My Secret Life

My Secret Life
Bab 98: Heli dengan barikade motor sports


__ADS_3

Kedua mobil beriringan hingga perbatasan jalan utama yang mulai padat dengan kendaraan lain, membuat Dominic harus melakukan sesuatu agar queen nya segera sampai kerumah sakit utama. Satu tangan kanan menyetir dan tangan kiri meraih ponsel yang ada di saku celananya. Sebuah nomer dengan emoticon mahkota raja menjadi tujuannya, di dialnya nomer itu yang tanpa menunggu sambungan kedua langsung di angkat.


"Queen terluka, kami akan kerumah sakit utama dari jalan flamboyan utara." lapor Dominic yang langsung to the point.


Tidak ada jawaban karena panggilan langsung terputus, namun setelah sepuluh menit berlalu dengan keramaian kota di saat jam kerja justru dari arah langit terdengar suara yang amat di kenali oleh Dominic. Meskipun suara itu masih jauh dari tempatnya melajukan mobil. Suara yang membuat banyak orang menengok keluar dari jendela mobil masing-masing, bahkan para pejalan kaki pun juga ikut berhenti hanya untuk melihat wujud dari suara itu.


Nguuung.. nguuung....


Suara dua heli yang datang dari arah selatan membuat orang awan terlihat antusias melihat wujud heli lebih dekat, tapi bukan hanya suara itu saja. Karena kini ada suara raungan yang bersahut-sahutan dari arah yang sama dimana heli datang dan suara itu terdengar seperti suara kawanan lebah namun dengan sirine polisi yang membuat banyak kendaraan lain harus menepi agar memberikan jalan pada anggota pemerintah.


Mungkin orang berfikir jika ada tamu negara yang melintasi jalan flamboyan utara, tapi apa pun pemikiran orang-orang hanya lah sekedar pemikiran mereka. Hingga rombongan barikade motor sport hitam muncul dan membuat semua pengendara berhenti dan menepi dengan sendirinya. Rombongan barikade motor sports hitam yang seperti pemain bola kesebelasan, membuat jalan itu menjadi satu pendaratan heli yang sudah melayang-layang di atas satu titik yang di tentukan.


Heli mendarat dengan sempurna dengan perlindungan barikade motor sports hitam yang merupakan para bodyguard terlatih tanpa nama, Dominic hanya bisa melajukan mobilnya lebih cepat dan menyalip mobil sports queennya agar bisa menghentikan pengemudinya di titik yang sudah di kirimkan oleh salah satu pilot heli yang menanti kedatangan queen mereka.


Ciiiiit....


Suara mobil yang direm mendadak dengan jarak tiga meter dari Heli, membuat Dominic segera keluar dari mobilnya sendiri dan memberikan isyarat pada mobil sports hitam untuk berhenti di samping mobilnya. Bahkan barikade bodyguard yang awalnya melindungi heli, menjadi terbagi dua karena menghampiri mobil queen mereka, agar tetap menjaga keselamatan nona muda mereka yang tengah terluka, pemuda yang mengemudikan mobil sports hitam langsung turun. Begitu mobil yang di kendarai olehnya di hentikan dan pria yang terlihat urakan yaitu Dominic langsung membuka pintu penumpang dimana queen berada.


"Duke biar kan dia ikut!" bisik Asfa di saat tubuhnya berpindah ke gendongan Dominic, yang langsung dengan gagahnya membawa queen keluar dari mobil.


Bukan shock yang di alami Dominic setelah mendengar bisikan queennya, tapi justru gelengan kepala yang hanya bisa di lakukan di dalam hati. Bagaimana bisa di saat tubuhnya terluka justru Asfa masih memikirkan nasib orang lain yang sudah mencoba menyakiti dirinya. Namun Dominic hanya bisa mengikuti perintah, karena itu salah satu kewajibannya sebagai seorang duke, dengan langkah yang pasti duke membawa Asfa menuju ke heli.


"Silahkan duke." ucap satu bodyguard yang sudah membuka kan pintu heli dengan siaga.


"Hey kau cepat lah!" seru Dominic setelah memasukkan Asfa ke dalam heli dan keluar dari heli dengan tatapan tertuju pada pemuda yang menjadi seperti tawanan, dengan di apit empat bodyguard yang sudah menahan pergerakan pemuda itu.

__ADS_1


Mendengar teriakan Dominic membuat ke empat bodyguard memberikan jalan pada pemuda itu yang terlihat mendengus sebal karena di perlakukan layak nya penjahat. Tapi jujur saja di dalam hatinya justru penasaran dengan sosok wanita bertopeng yang kini tengah terluka.


"Masuk! Kalian iringi queen dari jalur bawah!" perintah Dominic dan langsung di turuti oleh para bodyguard yang bergegas kembali menaiki motor sports hitam mereka dan menggunakan helm full face.


"Apa kau tuli hah! Masuk ke heli!" bentak Dominic yang geram, karena pemuda rupawan di depannya justru mematung seakan menjadi patung penghargaan saja.


"Bagaimana dengan..." ucap pemuda itu yang langsung terhenti, ketika Dominic menodongkan senjata api ke arah kepalanya.


Dengan todongan itu maka Dominic menggiring sang pemuda untuk memasuki heli dan memberikan isyarat pada pilot untuk segera pergi.


Heli mulai mengangkasa dan beriringan terbang menjauh bersama heli yang masih terbang di atas langit sebagai pengintai atas. Sedangkan Dominic memilih berganti mobil sports hitam milik queennya dan membiarkan mobilnya sendiri tertinggal begitu saja, karena masalah mobil pasti akan ada yang mengurus hal itu. Tapi tanggungjawabnya adalah memastikan queen sampai ke tujuan dengan selamat.


Barikade motor sports kini di iringi dengan satu mobil sport yang membuat banyak pasang mata melotot dan ber selfie ria seperti melihat pertunjukan drama kolosal. Hingga jalanan menjadi seperti jalan mati, karena tidak ada kendaraan lain yang ikut melintas di saat rombongan itu menguasai jalanan. Jalan bukan menuju rumah sakit utama tapi justru menuju mansion queennya, sedangkan di gerbang mansion sudah terbuka dengan penjagaan yang sangat ketat. Hingga heli melakukan pendaratan di jalan beraspal dengan sangat mulus.


Tidak ada yang mendekati heli dari para bodyguard hingga seorang pria berambut panjang dengan jas putih berlari dari depan mansion menuju ke heli yang baru saja melakukan pendaratan. Dengan cekatan di bukanya pintu heli dan wajahnya sesaat menatap pemuda di dalam heli dengan tatapan intimidasi.


"Cepat bawa queen!" perintah pria berambut panjang dengan jas putih membuka kan pintu heli dengan lebar.


Tidak menunggu perintah dua kali hingga pemuda yang menjadi tempat wanita bertopeng bersandar memilih menggendong Asfa dengan lembut dan keluar dari heli. Langkah kakinya mengikuti seorang pria yang sudah bisa di pastikan itu seorang dokter. Penjagaan yang ketat dari berbagai sisi membuat pemuda itu tanpa sadar mengucapkan sesuatu yang sangat terdengar oleh Asfa.


"Seperti putri raja saja penjagaan seabrek begini mah." gumam pemuda itu dengan kaki yang terus melangkah, hingga langkahnya terhenti ketika dokter di depannya berhenti tepat di depan pintu utama mansion.


"Kembali lah dari mana diri mu berasal! Dari sini queen tanggungjawab ku." ucap dokter itu dengan tatapan intimidasi yang lebih tepatnya melakukan pengusiran.


Setelah mengambil alih tubuh Asfa dari gendongan pemuda yang cukup tampan meskipun masih tampan dirinya. Asfa yang sebenarnya masih memiliki kesadaran beberapa persen harus menggerakkan tangan kanannya untuk mengusap lengan kakaknya, yang mengeluarkan aura kepemimpinan terlalu besar.

__ADS_1


Karena tubuhnya terasa semakin remuk dengan tusukan jarum dari dalam seakan menjelaskan ada yang tidak beres dengan peluru yang bersarang di pundaknya itu. Mendapatkan usapan di lengan, membuat Alvaro mengalihkan pandangannya ke arah Asfa, dimana wajah adiknya masih tertutup topeng membuat Alvaro tidak bisa melihat wajah Asfa yang sudah pucat dengan bibir yang tak memiliki sari.


"Racuun.." gumam Asfa yang menghabiskan sisa kesadarannya, membuat Alvaro panik dan langsung saja masuk ke mansion tanpa mempedulikan pemuda yang mengikuti langkahnya.


"Panggil semua dokter di mansion, SEKARANG!" perintah Alvaro sebelum memasuki ruangan rawat yang masih ada pasiennya.


...*********†*******...


.


. reader's othoor gak bisa nulis bnyak untuk hari ini, jujur aja kepala othoor rasa nya sakit banget ampe air mata keluar terus.


.


.


. Othoor cuma nulis semampu othoor aja, besok othoor lanjutin lagi ya.. πŸ˜£πŸ˜–


.


. Jangan lupa, vote like comments favorite and support nya ❀️


.


.

__ADS_1


. Selamat sahur dan menunaikan ibadah puasa... πŸ₯°πŸ€§πŸ₯ΆπŸ₯΅


__ADS_2