KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Vania Aulia Azzahra


__ADS_3

Kurang lebih seminggu faiq dan rekan sesama dokter berada di pesantren Rizal. Davina dan Annisa terlihat betah di pesantren. Namun terkadang Davina kesal melihat kedekatan antara Faiq dan Vania. Keduanya selalu terlihat kompak melakukan apapun. Faiq selalu memperhatikan sikap Davina. Sedikit demi sedikit Faiq mulai menjaga jarak dengan Vania. Namun kedekatan keduanya sudah terjalin sejak kecil. Pribadi yang pendiam membuat keduanya mudah akrab. Bahkan terkadang kedekatan keduanya disalah artikan orang yang melihat. Semua mengira Vania tak lain calon istri Faiq, bukan sepupunya. Sedangkan Vania sejak kecil hanya mengenal Faiq. Dia tidak pernah berteman dengan lawan jenis. Kehidupan di pesantren seolah tidak mengizinkan semua itu terjadi. Vania terbiasa hidup jauh dari laki-laki. Vania merasa nyaman saat dia tidak mengenal lawan jenis.


Vania Aulia Azzahra putri pertama Rizal dan Kiara. Dia tumbuh besar di lingkungan pesantren. Setelah lulus SMU Vania pergi ke luar negeri. Dia menimba ilmu agama di salah satu negara islam. Vania kuliah di salah satu kampus terbaik di negara itu. Vania pulang setelah pendidikannya selesai. Penampilannya kini telah berubah. Cadar menutup sempurna wajahnya kini. Tak lagi terlihat paras cantiknya. Faiq sempat tidak mengenali Vania, tapi satu hal yang tidak berubah. Pribadi dingin yang sama dengan Faiq. Salah satu alasan yang membuat keduanya sangat dekat. Pribadi yang pendiam, tapi ringan tangan. Keduanya memiliki hati yang mulia. Tidak ingin mereka melihat orang lain susah. Mereka selalu iba akan kesusahan orang lain.


Setelah seharian memeriksa para santri dan santriwati di pesantren. Faiq selalu melepaskan lelah dengan duduk santai di pondok kecil tepat di depan rumah Rizal. Hampir setiap malam Faiq duduk menatap langit. Bintang dan bulan yang menghisi langit malam, serta dinginnya angin malam. Membuat Faiq merasa tenang dan damai. Suara binatang malam yang saling bersahutan. Terdengar indah di telinga Faiq. Harmoni nada malam yang tidak akan mampu ditiru dan didustakan. Semua tercipta begitu nyata dan menenangkan bagi yang memandangnya. Faiq tidak menyadari, jika Vania sedang berjalan ke arahnya. Vania dan Faiq selalu menjadi tim yang kompak. Mereka selalu membantu siapapun yang membutuhkan? Tangan mereka akan ringan bila membantu sesama.


"Kopi!" sapa Vania, Faiq menoleh sembari menerima secangkir kopi yang ditawarkan Vania. Faiq mempersilahkan Vania duduk di sampingnya. Keduanya menikmati indahnya malam dengan secangkir kopi. Meski mereka sangat akrab. Namun mereka tidak mudah mengeluarkan isi hatinya. Keduanya hanya kompak dalam hal menolong orang lain. Bukan dalam hal masalah pribadi. Faiq tetap pribadi yang tidak mudah mengatakan isi hatinya pada siapapun?


Faiq dan Vania selalu menatap langit malam. Ketika keduanya merasa sepi dan gelisah. Dua pribadi yang sama dengan cara berpikir yang sama. Baik Faiq atau Vania memiliki sifat yang acuh satu sama lain. Namun sikap mereka itu yang membuat mereka semakin dekat. Vania tidak bisa dekat dengan Fathan. Padahal Fathan selalu hangat pada siapapun? Vania merasa sulit memahami cara berpikir Fathan. Walau sebenarnya Fathan pribadi yang mudah ditebak. Namun sikap hangat Fathan membuat Vania canggung. Dia lebih nyaman bila bersama dengan Faiq. Pribadi yang sangat dingin dan acuh.

__ADS_1


"Terima kasih!" sahut Faiq lirih, lalu kembali memandang langit malam ini. Faiq dan Vania larut dalam angan mereka masing-masing. Secara perlahan tapi pasti, jarak diantara keduanya mulai terasa. Apalagi Faiq merasa perlu sedikit menjauh dari Vania. Agar Davina tidak terlalu terluka. Sebaliknya Vania mulai memahami batasan diantara mereka. Batasan yang seharusnya ada diantara perempuan dan laki-laki. Namun kedekatan mereka tidak mudah dipisahkan. Seandainya mereka bukan saudara, mungkin keduanya sudah menjadi pasangan suami istri. Kedekatan mereka akan tetap hanya sebatas saudara. Takkan pernah ada yang lebih.


"Kamu tetap sama, mencurahkan seluruh kesedihan dan rasa lelahmu pada langit. Seandainya langit bisa mengeluh, mungkin sekarang dia akan mengeluh. Sebab hampir setiap hari mendengar keluh kesahmu!" ujar Vania lirih, Faiq tersenyum simpul mendengar perkataan Vania. Sembari menyeruput kopi buatan Vania. Faiq terus menatap lukisan langit malam yang begitu indah. Vania memahami Faiq secara luar dalam. Bagaimana sikap Faiq saat ada masalah? Atau pada siapa Faiq akan berani berkata jujur? Semua memahami kegelisahan Faiq dengan hati. Dia selalu paham saat Faiq cemas dan gelisah. Meski Vania mengetahui saat Faiq terluka. Namun Vania tidak pernah ikut campur. Vania menghargai diam Faiq. Vania selalu sabar menunggu Faiq mengatakan semua isi hatinya. Jika Faiq tetap diam, itu artinya masalah yang dihadapi Faiq tidak pantas diketahui oleh orang lain.


"Mungkin juga langit akan menangis mendengar keluhanku setiap malam. Kamu sudah mengetahui, aku bukan pribadi yang bisa menceritakan masalahku pada siapapun? Termasuk pada mama, orang yang sangat aku kagumi. Hanya pada langit malam aku bisa bercerita. Sebab dia cerminan hatiku, gelap dan sunyi. Aku melihat diriku yang dingin, meski cahaya bulan dan bintang ingin menyinarinya. Tapi langit tetap gelap dan dingin. Seperti hatiku yang masih gelap, meski cinta Davina ada untuk menyinarinya!" ujar Faiq, Vania tersenyum di balik cadarnya. Dia menoleh melihat tatapan tajam Faiq. Tatapan yang menyimpan kebimbangan akan hatinya pada Davina. Rasa takut kehilangan membuat Faiq merasa gelisah. Meski dia mengetahui pasti, Davina sangat mencintainya. Namun sikap dingin Faiq selama ini. Membuatnya rendah diri, dia takut kehilangan cinta Davina. Vania diam mendengarkan keluhan Faiq. Mencoba memahami Faiq yang sedang bimbang.


"Faiq, sebesar itu cintamu pada Davina. Sampai kamu takut jika kelak akan menyakitinya dengan sikap dinginmu. Aku menyadari sedingin atau sekeras hati seseorang. Kelak akan ada hati yang mampu menghangatkan dan melunakkannya. Sekarang aku melihat arti cinta yang sesungguhnya. Kamu mencintai Davina, tapi kamu tidak pernah berharap bersamanya. Namun kamu harus percaya padaku. Jika Davina akan bisa menghangatkan dingin hatimu. Cinta Davina akan menyinari hari-harimu. Sesungguhnya sangat tidak perlu kamu ragu akan ketulusan cinta diantara kalian!" ujar Vania, Faiq mengangguk. Terdengar napas panjang Faiq. Dia menghela napas sepangjang mungkin. Dia ingin mengelurkan beban pikiran yang sejak kemarin mengganjal dalam benaknya. Entah kenapa pikirannya menjadi kacau? Davina membuat hidupnya gelisah. Tidak ada yang mengetahui seberapa besar cinta Faiq pada Davina. Tapi satu hal yang pasti, hanya Davina yang bisa membuat Faiq berantakan. Dia wanita yang mengusik hari-hari Faiq. Tidak akan ada wanita lain yang bisa membuat Faiq berpaling.


"Dia bahagia dengan cintamu, tapi dia belum yakin akan hatimu. Dia masih ragu, hatimu telah sepenuhnya menjadi miliknya. Davina bukan berubah, dia hanya ragu bersikap seperti apa? Dalam cinta ada rasa takut kehilangan. Rasa itu yang membuat Davina bersikap seperti orang lain. Selama aku mengenalnya, dia pribadi yang baik. Cintanya padamu membuatnya bersikap hati-hati. Dia tidak ingin kamu marah dan meninggalkannya. Bahkan saat kita duduk berdua seperti sekarang. Davina hanya akan dia mengawasi, menahan semua amarah dan rasa cemburu. Meski dia harus menahan air matanya sampai dadanya terasa sesak. Davina akan melakukannya, semua itu keajaiban cinta. Jika Davina menjadi dewasa di depanmu. Kenapa kamu tidak belajar bersikap hangat di depannya? Sadarlah Faiq, dia makmum yang akan ada di belakangmu. Kelak padanya kamu menunjukkan tangis dan tawa. Percayakan hatimu padanya. Dia makmum yang akan mengikuti langkah kakimu!" ujar Vania, Faiq mengangguk pelan. Faiq menoleh ke arah Davina yang berdiri menyandar pada pintu. Ingin rasanya Faiq berlari memeluknya, tapi ada batasan yang menghalangi keduanya. Davina mungkin ada dalam hatinya, tapi Davina tetap bukan mukhrimnya. Semua yang Faiq rasakan pada Davina masih sangat tidak pantas. Namun bila ikatan suci sudah terjadi. Tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka.

__ADS_1


"Vania, cinta itu indah tapi menakutkan. Sekarang aku serasa sesak jauh dari dirinya. Namun aku takut kehilangan kendali bila ada di dekatnya. Sungguh jangan bermain dengan cinta bila hanya sekadar napsu. Aku tidak mungkin bersikap hangat padanya. Sikap dinginku caraku menjauh darinya. Setidaknya sampai ada ikatan suci diantara kami!" ujar Faiq lirih. Vania mengangguk mengerti, dia berdiri meninggalkan Faiq.


"Faiq, cinta itu memang indah dan tidak menakutkan. Namun pecinta yang lemah dalam iman yang akan merasa itu menakutkan. Jika memang semua sudah tidak bisa ditahan. Alangkah baiknya ikatlah cinta itu dalam ikatan pernikahan. Jangan pernah lupa, kita tidak pernah mengetahui apa yang terjadi besok? Yakinkan bunda Hana, pernikahan kalian harus segera terlaksana. Sebelum hawa napsu merusak kesucian cintamu!" ujar Vania, lalu berjalan menjauh dari Faiq. Meninggalkan Faiq dengan angan yang jauh ke masa depan.


Sejak awal Vania duduk bersama dengan Faiq. Davina berdiri mematung menatap keduanya. Ada rasa marah dan cemburu. Namun Davina sadar Faiq dan Vania saudara. Tidak akan ada rasa selain persaudaraan.


"Kenapa dia bisa senyaman itu dengan Vania? Sedangkan bicara denganku, lima menit saja seakan satu jam. Selalu menghindar dan marah bila bersamaku. Apa ini yang dinamakan cinta? Kenapa aku merasa tidak adil? Aku menahan rasa cemburu , sedangkan dia duduk dengan santai bersama Vania. Padahal jelas dia melihatku tadi!" gerutu Davina, Annisa tersenyum mendengar Davina menggerutu. Dia menghampiri Davina, memberikan sebotol air mineral.


"Sebab nyaman dan cinta itu berbeda. Jika dia nyaman dengan Vania, sebab mereka sama dalam sifat dan cara berpikir. Namun jika denganmu Faiq merasakan cinta. Sebab dalam dirimu, Faiq menemukan perbedaan yang membuatnya bahagia!" ujar Annisa lirih, Davina menoleh dengan terkejut. Davina melihat Annisa tersenyum ke arahnya, sebaliknya Davina menggeleng lemah.

__ADS_1


"Jika dia mencintaiku, kenapa dia tidak bisa nyaman bersamaku. Bukankah itu artinya, Kak Faiq merasa aku tidak bisa memahami hati dan pikirannya!" ujar Davina lirih.


"Bukan kamu tidak pantas, tapi pribadi seperti Faiq dan Annisa memiliki cara pandang yang berbeda. Begitu jugq Vania yang akan merasa nyaman bicara pada Faiq. Daripada mengatakannya pada kami orang tuanya!"


__ADS_2