
"Hana, darimana kamu? Kenapa sejak tadi aku selalu kamu tinggal? Padahal sangat sulit aku menyediakan waktu untuk bersamamu. Bukan menemaniku, kamu malah sibuk sendiri!" ujar Rafa kesal, Hana mengacuhkan Rafa. Hana baru saja pulang dari supermarket terdekat. Hana belanja keperluan sehari-hari. Perkataan Rafa sama sekali tidak dipedulikan Hana. Dia masih sibuk meletakkan semua barang belanjaannya.
"Kak Rafa butuh sesuatu. Hana baru pulang belanja. Semua keperluan dapur sudah habis m Jadi Hana pergi belanja!" ujar Hana santai, Rafa mendekat. Dia menarik tubuh Hana menghadap ke arahnya. Rafa menempelkan Hana di dinding dapur.
"Kamu belanja menggunakan uang siapa? Aku tidak pernah menerima notifikasi penarikan dari ATM yang aku berikan padamu. Jangan katakan , kamu menggunakan uang hasil kerjamu sendiri!" ujar Rafa emosi, dengan tetap menunduk Hana mengangguk. Sudah lebih dari dua bulan, ATM itu Hana pegang. Namun tak sekalipun Rafa menerima notifikasi penarikan dana. Rafa sempat ingin menanyakan pada Hana. Namun hubungan Hana dan Rafa tak sedekat sekarang.
"Maaf, Hana terbiasa menggunkan uang hasil kerja sendiri. Hana masih belum terbiasa menggunakan uang dari orang lain. Lagipula pengeluaran Hana tidak terlalu banyak. Apalagi kak Rafa tidak setiap hari berada di sini. Jadi aku tidak terlalu banyak pengeluaran!" ujar Hana, Rafa melepaskan pegangannya. Dia berlalu dari Hana. Rafa kesal mendengar jawaban Hana. Setelah yang terjadi tadi pagi. Hana masih menganggapnya orang lain, tidak lebih.
Rafa meninggalkan Hana tanpa mengatakan apa-apa? Dia sangat kesal, tapi Rafa tidak bisa marah pada Hana. Rafa mulai belajar menahan emosi bila menghadapi Hana. Sebaliknya Hana termangu melihat Rafa yang terlihat sangat kesal padanya. Hana sadar kalau dia sudah salah. Dengan cepat Hana berjalan menyusul Rafa.
"Kak Rafa, maaf jika Hana sudah salah bicara. Jangan hanya diam, bicaralah agar Hana tahu letak kesalahannya!" ujar Hana memelas, Rafa mengacuhkan Hana. Dia menutup kedua matai indahnya, Rafa tidur membelakangi Hana. Rasa bersalah Hana mengisi seluruh pikiran Hana. Dengan perlahan Hana naik ke atas temapt tidur. Dia duduk tepat di belakang punggung Rafa. Tangan mungilnya menggoyang-goyangkan tubuh Rafa. Berharap Rafa bisa memaafkannya.
"Kak Rafa, maafkan Hana. Bicaralah, aku tidak tahu salahku dimana? Jika kak Rafa terus seperti ini. Lebih baik Hana keluar dari rumah. Buat apa di rumah, kalau kak Rafa marah!" ujar Hana lebih kesal dari Rafa. Sontak saja Rafa membalikkan badannya. Dia menarik tangan Hana sekuat mungkin. Akhirnya Hana terjatuh tepat di atas tubuh Rafa. Hana menahan tubuhnya dengan tangan, agar tidak terlalu menempel dengan Rafa.
__ADS_1
"Aku marah, karena kamu masih menganggap aku orang lain. Bukankah aku sudah memilikimu sepenuhnya. Kenapa kamu masih enggan menggunakan hasil jerih payahku? Apa kamu takut? Semua aku dapatkan dengan tidak halal!" ujar Rafa kesal, Hana menggeleng. Tangannya mulai lelah menopang tubuhnya, saat Hana meronta ingin melepaskan diri. Rafa malah memeluknya dengan sangat erat. Hana terjatuh tepat di atas tubuh Rafa.
"Kak Rafa, Hana belum memasak. Nanti siang kita makan apa? Aku minta maaf jika aku salah. Sekarang tolong, lepaskan Hana. Biarkan Hana melakukan kewajiban Hana. Aku janji akan menggunakan ATM kak Rafa!" ujar Hana lirih, Rafa menggeleng lemah. Dia tidak akan melepaskan Hana dengan mudah. Tangan Rafa, menarik hijab instan Hana.
"Hana, setiap kesalahan harus ada konsekuensinya. Jadi sekarang kamu harus aku hukum. Aku tidak butuh makanan, aku hanya membutuhkanmu hari ini. Aku tidak ingin menjauh darimu. Sekarang lakukan kewajibanmu yang lain. Sebagai ucapan permintaan maaf!" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah. Rafa terkekeh melihat Hana yang ketakutan, sebenarnya Rafa hanya ingin menggoda Hana. Rafa sadar jika Hana masih merasakan sakit, setelah penyatuan cinta mereka tadi pagi.
Rafa sangat bahagia, dia orang pertama yang merebut kesucian Hana. Seorang istri yang menjaga kehormatannya dan hanya melepas kehormatan itu pada suaminya. Mungkin bukan pengalaman pertama bagi Rafa. Namun pertama kalinya Rafa melakukannya atas dasar cinta dengan penuh keteguhan. Selama ini Rafa melakukannya dengan wanita-wanita yang sudah tidak suci lagi.
"Kak Rafa, tidak serius bukan. Namun jika memang kak Rafa menginginkannya. Lakukanlah, tidak ada hakku menolak permintaanmu!" ujar Hana pada Rafa, dengan cekatan Rafa membalik tubuh Hana. Dia kini yang berada di atas Hana. Dengan lembut Rafa mengecup kening Hana.
"Sayang, aku tahu kamu masih sangat sakit. Tidak mungkin aku memaksa melakukannya. Aku mencintaimu, bukan ingin menyakitimu. Keteguhan akan pengabdianmu padaku suamimu. Membuat aku menyadari sesuatu, bahwa aku tidak salah memilihmu! Masih banyak waktu kita melakukannya. Aku akan selalu ada untukmu. Aku akan melawan dunia ini demi dirimu!" ujar Rafa, Hana mengangguk.
"Terima kasih, kak Rafa sudah bersedia mengerti Hana!" ujar Hana malu, Rafa mengangguk seraya tersenyum. Rafa tidur tepat di samping Hana. Dia memeluk Hana erat. Rafa mencari kedamaian dalam diri Hana.
__ADS_1
"Sayang, jika kamu sudah siap. Kita temui kakek Ardi. Dia ingin bertemu denganmu. Satu-satunya orang keluarga Prawira yang tidak haus akan harta!" ujar Rafa, Hana mengangguk. Taklama terdengar dengkuran halus dari bibir Rafa. Dia tidur sembari memeluk Rafa, kepalanya bersandar pada dada Hana. Rafa meringkuk bak anak kecil yang membutuhkan kehangatan. Hana membalas pelukan Rafa dengan mendekapnya. Raut wajah letih Rafa terlihat sangat nyata. Dekapan hangat Hana membuat Rafa semakin terlelap.
Hana kini bukan lagi seorang gadis, kesuciannya sudah sepenuhnya milik Rafa. Hana telah menyerahkannya sebagai bentuk sebuah pengabdian. Hana meneliti setiap lekuk wajah Rafa yang sempurna. Hana tidak pernah berharap menjadi istri seorang pengusaha hebat. Namun jalan takdir membawanya bertemu Rafa, serta menjadikan Rafa sebagai imam dunia akhiratnya
Hana belum menyadari, jika Rafa sudah mengisi hatinya. Penyatuan yang terjadi bukan hanya karena pengabdian. Namun sebuah cinta yang belum bisa diakui. Hana mencium lembut kening Rafa. Desiran aneh menelisik ke dalam tubuh Hana.
"Rafa Akbar Prawira, seorang pengusaha hebat kini menjadi suamiku. Mimpikah aku atau semua ini kenyataan sesaat yang akan meninggalkan sebuah luka. Aku tidak pernah ingin hidup dalam kemewahan. Bila akhirnya aku harus terluka dan tersakiti. Aku tidak berharap dicintai laki-laki sehebat kak Rafa. Bila kelak semua harus menghilang tanpa bekas. Seandainya aku bisa memilih, aku ingin mengenalmu bukan sebagai Rafa yang hebat dan kaya. Cukuo Rafa yang mencintaiku dengan sederhana dan penuh ketulusan. Harta takkan pernah mampu, membawa kebahagian. Sebab kebahagian hanya akan datang di hati yang tulus dan suci! Ikatan pernikahan kita suci, meski kelak akan banyak orang yang meragukannya. Selama tanganku masih ingin tetap kamu genggam. Selama itu aku tidak akan pergi menjauh darimu!" batin Hana menatap lekat wajah tampan sang suami.
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊
Sebelumnya author ingin minta maaf, untuk sementara hanya bisa up 1x saja. Kondisi author sangat tidak fit, masih sangat sulit untuk melakukan banyak aktifitas. Sekali lagi maaf!😔😔😔
__ADS_1