My Secret Life

My Secret Life
Bab 170: Perasaan Abhi dan Sikap Asfa


__ADS_3

"Tolong aku tuan, aku mohon."


"Ada apa?" tanya Leo dan melihat wanita di depannya ketakutan.


"Masuk! Kita bahas nanti, biarkan dia masuk di belakang." Abhi memberikan kode agar wanita itu masuk ke kursi belakang.


Ketiganya hening di dalam mobil dan Leo melajukan mobil meninggalkan parkiran toko buah, setelah perjalanan selama sepuluh menit. Abhi melirik ke arah spion tengah, dan melihat keadaan wanita di belakang dimana wajah ketakutan dan juga gemetaran mendominasi. "Leo bawa ke apartemen saja, tidak mungkin kita bawa dia ke rumah."


"Siap bos."


Leo memutar arah tujuan setelah melewati pertigaan jalan utama, Abhi mengambil sebotol air putih dan membukanya. "Minumlah, tenangkan dirimu."


Wanita itu menerima dan meneguk minuman dengan buru-buru, air yang diminum tumpah ke mana-mana. Leo melirik sekilas dari kaca spion dan kembali fokus ke jalanan. Sementara Abhi masih tenggelam di dalam beberapa cabang pikirannya sendiri. Ada banyak pertanyaan dengan jawaban yang perlahan dapat ditemukan, meskipun seperti itu. Tetap saja ada hal yang mengganjal hati dan pikirannya.


Dimana Asfa? Sedang melakukan pekerjaan emergency seperti apa? Apakah keadaan Asfa baik? Bagaimana caranya mengetahui semua hal tentang Asfa tanpa tertutup tabir pembatas. Sejauh apa langkah kaki melangkah, tetap saja pembatas itu ada diantara keduanya.


"Bos? Haloo?" panggil Leo dengan melambaikan tangan di depan wajah Abhi.


Puk!


"......"


"Jangan melamun bos, lihat ini sudah sampai apartemen. Bos masuk dulu, biar aku ajak wanita itu. Jangan berpikir mendekati wanita itu okay." ucap Leo, membuat Abhi melepaskan sabuk pengaman dan keluar mobil tanpa kata.

__ADS_1


"Main tinggal aja, tau begitu aku biarkan melamun saja. Ayo ikut, jangan di mobil sendirian." Leo keluar dari mobil dan membuka pintu belakang, mengulurkan tangan kanannya ke arah wanita dengan wajah ketakutan.


Uluran tangan Leo bersambut, keduanya berjalan beriringan menuju lift apartemen. Ternyata Abhi masih menunggu dan membiarkan Leo beserta wanita yang mereka tolong ikut masuk. "Kamu bisa menjaganya juga Leo? Atau harus aku?"


"Soal penjagaan jangan pusing bos, tetapi jangan berpikir yang kedua. Sebelum sampai ke telinga istrimu, pasti ada peluru dari arah lain." ucap Leo dengan santai, namun menyimpan arti dalam.


Abhi hanya melirik Leo dan kembali menatap ke depan, sudah jelas semuanya. Kini Leo berpihak pada siapa, meskipun tetap saja pria itu bekerja untuk ABF company. Jika ingin jujur, sungguh rasa bangga dan kagum memang pantas diberikan untuk Asfa. Siapa sangka penglihatan berbanding terbalik dengan kenyataan, bagaimana jika yang menikah dengannya dulu bukan Asfa? Mungkin saat ini hanya ada teriakan dan makian, atas pengkhianatan keluarga Narendra. Keluarga Bagaskara mendapatkan menantu misterius.


Tiiiing….


"Ayo, kuharap kamu tidak keberatan jika tinggal di tempat ku dan jangan khawatir karena keamanan apartemen ini terjamin." ucap Abhi membuka pintu apartemen setelah memasukkan password kamarnya.


Ketiga manusia itu masuk dan Leo menyalakan lampu, kini ruangan tamu yang menyambut ketiganya terlihat kalem dengan semua warna putih bersih. Abhi berjalan terlebih dahulu untuk memeriksa kamar pribadinya, sementara Leo mengajak wanita yang disisinya menuju ruang makan. "Duduk! Aku obati dulu lukamu."


Wanita itu hanya menurut dengan wajah menunduk. Leo mengambil mangkuk berisi air hangat dan handuk kecil serta kotak obat, meletakkan semua diatas meja dan mengangkat wajah wanita di depannya. "Tenang, aku hanya ingin mengobati lukamu. Jika dibiarkan ini bisa semakin parah. Bagaimana bisa banyak luka di tubuhmu? Kenapa tidak lapor polisi saja?"


Leo menghela nafas dan membasuh luka yang terlihat dengan tiupan dari bibirnya, berharap bisa mengurangi rasa sakit wanita itu. Abhi yang memperhatikan dari jauh hanya tersenyum, satu hal yang pasti tentang Leo adalah baik hati. "Aku berharap kamu baik sayang, jika bisa cepatlah kembali. Apa kamu tidak merindukan aku?"


__


"Ukhuk…. ukhuk…. ukhuk…"


Suara batuk yang tiba-tiba saja terdengar, membuat beberapa pasang mata mengalihkan perhatian mereka. Semua mata terkejut dan bergegas menghampiri ranjang king size, dimana seorang wanita terbaring lemah dan perlahan membuka mata. Pandangan matanya terbatas, semua terlihat buram dan suara-suara perlahan memasuki gendang telinga. "Hauuus….. "

__ADS_1


Satu orang mendekat dan membantu tubuh wanita itu terbangun dan melepaskan beberapa peralatan medis. "Minumlah!"


Dengan pelan wanita itu meminum air dari gelasnya langsung, beberapa teguk mampu menghilangkan dahaga dan memberikan kesegaran. "Berapa lama aku terbaring?"


"Apa itu penting? Bukankah kamu sangat pintar dan selalu perhitungan setiap langkah. Lalu, sekarang apa yang terjadi? Kenapa bisa sejauh ini?" cecar seorang pria dengan suara berat, dan tangan bersedekap.


Semua masih terlihat samar, namun setiap suara sangat dirinya kenali. "Apa ini cara seorang duke? Bukankah seharusnya, kalian melakukan pekerjaan? Lalu, kenapa disini?"


"Queen!" ucap seseorang mengingatkan.


Asfa memejamkan mata kembali, deru nafas yang masih lemah dipaksa untuk stabil. "Terkadang aku harus memilih diriku atau kalian, aku ingin egois. Akan tetapi, kalian selalu menjadi pendukung dan pelindungku. Salahkah jika aku melakukan sebisaku demi kebaikan kita semua, jika kalian tidak mengeluh dengan semua perintah dariku. Lalu, kenapa aku harus memperhitungkan tentang hal sederhana? Tenanglah, aku masih bernafas."


"Adakah yang berhasil mengalahkan dirimu Queen? Tidak. Semua ada digenggaman tanganmu, kami hanya pendukung dan pelindung. Bukankah begitu?'' cetus suara lembut dengan nada cepat.


Queen tersenyum dan mencium aroma yang sangat familiar. Aroma yang mengingatkan akan masa lalu dan aroma itu berasal dari sisi kanan dengan tingkat ketajaman hampir limapuluh persen beraroma parfum maskulin. " Tinggalkan aku sendiri, aku ingin kembali istirahat. Santai, aku akan istirahat selama mungkin. Sekarang kalian senang?''


"Queen!" semua yang ada di dalam kamar serempak menegur ucapan Asfa yang kelewat batas.


Seakan tidak mendengar, Asfa melepaskan tangan yang ada di pundak dan kembali berbaring di tempat semula. Sudah pasti semua orang di dalam kamar hanya menghela nafas kasar dan saling melemparkan kode mata ataupun tangan.


"Pergilah! Aku tidak akan melakukan apapun, cukup lakukan seperti rencanaku. Kalian bisa pergi, kecuali dokter Aal dan dokter Vans. Selamat bekerja semuanya." ucap Asfa.


Suara langkah kaki terdengar melangkahkan kaki menjauhi tempat peristirahatan, Asfa menunggu hingga pintu terbuka dan tertutup lagi terdengar memasuki gendang telinganya. Perlahan Asfa membuka mata dan kembali bangun dengan perlahan. Varo dengan sigap membantu sang adik untuk menyandarkan tubuh lemah tak berdaya ke sandaran tempat tidur. "Apa ini tidak terlalu cepat?"

__ADS_1


Senyuman manis di bibir adiknya, sudah menjelaskan apa jawaban dari pertanyaannya. "Baiklah, bisa jelaskan kenapa dokter Vans harus stay di rumah ini?"


"Karena aku...."


__ADS_2