My Secret Life

My Secret Life
Bab 204: Hanya Benalu - Bertahanlah


__ADS_3

Ceklek!


Vans bergegas berjalan menghampiri kamar mandi. Ntah kenapa perasaannya sangat gelisah. Bahkan rasanya pintu itu nampak suram. Padahal sejak awal semua terlihat baik. Knop pintu di putar perlahan, lalu dorongan ringan memperlihatkan isi kamar mandi sedikit demi sedikit.


Bukan hanya sesak di dadanya. Tatapan mata tak percaya dengan kepalan tangan di knop pintu, membuat wajah pria itu tegang serta suara gemeretak gigi menahan amarah terdengar. Belum sempat kakinya melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Suara pintu kembali terdengar, membuat tangannya langsung menarik pintu agar tertutup kembali.


"Cepat sekali? Ruangan ku cukup jauh dari ruangan ini....,"


Vans berhenti berbicara ketika melihat yang masuk ternyata bukan Varo melainkan seorang wanita dengan pakaian sangat aneh. "Siapa kamu?"


Mantel panjang dengan belahan dada jejak merah terpampang jelas. Wajah memang cantik, tapi dari kesimpulan pertama sudah jelas jika wanita itu seperti baru saja melakukan ritual panas.


"Dimana Abhi?" tanya wanita itu tanpa basa-basi dengan tatapan ke seluruh sudut ruangan.


Aku tidak mau Varo melihat pria satu itu, tapi aku juga tidak tahu siapa wanita ini. Sebaiknya aku usir saja.~ batin Vans dengan menetralkan ekspresi wajahnya menjadi datar.


"Siapa itu...? Ntahlah, tapi keluarlah! Ruangan ini bukan untuk orang sembarangan." Vans menunjuk ke arah pintu keluar.


Bukannya keluar, wanita itu justru berjalan dengan tatapan terpatri pada brankar. Vans bergegas berjalan dan berdiri di samping brankar Asfa. Tangannya terangkat. "Keluar!"


Tap!


"Ngapain pertahankan wanita koma seperti itu? Cabut saja....,"


Plaak!

__ADS_1


Satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi wanita itu. Vans terdiam ketika langkahnya terhenti karena Varo sudah menarik tangan si wanita dengan hadiah satu tamparan menyakitkan.


"Kamu, hanya benalu. Jangan sok suci, apalagi sok cantik. Enyah dari keluargaku!" seru Varo lalu menghempaskan tubuh wanita itu tanpa perasaan.


Bruuug!


"Siapa dia?" tanya Vans yang benar-benar tidak mengenali wanita aneh itu.


Varo tak menggubris. Pria itu memilih menatap si wanita aneh yang meringis menahan sakit akibat kepalanya membentur lantai. Setelah berusaha bangun dan bisa berdiri. Tatapan tajam bak kucing marah menatap Varo dengan kebencian.


"Awas, kamu! Lihat saja....,"


Varo tak peduli dan berjalan maju. Tangannya menarik lengan wanita itu lalu membuka pintu dan melemparkan keluar VVIP room. Sekali lagi tubuh si wanita membentur benda mati. Tanpa kata pintu ditutup, kemudian dikunci agar si penyusup tidak mengganggu lagi.


Vans melihat wajah tegas dengan deru nafas berebut. Sedangkan di luar ruangan umpatan terdengar jelas, membuat langkah kakinya bergerak untuk mendekat.


"Ayo kita mulai! Rania sudah ku berikan obat tidur, kita bisa fokus hingga operasi selesai." Varo berjalan mendekati Vans.


Langkahnya hanya melewati pria dengan tatapan tanda tanya, dan menghampiri brankar.


Cup...


"Bertahanlah my doll, mari kita berjuang bersama. Kakak mencintai mu, putri raja ku." ucap Varo menggenggam tangan Asfa dengan erat.


Seakan genggaman tangan itu menjadi kekuatan baginya. Hingga terasa sebuah dukungan di pundaknya dengan tepukan ketegasan dari Vans. Rasa kacau di dalam hati tak lagi menjadi hal utama. Seketika semua lenyap ketika di hadapan sang adik.

__ADS_1


"Mari, kita lakukan." Vans berjalan memutari brankar, langkahnya menuju peralatan medis peri kecilnya.


Satu persatu peralatan medis di cabut, Varo ikut membantu dengan tatapan tak lepas dari wajah Asfa.


"Aku saja yang gendong!" cegah Varo saat Vans bersiap menggendong Asfa.


Vans mengangguk, lalu dirinya memilih untuk berjalan di depan sembari membantu membukakan pintu agar Varo bisa keluar ruangan dengan mudah.


Setelah memastikan kakak beradik itu keluar, dirinya tak lupa menatap pintu kamar mandi sebelum menutup pintu.


Aku akan kirim seseorang agar tidak ada yang melihat pria itu.~batin Vans lalu menutup pintu.


Lorong rumah sakit terasa semakin panjang dari biasanya. Keduanya berjalan menuju sisi utara, dimana disana terdiri dari beberapa ruangan operasi khusus.


Sepuluh menit kemudian.


Terlihat empat dokter sudah berdiri di depan sebuah ruangan kaca buram. Satu dokter yang berdiri di samping pintu bergegas membukakan pintu, dan mempersilahkan Varo masuk terlebih dahulu. Sedangkan Vans menahan salah satu dokter.


"Pergilah ke VVIP Room, pindahkan nyamuk dari kamar mandi!" bisik Vans di telinga sang dokter.


Dokter melirik kearah Tuan Muda nya, tapi seketika dirinya sadar. Jika apapun titah pria satu itu tidak mungkin hal sepele. Satu anggukan sebagai persetujuan.


Kepergian si dokter, membuat Vans ikut menyusul masuk ke ruangan operasi.


Deg!

__ADS_1


"....,"


"Kemarilah!"


__ADS_2