My Secret Life

My Secret Life
Bab 47: Moli di tebing keramat


__ADS_3

Di ambil nya bingkai kecil di atas nakas itu, di raba dengan ketulusan hati yang sangat jauh terbenam dengan kerinduan tanpa muara. Bukan hanya sebuah senyuman tapi satu kata pun dirinya tidak pernah mendengar suara wanita yang telah melahirkan, semua kenangan tentang wanita itu lenyap bersama butiran debu pembakaran mansion milik keluarga mereka dulu.


"Queen Asfa Luxifer." panggil Alvaro yang merasa tidak ada aura adiknya.


Pria itu tertegun melihat keadaan adiknya setelah berbalik, dengan langkah cepat di raihnya tubuh mungil itu untuk masuk ke dalam dekapannya. Membiarkan lautan membasahi bumi nya, dengan kesabaran di kecupnya kepala yang menyembul di bawah dagunya.


Isakan yang perlahan mulai reda dengan getaran tubuh yang sudah terhenti menandakan tangisan adiknya telah berakhir, dibuka nya pelukan secara perlahan. wajah terlelap dengan mata sembab yang masih menyisakan kelopak mata basah, di angkatnya tubuh adiknya ke atas ranjang milik nya.


"Maafkan mama yang tidak bisa memberikan cinta untukmu, tapi kakak janji padamu boneka ku. Cinta kami cukup untuk mempertahankan kebahagiaan dan senyuman mu." bisik Alvaro merapikan rambut adiknya yang menutupi sebagian wajah putih dengan hidung memerah akibat menangis.


Dengan pelan di ambilnya sebuah bingkai yang tergenggam erat di jemari adiknya, foto yang selama ini tersimpan akhirnya terbuka. Foto itu kenangan yang dengan susah payah di pertahankan, lihatlah ujung foto yang seperti sudah terbakar namun masih menyisakan gambar yang bagus untuk tetap di simpan. Suara dering ponsel membuat dirinya bangkit meninggalkan adiknya yang kelelahan setelah menangis, di ambilnya benda pipih yang tergeletak di atas meja kerja nya.


"Halo pa." sapa Alvaro setelah menggeser icon hijau.


"Bersiaplah dan panggil semua orang kepercayaan mu nak, papa tahu dia kembali." jawab tuan besar yang ntah kini berada dimana.


"Bisakah papa dan Asfa menjauh dari nya, sudah cukup bencana yang dulu terjadi pa." nego Alvaro dengan menahan nafasnya.


"Kamu tanggung jawab ku Alvaro Caesar! Papa membebaskan mu memilih jalan hidupmu bukan berarti papa akan membiarkan mu terluka." ucap tuan besar dengan penekanan.


"Baiklah.Apa rencana papa? " tanya Alvaro pasrah.


"Simpan tentang nya dari telinga dan mata adikmu, biarkan papa yang mengambil alih dari sekarang." ucap tuan besar.

__ADS_1


"Tapi pa, seseorang telah mengirimkan sinyal pada Asfa. Kini terlambat, queen sudah menyadari kedatangan Dia." jawab Alvaro yang langsung mendengar suara pecahan benda dari ujung seberang.


"Calm down pa, aku akan lindungi queen dengan nyawaku. Bukankah papa harus melakukan perjalanan bisnis? Pergilah pa dan hati-hati di jalan." ucap Alvaro dengan lembut untuk membuat papa nya tenang.


"Hmmm. Jaga diri kalian, salam buat adikmu." jawab tuan besar menutup telfon nya.


Setelah percakapan berakhir, di lirik nya jam di tangan menunjukkan waktu nya untuk melakukan pemeriksaan pada pasiennya. Namun adiknya terlihat kelelahan dan tidak mungkin di ganggu, dengan pelan di tutup nya pintu kamar dan pergi menuju kamar lantai dasar dimana pasiennya menunggu. Sedangkan di atas tebing seorang pria kekar dengan jas teronggok di bawah kaki nya tengah menenteng satu potongan besar daging merah segar di tangan kirinya, di bawah sana adalah air laut yang tenang dengan gumpalan ombak sedang.


Sekilas sudah pasti tidak ada hal yang ganjil, namun ketika tangan itu terayun melemparkan satu potongan daging di tangannya terlihat sesuatu muncul dari dalam air dan dengan gerakan yang cepat , daging itu tersambar oleh hewan bertaring tajam dengan ukuran tubuh yang bisa menggetarkan adrenalin siapapun. Seekor hiu dengan ukuran yang lumayan untuk mencabik makanannya, hewan inilah yang menjadi hewan kesayangan nona muda Luxifer yaitu seekor hiu yang diberi nama Moli.



"Ini makanan terakhir mu, setelah ini saat nya puasa Moli." seru pria itu sembari menatap luasnya lautan.


"Naura Az zahra, nama mu dengan seluruh kenangan milik kita telah tertuang dengan satu buah cinta kita Queen Asfa Luxifer dan ditambah dengan Alvaro Caesar. Aku akan melindungi kedua harta kita yang paling berharga dengan seluruh jiwa dan raga, tunggulah aku di sana." ucap pria itu dengan menghilangnya bayangan wanita tercinta nya bersama gulungan ombak.


"Tuan besar, heli sudah siap." lapor seorang bodyguard dengan membungkukkan setengah badannya meski tidak di lihat oleh tuan besar yang masih menatap lautan.


"Ayo." ucap tuan besar tanpa mengambil jas nya yang sudah pasti kotor.


Bodyguard itu dengan cekatan mengambil jas tuan besar nya, mengikuti langkah besar sang boss yang meninggalkan tebing keramat. Di dekat taman mansion sudah berjejer tiga heli warna hitam dengan logo matahari perak bertepi emas, itu adalah heli aset pribadi dari perusahaan RA company yang telah di modifikasi dengan sangat baik oleh otomotif terpercaya yaitu Alvaro Caesar sebagai leadernya.


Terlihat beberapa pria dengan jas yang sudah menunggu nya telah bersiap dan berjejer di antara para bodyguard yang tengah bersiaga, kali ini perjalanan bisnis nya akan di dampingi beberapa anggota dewan direksi yang sudah beberapa tahun berada di bawah naungan Luxifer family.

__ADS_1


"Silahkan tuan." ucap bodyguard yang tadi memanggilnya membukakan pintu heli paling tengah untuk tuan besarnya.


"Lapor apapun kepada duke Justin atau langsung pada Queen selama tongkat kekuasaan jauh dari Kerajaan nya, pastikan semua aman sampai aku kembali." perintah tuan besar sebelum menutup membiarkan bodyguard nya menutup pintu heli nya.


"Siap Tuan." jawab bodyguard itu dan menutup pintu heli.


Beberapa bodyguard melakukan hal sama untuk empat pria berjas yang terbagi menjadi dua dengan memasukinya heli di depan dan heli dibelakang, setelah semua memasuki heli Masing-masing terlihat baling-baling itu mulai berputar menerbangkan kotak besar dengan model ke amgkasa. Kepergian heli membuat para bodyguard kembali ke tempat masing-masing tanpa saling sikut, karena semua sudah terlatih dan tahu dimana tempat dan tugas masing-masing.


....................


"Stop! Keluar! " sentak seorang pria yang menahan kekesalannya karena tingkah seorang wanita yang seakan baru pertama kali bergulat dengan alat-alat canggih di depannya.


"Tapi... " ucap wanita itu menahan cairan bening di sudut mata nya.


"KELUAR! " seru pria itu sekali lagi dan kali ini tangannya terulur menunjuk pintu ke arah pintu.


"Hiks.. hiks.. hiks... "


Isak tangis wanita itu akhirnya terdengar dengan langkah kaki nya membuka pintu, satu wajah bingung muncul dari balik pintu melihat wajah wanita dengan jas putih yang meninggalkan ruangan dengan langkah seribu. Ditutup nya kembali pintu tanpa sedikit suara di buatnya, pria yang kini sibuk mengomel dengan memeriksa alat-alat di depannya itu masih tidak menyadari kehadirannya.


"Ekhem." satu suara deheman untuk menghentikan omelan yang terdengar seperti kumuran orang.


"Apa kau tuli hah! Aku bilang KELUAR! Sampai... " ucap pria itu sembari berbalik badan dan kini ucapannya tak terselesaikan melihat wajah dengan alis terangkat di depannya.

__ADS_1


__ADS_2