KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Persetujuaan


__ADS_3

"Fathan, banyak yang ingin aku tanyakan padamu. entah ini sebuah keraguan atau alasan sebuah penolakan. Satu hal yang pasti, aku ingin mengakhiri gejolak dihatiku. Aku tidak ingin membuatmu terus menanti diriku yang tak sempurna. Aku ingin semua pertanyaan hatiku terjawab. Agar aku yakin akan rasaku padamu dan aku percaya dirimu memang ada untuk diriku. Dengan segala ketidaksempurnaan diriku!" tutur Annisa lirih, sembari menatap lautan lepas. Fathan mengangguk seraya menoleh pada Annisa. Dia menatap wanita bercadar yang telah mengusik hatinya. Fathan tidak terpikat akan kecantikan wajah. Melainkan kedua mata yang jernih penuh dengan iman. Mata yang hanya melihat apa yang halal untuknya? Keimanan seorang wajita yang menjadi landasan seorang laki-laki mencari makmum sejati dunia akhirat.


Sepulang dari pesantren, mobil Fathan berhentu di pantai laut lepas. Diiringi mobil Faiq dari belakang. Setibanya di tepi laut, Annisa langsung berjalan menuju pantai. Fathan meminta Faiq menunggu di sekitar mobi bukan di dalam mobil. Sebab Davina tertidur pulas. Mungkin karena pengaruh obat yang diberikan Faiq. Fathan menjauh dari Faiq dan Davina. Sedangkan Faiq berdiri bersandar pada bodi depan mobilnya. Dia tidak mungkin berada di dalam mobil bersama Davina. Namun dia juga tidak mungkin meninggalkan Davina sendirian di dalam mobil. Meski cuaca sangat panas, Faiq memilih tetap berada di luar mobil.


"Katakanlah semua isi hatimu. Ungkapkan semua keraguanmu padaku. Aku datang menemuimu pagi ini. Bukan ingin meyakinkan dirimu atau memaksa dirimu menerimaku. Semalam aku sudah memutuskan, apapun keputusanmu aku akan menerimanya. Rasaku untukmu tidak harus terbalaskan. Namun rasaku untukmu tidak boleh merugikan orang lain. Jadi aku putuskan mencari akhir rasa ini. Agar rasaku tidak menghancurkan hubungan diantara Faiq dan Davina. Mereka berhak bahagia, begitu juga dirimu. Kamu pantas mendapatkan laki-laki yang lebih baik dariku!" ujar Fathan, Annisa menunduk menatap pasir putih dan riak ombak yang menyentuh kakinya. Gamisnya basah karena air laut. Fathan menatap lekat Annisa. Sosok yang mengajarkan Fathan cinta. Dia juga yang akan memberikan luka yang sangat dalam pada Fathan.


"Aku tidak pernah mengerti jalan pikiranmu, yang berpikir akan ada cinta untuk wanita sepertiku. Selama ini aku hidup sendiri dan mandiri. Aku merasa tidak akan ada cinta dalam hidupku. Kudedikasikan hidupku untuk menjadi dokter. Bukan mencari cinta, tapi aku ingin memberikan kasih sayang pada pasien-pasienku. Aku nyaman dengan semua cinta yang ada disekitarku. Sampai aku bertemu denganmu. Kamu membuatku bermimpi akan cinta yang indah. Hubungan yang terdengar sangat membahagiakan. Merubah pikiranku tentang cinta yang tak pernah suci dan abadi. Sebuah rasa yang tidak kekal dan menghancurkan. Sehingga aku harus hidup dalam keluarga yang berantakan. Hidup tanpa kasih sayang dari seorang ibu. Saat aku menemukan cinta seorang ibu. Lagi dan lagi aku terluka. Aku harus pergi menjauh, karena kasih sayang yang kurindukan menyakiti hati ibu lain. Aku hidup tanpa cinta sebuah keluarga. Sekarang kamu datang menawarkan cinta diatas perbedaan yang nyata. Usia kita yang terpaut sangat jauh. Watak dan karakter kita yang berbeda. Tidak akan dengan mudah menyatu, meski hatimu memutuskan diriku yang terpilih. Hatiku kini ingin bersamamu, tapi pikiranku dan kenangan seolah membuatku takut terluka!" tutur Annisa, dia menunduk mengingat hidup yang sangat sulit untuknya.

__ADS_1


Fathan melihat tubuh Annisa bergetar. Terdengar suara isak tangis yang tertahan. Fathan tidak bisa melihat air mata Annisa. Rasa sedih yang tertutup sempurna dibalik cadarnya. Fathan merasa bersalah, cintanya bukan membuat Annisa bahagia melainkan terluka. Annisa takut terikat dalam pernikahan. Trauma pernikahan Naufal yang gagal. Membuat Annisa tidak percaya akan sucinya cinta.


"Fathan, kamu merubah duniaku menjadi rumit. Kini aku hanya memikirkan dirimu. Ada rasa ingin bersamamu. Hidupku dulu nyaman tanpa mengenal cinta. Namun kini aku bahagia, tapi takut kehilanganmu. Kini aku selalu tersenyum setiap kali menerima perhatianmu. Aku gelisah bila tak melihat keadaanmu. Mungkin aku mulai mencintaimu, tapi aku takut akan rasa sakit. Aku tidak ingin merasakan bahagianya cinta. Lalu sedetik kemudian aku menangis karena cinta. Anngaplah aku pengecut, tapi itulah aku. Mandiriku hanya untuk menutupi rasa takutku. Dinginku menyimpan rasa sepi yang tak bertepi. Kusimpan wajahku dibalik cadar, agar tak ada yang terpikat akan kecantikan semu dalam diriku. Namun keteguhanmu seolah mengatakan. Bukan wajah cantik yang mengikatmu padaku. Namun kecantikan hati dariku, wanita tak sempurna yang penuh dengan kelemahan. Darimu aku merasakan cinta, memahami arti mencintai. Sosokmu yang selalu mengusik sujudku. Kini imam yang tak pernah aku bayangkan. Ada dalam wujudmu, aku merindukan bimbingan darimu!" tutur Annisa lirih, Annisa meremas gamis panjangnya. Hijab panjangnya melambai tertiup angin. Suara ombak bagaikan suara hati Annisa. Penuh kegelisahan tanpa ada ketenangan.


"Annisa Maulida Zahro, maafkan jika kehadiranku membuatmu tersiksa. Aku tidak pernah berpikir. Rasaku akan membuatmu gelisah dan teringat akan masa lalumu. Sejujurnya jauh dari lubuk hatiku, aku semakin kagum setelah mendengar isi hatimu. Kamu selalu diam menyimpan semua duka. Kamu tersenyum meski hatimu sepi dan sunyi. Sekarang aku yang akan mengatakan semua pemikiran sederhanaku tentang cinta!" ujar Fathan, Annisa menoleh lalu mengangguk pelan. Faiq hanya memandang dari jauh. Berharap dua sejoli bisa menemukan satu kata dalam cinta mereka.


"Jika aku memintamu memilih antara aku dan mama Hana. Siapa yang akan kamu pilih?" ujar Annisa lirih, seketika Fathan menoleh. Dia terkejut dengan pertanyaan Annisa.

__ADS_1


"Aku akan memilih mama, maaf jika aku harus mengecewakanmu!" ujar Fathan tegas tanpa banyak berpikir. Annisa terdiam membisu, dia berpikir Fathan akan memilihnya. Ternyata Annisa salah, Fathan tetap laki-laki manja ya g mencari ibunya.


"Kenapa mama Hana? Artinya kamu melepasku demi orang tuamu!"


"Aku tidak pernah berharap berada pada posisi harus memilih. Namun seandainya aku harus memilih. Maafkan aku jika aku harus memilih mama. Bukan aku melepasmu demi mama, tapi bersamamu dan menyakiti mama. Sungguh aku tidak akan sanggup. Cinta yang kurasakan padamu sejati, tapi cinta mama padaku tulus tanpa meminta balasan. Denganmu aku ingin memulai hubungan yang suci. Namun hubunganku dengan mama abadi. Bukan tanganmu yang kugenggam saat aku terlahir, tapi tangan mama yang menuntunku ketika terjatuh. Pelukanmu yang ingin kurasakan, tapi pelukan mama yang ada menghangatkanku selama ini. Aku tidak akan melupakan hubungan lama demi hubungan yang baru. Cintaku besar padamu, tapi cinta mama jauh lebih berharga dari hidupku. Mama surga dunia akhiratku, sedangkan bersamamu aku ingin menuju surga-NYA!" tutur Fathan, Annisa menghela napas sangat panjang. Dia menoleh pada Fathan. Tatapannya bertemu dengan Fathan, mereka seakan mengucapkan cinta di udara.


"Jadikan aku makmummu. Sangat merugi diriku bila menolak pinanganmu. Seorang anak yang menghargai ibunya, tidak akan pernah sanggup menyakiti istrinya. Sebab dia mengerti setiap tetes keringat seorang istri hanya untuk kebaikan suaminya. Air mata yang mengalir untuk sang putra. Akan membuatnya menyadari pengorbanan sang istri!" ujar Annisa sembari membuka cadarnya. Fathan terperangah menatap wajah sang calon istri.

__ADS_1


"Pakai kembali cadarnu, aku tidak ingin melihat wajahmu. Biarkan cinta suci terus ada. Sampai aku menjadi imam dunia akhiratmu. Terima kasih kamu bersedia menerimaku!"


__ADS_2