
"Maaf semuanya, saya datang terlambat!" ujar Rafa sopan, semua yang hadir mengangguk pelan. Sebenarnya keterlambatan Rafa bukan tanpa sebab. Fathan tiba-tiba menangis saat Rafa akan berangkat ke kantor. Biasanya Fathan tidur saat Rafa ke kantor. Kebetulan pagi ini dia tidak tidur. Alhasil Fathan menangis saat Rafa akan berangkat ke kantor. Memang biasanya Fathan hanya sebentar bertemu Rafa. Saat Rafa ke kantor, Fathan terkadang tertidur Sebaliknya saat Rafa pulang, Fathan sudah tidur. Naluri seorang anak yang merindukan dekapan hangat sang ayah. Akhirnya membuat Fathan menangis saat akan ditinggal pergi ke kantor oleh Rafa.
"Tidak biasanya kamu terlambat Rafa. Ada masalah serius di rumah? Apa terjadi sesuatu pada Fathan atau Hana?" ujar Adrian cemas, Rafa menggeleng lemah. Semua orang menatap CEO muda berbakat. Tangan dinginnya mampu membuat perusahaan Prawira disegani. Terlihat Naufal menatap ke arah Rafa dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Hari ini diadakan rapat terbatas mengenai kerjasama perusahaan Prawira dengan perusahaan Wirawan. Naufal datang sebagai perwakilan rumah sakit yang kini dia ambil alih.
"Sebaiknya kita mulai rapat hari pagi ini. Jika ada yang ingin anda katakan. Saya akan mendengarkannya, setelah itu saya yang akan bicara. Saya rasa berkas yang sudah diberikan Adrian sudah bisa menjawab semua pertanyaan anda!" tutur Rafa santai, kedua tangannya menopang dagu. Layaknya seorang bos menunggu laporan para pegawainya. Rafa menunggu respon Ilham Fadli Wirawan sebagai pemilik perusahaan Wirawan.
"Rafa, papa rasa keputusanmu terlalu jauh. Seharusnya kamu tidak sekejam ini. Bagaimanapun mereka kerabat kita? Sudah sepantasnya kita membantu mereka. Bukan malah mengambil alih perusahaan mereka. Seakan kita tertawa diatas penderitaan mereka!" ujar Gunawan, Rafa menggeleng lemah. Dia menoleh pada Adrian, isyarat pada Adrian menerangkan semua kelemahan perusahaan yang berada di ujung tanduk.
Perusahaan Wirawan mulai goyah saat Ilham jatuh sakit. Perusahaan kehilangan pemimpin yang cekatan. Sedangkan putra pertama merekanya, Naufal menjauh dan lebih memilih menjadi dokter spesialis bedah. Perjodohan putrinya dengan Rama, tidak mampu membuat perusahaannya kembali pulih. Ditambah lagi sifat boros Mira yang tak bisa dibendung. Semakin membuat masalah perusahaan Wirawan semakin pelik. Puncaknya tanpa sengaja, Mira menghina Hana dan hampir mencelakai bayi yang dia kandung. Hana yang ternyata istri Rafa, harapan terakhir bangkitnya perusahaan Wirawan. Kemarahan Rafa berakhir dengan pembatalan dan sekarang pengambil alihan perusahaan Wirawan.
__ADS_1
"Laporan yang sudah anda terima, kondisi terkini perusahaan Wirawan. Takkan ada perusahaan yang berani berinvestasi atau mempercayakan proyek pada perusahaan anda. Semua tergantung keputusan anda, menerima tawaran kami atau membiarkan perusahaan anda berakhir!" tutur Adrian lirih, Naufal menaruh kasar berkas yang diberikan Adrian. Rafa melihat jelas sikap tidak suka Naufal. Usia Rafa dan Naufal tidak terlalu jauh, tapi sepak terjang Rafa di dunia bisnis tidak bisa diragukan lagi. Meski usia yang masih muda, Rafa sudah mampu memperkirakan proyek mana yang bisa berhasil atau gagal. Perhitungan Rafa hampir selalu tepat, meski terkadang ada satu dua yang luput.
"Tuan Naufal, jika anda mempunyai masalah katakan saja. Tidak ada niat saya ingin mengambil alih perusahaan ini. Jika anda merasa keberatan, kita batalkan perjanjian itu. Semua tergantung keputusan anda berdua. Jika anda merasa mampu mengelola perusahaan ini. Silahkan saja tidak akan ada yang keberatan!" ujar Rafa lirih, Naufal menatap Rafa datar. Tak ada lagi ekspresi yang bisa ditunjukkan pada Rafa. Semua perhitungan Rafa benar adanya, kondisi perusahaan ayahnya diambang kehancuran. Meski Rafa mengambil alih belum tentu bisa pulih.
"Aku tidak pernah tertarik akan perusahaan ini. Harta yang membuat keluargaku berhutang kata maaf pada dua nyawa. Maaf yang takkan pernah bisa mereka dapatkan. Meski setiap hari mereka menangis di depan nisan, semua sudah sangat terlambat. Seandainya hari ini anda sebagai orang berpengalaman. Berani mengambil alih perusahaan ini semata-mata demi membantu. Bukan demi keuntungan, ada seseorang yang membuat anda mampu mengambil keputusan sebesar ini. Hanya satu yang ingin aku tahu. Apa yang akan terjadi pada rumah sakit? Jika aku boleh meminta, izinkan aku mengelolanya. Anggap saja aku meminjam dana, agar aku bisa mengelolanya. Jika sudah berkembang, aku akan mengembalikan dana yang aku pinjam!" ujar Naufal, Rafa terdiam mematung menatap Naufal. Ada rasa heran, kenapa seorang Naufal bisa meminjam dana darinya? Ilham hanya diam membisu, mendengar putranya tak lagi menginginkan perusahaan keluarganya.
"Aku bisa memberikan modal awal rumah sakit. Tanpa perlu kamu kembalikan, aku melakukannya untuk sesama yang membutuhkan. Namun beri aku satu alasan, kenapa kamu memilih rumah sakit daripada perusahaan keluargamu? Sebagai putra sulung keluarga Wirawan, bukankah seharusnya kamu lebih mementingkan perusahaan keluargamu. Bukan hanya rumah sakit, yang secara keuntungan materi tidak seberapa!" ujar Rafa, Naufal tersenyum simpul. Sebab dengan mudah Naufal akan menjawab pertanyaan Rafa. Baik Naufal dan Rafa memiliki alasan yang sama, demi orang yang sama pula.
"Kalian berdua bicara semakin melantur. Rafa, sebaiknya kamu pertimbangkan lagi keputusanmu!" ujar Gunawan, Rafa menoleh lalu menggeleng. Rafa akan tetap mengambil alih perusahaan atau tidak sama sekali. Ilham membisu melihat jawaban Rafa. Pupus sudah harapan Ilham membangkitkan kembali perusahaan Wirawan.
__ADS_1
"Tuan Naufal, kenapa anda diam? Sekarang katakan, alasan dibalik keteguhanmu memilih rumah sakit!" ujar Rafa penasaran, Naufal mengangguk seraya tersenyum. Semua orang membisu, tak ada lagi yang mampu berkata-kata. Semua sudah final, tak mungkin lagi bisa dirubah.
"Hana, alasan terbesarku tetap mempertahankan rumah sakit itu. Dia orang yang membuatku lebih rela kehilangan perusahaan daripada rumah sakit. Air mata yang pernah menetes di lantai rumah sakit. Menjadi semangatku untuk tetap mendirikan rumah sakit itu. Kedua tangan Hana yang menangkup, menghiba meminta pertolongan kala itu. Menampar diriku bahwa aku harus bisa menjadi penolong, bukan dokter yang haus akan harta dan pujian. Dulu aku lemah, tapi hari ini aku harus bisa menolong sesama. Pertemuan terakhirku dengan Hana kala itu. Meninggalkan satu permintaan kecil. Dia ingin melihatku menjadi obat untuk semua orang. Agar tak ada lagi ai miskin yang terlantar dan si kaya yang teristimewa. Sebab obat tetaplah obat untuk mwnyembuhkan. Tanpa peduli untuk si kaya dan si miskin!" tutur Naufal, Rafa mengangguk pelan. Entah kenapa tidak ada amarah atau rasa cemburu? Rafa bangga pada Hana, dia mampu menjadi semangat dua orang yang mencintainya. Bukan untuk menjadi pribadi yang lebih buruk. Namun untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat.
"Baiklah, hari ini Adrian akan meninjau rumah sakit. Aku akan menandatangani proposal pengembangan rumah sakit. Aku tidak meminjamkan modal ini, tapi aku berpesan gunakan sebaik mungkin. Jika istriku bisa memintamu menjadi obat untuk si kaya dan ai miskin. Maka aku bisa menjadi langit untuk mereka. Kita dua laki-laki mengagumi satu wanita. Dengan pola pikirnya dia bisa membuat kita lebih berarti!" ujar Rara, lalu meninggalkan ruang rapat. Adrian mengekor dibelakangnya.
" Tuan Rafa, genggam tangan Hana sekuat mungkin. Jika terlepas darimu, maka akan banyak tangan yang siap menggenggamnya. Terutama diriku!" ujar Naufal, Rafa diam membisu. Adrian menepuk pundak Rafa.
"Yakinlah cinta kalian kuat!" bisik Adrian, Rafa mengangguk lemah.
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊