KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Pertemuan


__ADS_3

Setibanya Hana di rumah, Rama memanggilnya. Dia meminta waktu untuk berbicara berdua. Hana enggan menerima permintaan Rafa. Dengan terpaksa Hana menyetujui. Namun Hana mengajak Rama pergi dari rumah. Mereka memutuskan berbicara di cafe tak jauh dari rumah Hana.


Rama sengaja datang mengunjungi Hana. Selain ada yang ingin dia sampaika. Ada juga undangan dari SMU tempat Hana mengenyam pendidikan dulu. SMU Hana akan mengadakan bakti sosial untuk warga terdampak banjir. Di salah sati desa yang sedikit terpencil. Hana dan Rama dua orang yang sama dalam hal membantu sesama.


"Hana, maaf telah mengganggu waktumu. Aku tahu jika mungkin kamu lelah, karena baru saja pulang kerja!" ujar Rama cemas, tatapan Rama mengunci wanita yang hampir saja menjadi istrinya. Restu yang tak kunjung datang, membuat jalan terjal menuju sebuah pernikahan.


"Tidak apa-apa kak Rama? Katakan saja apa yanga ingin kak Rama sampaikan!" ujar Hana sopan, dia sengaja mengajak Rama menuju cafe. Agar mereka berdua tidak sendiri. Hana melihat jelas kegelisahan seorang Rama. Laki-laki yang dengan tegas mengkhitbahnya. Namun jalan takdir malam mempertemukannya dengan Rafa.


"Hana, seminggu lagi aku akan bertunangan. Aku dijodohkan dengan salah satu putri sahabat ayah. Aku sekali melihatnya, dia cantik dan berpendidikan. Namun aku tidak bisa membohongi hatiku. Jika aku masih mencintaimu. Aku tidak bisa menjalin hubungan dengan wanita lain!"


"Kak Rama, jodoh kita sudah berakhir. Sejak tanganku menerima tangan laki-laki lain. Dia kini yang halal untukku. Sangat tidak mungkin jika Kak Rama harus terus terpuruk. Dengan kisah yang sudah lama berakhir. Aku tidak memaksamu menerimanya. Namun jangan kamu terus larut dalam keterpurukan. Kita sudah berakhir" ujar Hana, Rama tertunduk lesu. Dia mengaduk-aduk kopi pahit yang dipesannya. Namun pahitnya kopi, tidak sepahit hidupnya.


"Hana, aku tidak bisa memulai sesuatu selama hatiku belum yakin. Katakan padaku, adakan sedikit rasa sayangmu untukku!" ujar Rama, Hana menggeleng lemah. Rama terhenyak melihat gelengan kepala Hana. Meski sebenarnya dia sudah merasa bahwa Hana tidak pernah mencintainya.


"Maaf kak Rama! Jika aku boleh jujur, aku tidak pernah mencintaimu. Aku menganggapmu tidak lebih seorang kakak. Aku tidak pernah mengenal arti sebuah cinta!"


"Terima kasih Hana, kamu bersedia jujur. Meski hatiku sakit, tapi setidaknya kini aku yakin menjalani hidupku lagi. Menata kembali hati yang hancur. Kamu wanita pertama yang mengetuk hatiku, wanita yang ingin aku lindungi. Sekarang kamu sudah menemukan pelindungmu. Jadi aku sudah bisa hidup dengan tenang!" ujar Rama mantap, Hana mengangguk. Ada rasa lega di hati Hana. Rama bisa kembali menata hidupnya yang pernah hancur. Hana tidak ingin menjadi alasan sebuah hati yang hancur.


"Kak Rama, jika semua sudah selesai. Izinkan aku pamit pulang. Aku takut terlalu malam!" ujar Hana sopan, Rama melihat jelas ada yang disembuyikan Hana. Mungkin pernikahannya tidak bahagia.

__ADS_1


"Hana, biarkan aku mengantarmu dengan berjalan kaki. Apa suamimu hari ini datang? Mungkin aku bisa mengenalnya!" ujar Rama sopan, Hana menggeleng lemah. Dia tidak pernah berpikir ingin mengenalkan Rama pada Rafa. Dia tidak ingin kehormatan Rafa tercemar. Sebaliknya Rama ingin melihat laki-laki yang telah merebut Hana darinya. Seorang suami yang mencampakkan istrinya.


"Maaf kak Rama, suami Hana tidak tentu pulang ke rumah. Tapi sepertinya hari ini dia tidak akan pulang. Tadi sore Hana sudah bertemu dengannya" ujar Hana sopan, Rama mengangguk pelan. Dia mengeluarkan selembar kertas. Di sana tertulis nama Hana. Rama menyerahkannya pada Hana.


"Apa ini kak?" ujar Hana sesaat setelah menerima kertas dari Rama. Mirip sebuah undangan, Hana berharap ini undangan pernikahan Rama.


"Itu undangan dari SMU kita. Mulai besok SMU kita akan mengadakan bakti sosial selama seminggu. Jika kamu berkenan, bergabunglah dengan kami. Selama di saba kita membantu menyiapkan makanan untuk para korban dan relawan yang ada di sana!"


"Hana belum bisa memastikan akan ikut atau tidak. Besok jika memang Hana ikut, aku akan langsung datang ke sekolah!" ujar Hana lirih, Rama mengangguk. Setelah membayar minuman yang Rama pesan. Mereka berdua memutuskan pulang. Rama memaksa ingin mengantar Hana. Dengan terpaksa Hana menerima tawaran Rama.


Sesampainya di rumah Hana, Rama langsung pamit undur diri. Dia tidak ingin terlalu lama di depan rumah Hana. Takut orang yang melihat akan salah paham. Hana memasuki rumahnya dengan perlahan.


"Kak Rafa!" sapa Hana lirih, tubuh Hana mulai bergetar. Dia sangat takut bertemu Rafa, apalagi dalam kondisi emosi seperti ini.


"Kenapa kamu kaget melihat aku ada di sini. Apa Rama jauh lebih baik dariku? Sehingga jamu menolak tawaranku, tapi kamu menerima jalan bersama dengannya. Mungkin aku laki-laki brengsek, tapi setidaknya aku mengakui. Namun lihat dirimu, kamu sok suci. Meski sudah bersuami, tapi masih bisa jalan dengan laki-laki lain" ujar Rafa emosi, Hana terdiam mendengar perkataan Rafa. Meski semua itu benar, tidak seharusnya Rafa berkata sekasar itu. Hana tertunduk malu, semua perkataan Rafa seolah meragukan kesucian hatinya.


"Kenapa kamu diam saja? Jawab pertanyaanku. Apa kamu masih mencintainya? Sekarang kamu menyesal menikah dengan laki-laki brenggsek sepertiku!" ujar Rafa emosi, mata Rafa memerah penuh amarah. Rasa cemburu mengusai hatinya. Semula Rafa ingin meminta maaf, tapi malah melihat Hana bedua dengan mantan tunangannya.


Sebaliknya Hana sudah sangat ketakutan. Dia mundur hingga menabrak pintu rumahnya. Hana bingung harus menjelaskan seperti apa? Penjelasan hanya akan menjadi sebuah alasan. Jika Rafa tetap dipenuhi amarah. Hana terdiam mematung, meremas erat hijab panjangnya. Hana menggigit bibirnya, tubuhnya mulai bergetar hebat.

__ADS_1


Rafa melihat perubahan sikap Hana. Dia heran melihat Hana yang seolah takut kepadanya. Rafa melihat tubuh Hana bergetar hebat, ada rasa iba di hatinya. Rafa mencoba mendekat. Dia memegang pundak Hana.


"Jangan pegang aku!" teriak Hana histeris, Rafa terkejut melihat Hana ketakutan melihatnya. Rafa mundur beberapa langkah. Dia mencoba mengalah.


"Hana, tenangkan dirimu. Aku salah, aku minta maaf. Tapi aku mohon jangan seperti ini. Kamu membuatku cemas!" ujar Rafa, Hana diam tak bergeming. Kedua saling menatap, tanpa bisa menyentuh. Hana melihat sisi lain seorang Rafa. Sedangkan Rafa melihat ketakutan di kedua mata Hana.


"Kak Rafa, Hana minta maaf telah melukaimu. Tapi jangan marah pada Hana, aku sangat takut. Mungkin aku wanita rendahan, tapi aku bukan wanita murahan. Jangan pernah nilai aku semudah itu. Hanya karena kak Rafa melihatku berdua dengan Rama. Mungkin kita memang berbeda. Aku berteman dengan para pelayan. Kak Rafa berteman dengan para bos. Kita ada dalam dua dunia yang berbeda!" ujar Hana lirih, hatinya terasa ngilu saat mengatakan semua itu. Dia harus terhina akan harga dirinya. Hana sadar bertemu Rama suatu kesalahan. Namun Hana mengantisipasi dengan bertemu di keramaian.


"Hana, aku tidak bermaksud!"


"Kak Rafa, tanpa dikatakan kita memang berbeda. Aku jauh dibawahmu, bahkan kekasihmu menganggap aku tak layak menjadi pelayanmu. Jangankan menjadi istrimu, itu hanya sebuah mimpi. Maaf jika perkataanku tadi terlalu melukaimu. Sehingga aku layak menerima hinaan ini. Satu hal lagi, jangan pernah mempertanyakan kesucianku. Sampai detik ini, tangan dan tubuhku hanya kamu yang menyentuhnya. Dalam hati dan pikiranku, tidak pernah terbersit nama lain selain namamu. Percaya atau tidak dirimu, bukan menjadi harapanku. Sudah terlalu malam, lebih baik kak Rafa pulang. Aku harus istirahat, pelayan ini harus bekerja untuk terus hidup esok hari!" ujar Hana final, dia tidak ingin lagi bertemu dengan Rafa. Hati Hana terlalu sakit atas hinaan Rafa. Hana membuka pintu, dia meninggalkan Rafa yang mematung.


"Cukup Hana, aku minta maaf. Jangan jadikan aku orang lain!" ujar Rafa memeluk Hana, Sebaliknya Hana menolak pelukan itu. Tangannya melepaskan pelukan Rafa.


"Sudah malam, lebih baik kak Rafa pulang!" ujar Hana dingin. Dia masuk ke dalam rumah, menutup pintu tanpa ingin meminta Rafa tinggal.


"Maafkan aku kak Rafa, aku tidak mampu melihat amarahmu. Aku terlalu takut bertemu denganmu. Mungkin lebih baik kita saling menjauh. Agar tidak saling menyakiti. Kelak jika jalan takdir mempertemukan kita. Semoga keadaan jauh lebih baik. Pondasi pernikahan kita terlalu rapuh. Sangat tidak mungkin mampu menghadang badai kecil sekalipun. Satu tatapan saja mampu membuatmu menghina harga diriku. Keteguhan ikatan suci pernikahan kita" batin Hana sembari bersandar pada pintu.


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


TERIMA KASIH😊😊😊😊


__ADS_2