
Perenungan yang dilakukan Vans, berbeda dengan kebingungan dua pria untuk meredakan rasa takut wanita di dalam kamar. Tiba-tiba saja wanita itu berteriak histeris dan entah apa sebabnya, hingga jiwa wanita itu seperti terguncang.
"Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit? Bagaimana?"
Pluk
"Leo, kamu ngapain bawa sapu?" tanya Abhi menepuk pundak Leo.
Bukannya menjawab, Leo justru nyengir dengan menunjukkan deretan gigi putihnya. "Bos, wanita ini tidak waras. Apa kita salah menolong orang ya?"
Plaak!
Satu tepukan lebih keras mendarat di lengan Leo, mata tajam Abhi menghentikan niat Leo mengeluh. Tatapan Abhi kembali pada wanita yang terus saja berteriak histeris, hingga netra birunya melihat satu bingkai tergeletak di lantai. Jika tidak salah, itu bingkai berisi foto papa dan bunda. Abhi memberikan isyarat agar Leo melepaskan sapu dan mendekati wanita itu.
"Huuft, iya bos. Aku yang akan pergi." ucap Leo.
Sapu di buang begitu saja, dan Leo berjalan perlahan menghampiri wanita yang duduk di sudut. Dimana wanita itu menjambak rambutnya sendiri. Baru saja kaki Leo berjalan satu meter, wanita itu semakin berteriak histeris. Sontak langkah kaki Leo kembali mundur dan berlindung di belakang Abhi.
"Ekhem! Apa ketegasanmu dimakan rayap? Sikap macam apa ini?" cecar Abhi melepaskan cengkraman tangan Leo dari lengannya.
"Bos, dia gila. Mana berani aku ama orang gila, lagian tadi dia waras. Kenapa tiba-tiba gila seperti itu?" jawab Leo.
Abhi tidak memperdulikan ucapan Leo, dan berjalan meninggalkan Leo. Akan tetapi tangannya ditarik kembali dan berakhir kembali ke tempat sama. "Apa-apaan kamu ini! Aku mau menenangkan dia, kenapa ditarik. Lepas!"
"Bos serius? Dia gila…." cetus Leo.
__ADS_1
"Lalu? Ini apartemen ku, kamu mau aku masuk penjara?" tukas Abhi.
Leo melepaskan cengkraman, setelah mengerti apa yang ingin Abhi lakukan. Abhi kembali berjalan mendekati wanita itu, dan berhenti dengan jarak satu meter. Dengan menekuk satu lutut dan mengulurkan tangan kanannya. "Mau berteman denganku?"
Jeritan wanita itu terhenti, dan mengamati pria di depannya. Senyuman Abhi terlihat sangat tulus, dua mata saling bertemu dan terkunci. Secara perlahan tangan wanita itu terangkat dan terulur mendekati tangan Abhi. Akan tetapi, mata wanita itu teralihkan dan kembali melihat foto di dalam bingkai. Wanita itu kembali mundur dan menjambak rambutnya dengan jeritan histeris.
Reaksi itu tak luput dari pengamatan Abhi, dengan cepat tangan kiri Abhi meraih bingkai foto dan melemparkan ke belakang. Dimana Leo yang melihat pergerakan Abhi langsung menangkap bingkai foto ukuran 3R itu. Abhi kembali mengulurkan tangan kanannya. "Tenanglah, lihat tidak ada lagi yang mengganggumu. Ayo, aku akan membawamu ke taman."
Leo memperhatikan bagaimana Abhi berusaha mendekati wanita itu, kelembutan dari bosnya sungguh pantas di hargai. Namun, sesaat pemikiran Leo teralihkan. Kenapa wanita itu histeris hanya karena melihat foto di dalam bingkai, apakah ada hubungan dengan kedua orang tua Abhi? Jika iya, apa hubungannya? Selama ini, keluarga Abhi terkenal harmonis.
Siapa diantara kedua sosok di dalam bingkai ini, yang menjadi alasan wanita itu histeris. Tuan Mahendra? Bunda Aliya? Apa aku harus menyelidiki semua ini, atau diskusi dengan bos Abhi terlebih dulu. Kenapa aku jadi parnoan, sepertinya kedatangan Asfa membuat dunia ku semakin berwarna. Penuh ketegangan.~batin Leo.
"Leo!" panggil Abhi untuk kesekian kalinya.
"Siapkan mobil!" titah Abhi.
Leo mencebikkan bibir, sekarang sikap Abhi sudah kembali normal dan itu akan mengubah keadaan. "Siap bos, mau kemana kita?"
"Ke makam, mengubur mu hidup-hidup." jawab Abhi sekenanya.
"Eitss, bos berubah jadi Queen. Jangan donk bos, aku masih single...." ujar Leo dan terhenti, karena Abhi melayangkan tatapan maut.
Sabar, nasibmu hanyalah mendapatkan tatapan tajam setajam silet. Sebaiknya kabur, sebelum sepatu mengkilap bos mu melayang.~batin Leo.
Abhi yang memahami jalan pikiran sang asisten, melakukan pergerakan kecil dan sukses membuat Leo melarikan diri meninggalkan kamar. "Ternyata masih saja sama, pikirannya terlalu nyleneh."
__ADS_1
"Maaf atas ketidaknyamanannya, boleh aku tahu siapa namamu?" tanya Abhi mengalihkan perhatian ke wanita di atas ranjang.
Mata wanita itu menatap netra biru Abhi, seakan itu menjadi daya pikat tersendiri. "Aliska. Siapa namamu, nak?"
"Abhi. Boleh aku panggil tante Alis? Setidaknya itu lebih sopan." jawab Abhi.
Aliska mengangguk, berada di dekat Abhi seperti merendam diri di sungai dingin. Tenang dan nyaman, mata biru itu sangat memikat dan memancarkan perlindungan. Entah apa yang terjadi pada dirinya, tetapi Abhi sungguh seperti sihir nyata. Tanpa Aliska sadari, jika Abhi adalah titisan Mahendra. Pria yang merenggut mahkota dan kewarasan miliknya.
Merasa tante Aliska sudah lebih tenang, Abhi menarik nafas dan menggenggam tangan wanita itu. "Apa yang terjadi pada tante? Tante bisa cerita pada Abhi, dan kita cari solusi bersama."
Aliska memalingkan wajahnya ke arah jendela, sekelebat bayangan beberapa jam lalu terlintas kembali. Rasa sakit dan jeritan wanita lain, sungguh mengusik dan menyiksa batinnya. Keheningan Aliska, membuat Abhi sadar. Jika wanita itu masih dalam masa trauma dan tidak siap untuk bercerita. "Istirahatlah, saya akan periksa persiapan di luar."
Abhi melepaskan tangannya dari tangan Aliska, dan hendak bergerak untuk beranjak dari tempat tidur. Akan tetapi tangan Aliska menahan tangan Abhi. "Diaaa monsteer, aku menjadi tawanannya. Wanita ituu terluka, aku larii dari rumah bunga mawar. Akuu...."
"Sudah, tenanglah. Jangan diteruskan, istirahatlah. Pejamkan mata dan tarik nafas dalam lalu buang." sela Abhi.
Aliska bercerita dengan tubuh bergetar, mata kesana kemari seakan takut ketahuan. Suara gugup dan tertekan, sungguh wanita itu mengalami tekanan mental. Apapun yang telah terjadi, pastilah itu sangat buruk. Abhi menyelimuti Aliska dan membiarkan tangannya menjadi pegangan.
Siapa monster yang kamu maksud? Kenapa melihat foto papa dan bunda, reaksimu seperti melihat hantu. Apakah ini ada hubungannya dengan keluarga ku? Tidak! Itu tidak mungkin. Papa dan bunda sama-sama orang baik, Abhi positif thinking. Sebaiknya aku kabari bunda untuk meng cancel acara makan malam. ~batin Abhi dan mengambil ponsel dari saku celananya.
Abhi mendial nomor sang bunda, nada sambung panggilan terdengar. Namun, berulang kali di coba tidak ada yang menjawab. Semakin di coba, perasaan Abhi semakin tak menentu. Entah kenapa kini pikiran dan hatinya terpecah menjadi dua bagian. Wajah cemas Abhi terlihat jelas, bahkan kedatangan Leo tak dihiraukan.
Leo menatap Abhi dengan heran, kenapa bosnya itu terlihat gelisah dan ponsel berulang kali di letakkan ditelinga. Sudah hampir tiga menit, tapi Abhi masih terlihat sibuk sendiri dengan ponsel di tangan.
"Bos?"
__ADS_1