My Secret Life

My Secret Life
Bab 192: Pengalih Suasana


__ADS_3

"Masuk!"


Tanpa menunggu lama, mobil meninggalkan halaman perusahaan yang gelap tanpa cahaya. Pria paruh baya yang duduk di kursi kemudi masih terlihat tenang dan menikmati kebisuan.


"Apa sudah waktunya, dia kembali?" tanya orang di kursi samping kemudi.


Pria paruh baya menghela napas, "Tidak. Biarkan hidupnya tetap sederhana, bukankah itu lebih baik?"


"Aku merindukan kenakalan nya,"


"Hidupnya lebih berharga, atau kita bisa kehilangan dia selamanya. Biarkan dia melakukan keinginannya." Pria paruh baya tetap fokus dengan jalanan.


"Baiklah, tapi aku tidak akan biarkan pria itu mendekati...."


"Enough!"


"Pa...."


Ciiit....


Braak.....


Pria paruh baya melakukan pengereman mendadak, membuat pria di kursi satunya menahan tubuh dengan berpegangan pada kursi. Beruntung jalanan tak seramai biasanya, mungkin waktu juga sudah larut. Itulah kenapa jalanan teramat sepi. Pria paruh baya melepaskan tangan dari stir mobil dan menghadap ke arah putra tunggalnya itu.


"Alvaro Caesar, apa kamu mau berdebat tentang hal yang tidak bisa kita campuri? Sudah jelas adikmu meminta kita menjauhkan diri dari keluarga Bagaskara. Fokuslah pada pekerjaan kita dan melindungi keluarga kita! Jangan sampai emosimu, membuat Asfa kembali pada dunia mafia. Tetap buka mata dan telingamu!" Papa Luxifer menepuk pundak Varo dengan tepukan ringan.


Alvaro menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Papa benar, tapi rasanya disini sakit, Pa. Setiap kali melihat boneka ku di depan mata. Namun, tak mampu ku sentuh dengan pelukan dan ciuman manja...."

__ADS_1


"Sabar, Nak. Pasti ada waktunya kita berkumpul kembali. Tunggulah waktu itu, bukankah sudah saatnya Rania kembali di sisimu?" Papa Luxifer mengalihkan perbincangan.


Varo mengangguk dan mengambil ponsel dari saku celananya. Setelah menggeser layar ponsel, lalu menyerahkan benda pipih itu ke sang papa. Tuan Luxifer menerima dan melihat apa yang ingin ditunjukkan Varo. Satu foto seorang pria dengan kondisi tak berdaya memegang kepala dan meringkuk diatas rumput hijau. Wajah itu sangat jelas.


"Abhi...." gumam Tuan Luxifer dengan menggenggam erat ponsel putranya.


"Malam ini doll bertemu lagi dengan pria itu. Setelah beberapa bulan terpisahkan. Aku berharap, pria itu tidak tahu jika...."


Tuan Luxifer mengangkat satu jari telunjuk di depan bibir. Varo terdiam tanpa meneruskan curahan hatinya. Ponsel dikembalikan, lalu pria paruh baya itu kembali menyalakan mesin mobil. Keduanya seakan sepakat diam dengan perjalanan yang semakin terasa panjang. Terkadang menghentikan perdebatan adalah keputusan terbaik, terlebih ketika itu hanya menjadi jalan penyulut amarah di dalam hati.


Sementara di tempat lain di dalam kamar yang temaram. Sepasang kekasih tengah mengusap peluh dengan senyuman puas di bibir keduanya.


"Thanks honey, mau liburan?" tanya si pria dengan memeluk wanitanya.


Wanita itu mendongak menatap pria yang memberikan kehangatan di setiap malamnya. "Boleh, ke Paris..."


Wanita itu menggelengkan kepala dan tersenyum. "Kita ke Paris, dan itu esok pagi!"


"Tentu, seperti keinginanmu honey... Cup."


Ditengah kenikmatan kebersamaan keduanya. Tak mengubah kecemasan dan keraguan dari dalam hati wanita itu. Sepintas bayangan beberapa waktu yang telah berlalu, masih terekam jelas dimana pria pujaan hatinya kembali bertemu dengan masa lalu, dan itu menjadi alasan yang patut dipikirkan lebih jauh lagi.


Apa aku harus cerita ke sugar daddy ku atau aku awasi saja dulu? Sungguh aku dilema.~batin wanita itu.


Sang pria menghentikan pertukaran saliva dan mengusap bibirnya sendiri, matanya tak lepas menatap raut wajah wanita di depannya. Tegang dengan mata sendu.


"Hey honey, are you okay?" Si pria mengusap pipi wanitanya dengan manja.

__ADS_1


"Yah, daddy. All fine.... "


Mengatakan semua baik-baik saja, adalah jawaban terbaik untuk saat ini. Satu bentuk pengalihan yang akan membuat situasi kembali normal. Namun, kecemasan masih terlukis jelas di wajahnya. Ketegangan itu mengubah tatapan sugar daddynya.


Satu alis terangkat dengan tatapan lebih tajam menatap wanitanya. "Aku tidak suka penipu!"


Bentakan dengan nada ditekan terdengar mengintimidasi, membuat sang wanita bergidik ngeri dan tubuhnya gemetar. Namun, sekuat tenaga menahan rasa takutnya lalu menghadirkan senyuman manis demi menyenangkan hati pria di depannya.


"Sungguh tidak terjadi apapun. Hanya terjadi insiden kecil saat perjalanan tadi, percayalah...."


Pria itu menelisik tatapan mata wanitanya dengan mencengkram dagu lancip sang wanita. "Jangan main-main denganku! Selama ini, semua kuberikan tanpa perhitungan. Sekali saja, aku tahu kamu bermain. Akan kupastikan hidupmu lebih panas dari neraka."


Glek....


...****************...


***Hay reader's, maafkeun othoor yang khilaf kemarin ya 👉👈


Othoor udah nulis, tapi baru secumit dan karena tiba-tiba mode berjuang revisi bab karya satunya.


Alhasil othoor terjebak di satu bab, jadi othoor double up aja ya hari ini. 😌


Semangat buat kita semuanya, dan othoor nulis lagi [otw]


Salam hangat dari othoor 🥰***


Jika berkenan, mampir yuk ke Belenggu Hasrat Tante Cantik.

__ADS_1


Masih baru, dan pengen dipeluk reader's... 😌


__ADS_2