
Plaaak... Plaaak... Plaaak...
Suara tamparan keras itu menggema di antara rimbunnya pepohonan membuat beberapa tubuh gemetar dengan pemandangan di depan mereka, ingin berlari namun kaki tak memiliki tulang, ingin berteriak tapi pita suara terputus. Shock yang berat menghampiri otak kecil para anak yang baru saja lupa kerasnya hidup di jalanan, namun kilatan amarah dari gadis muda seumuran mereka membuat nyali mereka menciut jika ingin melakukan pemberontakan.
Bagaimana tidak shock jika sebuah teriakan mampu mengusik seluruh nyawa yang ada di dalam satu atap, waktu yang masih berjalan menuju perpaduan perpindahan waktu justru menyambut kemarahan sang pemilik rumah.
Flasback
Setelah memastikan keadaan kamar nya masih sama, tujuannya ada pada meja belajar nya dimana computer miliknya masih setia menempati tempat nya sejak awal. Tiga ponsel tersisa kini siap untuk di retas, dengan kemampuan nya tentu bukanlah hal sulit hanya untuk sebuah sandi, jemari nya mulai melakukan tarian di atas benda kesayangan nya setelah mengembalikan koneksi ke dalam pondok itu yang sebelumnya di sabotase oleh dirinya.
Dalam waktu dua jam akhirnya tiga ponsel berhasil di lucuti tanpa sisa membuat wajah mungil itu menahan amarah, dalam sebuah flashdisk mini kini telah menyimpan beberapa video dengan bukti lainnya yang membuat sisi iblis nya bangkit. Satu helaan nafas membuat langkah kaki nya beranjak dari tempat nya dengan meninggalkan kamarnya yang ada di lantai atas, terlihat dari batas tangga teratas di bawah sana terdapat ruang tamu dengan luas yang cukup berdampingan dengan ruang makan yang sekaligus merangkap sebuah dapur minimalis namun elegan.
"Dalam ****hitungan**** tiga berkumpul di ruang tamu!" seru Asfa melalui sebuah interkom yang memang tersambung ke setiap ruangan tanpa terkecuali.
Hanya satu sosok yang datang tepat waktu dan penghuni lainnya datang lebih lambat dari perintahnya, terlihat wajah bantal dan ekspresi lainnya yang semakin membuat jengah. Ada raut kebingungan ketika di ruang tamu itu tidak menemukan sosok yang memanggil mereka karena mereka tidak melihat ke arah tangga, hingga lima menit akhirnya sebuah suara membuat satu pandangan terfokus dari asal suara yang menggema.
Plaaak... Plaaak... Plaaak...
Suara tamparan keras itu menggema di antara rimbunnya pepohonan membuat beberapa tubuh gemetar dengan pemandangan di depan mereka, ingin berlari namun kaki tak memiliki tulang, ingin berteriak tapi pita suara terputus. Shock yang berat menghampiri otak kecil para anak yang baru saja lupa kerasnya hidup di jalanan, namun kilatan amarah dari gadis muda seumuran mereka membuat nyali mereka menciut jika ingin melakukan pemberontakan.
__ADS_1
Terlihat jelas gadis yang sama yang memberikan perintah untuk istirahat kini berdiri dengan posisi menyilangkan tangannya di dada dengan mata biru yang tajam setelah menampar salah satu penghuni pondok yang terlihat memiliki tubuh paling tinggi dengan mata hitam yang gelap, dia adalah Kiki seorang pemuda dengan rambut cepak dengan tubuh tinggi nya terlihat seperti tiang listrik namun terlihat pemuda itu ikut-ikutan melotot menatap gadis yang telah menampar nya.
Satu tangannya terlihat akan di gerakkan dan melayang untuk mendarat di pipi mulus Asfa, sosok yang sedari tadi diam langsung berlari dan melindungi nona muda nya. Hingga tidak terdengar suara apapun ataupun merasakan sebuah sentuhan, mata sosok itu terbuka perlahan dan terlihat nona muda nya justru berdiri di hadapan nya dengan membelakangi nya.
"Non, lepaskan anak ini Non. Bibi minta maaf atas sikapnya." pinta sosok itu setelah melihat nona muda nya mencekik Kiki dengan sepenuh tenaga.
Bruuuug...
"Kalian disini atas izin papa ku tapi bukan berarti kalian bisa menginjak harga diri pelayan ku! Tidak seorang pun di hina dalam naungan keluarga ku, jika kalian ingin hidup belajarlah menghormati dan sopan santun! Dan kau Bibi Nora, dimana sikap tegasmu!" seru Asfa tanpa mempedulikan pemuda yang masih menghirup udara setelah terlempar dari cekraman tangan mungil tapi sangat menyakitkan.
"Non maafkan bibi." jawab Nora dengan menunduk karena memang dirinya bersalah.
"Datanglah ke alamat yang ku kirim dan jemput anak-anak di sini untuk ke tempat kita dan khusus untuk pemuda itu berikan dia hukuman setimpal!" ucap Asfa setelah sebuah panggilan tersambung.
"Kalian akan di pindahkan, ingatlah satu hal. Jangan berkhianat jika kalian menghargai nyawa kalian! " ucap Asfa tanpa mempedulikan panggilan bibi Nora.
Seakan tidak ada lagi yang berani membantah, namun dari sudut ekor mata nya terlihat jelas gerak gerik pemuda tiang listrik seakan ingin melarikan diri. Membuat Asfa bersikap tenang menghanyutkan, dengan langkah tak bersuara di dekati nya pemuda itu. Aura yang sangat mengintimidasi dengan tingkat hembusan dingin yang menggetarkan jiwa seakan membuat pemuda itu mematung dengan pemandangan senyuman yang terpampang di hadapannya.
Senyuman semanis madu namun menekan udara untuk memasukki rongga hidungnya, seakan udara terhimpit dan enggan mendekati nya. Hingga suara pelan namun menusuk terdengar jelas memasuki gendang telinga nya, membuat jantung nya terasa tertusuk tanpa jarum yang menusuk.
__ADS_1
"Larilah jika nyawa mu ganda, atau ku lenyapkan saja seluruh milikmu yang berharga." suara lembut Asfa menghentikan niat dan pergerakan dari pemuda di depannya.
Tepat sasaran, karena kartu As pemuda itu dan anak lainnya ada di tangannya. Memang tidak adil tapi memberikan pelajaran bagi mereka yang tidak paham jalan benar dan salah sudah harus di lakukan oleh nya, karena papa nya sendiri yang membawa masuk anak-anak itu maka tanggung jawab nya juga untuk memperbaiki apa yang salah menjadi benar.
Terdengar suara deru mobil yang berhenti di depan pondok dengan kedatangan 5 orang pria kekar yang masuk begitu saja ke dalam pondok , di lihat nya keadaan sekitar hingga melihat sosok yang memanggil mereka. Satu sosok dengan pakaian ala pantai karena tiga kancing atas kemeja nya terbuka menampilkan dada berbulu yang mampu menggoda iman kaum hawa, dengan suara langkah sepatu yang terdengar membuyarkan fokus penghuni pondok.
"Queen." panggil nya dengan tenang.
"Bawa mereka pergi, dan tugas mu awasi pemuda ini! Biarkan ini menjadi tanggung jawab ku, kau paham? " perintah Asfa sembari berbalik arah dan melihat sosok di depannya.
Alisnya seakan mengisyaratkan ada apa yang membuat sosok di depan nya itu menggaruk kepala nya yang tidak gatal, hingga satu suara berani membuka suasana canggung itu.
"Duke Justin baru saja pacaran queen." jawab salah satu pria kekar yang masih berdiri tegap dengan tiga pria kekar lainnya.
"Awas kau! Ku potong gaji mu bulan ini 75 persen! "
sungut Justin menatap horror anak buahnya yang lemes.
"Ekhem! Pergilah." perintah Asfa tanpa memperpanjang hal yang tidak merugikan nya.
__ADS_1
"Queen." panggil Justin dengan serius.
"Jika mereka bisa di andalkan, biarkan mereka melakukan perintah ku tanpa mu. Keputusan ada di tanganmu, bibi Nora siapkan makan malam." ucap Asfa meninggalkan semua orang tanpa memberikan kesempatan seorang pun mengeluh.