My Secret Life

My Secret Life
Bab 120: Rumah terlarang di Perum Laskar Pelangi


__ADS_3

Meninggalkan kediaman Abhi, Zain menyusuri jalanan dengan berbeda arah dari kedatangannya. Arah yang pasti akan membuat kegemparan di dalam tujuannya, sebelum melangkahkan kakinya lebih jauh untuk meraih masa depannya maka restu dari keluarga adalah hal pertama yang harus di dapatkan olehnya.


"Kuharap tidak ada yang menghalangiku jalan dari Cinta ku." gumam Zain dengan melantunkan sebuah siulan yang menjadi ciri khas darinya.


Siulan yang akan memiliki nada sama dengan tingkat frekuensi berbeda di setiap emosi terbaik dan terburuk dari seorang Zain, siulan yang akan menjadi teman hidupnya dalam memuja Cinta dan menghapus noda dalam hidupnya.


Jalan perkotaan yang mulai dipadati oleh berbagai jenis kendaraan, melewati wilayah dengan padat penduduk hingga mobil melaju menuju ke Jalan Diponegoro dengan deretan rumah mewah para pengusaha yang memiliki gedung pencakar langit di sisi timur dan terkenal dengan adanya sebuah rumah paling megah di antara rumah yang lain nya.


Bukan bodyguard yang menjaga rumah mewah itu melainkan puluhan anjing terlatih yang siap menggonggong dan mencabik penyusup, orang-orang menyebut rumah mewah itu dengan rumah terlarang. Rumah termewah itu justru letaknya ada di paling ujung dari perumahan Laskar Pelangi, pemilik rumah terlarang adalah Tuan Arham yang sekaligus menjadi pemilik perumahan Laskar Pelangi dan Tuan Arham adalah papa Zain.


Tiiin.....


Suara klakson mobil Zain membangunkan seorang tukang kebun yang tengah duduk di pos satpam sembari menunggu malam tiba, warna langit yang dipenuhi senja temaram menandakan pergantian waktu. Lelaki seumuran Lovely tergopoh-gopoh berlari menuju ke gerbang untuk melihat siapa yang ingin bertamu di saat Naga rumah terlarang tengah mendapatkan kunjungan tamu penting.


"Pergilah! Tuan tidak ada di rumah." seru tukang kebun berdiri di pintu gerbang sembari menatap mobil van di depannya.


Tiiiiiiiiiiiiiin.....


Kreeeet... ziiiit....


Suara klakson tanpa perasaan itu membuat telinga berdengung namun itu lah yang membuat pria seumuran adiknya Zain segera membuka gerbang dengan raut wajah yang pucat, yah siapa lagi yang berani membuat onar di kediaman Arham jika bukan putra sulung keluarga Arham sendiri.


Mobil memasuki halaman kediaman Arham yang di penuhi bunga warna-warni menyambut kedatangannya, Zain dengan santainya keluar dari mobil dan berlari kecil memasuki pintu utama meninggalkan tukang kebun yang masih merasakan ledakan petasan.


Tak...


Suara benda di hentakkan ke lantai terdengar jelas ketika Zain melangkahkan kakinya memasuki rumahnya itu, mengikuti suara yang tengah membahas sesuatu hingga mata Zain membulat sempurna ketika netranya menangkap sesosok makhluk tak bersayap jatuh ke bumi.


"Ingat pulang Zain? Kenapa? Apa uang mu habis." cecar seorang pria paruh baya tanpa memandang ke arah Zain.


"Queen! Are you here? (Queen! Kamu di sini?)" tanya Zain pada makhluk tak bersayap dan mengabaikan sindiran Tuan Arham.


"Permisi tuan, saya harus kembali ke kantor." pamit Asfa dengan sopan dan bangun dari tempatnya tanpa menjawab pertanyaan Zain.


"Tunggulah makan malam Queen, apa anda mengenal putra ku Zain?" tanya Tuan Arham yang mendapati gelagat aneh putranya.


Zain tidak suka di abaikan apalagi tak di anggap oleh siapapun, tapi kini senyuman manis terkembang sempurna di bibir sexynya itu. Membuat Tuan Arham mendelik tajam, sudah pasti ada sesuatu di antara putranya dengan pemilik perusahaan RA Company itu.


"Dia putra anda? Sepertinya tidak asing." jawab Asfa dengan santainya.


Lihatlah bibir Zain yang langsung mengerucut seperti gadis remaja, inilah yang selalu membuat Asfa gemas. Zain bukan gadis remaja tapi sikapnya seperti gadis remaja, cemberut dan tersenyum manis secepat kilat.


"Aku kira kalian saling mengenal. Ini Zain Arham putra ku yang hobinya melarikan diri." tutur Tuan Arham dengan melirik jengah pada Zain dan ajaibnya Zain tidak peduli dengan lirikannya.


" Baiklah, saya harus pergi." pamit Asfa dan mengulurkan tangan kanannya ke Tuan Arham.

__ADS_1


"Jangan sentuh Queen!" cegah Zain yang langsung menarik tangan Asfa.


"Zain!" hardik Tuan Arham yang melihat tingkah putra nya melewati batas.


Zain dia ayahmu! Bersikaplah hormat, selesaikan masalah mu dan datanglah ke mansion setelah semua selesai. ~ bisik Asfa dan menepuk bahu Zain.


"Like you wish. (Seperti keinginanmu.)" jawab Zain dengan lirih.


"Apapun masalah di rumah anda, pasti kan tidak berimbas ke dalam kerjasama perusahaan." cetus Asfa sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tamu kediaman Arham.


Suara langkah kaki semakin menjauh dan menghilang di balik pintu utama, meninggalkan Zain dan Tuan Arham yang saling menatap dengan penuh arti, hingga suara tawa kedua pria beda usia itu menggelegar menggema memenuhi seluruh rumah.


"Dia?"


Zain hanya mengangguk dengan pertanyaan singkat papanya, bagaimanapun keduanya adalah ayah dan anak yang memiliki gelombang frekuensi sama.


"Boleh pa?"


"Terbaik dari yang terbaik. Lanjutkan."


Seperti mendapatkan angin segar di gurun sahara, izin dari papanya sungguh melengkapi kebahagiaan di hatinya namun kedua pria itu tidak menyadari jika ada satu orang tengah berdiri di balik tembok lantai atas dengan tangan mengepal. Kukunya memutih hingga sesuatu berwarna merah merembes keluar dari sela-sela jemarinya yang mengepal itu dan berlalu meninggalkan tempatnya menguping.


Braaak... klik...


"Aaarrrggghhh." raungnya dengan mejambak kasar rambutnya sendiri.


Hiks... hiks... hiks...


Hahahaha...


Hiks.. hiks... hiks...


Sungguh hatinya merasa tercabik ketika mendengarkan tawa bahagia kedua pria yang membuat hidupnya seperti di neraka, membuat isakan bercampur tawanya terdengar mengerikan. Tangan mengepal yang sudah terbuka meninggalkan jejak anyir di rambutnya, darah yang membuat penciumannya mati rasa.


Plak.. plak..


"Tidak akan ku biarkan kalian bahagia, kalian pantas terbakar api dendamku!" tukasnya dengan menjilati darah di telapak tangannya setelah memberikan dua tamparan di satu pipi kirinya.


Meninggalkan api yang berkobar di jiwa seseorang, Asfa justru tengah duduk di pinggir jalan tak jauh dari kediaman Arham tanpa ada yang menemaninya. Wajah yang masih tertutup topeng membuat orang-orang yang melihatnya menatap aneh namun tidak ada respon darinya selain diam membisu menatap jalan perumahan yang terbilang sepi.


"Itu," gumam seorang pemuda yang baru saja keluar dari gerbang rumahnya.


Niat hati ingin hangout setelah membuat janji dengan teman lainnya tapi di luar gerbang matanya tak sengaja menangkap sosok yang tengah menjadi buroban gengnya.


Triiing....

__ADS_1


Pesan yang masuk membuat pemuda itu turun dari mogenya dan memilih menyebrang untuk menghampiri Asfa, namun sebuah mobil van mendadak muncul dan berhenti di depan Asfa.


"Si@l! Aku kurang cepat, lebih baik ku kejar." keluh pemuda itu dan bergegas menaiki motornya setelah melihat mobil van membawa pergi gadis incaran geng nya.


...~~...


.


.



.


.


*Happy Eid Mubarak 🥰


.


. Allah bless us all 🤲


.


.


...~~...


. Othoor cuma mau kasih tahu, kalau othoor blum bisa up dengan waktu yang pasti.


.Bukan karena ramadhan udh selesai ya, tapi othoor sekarang di tempat yang signal nya tuh kaya bintang jatuh. (Makhlum othoor ge mudik ya.. 🤧🙏😖🔥)


.


.


. Othoor cuma bisa up saat bintang nya ke tangkep deh.. 🤭😅


.


.


Stay tuned, jangan lupa like, comment, favorite plus happy reading reader's.. 🥰


Selalu ingat, hanya kritik dan saran kalian yang maka othoor bisa menulis lebih baik, kritiklah othoor sesuka hati kalian.. 😁*

__ADS_1


__ADS_2