
Dengan langkah ringan Asfa keluar dari ruangan kerja keluarganya, menyusuri lantai marmer yang berukuran besar menuju ruangan rawat untuk menggambil penawar racun. Belum langkahnya berjalan jauh, suara langkah kaki datang mendekat kearahnya. Langkah yang pasti dekan tekanan pada kaki namun suara itu seperti langkah yang diperhitungkan, membuat Asfa berhenti di depan ruangan rawat dan membalikkan tubuhnya menghadapi langkah kaki yang sudah terdiam di belakangnya.
"Apakah kebiasaan mu berubah?" tanya Asfa dengan menaikkan satu alisnya menatap sosok di depannya.
"Tidak queen. Aku hanya.." dalih Justin yang masih berwajah tegang.
"Tell! ( Katakan!)" perintah Asfa dengan menyedekapkan kedua tangannya.
"Hhhaaah. Aku gagal dalam perintah mu, tapi aku membawa ini." ucap Justin yang menyodorkan tumpukan kertas di depan Asfa.
Ucapan Justin bertele-tele membuat Asfa merasakan sakit kepala namun tangan kanannya tetap menerima tumpukan kertas dari Justin, di bacanya tumpukan kertas yang berisi deretan angka cukup fantastis dan nama yang tertera di pojok kanan atas kertas membuat Asfa geleng kepala.
"Not important. (Tidak penting.)" ucap Asfa mengembalikan tumpukan kertas yang baru di baca dua lembar saja sudah membuatnya bosan.
"Bawa Leo kembali ke ABF Company mulai esok dan kabari para delegasi asing yang sudah menunggu kabar dari ku, pertemuan dua hari lagi." ucap Asfa dan membalikkan tubuhnya, membiarkan Justin hanya diam tanpa kata dengan wajah lesu.
Kepergian Asfa dengan tenggelamnya punggung nona mudanya itu di balik pintu ruangan rawat membuat Justin melepaskan rasa frustasi di kepalanya dengan nafas kasar. Sekali lagi bukan hanya gagal tapi kinerjanya mulai menurun dan tergantikan orang lain, terlebih setelah melihat adanya sosok baru yang lebih tampan dan juga gesit sungguh membuatnya terjatuh.
"Ekhem." dehem seseorang dari belakang yang membuat Justin menetralkan wajahnya.
Suara yang berat dengan aroma parfum yang membuatnya merinding sungguh membuat Justin harus terlihat baik-baik saja, dan perlahan Justin membalikkan tubuhnya menghadap orang yang sudah menatapnya dengan tautan alis.
"Ikuti aku!" perintah orang itu dan meninggalkan tempatnya berdiri di ikuti oleh langkah Justin dengan diam seribu bahasa.
Sedangkan Asfa tengah menyuntikkan cairan kedalam tubuhnya sembari menggigit bibir mungilnya untuk menahan rasa sakit akibat bentrokan racun dan penawar yang langsung bereaksi dengan kecepatan luar biasa. Rasa sakitnya menjalar keseluruh tubuhnya, dengan sekuat tenaga Asfa menarik selimut yang ada di depannya dan memeluk selimut itu dengan erat untuk menyalurkan rasa yang menggerogoti di sekujur tubuhnya.
"Eeemmpptt." desis Asfa yang terdengar seperti cicitan orang kejepit dengan menyumpal mulutnya.
Di atas tempat tidur sudah tergeletak tiga suntikan khusus yang baru saja di gunakan oleh Asfa dengan sisa cairan merah seperti sirup marjan, cairan merah itu adalah penawar racun yang mujarab namun tidak semua orang akan tahan dengan efek sampingnya. Bahkan tuan besar harus mengikat tubuhnya sendiri agar efek samping penawar racun itu tidak membuatnya hilang kendali dan melukai keluarganya.
Berbeda dengan kasus Asfa yang memang di dalam tubuhnya sudah terkontaminasi dengan penawar racun sejak kecil setelah tragedi di dalam panti asuhan, sehingga pengendalian dirinya masih bisa di lakukan meskipun tidak dengan rasa sakit yang mencabik-cabik daging untuk terpisah dari tulangnya. Rasa yang akan membuat siapapun lepas kendali atau kehilangan nyawa, ramuan yang berupa cairan lebih kuat di bandingkan ramuan yang sudah di ekstrak menjadi butiran obat seperti persediaan di dalam kamar pribadinya.
"Akhirnya." gumam Asfa dengan melepaskan selimut yang ada di dalam pelukannya dan menghapus sisa air mata yang di sudut matanya.
__ADS_1
Setelah perjuangan selama lima menit akhirnya pemberontakan di dalam tubuhnya berakhir dengan menyisakan rasa letih setelah berjuang melawan penyebaran antigen untuk menumpas sisa-sisa racun yang sudah menyebar. Sedangkan Abhi duduk di kursi roda dan membiarkan Alvaro menceramahinya sepuas hati sebelum meninggalkan kamar istrinya, seakan menjadi sebuah pertemuan yang di tentukan, kemunculan Asfa dari ruangan rawat dan Abhi bersama Alvaro dari lift bisa bersamaan.
"Biar kan aku saja duke." cegah Asfa dan mendekati kursi roda Abhi yang di genggam Alvaro dengan erat.
"Queen." panggil Alvaro yang menatap nanar adiknya.
"I will back soon. (Saya akan segera kembali.)" tutur Asfa dengan mengedipkan kedua matanya agar kakaknya tidak keras kepala.
"I will waiting you my doll. ( Aku akan menunggumu boneka ku)" ucap Alvaro dan melepaskan tangannya.
Penyerahan kursi roda Abhi terlihat lebih banyak menggunakan bahasa isyarat dari kakak beradik yang membuat Abhi seperti patung tanpa nama, Alvaro memilih kembali ke kamarnya menggunakan lift sedangkan Asfa mendorong kursi roda suaminya menuju pintu utama mansion dimana Zain sudah menunggunya di luar.
"Kalian buatlah keamanan level 7 dan pastikan semua siap dalam satu jam!" perintah Asfa setelah melewati pintu utama mansion kepada bodyguard penjaga pintu utama mansion yang langsung mengangguk patuh.
Pintu mobil sudah terbuka dengan posisi Zain yang berdiri dengan tangan yang memegang pintu mobil sembari menunggu Asfa selesai memberikan perintah, dengan sigap Zain membantu Abhi untuk memasuki mobil setelah kedipan mata Asfa memberikan isyarat padanya. Abhi hanya bisa pasrah dengan keadaannya seperti boneka tak berhati, mau jadi kelinci percobaan pun dirinya tetap hanya bisa menerima tanpa mengeluh.
"Jalan!" perintah Asfa setelah semua memasuki mobil van hitam.
Mobil yang hanya di isi oleh tiga orang terdengar sangat sunyi terlebih ketika Abhi hanya duduk dengan diam-diam melirik Asfa, tidak ada tatapan ataupun perhatian dari istrinya itu. Asfa justru sibuk berselancar di atas papan ketik dengan lincahnya, benar Asfa tidak menjadi orang lain lagi seperti permintaannya namun sikap dingin istrinya itu justru membuatnya canggung.
"Bagaimana bisa rapat di majukan tanpa pemberitahuan? Ini terlalu cepat." sahut Abhi yang terkejut dengan berita terbaru perusahaannya.
"Seorang presdir tidak boleh mengeluh! Jangan buat mereka kecewa, aku akan bersama mu saat rapat." ucap Asfa dengan serius tanpa menatap Abhi.
"Aku akan siapkan yang terbaik tapi..." balas Abhi dengan memperhatikan grafik pemasukan perusahaannya yang jauh berkembang pesat.
"Jangan membuat alasan, pelajari File ABF Company yang ini!" perintah Asfa dengan mengganti laporan menjadi sebuah rencana kerjasama yang telah dirinya siapkan.
Sekali lagi Abhi merasa takjub, bukan hanya pemasukan yang meningkat di perusahaannya tapi rencana kerjasama yang ada di depan matanya sungguh membuat jiwa bisnisnya meronta. Syarat dan ketentuan yang tertera seperti buah simalakama bagi dirinya, terlintas di benaknya lebih baik untuk membatalkan saja jika kerjasama nya memiliki syarat dan ketentuan yang bisa dikatakan 1:9.
"Ekhem." dehem Asfa yang melihat pria di sampingnya justru melamun bukannya mempelajari rencana kerjasama untuk rapat yang akan di lakukan dua hari lagi.
"Yah kenapa?" tanya Abhi seakan lupa berada dimana dan bersama siapa.
__ADS_1
"Apa kamu mau bekerjasama dengan RA Company?" tanya balik Asfa dengan wajah polosnya.
"Perusahaan RA bukan perusahaan sembarangan, musuh menjadi abu kawan menjadi raja. Dekat saja dengan mereka pasti susah, apa lagi bekerjasama." tutur Abhi dengan menghentikan menatap layar laptop di pangkuannya.
"Hehehe." kekeh Zain yang juga mendengarkan curhatan Abhi.
"Zain." ucap Asfa dengan melirik tajam bodyguard pribadinya itu.
"Peace.(Damai.)" pinta Zain dengan senyuman termanisnya.
"Bisa hentikan senyuman mu itu!" perintah Abhi dengan kesal.
Hatinya terasa mendidih setiap kali melihat ada pria bersikap manis pada istrinya, terlebih para pria yang ada di sekeliling Asfa seperti lebih mengenal istrinya itu dibandingkan dirinya. Sedangkan Zain hanya mencebikkan bibir tanpa peduli dengan perintah Abhi, di matanya Abhi hanyalah seorang figuran semata.
"Hentikan!" perintah Asfa.
Ciiiiit....
Duug...
Aauuw....
"Kau ini sengaja ya! Bisa nyetir gak sih." seru Abhi dengan kesal menatap ke depan dimana Zain justru keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya.
"Pulang dan jaga dirimu." tegas Asfa sebelum keluar dari dalam mobil menatap Abhi sesaat dan mendekati pintu mobil untuk keluar.
Greeeb....
Tarikan tangan reflek Abhi membuat tubuh Asfa terhuyung dan masuk ke dalam pelukannya, membuat irama detakan jantungnya meningkat. Berbeda dengan Asfa dimana dirinya lebih memilih segera melepaskan pelukan di tubuhnya dan bergegas keluar dari mobil sebelum tubuhnya kembali mendapatkan harum parchment favourite Alvaro.
"Pastikan sampai dengan selama! Pergilah." perintah Asfa pada Zain yang langsung membungkukkan badan seperti seorang pangeran di hadapan tuan putrinya.
"Asfa mau kemana kamu?" tanya Abhi dengan menaikkan satu alisnya menatap tubuh Asfa yang sudah berada di luar mobil.
__ADS_1
Braak.... klik....