KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Akad Nikah


__ADS_3

"Faiq, apa kabar?" sapa Faiz ramah, seketika Faiq menoleh saat mendengar ada suara yang memanggilnya. Faiq melihat Faiz berdiri tepat di belakangnya. Sontak Faiq memeluk Faiz, keduanya saling melepas rindu. Ada rasa heran saat Faiq melihat Faiz ada di KUA.


Sebenarnya pagi ini Faiq datang ke KUA tempat Vania melaksanakan ijab qobul. Faiq datang sebagai saksi dari pihak Vania. Sedangkan wali Vania tetap Rizal ayahnya. Faiq dan Faiz saling mengenal sejak dulu. Keduanya kuliah di negara dan kota yang sama. Bahkan Faiq dan Faiz tinggal di lingkungan yang sama. Namun mereka kuliah di kampus yang berbeda dan jurusan yang tak sama. Faiq datang ke negara itu, untuk mendapatkan gelar spesialis. Sedangkan Faiz kuliah, untuk mengejar S2 dalam ilmu agama. Usia yang tidak terlalu berbeda, membuat keduanya akrab layaknya adik dan kakak. Berasal dari negara yang sama dan hidup sendiri di negara orang lain. Menjadi dasar keduanya menjalin persaudaraan.


"Faiz, alhamdulillah aku baik-baik saja! Akhirnya kita bertemu setelah sekian lama. Aku sempat ke rumahmu, tapi kamu sedang bertugas di luar kota. Aku pikir kamu akan lama di luar kota. Jadi aku tidak datang lagi mengunjungimu. Sekarang malah aku bertemu denganmu, saat aku tidak berharap bertemu denganmu!" tutur Faiq, Faiz tersenyum mendengar perkataan Faiq. Memang benar Faiz bertugas di luar kota. Dia baru kembali ke kota ini setelah dua tahun di luar kota. Faiz tak lain kepala KUA tempat Vania akan melaksanakan ijab qobul. Memang sejak dulu, Faiz unggul dalam hal agama. Selain sebagai kepala KUA yang masih sangat muda. Dia merangkap sebagai salah satu dosen di Universitas Islam terbaik di kota ini.


"Aku baru dua bulan di kota ini. Aku menjabat sebagai kepala KUA sementara. Sebab kepala yang lama baru saja pensiun. Aku juga membuka cafe dekat dengan SMP kita. Masih ingat dengan impianku, membuka cafe hanya demi bertemu dengan gadis tomboyku!" ujar Faiz, Faiq mengangguk mengerti. Dia mengingat jelas alasan Faiz ingin menjadi orang sukses. Faiz menceritakan cinta monyetnya pada gadis tomboy sewaktu SMP dulu. Faiz ingin menjadi orang sukses, agar bis layak menjadi imam sang gadis. Faiq bangga akan keteguhan hati Faiz yang mencintai sang gadis. Meski tak pernah keduanya saling mengucap janji. Bahkan tidak ada kata saling setia. Faiz tetap setia akan rasanya pada sang gadis. Namun satu hal yang tidak pernah Faiz ceritakan. Nama sang gadis, seandainya Faiz menceritakan nama sang gadis. Tentu sudah lama dia bertemu dengan gadis impiannya. Gadis yang tak lain adik Faiq sendiri, Vania Aulia Azzahra.

__ADS_1


"Aku ingat, apa kamu bertemu dengannya? Apa kamu sudah mengatakan cinta padanya? Kapan kamu akan melamarnya? Lalu apa dia akan menjadi istrimu!" cecar Faiq tanpa jeda, Faiz menggeleng lemah sembari tertawa mendengar Faiq yang bicara tanpa dijeda. Dengan perlahan Faiz memutar tubuh Faiq. Dia menunjuk ke arah Vania yang sedang duduk menunggu gilirannya. Raihan berdiri tidak jauh dari Vania. Dia sedang menerima telpon dari seseorang. Faiq heran saat melihat Faiz menunjuk Vania. Lalu dia menoleh berharap mendapat jawaban maksud dari sikapnya.


"Dia wanita yang aku impikan. Wanita yang pernah aku harap menjadi makmumku. Alasanku ingin menjadi orang sukses. Agar aku bisa membahagiakan dirinya. Vania Aulia Azzahra, wanita yang pagi ini akan aku nikahkan dengan calon imamnya!" tutur Faiz tegar, sontak Faiq menoleh menatap Faiz. Faiq terkejut sekaligus tidak percaya. Jika Vania wanita yang selama ini dibicarakan Faiz. Wanita yang membuat Faiz selalu semangat menggapai impiannya. Semangat dikala Faiz mulai lelah dan menyerah. Insiprasi Faiz dalam menjalani hidup yang tidak mudah. Namun hari ini, Faiz harus memendam rasa sakitnya. Demi sebuah tugas yang sudah menjadi tanggungjawabnya.


Faiq hanya bisa diam melihat kenyataan pahit yang menimpa saudaranya. Faiz harus melihat gadis impiannya menikah, bahkan tangannya yang kelak menggenggam sang rival. Faiq melihat luka di balik ketegaran Faiz. Impian yang selama bertahun-tahun digenggamnya. Dalam sekejap hilang lenyap tak bersisa. Faiz tersenyum menatap Vania yang akan menempuh hidup baru. Meski hatinya menangis pilu. Faiq bisa merasakan betapa sakitnya hati Faiz. Selama ini dia menjadi saksi cinta Faiz pada Vania. Hari ini dia menjadi saksi, kandasnya cinta Faiz pada Vania. Sepahit inikah kenyataan yang harus diterima Faiz saudaranya.


"Faiq, aku tersenyum menertawakan kisah cintaku yang lucu. Bagaimana semua ini tidak lucu? Aku mencintai Vania yang tak lain adikmu. Namun aku tidak pernah menyadari dia begitu dekat denganku. Kini aku percaya, Allah SWT akan memberikan apa yang terbaik untuk hambanya yang taat? Bukan aku berpikir, Vania bukan wanita yang terbaik untukku. Namun kebersamaanku dengan Vania bukan yang terbaik. Dia yang jauh lebih pantas menjadi imam Vania. Selama ini aku tidak ikhlas menerima jalan yang tertulis untukku. Aku mengeluh akan hidup yang aku jalani. Aku kecewa saat aku tidak bisa mendekat pada Vania hanya karena status. Hari ini nyata aku melihat, ketika aku merasa layak untuk Vania. Semua tidak berarti lagi, sebab bukan aku yang terbaik untuknya!" tutur Faiz, Faiq menepuk punggung Faiz pelan. Seandainya Faiq tidak malu, mungkin dia sudah menangis merasakan pedih hati Faiz. Namun melihat ketegaran Faiz, Faiq yakin akan ada yang terbaik untuk Faiz.

__ADS_1


"Maafkan aku, dia adikku satu-satunya. Tidak mungkin aku membatalkan pernikahannya demi dirimu. Aku tidak mungkin menghancurkan kebahagiannya, meski aku tahu betapa sakitnya hatimu!" ujar Faiq lirih, dengan mengutas senyum Faiz menoleh pada Faiq. Seakan ingin mengatakan dirinya baik-baik saja. Tidak akan ada yang terjadi padanya. Kebahagian Vania akan menjadi kebahagiannya juga. Sebab cinta bukan memaksa, sebaliknya cinta keikhlasan menerima apapun yang terjadi.


"Siapa yang memintamu menghancurkan kebahagian Vania? Mari kita mendekat pada Vania. Aku harus mengucapkan selamat pada calon imam Vania. Aku belum sempat mengenalnya, meski aku sempat melihatnya!" ajak Faiz, Faiq hanya bisa mengangguk mengerti. Dia tidak akan mampu menenangkan Faiz. Dia mengenal Faiz pribadi yang tenang dan selalu diam menyimpan masalahnya. Faiq dan Faiz mendekat ke arah Vania dan Raihan yang sedang menunggu giliran. Sedangkan Faiz harus segera masuk untuk mulai menikahkan para calon pengantin.


"Vania Aulia Azzahra, selamat atas pernikahanmu!" ujar Faiz ramah sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Vania mendongak menatap Faiz yang berdiri tepat di depannya. Vania terkejut melihat kedatangan Faiz, apalagi dia sedang berdiri bersama Faiq. Keakraban keduanya jelas terlihat oleh Vania. Dengan anggukan kepala Vania membalas ucapan selamat Faiz. Dia kikuk melihat Faiz yang hadir dalam akad nikahnya. Raihan yang melihat Faiz dan Vania bicara langsung mendekat. Raihan berdiri di samping Vania. Tatapan tak bersahabat jelas terlihat dari kedua mata Raihan. Sebaliknya Faiz tersenyum melihat sikap Raihan. Dia menyadari rasa cemburu Faiz.


"Selamat atas pernikahan kalian. Aku datang bukan untuk memisahkan kalian. Sebaliknya aku ada untuk menyatukan kalian. Aku pernah berkata pada Vania. Bila kami bertemu, maka undanglah aku dalam pernikahannya. Hari ini tanpa undangan aku hadir dalam pernikahan kalian. Meski bukan aku yang menjadi imam Vania, tapi aku yang ajan menyatukan kalian berdua. Takdir Allah SWT sungguh indah, aku menjadi saksi cinta wanita yang aku cintai. Terlepas dari semua itu! Sekali lagi selamat dan semoga kalian bahagia!" ujar Faiz lalu pergi masuk ke dalam ruangan akad nikah. Raihan dan Vania tidak mengerti maksud perkataan Faiz. Faiq hanya bisa melihat punggung saudaranya pergi dengan hati yang hancur. Faiq mendekat ke arah Raihan dan Vania.

__ADS_1


"Dia Achmad Faiz Akbar, kepala KUA yang akan menikahkan kalian. Laki-laki yang mencintaimu dengan iman, tapi harus kalah oleh ketetapan yang tak bisa dia ubah. Dia berjiwa besar menikahkan kalian, meski hatinya hancur!" ujar Faiq lirih, Raihan dan Vania terdiam.


__ADS_2