
Sang Fajar menyingsing dari ufuk timur. Cahaya menembus jendela kaca sebuah kamar. Hangat sinarnya mampu terasa oleh kulit. Pagi menjelma membangunkan semua makhluk. Memulai aktivitas seperti sedia kala. Terlihat burung pipit berterbangan dari dahan satu ke dahan yang lain. Kicauannya terdengar nyaring, tapi tak terdengar oleh makhluk penghuni kamar yang paling atas. Kamar seorang gadis remaja yang mulai menginjak dewasa. Namun sikap dan tingkahnya layaknya anak kecil yang kurang kasih sayang. Pernikahan kedua orang tuanya terjadi tanpa adanya cinta suci.
Gadis cantik yang terlahir dari pernikahan antara Alfian Hendrawan dan Sesilia Anastsya. Dua orang yang bersahabat sejak lama, tapi menyimpan cinta yang tak sepaham. Cinta Alfian dan keteguhan hatinya menerima Sesil. Tak berbalas dengan sempurana. Entah apa yang membuat Sesil masih sangat sulit menerima cinta Alfian sepenuhnya? Sampai hadirnya putri sebagai pengikat keduanya. Tak mampu membuat Sesil melupakan masa lalunya. Akhirnya sang gadis cantik harus tumbuh tanpa kasih sayang yang utuh.
sreeekkk
Terdengar suara gesekan besi horden yang bertaut. Sesil membuka horden dan jendela kamar putrinya. Membiarkan cahaya matahari dan panasnya masuk ke dalam kamar yang masih gelap. Membangunkan sang penghuni kamar dari lelap tidurnya. Harapan seorang ibu yang melihat sinar matahari menyentuh wajah cantik sang putri. Berharap kelak cahaya matahari mampu menyinari hati gelap sang gadis. Kehangatan sinar matahari mampu menghangatkan jiwanya yang sepi akan kasih sayang.
Terkadang disela kesibukannya Sesil membangunkan sang pemilik kamar yang tak lain putri kecilnya. Buah cinta dalam pernikahannya dengan Alfian sahabatnya. Seorang gadis yang sudah tumbuh dewasa tanpa pengawasan darinya. Baik Sesil dan Alfian terjebak dalam sibuk dunia bisnis. Berharap dengan kerja keras dia bisa memberikan kemewahan pada sang putri. Namun kesibukan seolah membuat mereka lupa akan keberadaan sang putri yang telah tumbuh dewasa. Kemewahan yang mereka berikan tak mampu membuat sang putri bahagia. Hanya dingin hubungan yang terlihat, tanpa sebuah kasih sayang.
Ehmmmmm
__ADS_1
Terdengar suara sang gadis yang mencoba mengerjapkan kedua mata indahnya. Sembari merentangkan tangan, merasakan tulang-tulangnya yang terasa pegal. Lamanya tertidur membuatnya kelelahan. Hangat sinar matahari menyentuh wajah cantiknya. Cahaya matahari menyilaukan, kala kedua matanya membuka sempurna. Wajah cantik dengan mata indah yang dimilikinya, tak seindah hidup yang dirasakannya.
Farah Nur Fitriya nama indah yang sengaja dipilihkan Alfian untuk putri cantiknya. Gadis cantik dan suci penuh dengan cahaya. Alfian sengaja memberikan nama itu pada putrinya. Berharap kelak dia yang akan menjadi cahaya bagi gelap hati Sesil. Agar dia bersedia menerima Alfian sepenuhnya. Meski cinta Sesil belum sepenuhnya untuk Alfian. Namun besar harapan Alfian, jika hadirnya Farah bisa membuat Sesil menyadari arti Alfian dalam hidupnya. Seorang suami yang selalu menanti cintanya.
"Mama, kenapa membangunkanku sepagi ini! Aku tidak perlu bangun pagi. Aku malas jika harus sarapan bersama kalian. Lebih baik papa dan mama berangkat saja. Aku akan turun nanti!" ujar Farah ketus sembari menarik selimutnya kembali. Sesil mendekat pada Farah, dia duduk di tepi tempat tidur. Sesil menyingkirkan rambut yang menutupi kedua mata indah Farah. Dengan lembut Sesil membelai wajah Farah. Belaian yang jarang dirasakan Farah dari ibu yang melahirkannya. Hanya harta yang mereka berikan sebagai ganti kasih sayang. Farah kecil tumbuh dengan baik dengan kasih sayang para pengasuhnya.
"Farah, tidak baik berkata seperti itu. Kami tetap orang tuamu. Mama sadar jika kamu marah akan kesibukan kami yang seolah melupakan dirimu. Namun papa tetap ayah yang harus kamu hormati. Jangan benci papamu, dia laki-laki yang baik. Jika ingin menyalahkan, salahkan mama yang belum mampu menerima papamu sepenuhnya. Mam mohon jangan bersikap tidak pantas pada papa. Dia menyayangimu dengan cara yang berbeda. Hanya sarapan bersamamu yang selalu menjadi kebahagiannya. Sekarang bangun dan mandi, sudah hampir pukul 08.00 wib. Hanya sarapan waktu yang bisa membuat kita berkumpul!" tutur Sesil memberikan pengertian. Seraya membelai lembut rambut hitam legam milik Farah. Dengan malas Farah bangun dari tidurnya. Dia berjalan pelan menuju kamar mandi. Selama menunggu Farah bersiap, Sesil membersihkan tempat tidur Farah. Tanpa sengaja dia melihat foto dia dengan Fathan.
Sesil mengusap air mata yang menetes, dia terharu melihat gadis semanis dan seceria Farah. Malah kekurangan kasih sayang darinya dan Alfian. Sesil sangat menyayangi Farah, dia sanggup melakukan apapun. Demi melihat senyum sang putri tercinta.
Tak berapa lama, Farah keluar dari kamar mandi. Sesil melihat rambut putrinya basah. Dengan perlahan Sesil meletakkan ponsel pintarnya. Dia berjalan mendekat pada Farah, sembari membawa handuk. Dengan lembut Sesil menarik tubuh Farah yang sedang diam memtung tanpa menungguku.
__ADS_1
"Kamu sudah dewasa, sebentar lagi akan menikah. Kalau untuk mengringkan rambut menunggu mama.Lalu bagaimana kamu akan mengurus suamimu? Mama tidak akan selamanya bersamamu!" tutur Sesil pada Farah, sontak Farah menatap wajah Sesil di dalam cermin. Lalu membalikkan tubuhnya, dia memeluk erat tubuh Sesil ibu yang melahirkan dirinya.
"Mungkin mama tidak akan bersama Farah, tapi cinta dan kasih sayang yang pernah ada untuk Farah tidak akan bisa kulupakan!" ujar Farah lirih, Sesil mengangguk pelan. Sesil memyisir rambut sang putri. Dia melihat kecantikan yang jelas terlihat dari wajah Farah.
"Sayang, apa malam ini kamu akan pergi ke rumah Fathan?" tanya Sesil pelan. Farah mengangguk pelan. Dia akan ikut makan malam yang diadakan untuk menyambut kedatangan Faiq.
"Hari ini Faiq akan datang, aku diundang untuk makan malam. Sebab itu aku harus pergi kesana. Aku tidak ingin mengecewakan sahabatku Fathan!" sahut Farah, Sesil mengangguk lalu menunduk. Mungkin persahabatan itu murni, tapi benih cinta mulai jelas terlihat oleh Sesil.
"Mama tidak keberatan apapun hubunganmu dengan Fathan. Namun alangkah baiknya kamu sedikit menjauh. Mama tidak ingin kamu terluka dan tersakiti!" ujar Sesil, Farah mendongak menatap Sesil. Dia melihat jelas kecemasan Sesil akan hubungannya dengan Fathan.
"Mama, aku dan Fathan hanya sahabat tidak lebih. Seandainya akan ada hubungan diantara kami, mama orang yang pertama mengetahuinya. Namun saat ini aku hanya berteman dengan Fathan" ujar Farah, lalu memeluk ibunya dengan sangat erta.
__ADS_1
"Mama pegang janjimu!"