka dirinya. Kenapa sekarang kamu malah menyalahkan orang lain? Dia tak pantas disalahkan!" ujar tuan Ardi, tanpa ada yang menyadari Rafa sudah berada di samping Gunawan. Tuan Ardi melihat amarah di kedua mata Rafa. Sebuah amarah yang sama saat ibunya meninggal.
"Tuan Gunawan Adi Prawira, dia memang pelayan seperti ibuku. Namun kehormatannya jauh di atas istri anda seorang wanita berkelas. Mungkin dia menutup dirinya dengan hijab, layaknya ibuku yang menutupi semua luka dengan senyumnya. Namun mereka tidak seperti istri anda yang penuh dengan kepalsuan. Tuan Gunawan, anda sudah menguju kesabaran saya. Besok anda lihat, istri anda tercinta akan menjadi bintang. Seluruh dunia akan melihat siapa dia sebenarnya? Bukan diriku yang akan hancur, tapi keluarga kecilmu yang akan hancur!"
"Nyonya Gunawan yang terhormat, bersiaplah menjadi berita utama. Seharusnya anda bisa menjaga suamimu dengan baik. Jaga putri kecilmu, agar dia tidak merasa malu berdiri di depan orang!" ujar Rafa kesal, Gunawan bingung mendengar perkataan Rafa. Dia tidak pernah mengetahui, ada rahasia apa yang tersimpan? Sabrina bergegas mendekat pada Rafa, memang hubungan mereka tidak pernah baik. Namun Rafa tidak pernah mengusik kehidupan keluarga kecil Gunawan.
"Rafa, aku mohon jangan. Semua itu masa laluku, aku bersumpah tidak pernah melakukannya. Aku akan meminta papamu untuk meminta maaf. Namun jangan lakukan itu, kasihan Kiara dia masih terlalu kecil!"
"Rafa, kakek mohon jangan hancurkan hati Kiara. Bagaimanapun dia adikmu? Hana tidak pernah menginginkan ini. Jangan ungkit masalah itu lagi!" bujuk tuan Ardi, semua orang termenung. Mereka bertanya dalam hati. Apa yang sedang terjadi?
"Jangan pernah hina Hana, jika tidak ingin keluarga kecilmu hancur. Sampai detik ini aku menghargaimu sebagai ayah kandungku. Laki-laki yang dititipkan ibu padaku. Seorang suami yang begitu dicintai wanita yang melahirkanku!" ujar Rafa dingin, Gunawan terduduk lemas. Hatinya tersayat mendengar perkataan Rafa. Dia tidak menyangka, jika Rafa menyimpan semua dukanya. Gunawan baru menyadari, istri yang diabaikannya benar-benar mencintainya.
"Ainun, maaf!" ujar Gunawan lirih hampir tak terdengar.
"Gunawan, Rafa sangat merindukanmu. Dia sangat menghargaimu. Jangan buat dia menjauh darimu, hanya Rafa tempat kita kelak bersandar!"
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊