KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Hasutan tak Penting


__ADS_3

"Selamat datang kembali Rafa!" Sapa Sesil ramah, sembari mengulurkan tangan mengajak Rafa bersalaman.


Rafa tersenyum menatap Sesil, wanita yang terus berambisi dalam dunia bisnis. Istri dari sahabatnya Alvian. Masa lalu yang penuh noda dalam hidup Rafa. Wanita yang membuatnya bahagia, sekaligus hancur dalam kebebasan tak beriman.


"Terima kasih Sesil!" Ujar Rafa, sembari menerima uluran tangan Sesil. Keduanya saling berjabat tangan. Meleburkan rasa canggung yang menyelinap. Kenangan indah masa lalu, tak sengaja terbersit di benak Sesil dan Rafa.


"Asthgfirullahhaladzim!" Batin Rafa.


Seketika Rafa melepaskan tangan Sesil. Tangan yang dulu pernah menemani hari-harinya. Saling menggenggam melewati masa muda yang penuh kebebasan. Sesaat Rafa lupa akan statusnya. Melupakan Hana wanita yang sangat dicintainya. Mengingat kembali masa mudanya dengan Sesil.


"Silahkan duduk, sebentar lagi Fathan dan Faiq datang. Mereka sedang membahas sesuatu!"


"Akhirnya setelah sekian tahun, kamu kembali menjadi Rafa yang dulu. Penantianku tak sia-sia, kini kamu kembali ke duniamu yang sesungguhnya!" Ujar Sesil lirih, Rafa menggeleng tak setuju. Sejak awal Rafa tak berniat kembali. Dia ada di perusahaan ini, hanya sebagai penasehat. Faiq yang akan sepenuhnya menggantikan dirinya.


"Aku tidak kembali selamanya. Saat ini aku ada di perusahaan ini hanya demi Hana. Ketika Hana memintaku berhenti. Tanpa banyak bicara, aku akan langsung melakukannya!"


"Kamu sangat mencintainya Rafa!" Ujar Sesil lirih, Rafa mengangguk tanpa ragu. Nyata rona wajah Rafa memancarkan kebahagian yang tak pernah ada selama mengenal Sesil.


Dengan mata sendu, Sesil melihat kebahagian Rafa. Senyum tulus yang tak pernah Rafa tunjukkan padanya. Jangankan senyum, amarah yang lebih sering Rafa tunjukkan padanya. Apalagi saat Sesil mengenal Sabrina yang tak lain ibu sambung Rafa. Wanita yang begitu membenci Hana. Ibu yang tak pernah puas, selalu haus akan status dan kekayaan Rafa.


"Dia segalanya dalam hidupku. Hana mungkin tak secantik dirimu. Hana tak sepintar dirimu. Pesona yang nyata membuatku atau kaum hawa lainnya bertekuk lutut. Namun hati Hana jauh lebih tulus dan suci dari wanita lain!" Sahut Rafa, Sesil diam membisu. Setiap kali Rafa memuji Hana, selalu ada rasa ngilu menelisik ke hatinya.


Tak seharusnya Sesil mengharap ada hubungan lebih dengan Rafa. Mengingat statusnya dan Rafa yang telah berbeda. Namun cinta yang pernah ada, seakan tak pernah ingin menjauh dari hatinya. Rasa yang begitu indah, tapi terasa tak pantas untuk tersimpan. Di kala status yang kini ada. Kepingan indah rasa itu, setiap saat menyiksa jiwanya. Kehadiran Alvian tak mampu merubah segalanya. Cinta itu tetap milik satu nama. Rafa Akbar Prawira yang selalu teringang dalam benaknya.


"Aku tahu Rafa, terlihat dari caramu menjaga Hana. Keputusanmu menjauh dari duniamu, hanya demi menjaga hati Hana. Karena Hana yang tak pernah ingin mengenal duniamu. Hana yang terus egois, merasa nyaman dengan dunianya yang jelas berbeda denganmu!" Ujar Sesil lantang, Rafa diam membisu. Entah kenapa perkataan Sesil seakan benar?


Hana tak pernah ingin mengikuti gaya hidup Rafa. Sekadar melihat dunia Rafa yang penuh dengan orang-orang terhormat. Dunia yang penuh dengan keglamouran, dunia yang penuh tipu daya. Jauh berbeda dengan hidup Hana yang sederhana. Hidup yang tak pernah peduli akan kemewahan dunia. Rafa memilih mengalah, karena lelah menunggu Hana yang tak berpikir ingin mengikuti gayanya.


"Kenapa kamu diam Rafa? Perkataanku benar bukan? Hana tidak pernah mencintaimu. Dia menghargaimu hanya sebagai seorang suami. Jika memang dia menyayangimu. Tidak akan dia teguh pada penderiannya. Angkuh mengakui hidupmu berbeda dengan dirinya. Sejak awal kalian lahir di tempat yang berbeda dan status yang takkan pernah sama!" Ujar Sesil lantang, Rafa tetap diam. Mengakui perkataan Sesil benar adanya.


"Dia tidak seperti itu!"


"Tapi itulah kenyataannya, kamu saja yang pura-pura tidak menyadari. Hana terlalu angkuh mengakui kelebihanmu. Sebab itu dia merasa mampu tanpa status dan kekayaanmu. Rafa cinta itu rasa dari dua hati. Perubahan bukan hanya dari dirimu, tapi Hana juga harus berubah. Jika kamu bisa meninggalkan duniamu, hidup dalam dunianya. Kenapa Hana tidak bisa? Seharusnya Hana melihat pengorbananmu. Agar Hana bisa melakukan pengorbanan yang sama!" Tutur Sesil emosi, seolah perkataannya nyata benar adanya.

__ADS_1


Rafa mematung, bibirnya terasa kelu tak lagi mampu berbicara. Rafa merasa perkataan Sesil benar adanya, kenyataan yang selama ini tertutupi oleh rasa cintanya pada Hana. Rafa merasa bimbang dengan sikapnya kini. Perkataan Sesil nyata membuatnya lemah, merasa tak dihargai oleh Hana.


"Kenapa papa diam? Papa membenarkan perkataan tante Sesil. Papa percaya dengan perkataannya dan mulai meragukan mama?" Ujar Vania lantang, Rafa dan Sesil menoleh serempak. Sontak Rafa menggelengkan kepalanya, isyarat dia tidak seperti itu. Rafa mencari pembenaran yang nyata tak pernah ada. Diam Rafa sejak Sesil meragukan cinta Hana. Jawaban yang nyata setuju dengan perkataan Sesil.


"Kamu anak kecil, tidak sepantasnya ikut campur urusan orang dewasa. Kamu harus sadar, papamu berhak bahagia. Sudah sepantasanya Hana melihat sepi hati Rafa. Bukan selalu bangga dengan cintanya. Merasa Rafa bahagia berada di sampingnya!" Sahut Sesil, Rafa menatap Sesil tajam. Seolah meminta Sesil untuk diam.


"Vania, papa tidak pernah meragukan mama. Tante Sesil hanya asal bicara!"


"Rafa, kamu harus sadar. Sudah waktunya Hana mengenal dunia dan hidupmu. Kamu Rafa yang hidup dengan status tinggi. Tak sepantasnya terus mengikuti gaya Hana yang kampungan!"


"Sesil cukup, bukan tempatmu bicara!" teriak Rafa emosi, Sesil tersenyum sinis. Dengan perlahan Sesil berjalan menuju dinding gedung tempat perusahaan Rafa berdiri. Sesil menatap lekat gedung-gedung tinggi di depannya.


"Aku bicara seperti ini, bukan karena pernah mencintaimu. Aku hanya ingin mengingatkanmu sebagai seorang teman. Lihatlah keluar gedung ini, disinilah kamu seharusnya berdiri. Kamu dan Hana bak lantai satu dan lantai terakhir kantor ini. Seperti perkataanmu kemarin dulu, gapai bahagia sebelum terlambat!" Tutur Sesil tegas dan dingin.


"Sesil cukup, hentikan pembicaraan ini. Semua ini tidak penting bagiku. Selama Hana ada bersamaku!"


"Sadarlah Rafa, banyak wanita yang jauh lebih baik dari Hana. Setidaknya katakan pada Hana untuk belajar mengenal duniamu. Agar hubungan kalian berjalan dua arah!" Ujar Sesil lirih, Vania meradang mendengar perkataan Sesil. Dengan langkah lebar, Vania menghampiri Rafa dan Sesil. Vania menatap keduanya bergantian, seolah tatapan Vania mampu membuat Rafa dan Sesil hancur.


"Papa, Vania tidak pernah menyadari sepi papa selama ini. Namun satu hal yang Vania sadari. Tidak pernah mama mengeluh hidup bersama papa. Di saat wanita lain bahagia dengan pernikahannya. Mama menangis mengingat kepingan luka yang pernah papa torehkan. Ketika seorang ibu menyayangi anak kandungnya. Mama Hana dengan ikhlas menyayangiku, anak yang tak pernah lahir dari rahimnya. Mama tak pernah membedakan aku dengan kak Fathan dan kak Faiq. Jika bukan mama yang membesarkanku. Mungkin aku akan menjadi anak yang kurang kasih sayang. Namun hari ini, aku melihat papa meragukan mama Hana. Hanya karena perkataan tante Sesil!" Tutur Vania di sela isak tangis dan tetesan air mata.


"Sayang, papa tidak pernah meragukan mama!" Ujar Rafa lantang, sembari mengulurkan tangan ke arah Vania. Dengan perlahan Vania berjalan mundur, gelengan kepala Vania jawabab telak menolak uluran tangan Rafa.


"Mama Hana tidak sejahat itu, mama Hana tidak seangkuh itu. Mama Hana sangat menyayangi papa, dia berkorban begitu besar demi kebahagian papa!" Ujar Vania lirih, sembari berjalan mundur.


Tanpa dia sadari, tubuhnya menabrak dada bidang Faiq. Dengan sigap Faiq menopang tubuh lemah Vania. Syok yang dirasakan Vania. Mengguncang batin Vania dengan begitu hebat. Pernikahan yang terlihat begitu bahagia, membuka tabir luka yang begitu besar.


"Kak Faiq!" Ujar Vania lirih, seolah mengharapkan kasih sayang dan perlindungan dari Faiq. Dengan lembut Faiq mengedipkan mata. Isyarat semua akan baik-baik saja.


"Faiq!" Sapa Rafa, Faiq berjalan menghampiri Rafa dan Sesil. Tangan kirinya mendekap erat tubuh Vania yang bergetar hebat. Hubungan Faiq dan Vania sangatlah dekat. Tak ada yang bisa membuat Vania tenang. Selain Faiq dan Hana, dua orang yang membuat Vania percaya. Ada cinta yang begitu tulus untuknya.


Braaakkkkk


"Apa ini Faiq?" Ujar Sesil heran, saat Faiq membanting kasar sebuah berkas di hadapannya. Rafa diam melihat amarah dalam tenang Faiq. Amarah yang tak pernah terlihat dan hanya Hana yang mampu menenangkannya.

__ADS_1


"Perbaiki kontrak yang tertulis di dalamnya. Akj akan menunggu 3×24 jam. Lebih dari itu, aku tidak akan menerimanya. Secara otomatis, kontrak kerjasama kita batal!"


"Siapa kamu sampai berani memutuskan kerjasama ini? Kamu anak ingusan yang tidak mengenal dunia bisnis!" Sahut Sesil ketus, Faiq tersenyum simpul. Seakan tak peduli perkataan Sesil.


"Buktikan jika tante Sesil orang hebat. Dalam waktu 3 hari, aku ingin kontrak yang baru. Kita akan buktikan, aku yang amatiran atau tante yang sok kepintaran dalam dunia bisnis ini!" Sahut Faiq dingin, lalu berjalan menjauh dari Sesil yang termenung. Perkataan Faiq sedikit mengusik pikiran Sesil. Akan sangat memalukan, bila Sesil tidak bisa memenangkan tantangan Faiq.


"Faiq, kamu marah pada papa!" ujar Rafa lirih, saat melihat Faiq tak menoleh ke arahnya. Faiq menggeleng lemah, tanpa menoleh ke arah Rafa.


"Hubungan kita tak serapuh itu, sampai dengan mudahnya perkataan tante Sesil memisahkan kita. Keluarga kita tak selemah itu, sehingga pendapat tante Sesil menghancurkan pondasinya. Apapun yang dikatakan tante Sesil tidak salah? Dia benar dengan pendapat semunya, begitu juga keraguan papa yang seakan benar pada mama. Namun satu hal pendapat kalian yang salah tentang mama!"


"Katakan apa itu? Karena aku yakin, itu hanya omong kosongmu. Agar Rafa merasa bersalah pada Hana!" Sahut Sesil ketus.


"Sesil, hentikan!" Teriak Rafa emosi.


"Kenapa aku harus diam? Lihat sikap putramu padaku. Aku bicara kenyataan, dia malah dengan seenaknya sendiri memutuskan kerjasama. Hanya karena aku mengusik kelemahan ibunya. Seseorang yang tak bisa membedakan masalah pribadi dan pekerjaan. Tidak akan pernah layak menjadi pemimpin!" Sahut Sesil penuh amarah.


"Diam!" Teriak Faiq, seraya menunjuk ke arah wajah Sesil. Seketika Sesil mundur beberapa langkah. Amarah Faiq nyata membuat Sesil ketakutan.


"Aku tidak peduli papa akan meragukan mama atau tidak. Jujur aku tidak ada urusan dengan perusahaan ini. Aku hanya ingin tante tahu, mama jauh lebih baik dari tante. Mama tidak ingin masuk ke dunia papa. Bukan karena dia sombong atau angkuh, tapi dunia papa yang seolah menolak kehadiran mama. Ketakutan mama bukan karena kehilangan papa atau hartanya. Ketakutan mama, tak lain karena keraguan cinta yang akan ada. Jika mama hidup dalam kemewahan papa. Alasan yang sesungguhnya tak pernah membuat mama silau dengan harta papa sampai saat ini!" Tutur Faiq.


"Maafkan papa, sepintas papa merasa mama tak menghargai cinta tulusku!"


"Mama selalu menghargai cinta itu, karena itu sampai saat ini. Mama tak pernah ingin orang lain meragukan ketulusan cintanya. Apa papa pikir mama bahagia melihat pengorbanan mama?" Ujar Faiq, Rafa diam menatap lekat Faiq.


"Mama menangis di pojok rumah megah papa. Mencari tempat sembunyi, agar tak ada yang melihat air matanya. Mama sepi dan dingin, ketika melihat papa larut dalam lingkungan yang berbeda. Malam itu, saat papa tertawa sembari memegang gelas minuman bermerk. Mama orang yang duduk sendiri, merasa rendah di tempat yang berbeda. Jika ada yang salah dari hubungan kalian. Bukan status atau dunia papa dan mama yang berbeda. Namun cinta mama yang terlalu besar. Sampai dia takit kehilangan papa. Terluka lagi karena status yang berbeda!" Ujar Faiq lebih.


"Hana tak sebaik itu!" Sahut Sesil.


"Mama kami terbaik, karena telah melahirkan dua putra dengan iman dan hati yang kaya. Membesarkan tiga anak dengan cinta dan sayang yang sama. Menghargai seorang suami yang nyata mulai meragukannya!" Sahut Fathan.


"Oh ya tante Sesil, keputusan Faiq itu final. Dia yang kini mengambil alih perusahaan ini. Jadi turuti perkataannya. Jika tidak ingin melihat perusahaan tante hancur!" Ujar Fathan dingin.


"Vania, lupakan perkataan tante Sesil. Dia orang lain yang tak berhak menilai keluarga kita. Terutama menilai mama!" Ujar Fathan hangat.

__ADS_1


__ADS_2