
Langkah nya mulai berjalan menjauhi kursi milik nya namun setelah lima langkah akhirnya kaki itu berhenti berjalan, dengan aura yang seketika membuat merinding bulu kuduk clients nya kini Asfa berbalik dan menatap sosok yang membuat nya berhenti.
"Tell again!" perintah Asfa dengan dingin.
"Tidak ku sangka pemimpin perusahaan besar hanya lah gadis ingus@n, apa benar kamu presdir nya atau hanya presdir bohongan? Seperti nya kalian harus berfikir ulang untuk membuat kerjasama dengan perusahaan tak kompeten ini." ucap sosok itu dengan lantang dan percaya diri.
Proook.. proook.. proook...
"Are you serious? Waiting my gift for you, I will give you special gift." ucap Asfa setelah bertepuk tangan.
Nada suara nya memang dingin tapi juga terdengar lebih lembut, tapi siapa yang bisa melihat senyuman iblis di balik topeng itu. Andai saja topeng itu tersingkirkan sudah pasti para clients bisa mati berdiri karena shock, tetap cantik dan manis tapi mematikan.
Tidak ada lagi perdebatan hingga meeting berakhir dengan tegang dan keluar dengan wajah tak menyenangkan, sedangkan Asfa langsung melempar koper nya ke atas meja begitu memasuki ruangan nya, Diego yang sedang duduk menjadi terjungkal karena kelakuan putri tuan besar nya itu. Di amati nya gerakan dari Asfa, tidak setenang di ruangan meeting, dan begitu topeng terbuka mampu membuat Diego menelan saliva nya dengan susah payah.
Hingga langkah kaki putih itu mendekat ke arah nya yang masih dengan posisi terduduk di lantai dengan kursi di belakang nya, dengan santai nya Asfa menekuk satu lutut nya dan satu lutut nya menempel di lantai seperti posisi mengutarakan cinta seorang pria pada kekasih nya.
"Hancurkan perusahaan nya, waktu mu hanya... " ucap Asfa dengan lembut penuh senyuman iblis dan tatapan mata biru yang mampu menenggelamkan semua orang.
"Alamak. Tolong aku tuan." batin Diego dengan memejamkan mata nya setelah mendengar permintaan putri tuan besar nya.
"Stop to be my bodyguard if you can't do my wish!" ucap Asfa dan membuka ruangan rahasia nya.
Pintu itu di biarkan tertutup setelah dirinya masuk dan meninggalkan Diego tanpa kata tambahan, kepergian Asfa membuat Diego bangun dari posisi aneh nya dan mengambil ponsel yang ada di saku jas nya. Ntah siapa yang di hubungi dengan wajah serius dan tidak terbantahkan membuat Asfa hanya diam menatap dari layar monitor di depannya, senyuman iblis itu bukan nya menghilang tapi semakin berkembang ketika menatap satu layar monitor dengan wajah yang membuat jiwa iblis nya bangkit.
"You're just nothing for me, you start to playing and I will make end your destination." gumam Asfa dengan mengamati sosok yang tengah melampiaskan amarahnya di parkiran dengan memukuli sopirnya sendiri.
__ADS_1
Tanpa berpamitan Diego meninggalkan gedung pencakar langit itu dan pergi bersama orang nya untuk melakukan perintah dari putri tuan besar nya, jika menunggu izin dari tuan besar sudah pasti akan mengulur waktu tapi permintaan putri tuan besar nya juga telah menyuarakan isi hati nya jadi lakukan saja tanpa menunda waktu.
Waktu membuat Asfa harus kembali melakukan meeting yang ke dua untuk membuat kontrak kerjasama baru atau menyudahi beberapa kontrak yang memang sudah tidak di harapkan, meskipun tidak ada Justin atau pun assistant lain nya tetap saja tidak ada halangan apa pun. Dengan langkah nya yang tenang dan topeng yang menutupi mood nya hari ini kini langkah nya memasuki ruangan meeting seorang diri dengan beberapa berkas yang terapit di tangan nya.
"Queen." panggil seseorang dari belakang.
"Masuk! " perintah Asfa tanpa menoleh ke belakang.
Terlihat meja meeting yang terbuat dari kayu dengan ukuran yang tidak begitu besar menghadap ke enam kursi dimana kursi utama ada di depan sebuah layar putih yang biasa di gunakan untuk presentasi, terlihat empat kursi sudah ada yang menempati dan kursi ke lima adalah milik nya yang merupakan kursi utama. Seorang pemuda dengan tampilan outfit kekinian di balut jas biru langit yang kontras dengan warna kulit nya duduk di kursi terakhir dengan seorang wanita paruh baya yang berdiri di samping nya.
"Silahkan di mulai dari anda Tuan Ferlo" ucap Asfa dengan tegas.
"Baiklah queen, perusahan kami selalu menjamin bahan baku berkualitas tinggi dan.... " ucap tuan Ferlo dengan panjang kali lebar sembari menekan kan pada point-point terpenting di dalam proposal nya.
Hingga waktu empat puluh menit menjadi presentasi dari ke empat pemimpin perusahan berbeda dan kini tinggal satu perusahan lagi yang terlihat jelas kegugupan dari wajah pemuda itu, sekilas Asfa hanya diam dan mengamati gerak-gerik pemuda itu. Sampai akhirnya dirinya bosan karena pemuda itu tidak kunjung memulai presentasi nya, padahal sudah tiba giliran pemuda itu untuk presentasi tapi justru ntah sedang traveling kemana.
"Selamat siang queen, semoga perusahan anda semakin jaya." pamit tuan Ferlo dengan senyuman sekadarnya.
"Hmm." jawab Asfa dengan sebuah anggukan kepala dan membiarkan ke empat clients nya meninggalkan ruangan meeting.
"Apa yang anda tunggu? " tanya Asfa dengan suara dingin nya.
Pluk...
"Ekhem, maaf sebelum nya atas sikap saya... " ucap pemuda itu setelah menghela nafas dan kembali sadar karena tepukan tangan sekretaris di bahu nya.
__ADS_1
"Stop! Don't many talking, start your presentation only ten minutes!" ucap Asfa yang tidak menyukai cara pemuda itu bertindak, terlalu banyak basa-basi.
"Saya perwakilan dari Perusahan Vicento Group, perusahan kami.... " ucap pemuda itu dengan cepat, lugas dan langsung pada point nya.
"Nyonya Yesi, lain kali ajar kan boy ini cara bersikap. Bukan kah sebagai calon pemimpin harus tahu cara bersikap terlebih saat meeting, tepat waktu itu sangat lah penting boy." ucap Asfa dan mengambil sebuah berkas yang memang sudah di siapkan sejak awal.
Dengan memberikan berkas kontrak yang tinggal seminggu lagi berakhir, dan sebuah proposal yang memang di tambahkan di dalam berkas itu agar perusahan Vicento group menyiapkan segala sesuatu nya atau setidaknya bisa mengundurkan diri jika tidak sanggup dengan kisi-kisi kerjasama yang akan menjadi kontrak baru nantin
"Terimakasih queen." ucap tante Yesi yang menerima sebuah berkas.
"Hmm. Bagaimana kabar nya?" tanya Asfa dengan santai karena nada suara nya sudah menurun.
"Eeh, anda ber tanya tentang siapa? " tanya pemuda itu yang tidak paham arah pertanyaan itu.
"Tuan, queen ber tanya soal tuan besar." ucap tante Yesi tanpa berbisik.
"Apa anda mengenal papa dengan baik? Tapi papa tidak pernah menceritakan apa pun tentang anda." ucap pemuda itu dengan serius.
"Ok, meeting selesai." ucap Asfa dan meninggalkan ruangan meeting tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu.
Meskipun pemuda itu terlihat kesal karena di abaikan tapi cara nya menguasai keadaan cukup lumayan dan diam nya pemuda itu setelah terabaikan membuat Asfa menaruh sedikit rasa tertarik, karena pemuda itu dengan cepat belajar hal baru. Terlihat tante Yesi siap untuk memberikan ceramah membuat pemuda itu langsung menaruh ke dua tangan nya di telinga untuk meminta maaf tanpa menunggu badai menerpa nya, melihat tingkah yang menggemaskan membuat tante Yesi tidak tega untuk menceramahi tuan muda nya.
"Ayo balik ke mansion saja, biarkan tuan besar yang menjelaskan semua nya." ajak tante Yesi dan berjalan terlebih dahulu.
Sedangkan di dalam ruangan kerja nya Asfa tengah duduk menikmati kopi hitam buatannya dan melihat langit dari tempat nya duduk, hingga getaran benda pipih di atas meja mengalihkan perhatian nya. Setelah membuka password benda pipih, dengan santai mencari sumber getaran dan sebuah pesan dengan nomer baru langsung di buka oleh nya.
__ADS_1
"Good job." gumam Asfa dengan senyuman manis yang tulus sembari menyeruput kopi nya.