
Sang matahari mulai kembali ke peraduannya. Meninggalkan siang hari yang panas. Digantikan oleh senja yang menyeruak dari ufuk timur. Langit biru tak lagi terlihat, tergantikan dengan langit yang berwarna jingga. Terangnya meneduhkan mata yang menatapnya. Guratan tinta emas yang takkan pernah bisa ditandingi.
Lukisan alam yang teramat indah takkan mampu diungkapkan dengan kata-kata. Hanya dengan rasa syukur yang tak terhingga. Ketika kedua mata masih mampu terus menatap keindahannya. Rasa tenang menelisik hati, ketika sang senja menyeruak dalam pikiran yang dipenuhi kegelisan. Obat dari rasa sakit ynah disediakan alam. Tak terbeli dan tidak diperjual-belikan.
Vania menatap lurus ke arah barat. Tempat matahari kembali ke peraduannya. Sinarnya menerpa wajah cantiknya. Terasa hangat menyusup ke dalam pori-pori kulit. Angin sore yang berhembus. Terasa dingin menyusup ke dalam tulang belulangnya. Senja selalu menjadi cara Vania melupakan kekosongan hatinya. Keindahan senja seakan mengajarkan pada Vania. Bahwa semua indah pada saat dan tempat yang tak sama.
"Sayang!" ujar Raihan, lalu memeluk Vania. Raihan menyandarkan pundaknya di bahu Vania.
Vania menoleh ke arah Raihan. Tercium harum shampo rambut Raihan. Pelukan hangat Raihan terasa menyentuh hati terdingin Vania. Tangan kekar Raihan menyusup ke dalam hijab Vania. Memeluk perut Vania yang tak lagi rata. Perut Vania terlihat besar. Kala dua bayi kembar sedang tumbuh di dalamnya. Sekilas Raihan mencium pipi Vania. Menciptakan kehangatan yang sempat menghilang diantara mereka. Raihan mencoba menyentuh hati istri kecilnya.
Vania satu-satunya wanita yang menggetarkan hati Raihan. Tanpa meminta perubahan dalam diri Raihan. Vania membuat Raihan malu akan sikapnya. Diam Vania mengajarkan Raihan. Dalam hubungan bukan hanya ada cinta, tapi dibutuhkan pengertian yang tak mudah. Butuh hati yang sangat luas dan dan kuat. Sekadar untuk mengerti dan memahami cara hidup pasangan kita.
"Kak Raihan, aku rindu aku merindukan Fajar. Tidak bisakah kita menemuinya sebentar saja. Aku takut terjadi sesuatu padanya!" ujar Vania cemas, Raihan melepas pelukannya. Vania menunduk lesu. Satu keinginannya telah membuat Raihan terluka.
Sejak semalam Vania bermimpi Fajar kecilnya. Alasan dari semua harapannya di kampung itu. Fajar yang membuat Vania merasa lengkap. Jauh sebelum ada Raihan dan calon buah hatinya. Anak yang terlahir dengan kasih sayangnya. Vania diam melihat Raihan yang mungkin marah mendengar permintaannya.
__ADS_1
Raihan seketika melepaskan pelukannya pada Vania. Raihan berjalan ke samping Vania. Dia menghela napas panjang. Raihan menatap senja yang sama dengan Vania. Kini Raihan mengerti alasan diam Vania sembari menatap senja. Sedetik kemudian Raihan menoleh menatap Vania yang terlihat lesu. Raihan menarik tubuh Vania di hadapannya. Raihan memeluk Vania, meletakkan kepala Vania di dalam dada bidangnya.
"Terima kasih, kamu mulai bergantung padaku. Satu pintamu mampu membuatku bahagia. Tidak ada rasa tenangku, ketika melihatmu menyimpan kegelisahan hatimu. Kini aku bahagia telah menjadi bagian kegelisahanmu!" ujar Raihan lirih, sembari mendekap hangat tubuh mungil Vania.
Vania medongak menatap wajah tampan Raihan. Wajah yang mampu membuat setiap mata hawa terpesona. Kelebihan yang dimiliki Raihan. Sekaligus kelemahan yang mampu membuat Raihan jatuh dalam khilaf. Vania menatap lekat sang suami tercinta. Ada rasa heran mendengar Raihan mengucapkan kata terima kasih. Sebuah kata yang seolah-olah Vania telah memberikan sesuatu yang begitu berharga.
"Kak Raihan tidak marah. Aku pikir kak Raihan tidak mengizinkan aku menemui Fajar. Sebab aku melihat kak Raihan tiba-tiba melepaskan pelukannya padaku!" ujar Vania, Raihan menggelengkan kepalanya. Tak ada rasa bahagia yang begitu besar. Selain menjadi sandaran Vania. Pertama kalinya Vania mengangap Raihan menjadi orang yang memutuskan kegelisahan Vania.
"Justru aku merasa bahagia, kamu mulai percaya padaku. Katakan apapun kegelisahanmu padaku. Kecemasanmu akan menjadi cemasku sampai kapanpun? Hubungan suami istri diantara kita. Menjadikanku berhak menjadi bagian dari cemasmu!" ujar Raihan, Vania mengangguk mengerti. Setelah drama yang begitu mesra. Akhirnya Vania dan Raihan bersiap menuju ke kampung Fajar. Kegelisahan Vania sangat nyata. Tak mungkin Raihan menunda sampai besok pagi.
Resiko Vania tidak akan tidur nanti malam. Ketika hatinya dipenuhi rasa gelisah. Setelah bertanya pada Faiq tentang kondisi Vania. Akhirnya Raihan memutuskan pergi dengan membawa supir pribadi. Raihan tidak ingin mengambil resiko. Malam yang akan segera menyergap. Dengan izin Faiq, Raihan dan Vania berangkat menemui Fajar.
"Fajar!" teriak Vania pilu, dia berlari menuju tempat tidur Fajar. Vania menatap lekat tubuh lemas Fajar. Tubuh yang mengurus seiiring berjalan waktu. Vania melihat putra yang menganggapnya layak ibu. Terbaring tak berdaya dengan tubuh kurusnya.
Vania duduk bertumpu pada kedua lututnya. Kecemasan Vania mengalahkan segalanya. Kandungannya yang membesar, seakan tak bisa menghalangi geraknya. Vania menatap Fajar lekat. Tak terdengar lagi teriakan memanggilnya dengan penuh kasih sayang. Kedua bibir Fajar tertutup rapat. Tak ada mata indah yang selalu meneduhkan hati Vania. Tangan mungil Fajar tak lagi ingin memeluk tubuh Vania.
__ADS_1
Vania merasa hancur melihat Fajar tak lagi tersenyum memanggilnya. Vania menggenggam tangan mungil Fajar yang putih bersih. Vania mencium berkali-kali tangan Fajar. Berharap Fajar akan terbangun melihat kedatangannya. Vania mengusap wajah pucat Fajar, mencium lembut keningnya. Air mata Vania jatuh membasahi kedua mata Fajar.
"Mama!" rintih Fajar dalam tidurnya.
Suara yang mampu meneduhkan hati Vania. Seketika bak pisau tajam yang menyayat hatinya. Tak ada kecerian dari wajah Fajar. Semua terasa menyakitkan hatinya. Hanya menangis yang mampu Vania lakukan. Raihan melihat Vania menangis tanpa henti. Raihan merasa bersalah melihat Vania yang tak berhenti menangis.
Vania merasa bersalah melihat Fajar yang tiba-tiba sakit. Menurut keluarga Fajar, kondisi Fajar terus memburuk setelah Vania mulai jarang datang. Fajar mulai murung, seketika napsu makannya pun hilang. Hampir setiap hari Fajar datang mencari Vania di lokasi proyek. Fajar terus mencari sampai akhirnya dia lelah. Sampai akhirnya Fajar masuk rumah sakit, karena tubuhnya demam dan mengalami kejang.
Kondisi Fajar semakin menurun setelah seminggu di rawat. Sebenarnya kondisi Fajar mengalami penurunan bukan hanya karena merindukan Vania. Namun Fajar mengalami kelainan pada paru-parunya. Ada cairan yang mengisi paru-parunya. Biaya perawatan yang terlalu besar. Membuat keluarga Fajar memutuskan berobat jalan. Tidak mungkin mereka terus berada di rumah sakit. Tentunya dengan biaya pengobatan yang tidak murah.
Raihan telah menghubungi rumah sakit terdekat. Dia juga meminta bantuan Faiq, untuk segera datang ke rumah sakit di kota kelahiran Fajar. Raihan akan mengupayakan penyembuhan Fajar. Meski kesembuhan Fajar sangat kecil kemungkinannya. Raihan akan membuat yang kecil menjadi besar bagi kesembuhan Fajar.
"Maaf, mama telat tampan. Fajar kuat dan pintar tidak akan kalah oleh sakit ini. Fajar pernah janji pada mama. Fajar akan kuat meski mama jauh. Sekarang mama datang, Fajar harus kuat demi mama dan adik-adik Fajar. Jangan menyerah, Fajar pasti bisa!" ujar Vanua lirih, Raihan berjongkok di samping Vania.
"Dia akan kuat demi melihat senyummu!" bisik Raihan, Vania mengangguk lalu memeluk Raihan. Vania menangis dalam dekapan Raihan. Tak ada lagi yang bisa dilakukan Vania. Rasa sakit yang dialami Fajar, seolah membuat tulang-tulang Vania hancur.
__ADS_1
"Mama" rintih Fajar, sontak Vania mendekap erat tubuh Fajar. Menarik tubuh putra yang tak pernah lahir dari rahimnya.
"Maafkan mama sayang, mama egois!"