My Secret Life

My Secret Life
Bab 158: Mansion


__ADS_3

Nenek Ara memberikan isyarat agar wanita bertopeng ikut duduk di sampingnya dan duduk berhadapan dengan sang menantu dan sang cucu. Dengan telaten Tuan Luxifer mengambilkan satu porsi makan sesuai takaran masing-masing. Setelah Alvaro dan ibu mertua, kini beralih ke wanita bertopeng. "Buka topeng mu nak. Ini rumahmu, dan aku mencabut puasa bicara mu. Sekarang, ayo makan."


Ucapan sang papa, membuat Alvaro berfikir. Satu alisnya terangkat, terlebih ketika wanita bertopeng membuka topengnya. Mata Alvaro sukses melotot, bisa-bisanya semua terjadi tanpa sepengetahuannya. "Kamu…"


"Bukan salah Rania. Ini permintaan papa, demi keluarga kita. Hanya Rania yang bisa menggantikan adikmu, dan papa meminta Rania berpuasa bicara." jelas tuan Luxifer dengan memberikan kode mata agar Rania menerima makanan makan malamnya.


Alvaro meletakkan sendok di piring, sejenak mencerna apa yang telah terjadi. Wanita yang menyulut emosinya, justru istrinya sendiri. Dan semua itu demi kelangsungan acara debut pertamanya. Ada rasa sesal telah bersikap kasar, tapi itu semua tanpa disadari olehnya. Terlebih diamnya Rania selama acara, membuat fikirannya tak menentu.


Usapan lembut di pundak Varo, Varo menatap tuan Luxifer dan beralih menatap neneknya. Terakhir menatap wajah Rania yang menunduk. "Baiklah. Mari makan, kita bicarakan ini setelah makan."


"Tentu, ayo Rania. Jangan bersedih, Varo hanya membutuhkan waktu." cetus nenek Ara dan membuat Rania melirik ke arah pamannya.


Alvaro mengangguk membuat senyuman tipis di bibir Rania terbit. Makan malam berlangsung hikmat, hingga salah satu anak buah mansion berjalan menghampiri keluarga pemimpin mereka. Tuan Luxifer memberikan kode agar anak buahnya mendekat dan mengatakan apa yang terjadi. Setelah mendapatkan bisikan, tuan Luxifer meletakkan piringnya yang masih belum terisi apapun.


"Pa?" panggil Alvaro.


Tangan tuan Luxifer terangkat dengan isyarat agar Alvaro tetap di tempat, tuan Luxifer berjalan meninggalkan hidangan bersama sang pelapor. Setelah keluar dari pintu utama, langkah tuan Luxifer terhenti dengan satu sosok pria yang berdiri di depannya. Dari postur tubuhnya, jelas pria itu masih muda.


"Ekhem." dehem tuan Luxifer dan membuat pria di depannya berbalik.


"Malam tuan besar. Saya Vans, dokter yang di tunjuk oleh Dokter Orlando. Beliau masih dalam keadaan tidak stabil, ini surat pemberitahuan dari beliau." ucap Vans dengan wajah tegas namun senyuman tipis tak pernah pudar.


Anak buah tuan Luxifer mengambil amplop coklat dari Vans dan memberikan pada tuan besarnya. Tuan Luxifer membuka amplop dan membaca isi tulisan di dalam selembar kertas putih. Tulisan komputer tak akan memiliki jejak kecerobohan. "Ikuti aku!"


"Baik tuan besar." jawab Vans dan membenarkan tas ranselnya.

__ADS_1


langkah kakinya mengikuti tuan Luxifer dan berjalan memasuki mansion, tanpa mempedulikan tatapan para bodyguard mansion. Tuan Luxifer bahkan tidak berhenti di ruang tamu dan memilih memberikan isyarat, agar semua tetap melanjutkan makan malam. Alvaro tak tenang, dan memilih meletakkan piringnya. "Nek bawa Rania ke kamar, aku akan ikut dengan papa."


"Okay, tahan amarahmu!" Nenek Ara memperingati Varo.


Acungan jempol Alvaro yang menjadi jawaban, langkah tiga pria beriringan memasuki lift. Tuan Luxifer tidak komplain ataupun bertanya, Vans berdiri di tengah dan di apit dua pria dengan wajah dingin. Untuk pertama kalinya, Vans nekat memasuki dunia peri kecilnya.


Aku melewati batasan demi dirimu. Aku ingin kamu baik-baik saja. Aku terlalu teledor, sampai tidak cepat membawamu ke rumah sakit.~ batin Vans dan lift terbuka.


Tanpa mengetuk pintu, tuan Luxifer membuka pintu kamar Asfa. Pemandangan yang pertama menyambut matanya adalah beberapa dokter yang berdiri menutupi ranjang putrinya. Wajah tuan Luxifer panik dan berjalan cepat. "What happen?"


Para dokter menegang dan berbalik menatap sosok dengan aura dingin yang menghampiri mereka. Wajah tegang para dokter, semakin menambah kecemasan tuan Luxifer. "Minggir!"


"Tuan, nona..."


Tatapan tuan Luxifer sangat menusuk, membuat para dokter menyingkir dari pandangan tuan besarnya. Kelegaan jelas nampak di wajah tuan Luxifer, putrinya masih bernafas meskipun tak sadarkan diri. "Kalian pergilah! Aku ingin bersama putriku."


Kepergian para dokter yang berjumlah lima orang, membuat kamar Asfa lebih luas. Kini Alvaro memeriksa keadaan adiknya dengan mengecek denyut nadi dan juga tekanan darah. Semua mesin medis di pastikan grafiknya masih stabil. "Siapa namamu?"


"Vans." jawab Vans yang paham pertanyaan Varo untuk dirinya.


Alvaro mengambil beberapa bahan herbal dan menaruhnya di nampan. Dengan tenang, Alvaro berjalan mendekati Vans dengan nampan ditangannya. "Tulis dan jelaskan kegunaan beserta efek sampingnya. Lima belas menit!"


Tanpa basa basi, Vans menerima nampan dan mencari tempat duduk. Tas ransel di letakkan begitu saja di lantai, kini mata dan jemarinya sibuk bekerja sama. Setiap bahan herbal yang diberikan Alvaro, mengingatkan dirinya tentang peri kecilnya. Dengan cepat Vans menyelesaikan dalam waktu sepuluh menit. Dengan sikap cool, Vans berdiri dan menghampiri Alvaro yang masih sibuk melakukan sesuatu. "Selesai."


Alvaro berhenti menakar bahan herbal. Menatap Vans dan mengambil kertas di atas nampan. "Good. Tapi kamu tetap di bawah pengawasan ku!''

__ADS_1


"Bukankah semua bekerja dibawah naungan tuan besar?" tukas Vans tanpa rasa takut.


"Alvaro putraku. Sekaligus dokter utama Queen. Dan semua ada di bawah pengawasan putraku." jawab tuan Luxifer yang sedari awal, membiarkan Alvaro melakukan pengetesan.


Vans mengangguk paham. "Baik. Saya akan melakukan yang terbaik. Mohon bimbingannya."


"Darimana kamu belajar semua ini?" tanya Alvaro, semua jawaban yang ditulis Vans hampir 80 persen sama dengan jawaban sang adik.


Vans tahu jika Alvaro penasaran dengan kemiripan jawaban dengan Asfa dikertas itu, untung saja logika Vans masih berjalan. Jadi dengan sengaja Vans mengurangi poin dari jawabannya. "Saya memiliki seorang guru, guru privat yang memberikan banyak ilmu tanpa pamrih."


"Hmm. Lumayan. Okay malam ini kamu bisa jaga Queen." tukas Alvaro dengan tegas.


Vans membungkukkan setengah badan sebagai ucapan terimakasih. Tuan Luxifer memberikan kode agar Alvaro pergi terlebih dahulu. Langkah kaki kepergian Alvaro, membuat tuan Luxifer mendekati Vans yang sudah kembali berdiri dengan benar. "Jaga mata dan pandangan mu! Bekerjalah sesuai profesimu. Aku akan kembali."


"Siap tuan." jawab Vans.


Tuan Luxifer meninggalkan kamar, pintu ditutup. Kini tatapan Vans tertuju pada ranjang, dimana Asfa masih memejamkan mata. Hatinya ingin mendekat, tapi ada rasa yang menahannya. Sudah sejauh ini langkahnya, tapi tidak ada niat untuk kembali.


Setelah pergulatan dari hati dan fikirannya, Vans berjalan menghampiri sosok Asfa yang masih terpasang alat pernafasan. "Hay peri kecil. Kenapa kamu suka sekali menjadi putri tidur? Apa tidak cukup bermain petak umpet? Dunia ini pasti sepi tanpa aksimu. Kamu tahu, setiap waktu yang ku tunggu hanyalah berita tentangmu. Ayolah bangun peri kecilku. Lihat aku disini, sahabatmu telah kembali."


...~~...


Sorry othoor telat up hari ini,, fikiran lagi beneran oleng.. 🙏


Semoga besok bisa up dobel, ini gak sesuai ekspektasi othoor, nulisnya magel, harusnya masih bisa lanjut. Tapi othoor gak kuat, mata udah cape dan fikiran masih belum tenang.

__ADS_1


Semoga besok udah lebih baik 🙏


__ADS_2