My Secret Life

My Secret Life
Bab 250: PRIA TERBODOH


__ADS_3

"Don't worry, Queen never break promise." Asfa melanjutkan perjalanannya, membuat Abhi duduk menunggu di bangku panjang seorang diri.


(Jangan khawatir, Ratu tidak pernah mengingkari janji.)


Semua percakapan di antara Asfa dan Abhi. Justin yang bersembunyi di balik tembok mendengar dengan jelas, bahkan ia juga merasakan bagaimana dilema yang dihadapi nona mudanya. Namun, pria yang menjadi mantan suami queen adalah pria terbodoh yang pernah dikenalnya.


Aku harus lakukan sesuatu. Jangan sampai rasa penasaran pria bodoh itu menjadi penyerangan emosional Asfa. Aku tidak mau kesehatan adikku semakin turun hanya karena masa lalu. ~batin Justin dengan memantapkan hati untuk muncul di hadapan Abhi.


Abhi yang menundukkan kepala seraya menangkupkan kedua tangan ke wajah. Masih tidak menyadari kedatangan Justin hingga sebuah tangan terasa menyentuh bahu kanannya. Barulah ia mendongak dan melihat wajah pria yang tidak asing.


"Kau! Bukankah namamu Justin?" tanya Abhi memastikan.


Justin mengangguk, lalu memberikan isyarat tangan agar Abhi bangun, "Kita bicara di luar.


Raut wajah serius Justin, membuat Abhi menurut. Pria yang selalu menjadi kepercayaan Asfa, pasti ingin menyampaikan hal penting. Apapun itu lebih baik mendengarkan terlebih dahulu. Lagipula saat ini dirinya masih memiliki waktu satu jam dari janji yang diberikan sang mantan istri.


Langkah kaki kedua pria itu meninggalkan area rumah sakit utama. Bukan pergi terlalu jauh karena keduanya hanya berpindah tempat ke taman luar rumah sakit. Deretan tumbuhan yang terawat memberikan udara segar dengan pemandangan menenangkan. Sebuah bangku panjang yang menghadap sisi barat lorong rumah sakit menjadi pilihan Justin.

__ADS_1


"Kita duduk di sini,'' kata Justin seraya melepaskan jas nya, lalu duduk di sisi kiri. Sementara Abhi duduk di sisi kanannya.


Sejenak hanya ada keheningan hingga Justin menarik nafas panjang, lalu membuangnya perlahan.


"Apa yang mau kamu tahu tentang Queen?" tanya Justin memulai perbincangan.


Abhi menyandarkan punggung ke belakang dengan tatapan mata tertuju pada jendela rumah sakit di depan sana, "Aku ingin tahu semua kebenaran. Kebenaran yang mengubah hidup kami menjadi perpisahan."


"Hehehe, apa kamu serius?" tanya Justin terkekeh mendengar pertanyaan paling konyol selama hidupnya, tapi wajah Abhi tetap saja serius meskipun tengah di sindir.


Pernyataan Abhi, sontak membuat Justin terdiam. Lirikan mata memastikan seberapa serius pria yang ada di sampingnya itu. Ada emosi yang terpancar. Jelas sesuatu pasti sudah terjadi.


"Kamu memang pria terbodoh yang ada di dunia ini. Kenapa? Karena orang yang memperjuangkan hidupmu tanpa mempedulikan nyawanya sendiri. Justru dengan mudahnya kamu benci, lalu telantarkan. Jangankan menjadi suami yang baik, menjadi putra yang baik saja, kamu tidak bisa." Justin meluapkan semua perasaan yang selama ini terpendam.


"Melihat sikapmu, Aku rasa kebenaran tentang papamu sudah terbongkar. Ya 'kan?'' tanya Justin sinis.


Abhi menghela nafas, "Aku tahu papalah yang menjadi penyebab bundaku meninggal. Aku juga tahu papa berusaha melenyapkan diriku hanya untuk merebut perusahaan. Kebenaran hidupku seperti jerat tali di leherku. Rasanya sakit menyesakkan....,"

__ADS_1


"Rasa sesak mu tidak sebanding dengan apa yang dirasakan Asfa. Permintaan maaf mu juga tidak akan mengurangi luka di hatinya. Apapun yang terjadi padamu. Tidak akan pernah sebanding dengan kehidupan adikku yang kamu hancurkan," sela Justin dengan tatapan mendongak ke atas menatap langit biru.


Abhi menoleh menatap Justin. Pria yang biasanya tegas itu, hari ini kehilangan semua ketegasan dan yang tersisa hanya suara luka batin yang bercampur dengan kebenaran.


"Andai kamu percaya pada Queen. Semua akan baik, tapi kamu buta. Ku pikir pernikahan kalian adalah kebahagiaan adikku. Nyatanya aku salah. Kamu alasan adikku menderita. Apa yang kamu harapkan dari sisa kobaran api di dalam hubungan kalian?" tanya Justin mengalihkan pandangannya menatap Abhi.


"Aku ingin tahu, apa alasan papa melakukan semua ini. Kenapa dia ingin memisahkan aku dari Asfa? Kenapa dia melenyapkan bunda? Kenapa dia membenci ku?'' tanya Abhi beruntun, membuat Justin kembali terkekeh.


Semua pertanyaan itu hanya bisa dijawab Mahendra sendiri. Bukan dirinya apalagi Asfa. Pertanyaan yang tepat, tapi bukan ke orang yang benar.


"Aku tidak tahu apa alasan pria brengsek itu, tapi meskipun aku tahu. Aku tidak akan memberitahumu. Tanyakan saja langsung pada orangnya. Bagaimana?" tanya Justin dengan saran yang sontak mengubah ekspresi wajah Abhi.


Tatapan mata gelisah dengan keraguan. Jelas Abhi terlihat belum siap atau mungkin saja tengah memikirkan hal lain. Siapa yang tahu isi hati dan pikiran manusia?


"Dimana papaku?" tanya Abhi dengan tatapan penuh harap.


Justin tersenyum sinis, "Ditempat seharusnya."

__ADS_1


__ADS_2