KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Kiara Putri Prawira


__ADS_3

Hampir sebulan lebih Kiara berada di pondok pesantren. Kiara memutuskan berhijrah, dia meminta izin Rafa untuk menuntut ilmu di ponpes bukan di luar negeri. Dengan bantuan Rafa pula, Kiara memutuskan ponpes yanga ada di kota XX. Kota yang jauh dari keramain, kota kecil yang masih sangat asri dan sejuk. Tidak terlalu banyak gedung bertingkat.


Kota XX tak lain kota kelahiran Ainun Rahmawati, ibu kandung Rafa Akbar Prawira. Di ponpes yang sama Rafa pernah mengecap pendidikan agama. Sengaja ibunya mengirim Rafa kecil belajar agama di kota ini. Bukan semata ingin Rafa mengerti agama, tapi ibunya tak ingin Rafa melihat air matanya.


Rafa mengecap pendidikan di ponpes selama 6 tahun. Selama itu pula dia tidak tahu akan kondisi ibunya. Meski secara fisik kondisi ibunya baik-baik saja, tapi secara batin ibunya hancur tak tersisa. Sikap acuh Gunawan membuat Ainun tak mampu lagi menatap wajah suaminya. Setiap kali Ainun ingin menatapnya, Gunawan selalu memberikan tatapan penuh kebencian.


Setelah 6 tahun Rafa terpisah, dia kembali berharap bersatu dengan ibunya. Namun lagi dan lagi sebuah perpisahan yang dia dapatkan. Ibunya pergi untuk selamanya. Dalam pelukan Rafa sang buah hati yang merindukannya. Semenjak itu Rafa seolah marah akan jalan hidupnya. Dia merasa tak pernah merasakan kebahagian. Walau secara materi Rafa tak pernah kekurangan. Secara batin Rafa kesepian. Seorang santri yang taat, berubah menjadi laki-laki yang hidup dalam kebebasan dan kemewahan.


...☆☆☆☆☆...


"Kiara, sedang apa kamu disini? Sebentar lagi maghrib. Lebih baik kita masuk, bersiap sholat berjamaah di masjid!" ujar Salwa, Kiara menoleh seraya tersenyum. Salwa menghampiri Kiara dengan tergesa-gesa.


Salwa melihat Kiara sedang duduk di gubuk dekat sawah. Kiara Putri Prawira cucu kedua keluarga Prawira. Adik sambung dari Rafa Akbar Prawira. Sudah sebulan Kiara berada jauh dari keluarganya. Tak ada kemewahan, Kiara hidup dengan sangat sederhana. Dia tidak lagi tidur di tempat tidur yang empuk. Hanya kasur lantai yang menjadi alas tidurnya. Kenyamanan yang berganti dengan kesederhanaan. Bukan ponsel pintar yang dipegangnya. Buku-buku bernuansa islam yang kini menjadi teman dikala senggangnya. Tak terlihat tubuh seksi berbalut pakaian yang minim. Gamis dan hijab panjang yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Kiara berhijrah mencari ketenangan hati.


"Lima menit lagi, sebentar lagi aku selesai. Jika kamu takut terlambat, masuklah dulu. Aku akan menyusul secepatnya. Aku tidak akan terlambat!" ujar Kiara lantang, Salwa menggeleng lemah. Dia memilih duduk di samping Kiara. Salwa menemani Kiara melihat senja, kebiasaan Kiara semenjak datang ke tempat ini. Gubuk yang mereka datangi, masih dalam kawasan pondok pesantren.


"Kiara, hari ini akan ada pengajian. Kebetulan yang mengisi ustad Rizal. Aku tidak ingin terlambat. Kapan lagi aku mendengar tausiyah dari ustad Rizal? Biasanya di selalu menolak bila diminta mengisi tausiyah!" ujar Salwa senang, Kiara diam tak bergeming. Dia mengacuhkan perkataan Salwa. Kiara meneruskan membaca buku tanpa peduli pada Salwa.


"Kiara!" teriak Salwa kesal, Kiara menoleh seolah tak merasa bersalah. Dengan santainya Kiara bangkit, berjalan meninggalkan Salwa. Dengan berlari Salwa mengejar Kiara.


"Kiara, jangan terlalu cepat. Aku lelah mengejarmu!" ujar Salwa kesal, Kiara berbalik seraya tersenyum. Sebenarnya Kiara mendengar saat Salwa membicarakan ustad Rizal, tapi Kiara malas meladeni Salwa. Sebab ustad Rizal menjadi idola para santri. Takutnya tidak akan ada habisnya bila membahas ustad Rizal. Meski sampai saat ini, Kiara belum pernah bertemu dengan ustad Rizal.


Pondok pesantren tempat Kiara menimba ilmu, terdiri dari ponpes laki-laki dan perempuan. Namun pondok pesantren hanya memiliki satu masjid. Sebab itu Kiara tidak pernah bertemu dengan ustad Rizal. Salwa yang bertahun-tahun di sini baru beberapa kali bertemu ustad Rizal.


"Ayo Salwa, tadi katanya takut terlambat. Kenapa sekarang malah jalanmu seperti keong?" ujar Kiara, Salwa berlari mengejar Kiara. Akhirnya Kiara dan Salwa saling mengejar. Tubuh Kiara yang kecil membuat dia mampu berlari secepat mungkin. Berbeda dengan Salwa yang sedikit gembul. Dia kesulitan berlari mengejar Kiara.


Braaakkk...Bugh...


"Awwwaaaasss!" ujar Kiara yang terpental, buku yang dibawanya jatuh. Tanpa sengaja dia bertabrakan dengan ustad Rizal. Kebetulan ustad Rizal sedang berjalan bersama ustadzah Mila.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa? Jangan berlari di lorong!" ujar ustad Rizal lirih, Kiara berdiri lalu mengangguk sembari tetap menunduk. Salwa datang dengan napas yang memburu.


"Ustad Rizal!" ujar Salwa lirih, detik berikutnya dia menunduk. Saat ustadzah Mila menatap Salwa. Namun Salwa sudah sempat melihat senyum ustad Rizal.


"Salwa, ingat pandanganmu bisa berubah menjadi zina!" ujar ustadzah Mila, Salwa mengangguk berkali-kali.


"Kiara, kenapa belum masuk? Sebentar lagi magrib. Kalian berdua malah berlarian seperti anak kecil!" ujar uztadzah Mila, Kiara tetap menunduk. Ustad Rizal mengamati Kiara yang terus menunduk tanpa berani menatapnya.


"Asthagfirullahhaladzim!" batin ustad Rizal.


"Maaf ustadzah, kalau begitu kami permisi. Assalammualaikum!" pamit Kiara sopan, seraya menarik tangan Salwa.


"Waalaikumsalam!" sahut ustad Rizal dan Ustadzah Mila serempak. Kiara dan Salwa berjalan dengan tergesa-gesa. Mereka takut bila terlambat. Tanpa Kiara sadari buku yang terjatuh tidak sempat dia ambil.


"Mila, aku merasa dia tidak asing. Wajahnya mengingatkan aku akan seseorang!" ujar ustad Rizal, ustadzah Mila mengangguk pelan. Ustad Rizal dan Ustadzah Mila tak lain saudara sepupu. Mereka berdua tumbuh besar bersama dalam lingkungan pesantren. Pemilik pondok pesantren ini tak lain orang tua ustad Rizal.


" Mas Rizal benar. Kiara adik dari sahabat mas sendiri. Dia sendiri yang menitipkan adiknya pada pakdhe. Mas saat itu sedang ada urusan di luar kota. Jadi kalian tidak bertemu, dia titip salam tapi aku lupa menyampaikannya!" ujar Mila, Rizal mengeryitkan alisnya. Dia memijat pelipisnya pelan. Rizal tidak mengerti siapa yang dimaksud Mila?


"Dia adik Rafa Akbar Prawira, sahabat mas Rizal. Kiara adik sambungnya, sebab itu wajah mereka sedikit mirip!" ujar Mila, Rizal mengangguk pelan. Rizal menoleh pada Mila seraya tersenyum penuh arti.


"Jadi kalian bertemu, bagaimana pertemuan setelah beberapa tahun tak bertemu? Apa dia banyak berubah? Atau tetap Rafa yang mengetuk pintu hatimu!" goda Rizal, Mila tersenyum tipis. Mila meninggalkan Rizal yang terus menggodanya.


"Mila, bagaimana penampilannya sekarang? Kamu belum menjawab pertanyaanku!" ujar Rizal.


"Tanyakan pada adiknya, aku melihat mas Rizal tertarik padanya!" ujar Mila, Rizal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aku tidak tertarik padanya, aku hanya melihat Rafa sahabatku pada dirinya. Aku dan dia berbeda. Lagipula dia masih sangat kecil. Sebenarnya yang tertarik itu kamu, sampai saat ini kamu belum bisa melupakan Rafa. Padahal sudah jelas dia menolakmu. Rafa hanya menganggapmu adik, seperti dia menganggapku sebagai saudara!" batin Rizal.


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


"Sayang, sakitnya semakin terasa. Apa sebaiknya kita pergi ke rumah sakit?" ujar Rafa cemas, Hana menggeleng lemah. Hana tidur berbaring miring, hampir setengah jam sekali Hana mengalami kontraksi palsu. Rafa tidak tega melihat Hana yang selalu kesakitan. Rafa setia menemani Hana. Dia mengusap punggung Hana pelan, berharap sakitnya sedikit berkurang.


"Kak Rafa, sudah biarkan tidak perlu diusap. Kak Rafa pasti lelah, bukankah baru tiba dari luar kota. Sebaiknya kak Rafa membersihkan diri. Mungkin makan malamnya sudah siap, tapi maaf aku tidak ingin turun. Jadi kak Rafa makan sendiri!" ujar Hana lirih dengan menahan rasa sakit. Rafa terus mengusap punggung Hana pelan.


"Aku tidak lelah sayang, biarkan aku melakukan ini. Kamu merasakan sakit sendirian demi buah hati kita. Kenapa aku harus merasa lelah melakukan semua ini? Aku sebenarnya heran padamu. Kenapa tidak melahirkan cesar saja? Aku sudah tidak sanggup melihatmu kesakitan!" ujar Rafa sembari berbaring di samping Hana. Rafa memeluk tubuh Hana, tangannya sudah tidak mampu menggapai seluruh tubuh Hana.


" Aku tidak ingin melewatkan jalanku masuk surga. Setiap rasa sakit yang kurasakan, sudah ada balasan sendiri. Bahkan jika aku tiada saat melahirkan, surga menjadi ganjaranku. Lalu kenapa aku ragu untuk merasakan sakit? Kecuali kondisi bayiku tidak baik, aku akan melakukan operasi!" ujar Hana, Rafa menggeleng lemah. Rafa membenamkan kepalanya dipunggung Hana.


"Seandainya aku mampu merasakan setengah rasa sakitmu. Mungkin aku akan lebih tenang dan kelak bisa lebih menghargaimu. Suara rintihanmu seolah menyayat hatiku. Jujur aku tidak sanggup!"


"Kak Rafa harus sanggup, agar kelak saat ingin menyakitiku. Kak Rafa mengingat suara rintihanku, sehingga berpikir dua kali untuk menyakitiku. Kak Rafa harus tahu yang kualami sekarang, juga dialami para ibu. Mereka berjuang melahirkan seorang putra. Mereka bertaruh nyawa demi janin yang tumbuh dalam rahimnya selama sembilan bulan lebih. Jadi sangat tidak mungkin, kami para ibu menyerah setelah sembilan bulan berjuang!"


"Sayang, aku tahu jika tidak mungkin kamu menyerah sekarang. Aku sangat mengenal dirimu, lebih dari siapapun? Keras kepalanya dirimu, mampu mengalahkan watak kerasku. Aku hanya ingin kamu tidak terlalu kesakitan!" ujar Rafa, Hana tersenyum. Dia melihat kecemasan dikedua mata Rafa.


"Kak Rafa, suara rintihanku akan semakin mengikat diriku dengan buah hati kita. Kelak dia akan bisa merasakan, rasa sakitku tanpa aku mengatakannya. Setiap tetes keringatku, akan terbayar dengan suara tangis pertama putra kita. Darah yang mengalir, akan kering berganti dengan wajah mungil putra kita. Tidak akan ada balasan yang lebih indah. Putra kita akan terlahir, pengikat hubungan kita. Aku tidak akan menyerah sekarang. Aku akan berjuang sampai dia terlahir!"


"Sayang, melihatmu berjuang seperti ini. Aku mengingat betapa lemahnya diriku dulu. Mama pergi sebelum aku bisa membahagiakannya. Selama hidupnya dia tersenyum dengan hati yang menangis. Dia sehat dengan jiwa yang penuh luka. Satu hal yang membuatku menyesal sampai sekarang. Aku belum mampu membuatnya bahagia. Hanya amanah terakhirnya yang kupegang teguh. Menjaga papa dan Kiara, adik sambungku. Setidaknya aku masih bisa memandang nisan mama sampai sekarang!"


"Kak Rafa, seandainya aku bisa bertemu dengan mama Ainun. Mungkin aku bertemu seorang istri yang teguh memegang cintanya. Meski dia tak pernah dianggap. Jika aku mengalami semua itu, sungguh aku takkan pernah sanggup. Aku akan lebih memilih mundur dan mengalah. Asalkan kepergianku membuat suamiku bahagia. Tidak mudah berbagi, sebab hati hanya satu dan takkan mungkin bisa dibagi!"


"Aku tidak akan membuatmu berada pada posisi seperti itu. Aku akan berusaha menjaga cinta kita. Bukan janji yang aku berikan, tapi sebuah keyakinan jika kamu satu-satunya dihatiku!" ujar Rafa, lalu merangkul Hana yang tidur dalam pelukannya. Hana tidur berbantalkan tangan kekar Rafa.


"Kak Rafa!"


"Hmmm!"


"Kak Rafa, perutku sakit sekali. Mungkin sudah saatnya. Aku tidak tahan lagi!" ujar Hana, sonfak Rafa berdiri. Dia melihat air ketuban Hana pecah. Rafa bingung harus melakukan apa?


"Kak Rafa, sakit.....!" teriak Hana, menarik tubuh Rafa.

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😊😊😊


__ADS_2